Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.
Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ledakan di Dermaga
Suara detik jam digital pada bom itu seolah berdentum di dalam kepala Katya, lebih keras daripada deburan ombak yang menghantam tiang-tiang pancang dermaga. 05:42... 05:41...
Katya mencoba menarik rantai besi yang melilit pintu utama gudang dengan sisa tenaganya, namun sia-sia. Ia menoleh ke arah Arkan yang gemetar hebat dalam pelukannya. Di sudut lain, uap dari tangki bahan bakar mulai bocor, menciptakan aroma gas yang sangat menyengat—tanda bahwa ledakan ini tidak akan menyisakan apa pun jika dipicu.
"Ibu... Arkan takut... Arkan mau Ayah," isak bocah kecil itu.
"Ayah akan datang, Sayang. Ayah pasti datang," bisik Katya, meski hatinya sendiri dirundung keraguan besar karena terakhir kali ia melihat Donny, suaminya itu masih terbaring kaku di meja operasi.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang sangat kencang mendekat ke arah gudang. Bukan satu, tapi beberapa mobil. Suara ban yang berdecit di atas aspal diikuti oleh dentuman pintu mobil yang dibuka serentak.
"Jangan bergerak! Polisi! Jatuhkan senjata kalian!" suara bariton yang sangat dikenal Katya bergegas membelah kesunyian malam.
Donny? Mata Katya membelalak. Itu bukan halusinasi.
Di luar gudang, situasi berubah menjadi zona perang. Donny, yang mengenakan jaket taktis hitam dengan perban yang masih melilit kepalanya, turun dari mobil SUV didampingi oleh tim intelijen pribadinya yang bersenjata lengkap. Ternyata, Donny tidak pernah benar-benar tak berdaya; ia telah menggerakkan unit pengamanan rahasianya sejak ia sadar dari "koma pura-pura" di rumah sakit.
"Hancurkan rantainya! Sekarang!" perintah Donny dengan nada yang tak terbantahkan.
Namun, anak buah Ian yang masih berjaga di luar segera melepaskan tembakan. Baku tembak sengit tak terelakkan. Suara desingan peluru yang menghantam dinding seng gudang menciptakan percikan api yang sangat berbahaya di dekat tangki gas. Donny bergerak dengan lincah, meski luka operasinya pasti terasa seperti disayat sembilu. Dengan pistol di tangan, ia melumpuhkan dua penjaga yang mencoba menghalanginya menuju pintu utama.
"Buka pintunya, Zaky! Aku tahu kau di sana!" teriak Donny.
Zaky, yang terjepit di antara baku tembak, mencoba melarikan diri ke arah dermaga, namun tim intelijen Donny lebih cepat meringkusnya. Sementara itu, Ian dan Clarissa sudah melesat jauh dengan speedboat di tengah laut, meninggalkan kekacauan yang mereka ciptakan.
Donny berhasil mencapai pintu depan. Ia menggunakan alat pendobrak hidrolik milik timnya. Dengan satu hentakan kuat, rantai besi itu putus. Pintu terbuka lebar, menampakkan Katya yang mendekap Arkan di tengah ruangan yang dipenuhi kabel-kabel bom.
"Donny!" teriak Katya histeris.
"Jangan bergerak, Katya! Tetap di sana!" Donny melihat layar digital di bawah kursi. 01:15... 01:14...
Donny masuk ke dalam dengan hati-hati, melewati genangan bensin yang mulai meluas. Tim intelijennya berteriak dari luar agar ia segera mundur karena risiko ledakan terlalu tinggi, namun Donny tidak peduli. Ia menggendong Arkan terlebih dahulu.
"Bawa Arkan keluar! Cepat!" Donny menyerahkan Arkan kepada salah satu asisten kepercayaannya di ambang pintu.
"Ibu! Ayah!" jerit Arkan saat dibawa menjauh dari zona bahaya.
Kini tinggal Donny dan Katya. Katya mencoba melangkah, namun kakinya tersangkut pada jalinan kabel yang terhubung langsung ke pemicu bom di bawah kursi yang dipaku mati. Sedikit sentakan yang salah akan mempercepat detonasi.
"Mas, pergi! Bawa Arkan pergi jauh! Waktunya tinggal tiga puluh detik!" tangis Katya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Katya. Tidak pernah lagi," tegas Donny. Ia berlutut di depan kaki Katya, jemarinya yang gemetar mencoba mengurai kabel yang melilit pergelangan kaki istrinya.
00:20... 00:19...
Keringat dingin bercampur darah dari luka di dahinya mengalir ke mata Donny, namun ia tidak berkedip. Dengan napas yang diatur, ia berhasil membebaskan kaki Katya.
"Lari, Katya! Lari ke arah pintu!"
Mereka berlari bersama menembus asap yang mulai memenuhi ruangan. Namun, sebuah tangki gas di sudut ruangan tiba-tiba terpelanting karena tekanan udara, menghantam tumpukan peti kayu yang langsung roboh dan menutup jalur lari mereka.
"Lewat sini!" Donny menarik Katya memutar, melompati puing-puing.
Mereka hanya terpaut lima meter dari pintu keluar yang terbuka lebar, di mana tim intelijen sudah bersiap dengan tameng pelindung. Di kejauhan, Arkan berteriak memanggil mereka. Donny mengulurkan tangannya, mencoba meraih jemari Katya agar mereka bisa melompat bersama keluar dari struktur bangunan tua itu.
00:05... 00:04...
Wajah Donny tampak sangat dekat. Katya bisa melihat cinta, penyesalan, dan tekad di mata suaminya. Tangannya hampir bersentuhan dengan tangan Donny. Hanya beberapa sentimeter lagi.
"Ayo, Sayang! Sedikit lagi!" teriak Donny.
00:02... 00:01...
Tepat saat ujung jari Donny menyentuh ujung kuku Katya, sebuah dentuman yang memekakkan telinga meledak dari pusat gudang. Gelombang panas berwarna jingga raksasa melahap segalanya dalam sekejap. Tekanan udara melemparkan tubuh Donny keluar hingga menghantam aspal dermaga dengan keras, sementara di belakangnya, bangunan gudang itu runtuh dalam bola api raksasa yang membumbung tinggi ke langit malam. Donny berteriak parau sambil menggapai ke arah api yang menelan tempat Katya tadi berdiri, tepat sebelum kesunyian yang mengerikan menyelimuti dermaga itu.