Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tante bunga punya anak?
Lagi Byan kecewa melihat pintu toko Sebria masih tertutup. Bibirnya mengerucut dan sinar matanya redup. Padahal Byan hanya berharap pintu itu terbuka siang ini. Nyata nya toko itu masih gelap. Byan memutar tumitnya berniat menyeberang kembali ke depan sekolah menunggu jemputan. Kepalanya sedikit tertunduk dengan perasaan kosong. Kini Byan merasa sendiri lagi seperti di dalam rumah mewah nya.
"Kenapa Byan?" Tanya security ketika melihat anak laki-laki itu duduk di tepi pagar.
"Tante bunga tidak datang ke toko nya."
"Mungkin libur." Ujar security itu lagi.
"Libur ?"
Security itu tersenyum lalu duduk di samping Byan. Mata nya tertuju pada toko bunga milik Sebria lalu ia menoleh ke samping. "Mungkin tante bunga punya kesibukan lain atau hari ini libur untuk kumpul sama keluarga nya. Siapa tahu tante bunga mau menghabiskan weekend sama anak dan keluarga nya."
Byan mengangkat kepalanya mencerna tiap kata yang keluar dari bibir security. "Tante bunga punya anak?" Tanya nya lirih.
"Bisa saja. Kita tidak tahu kehidupannya."
Byan membawa pandangannya ke arah toko. Menyelinap rasa kecewa karena Sebria mungkin memiliki keluarga atau mungkin seorang anak yang seusia diri nya. Pasti anak nya bahagia memiliki ibu sebaik Sebria. Anak itu mengira diri nya adalah satu-satunya orang dekat dengan Sebria tapi faktanya ada yang lebih dekat yaitu keluarga nya.
Perasaan hangat dan positif yang selama ini Byan rasa dan terima sedikit melenakan nya dan hal itu membuatnya berpikir Sebria adalah miliknya.
"Jemputan kamu datang. Pulang dengan selamat." Ucap security itu berdiri.
Byan bangkit dari tempatnya duduk. Mengibas celananya sebentar lalu masuk ke dalam mobil setelah Bi Merry membuka pintu. Wanita paruh baya itu sedikit heran melihat majikan kecilnya tidak bersemangat lebih tepatnya terlihat murung.
Bi Merry menoleh ke samping melihat Byan menatap kosong ke arah toko. Ia bisa menerka jika toko bunga itu tidak buka.
"Tante bunga tidak buka?" Tanya Bi Merry membuka obrolan.
"Iya."
"Senin pasti buka, Nak Byan bisa ketemu lagi."
Byan menoleh lalu berkata. "Tante bunga punya keluarga?"
Bi Merry terdiam sejenak mencoba menebak arah pembicaraan. "Semua orang punya keluarga, Nak."
"Tante bunga punya anak. Mungkin toko nya tutup karena ingin di rumah menemani anaknya. Atau memberikan waktu buat keluarganya."
Bi Merry tersenyum. "Kalau tante bunga sudah menikah tentu saja punya suami mungkin anak. Jadi tante bunga mengambil hari ini dan besok buat tinggal di rumahnya. Atau mereka mengambil dua hari dalam seminggu untuk berkumpul di rumah di tengah kesibukan masing-masing."
Byan mengangguk mulai mengerti. "Aku sempat berpikir kalau tante bunga belum punya anak dan aku satu-satu nya yang dekat sama tante bunga. Selama ini tante bunga baik sama aku."
"Mungkin Nak Byan anak yang baik dan menyenangkan maka nya tante bunga suka sama Nak Byan."
Roda empat itu melaju di tengah teriknya matahari. Bi Merry sesekali melirik ke samping. Belum pernah ia melihat Byan terjebak dengan kebaikan seseorang. Selama ini banyak wanita bersikap baik padanya karena ingin dekat dengan Jehan. Byan sering dijadikan perantara atau batu loncatan sayangnya tidak ada yang berhasil dan Byan tidak terlena oleh kebaikan sesaat para wanita itu.
Tapi kali ini Byan terlihat nyaman dan ceria. Kebaikan pemilik toko bunga begitu membekas pada anak itu.
...----------------...
Kaki langit belum gelap tapi Jehan sudah berada di rumah, khusus hari sabtu ia akan pulang cepat untuk menyisihkan waktu bersama Byan lebih lama. Rumah mewahnya terasa semakin sepi dan dingin. Tidak ada derap langkah kecil menyambutnya pulang. Lingkaran tangan kecil memeluk tubuhnya juga tidak terasa hari ini. Berbeda dari minggu lalu.
Byan selalu berlari memeluknya ketika pulang sore di hari sabtu. Tentu saja anaknya senang karena setiap hari Jehan pulang larut malam. Bertemu Jehan hanya pagi saat sarapan. Mereka sering bertemu wajah di telpon saja saat jam makan siang. Kecuali Byan datang sendiri ke kantor itu pun konfirmasi lebih dulu.
Usai membersihkan tubuh Jehan mengetuk kamar putra nya. Lalu mendorong perlahan terlihat Byan sedang merebahkan kepala di atas meja belajarnya. Jari-jari kecilnya menggosok miniatur mobil pemberian Sebria.
"Ayo makan malam." Ajak Jehan lembut.
Byan mengangguk lalu bangkit dari tempatnya duduk. Ia dan papanya beriringan turun. Setiba di meja, makanan sudah siap. Bi Merry mengambil piring untuk Byan lalu mengisi nya sambil bertanya. Karena mood anak itu kurang bagus jadi Byan menjawab seadanya.
Bi Merry duduk di samping Byan dan Pak Adi duduk di sisi sebelahnya. Jehan ingin makan bersama kedua orang tua tersebut untuk mengisi meja yang terasa dingin. Mereka makan dalam diam menikmati tiap makanan. Sesekali Bi Merry menawarkan majikan kecilnya itu.
"Aku sudah kenyang, pa aku ke kamar dulu." Pamit Byan meninggalkan meja makan.
Jehan mengangguk juga menyelesaikan makanannya. Tapi ia tidak beranjak dari sana karena ingin bicara. Menunggu Bi Merry dan Pak Adi selesai makan baru Jehan bertanya.
"Kenapa Byan berbeda hari ini. Apa ada masalah disekolah?"
"Tidak ada Pak." Sahut Bi Merry menghentikan pergerakannya mengumpulkan piring kotor membantu asisten rumah tangga. Bi Merry membiarkan piring di tangannya di ambil alih lalu berkata. "Nak Byan murung karena tidak bertemu sama pemilik toko bunga seberang sekolah. Hari ini toko itu tutup. Saya sudah kasih penjelasan kemungkinan pemilik tokonya sedang mengambil waktu buat libur."
Jehan mengangguk dan bangkit dari kursi. Kaki nya terayun melangkah menaiki anak tangga. Ia menuju kamar putranya. Mengetuk sebentar lalu mendorong daun pintu. Pandangannya tertuju pada Byan memandangi bunga matahari di dalam vas. Bunga itu pemberian Sebria hari kemarin.
"Ada apa?" Jehan bertanya dengan nada lembut sambil duduk di tepi kasur. "Ada masalah disekolah atau bertengkar dengan teman kamu?"
Byan menggeleng lalu naik ke atas kasur. "Hari ini aku tidak bertemu tante bunga."
Jehan mengangguk. "Byan, semua orang punya pentingan sendiri dan keluarga. Tante bunga juga begitu."
"Aku pikir selama ini. Cuma aku yang dekat sama tante bunga. Tapi bisa saja tante bunga sudah menikah dan punya anak. Pasti anaknya senang punya mama seperti tante bunga."
Jehan terkekeh. "Hari senin masih bisa ketemu kok. Jangan sedih lagi ya. Memangnya tante bunga baik sama kamu?"
Byan mengangguk cepat. Mata nya berbinar dengan ledakan semangat. "Tante bunga baik sama aku, Pa. Tante selalu berkata lembut sama aku. Tante bunga juga tidak bertanya tentang keluarga kita seperti tante-tante lain. Hanya waktu itu saja tante bunga bertanya kemana orang tua ku karena tidak hadir di acara pameran sekolah. Aku jawab saja mama sudah meninggal dan tante bunga minta maaf karena tidak tahu selebihnya tidak bertanya apa-apa lagi. Tante bunga selalu mendengarkan cerita ku dan memberiku bunga matahari."
Jehan tersenyum. "Syukurlah kalau tante bunga baik sama kamu."
"Pa, apa mama ku juga baik?" Manik mata Byan tertuju pada bingkai foto di atas meja belajarnya. Foto saat ia baru lahir di gendong oleh Ayusa.