NovelToon NovelToon
Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas dendam pengganti / Dunia Lain
Popularitas:593
Nilai: 5
Nama Author: indri sanafila

Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.

Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".

Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.

Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Sauh di Tengah Badai Kode

Adrian berdiri di depan singgasana giok itu, napasnya memburu. Cahaya ungu keperakan dari langit fajar mantul di permukaan menara yang halus banget kayak porselen mahal. Di belakangnya, helikopter-helikopter Aris masih muter-muter kayak lalat pengganggu, tapi Adrian nggak peduli lagi. Fokusnya cuma satu: Sekar yang lagi megap-megap di atas kapal selam, dan jutaan nyawa yang nasibnya sekarang tergantung di ujung jarinya.

Pesan di sandaran kursi itu kayak tamparan keras buat Adrian. Kursinya hanya bisa aktif kalau ada dua orang. Gila. Bokap sama nyokapnya bener-bener udah ngerencanain ini sampai detail yang paling pahit.

Mereka tahu kalau satu orang doang yang duduk di sana, orang itu bakal jadi dingin, kaku, dan akhirnya jadi mesin murni yang nggak punya perasaan. Mereka butuh "Sauh" seseorang yang tetep napak di bumi buat jagain si "Penggerak" supaya nggak terbang kejauhan ke alam digital.

"Kar! Lu harus dengerin gua!" teriak Adrian, suaranya bergema nembus frekuensi udara yang makin padat sama energi. Sekar nyoba buat berdiri, tangannya megangin pinggiran palka kapal selam yang licin. Wajahnya pucat pasi, tapi matanya tetep tajem. "Gua denger, Adrian! Lakuin apa yang harus lu lakuin!"

"Gua nggak bisa sendirian, Kar! Kalau gua duduk di sini sendirian, gua bakal lupain lu, gua bakal lupain Malabar, gua bakal lupain rasanya jadi manusia! Gua butuh lu di sini, bareng gua!"

Sekar diem sebentar. Dia ngelihat ke arah tangan Adrian yang terus ngeluarin percikan kode perak. Dia tahu resikonya. Kalau dia naik ke menara itu, dia mungkin nggak bakal pernah bisa balik lagi ke kebun tehnya, nggak bakal bisa ngerasain angin gunung yang seger, atau sekadar minum kopi tubruk di pagi hari. Dia bakal jadi bagian dari sirkuit raksasa yang ngatur dunia.

Tapi Sekar cuma senyum tipis, jenis senyum yang bikin Adrian ngerasa kalau dunia ini masih layak buat diselametin. "Gua udah bilang kan, tugas gua itu jagain lu sampai akhir. Lagian, siapa lagi yang bakal ngingetin lu buat makan kalau lu udah sibuk ngurusin satelit?"

Dengan sisa tenaga yang ada, Sekar loncat dari kapal selam. Tapi dia nggak jatuh ke air. Sama kayak Adrian, kakinya nemuin pijakan dari gelombang elektromagnetik yang dikontrol Adrian. Dia jalan pelan, tiap langkahnya kerasa berat banget karena tekanan energi di sekitar menara itu makin gila. Adrian ngulurin tangannya, dan pas jari mereka bersentuhan, sebuah ledakan cahaya putih yang lembut nyelimutin mereka berdua.

"Kita lakuin bareng-bareng," bisik Adrian.

Mereka berdua duduk di singgasana giok itu. Adrian di tengah, dan Sekar megang tangan kiri Adrian sambil duduk di bagian lengan kursi yang lebar. Begitu mereka bener-bener mapan, ribuan kabel optik yang mirip akar pohon teh itu mulai gerak sendiri. Kabel-kabel itu melilit kaki dan tangan mereka pelan-pelan, bukan buat ngiket, tapi buat nyambungin saraf mereka ke jantung menara.

ZRRRRTTTT!

Adrian ngerasa otaknya kayak disiram air es yang seger banget. Semua suara tangisan dan teriakan jutaan orang yang tadi bikin kepalanya mau pecah, mendadak jadi harmonis. Dia bisa ngelihat setiap helai daun teh di Malabar lagi ngeluarin oksigen. Dia bisa ngelihat aliran listrik di Jakarta lagi stabil. Dia bisa ngerasain setiap detak jantung warga desa yang tadi hampir mati, sekarang mulai normal lagi.

"Kita berhasil, Kar... sistemnya stabil," gumam Adrian. Matanya sekarang bener-bener jadi perak murni, tapi dia masih bisa ngerasain angetnya tangan Sekar. Tapi di tengah ketenangan itu, helikopter Aris tiba-tiba mundur. Bukan karena takut, tapi karena ada sesuatu yang lebih gede lagi yang muncul dari balik awan ungu. Sebuah pesawat induk raksasa, bentuknya segitiga item sempurna, diem membisu di atas menara giok.

"Adrian! Lu liat itu?" Sekar nanya, suaranya kedengeran di dalem kepala Adrian.

"Iya, gua liat. Aris ternyata cuma pion kecil, Kar. Ada yang lebih gede lagi di atas dia."

Tiba-tiba, sesosok orang turun dari pesawat induk itu pake jetpack canggih. Dia mendarat dengan mulus di platform menara, tepat di depan Adrian dan Sekar. Orang itu pake jubah item panjang, dan wajahnya ditutup sama topeng perak berbentuk bunga lili yang dikelilingi rantai. Tapi yang bikin merinding adalah postur tubuhnya. Dia tinggi, tegap, dan cara jalannya itu lho... Adrian ngerasa kenal banget.

"Selamat, Adrian. Kau akhirnya menerima takdirmu," suara di balik topeng itu berat dan berwibawa. Bukan suara Aris yang cempreng atau suara robot yang kaku.

"Siapa lu?!" bentak Adrian. Lewat jaringan menara, dia nyoba buat nyerang pikiran orang itu, tapi mental! Orang di depannya ini punya 'tembok api' yang jauh lebih kuat dari apa pun yang pernah Adrian temuin.

Sosok itu pelan-pelan ngelepas topengnya.

Adrian ngerasa dunianya runtuh buat kesekian kalinya. Di balik topeng itu, adalah wajah pria yang selama ini dia pikir lagi disekap, pria yang dia pikir lagi sembunyi di bawah gunung berapi, pria yang selama ini dia cari-cari.

"Bokap?!" Adrian melongo.

Pria itu Bokap Adrian yang asli senyum bangga. Tapi senyumnya beda sama yang ada di video rekaman. Ini senyum seorang arsitek yang baru aja ngelihat gedung pencakar langitnya berdiri tegak.

"Video call tadi, sinyal minta tolong tadi... itu semua cuma ujian akhir buat kau, Adrian. Aku perlu mastiin kalau kau punya motivasi yang cukup buat duduk di kursi itu. Dan ternyata, melibatkan gadis ini adalah pilihan yang tepat."

Sekar ngerutin dahi, tangannya makin kenceng meluk lengan Adrian. "Jadi lu sengaja bikin kita semua menderita cuma buat ngetes Adrian? Lu gila!" "Gila? Nggak, Sekar. Ini namanya evolusi," jawab Bokap Adrian sambil jalan muterin singgasana.

"Dunia ini udah terlalu rusak buat diatur pake sistem politik atau ekonomi biasa. Manusia butuh 'Otak Pusat' yang nggak bisa disuap, yang nggak punya kepentingan pribadi. Dan sekarang, anakku sendiri yang jadi otaknya."

Adrian ngerasa dikhianatin habis-habisan. "Jadi Aris itu kerja buat lu? Semua drama Bunga Lili itu... lu yang buat?" "Aris itu asisten yang efisien, tapi dia terlalu ambisius. Dia pikir dia bisa ngendaliin kau. Padahal, cuma aku yang tahu kalau kau butuh 'Sauh' buat aktifin singgasana ini secara sempurna. Sekarang, Malabar bukan lagi sekadar perkebunan. Malabar adalah jantung dunia, dan kau adalah detaknya."

Bokap Adrian ngeluarin sebuah remot kecil. "Tapi ada satu hal yang belum aku kasih tahu. Singgasana ini bukan cuma buat jagain keseimbangan. Kursi ini adalah mesin pemanen. Setiap kali kau menstabilkan energi dunia, kursi ini bakal nyerep sedikit 'esensi' dari setiap manusia yang terkoneksi. Kita bakal dapet data mentah tentang mimpi, emosi, dan pikiran semua orang. Kita bakal jadi pemilik rahasia terdalam umat manusia."

Adrian ngerasa mual. "Gua nggak mau ngelakuin itu. Gua bakal matiin sistem ini sekarang juga!" Adrian nyoba buat narik kesadarannya keluar, tapi kabel-kabel optik itu malah makin kenceng ngelilit dia. Kursinya nggak mau ngelepasin.

"Nggak bisa, Nak," kata Bokapnya sambil ketawa kecil. "Sekali kau duduk, kau adalah bagian dari kontrak. Dan kalau kau maksa buat matiin sistemnya sekarang, jutaan orang yang sarafnya udah terintegrasi bakal ikut mati bareng kau. Kau terjebak, Adrian. Kau jadi pahlawan bagi mereka, tapi kau jadi tahanan buatku."

Adrian ngelihat ke arah Sekar. Sekar juga mulai ngerasain tarikan energi yang nyerep pikirannya. Wajahnya mulai kelihatan kosong, kayak orang yang kelamaan ngelihat layar HP.

"Kar! Jangan nyerah! Tetep liat mata gua!" teriak Adrian. Tapi di saat yang sama, pemandangan di sekitar menara mulai berubah. Air laut yang tadi tenang tiba-tiba mulai naik, ngebentuk pilar-pilar raksasa yang muterin menara giok. Dari dalem air, muncul ribuan kapsul transparan yang isinya... manusia. Orang-orang itu kelihatan kayak lagi tidur nyenyak, tapi ada kabel biru yang nyambung dari tengkuk mereka ke dasar laut.

"Itu adalah 'Cadangan', Adrian," ucap Bokapnya. "Orang-orang pilihan yang bakal kita bangunin kalau dunia lama udah bener-bener hancur. Dan kau... kau adalah pengasuh mereka."

Adrian ngerasa ada kemarahan yang meluap dari dalem dirinya. Dia bukan lagi CEO yang mikirin profit, dia adalah anak yang bener-bener pengen berontak dari bapaknya yang sosiopat. Dia fokus ke seluruh jaringan Malabar. Dia nyoba nyari celah, nyari 'pintu belakang' yang mungkin ditinggalin nyokapnya di sistem operasi ini. Dan dia nemuinnya.

Di sudut terjauh memorinya, ada sebuah gambar kecil: sebuah bunga teh yang belum mekar. Itu adalah sandi terakhir. Jika dia mengaktifkan bunga itu, sistem akan melakukan Reset total, menghapus semua data, termasuk kesadaran Adrian dan semua orang yang terhubung. Resikonya? Amnesia masal secara global. Dunia bakal balik ke zaman batu secara teknologi, tapi semua orang bakal bebas.

"Lu jangan seneng dulu, Pak," ucap Adrian, suaranya makin berat, bercampur sama suara mesin. "Gua tahu cara buat ngebubarin pesta ini." Bokap Adrian langsung panik pas liat indikator di remotnya berubah jadi merah. "Adrian! Apa yang kau lakukan?! Jangan gila! Kau bakal ngancurin semua hasil kerja keras keluarga kita selama tiga generasi!"

"Keluarga kita udah hancur pas lu mutusin buat jadiin anak lu sendiri sebagai alat, Pak!" Adrian siap buat neken 'tombol' reset di pikirannya. Tangannya yang megang Sekar makin erat. "Kar... kalau kita lupa siapa kita setelah ini, cari gua di kebun teh ya. Cari orang paling sombong yang pake sepatu pantofel di tengah lumpur. Itu pasti gua."

Sekar tersenyum, meski matanya mulai nutup. "Gua bakal cari lu, Adrian. Pasti."

Baru aja Adrian mau ngetik perintah terakhir, tiba-tiba menara giok itu bergetar hebat. Tapi getarannya bukan dari dalem sistem. Sebuah hantaman keras kerasa dari bawah menara.

Sesosok makhluk muncul dari dalem air, meloncat tinggi dan mendarat di platform. Itu adalah si robot mirip Bokap Adrian yang tadinya dikira cuma mesin suruhan. Tapi kali ini, badannya udah hancur setengah, ngelihatin kabel-kabel dan logam di dalemnya.

Robot itu nggak nyerang Adrian. Dia malah langsung lari dan meluk Bokap Adrian yang asli dengan kenceng banget. "Protokol Perlindungan Keluarga: Aktif," suara robot itu pecah-pecah. "Ancaman terdeteksi: Pencipta itu sendiri."

Robot itu ngeluarin energi panas yang luar biasa, seolah-olah dia mau meledak bareng penciptanya. Bokap Adrian teriak-teriak nyoba lepas, tapi cengkeraman baja si robot nggak bisa dilawan.

Di tengah kekacauan itu, Adrian denger suara lain di kepalanya. Bukan suara nyokapnya, bukan suara sistem. Suara itu berasal dari bawah menara, dari arah laut yang dalem banget.

"Adrian... jangan di-reset. Ada jalan yang belum kau lihat. Lihat ke bawah... ke akar yang paling dalam."

Adrian ngelihat ke bawah singgasana. Di antara kabel-kabel optik yang rumit, dia ngelihat ada satu botol kecil yang terikat di sana. Botol itu isinya bukan cairan perak atau bening, tapi isinya adalah... tanah. Tanah Malabar yang asli.

Kenapa ada tanah di sana? Apa gunanya tanah di tengah teknologi super canggih ini? Tiba-tiba, helikopter-helikopter Aris meledak satu per satu di udara, tapi bukan karena ditembak. Mereka seolah-olah ditarik sama gravitasi yang super kuat sampai penyok dan jatuh ke laut. Langit ungu makin gelap, dan sebuah lubang hitam kecil mulai kebentuk di puncak menara giok.

Siapa sebenernya yang menggerakkan si robot untuk berbalik melawan penciptanya sendiri? Dan apa rahasia di balik botol berisi tanah Malabar yang tersembunyi di bawah singgasana teknologi itu?

Saat Bokap Adrian berjuang hidup dan mati melawan ciptaannya sendiri, dan sebuah lubang hitam mulai mengancam untuk menelan seluruh menara, Adrian dihadapkan pada misteri baru yang lebih besar dari sekadar kontrol global. Apakah dia akan tetap melakukan reset, atau mempercayai suara misterius dari kedalaman laut tersebut?

1
Arifa
menarik ceritanya bisa di bilang mind blowing.
semangat update terus tor..
indri sanafila: terima kasih semangatnya dan sudah setia mengikuti perjalanan Adrian🙏
total 1 replies
~($@&)~%
bang,ga di kontrak kah ,novel nya
indri sanafila: lagi proses pengajuan kontrak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!