Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Ambang Batas Kesabaran
Jumat pagi yang seharusnya menjadi penutup minggu yang tenang justru terasa seperti bara api di gedung olahraga indoor.
Suara pantulan bola yang beradu dengan lantai kayu parket menggema memekakkan telinga, bercampur dengan tawa dan obrolan nyaring siswa kelas 2-3 A.
Guru olahraga belum menampakkan batang hidungnya, dan bagi sebagian besar murid, ini adalah waktu yang tepat untuk menindas target favorit mereka.
Lunaris berlutut dengan susah payah, tangannya meraba bola-bola voli yang berserakan. Pergelangan kakinya yang bengkak kini berwarna ungu gelap, berdenyut panas setiap kali ia harus bergeser. Namun, teman-temannya tidak peduli. Mereka dengan sengaja melempar bola ke segala arah, memastikan Lunaris tidak akan pernah selesai dengan tugasnya.
"Woy Luna! Bisa lebih cepat nggak sih lo beresin bolanya? Lelet banget nggak selesai-selesai dari tadi. Ganggu orang latihan aja!" Teriak salah seorang siswi sambil menendang bola voli menjauh dari jangkauan Lunaris.
Lunaris hanya bisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba menulikan telinga dan mengabaikan perkataan mereka. Ia menyeret kakinya yang kaku, memasukkan bola demi bola ke dalam keranjang penyimpanan di sudut lapangan.
Di sisi lain lapangan, Bracia berdiri dengan angkuh. Di sampingnya, Emmeline dan Tessa setia mendampingi dengan senyum licik yang tersungging di bibir mereka.
Bracia menimbang-nimbang sebuah bola voli di tangannya, matanya menatap punggung Lunaris yang tampak rapuh.
"Lihat si Pembawa Sial itu," Bisik Emmeline. "Jalannya sudah seperti siput. Jijik banget gue liatnya."
Bracia tidak menjawab. Ia melangkah maju dengan tenang, mendekati keranjang tempat Lunaris sedang membungkuk membelakanginya.
Saat jarak mereka hanya tersisa beberapa meter, tanpa aba-aba dan tanpa suara, Bracia mengayunkan tangannya dengan kekuatan penuh.
BUGH!
Bola itu menghantam telak bagian belakang kepala Lunaris.
Dunia seolah berputar bagi Lunaris. Rasa pening yang hebat menjalar seketika, membuat pandangannya kabur dan kakinya lemas. Ia nyaris tersungkur ke dalam keranjang besi itu.
Di belakangnya, suara tawa pecah. Hampir seisi kelas menertawakan pemandangan mengenaskan itu seolah itu adalah komedi pagi yang segar.
Lunaris memegangi bagian belakang kepalanya yang berdenyut hebat. Ia perlahan menoleh dan mendapati Bracia berdiri di sana dengan wajah tanpa dosa.
"Ups! Sorry," Ucap Bracia dengan nada yang dibuat-buat menyesal, sementara matanya berkilat mengejek. "Gue nggak sengaja. Lagian, lo sih... ngapain berdiri di situ? Lo menghalangi jalur latihan gue."
Sesuatu dalam diri Lunaris patah. Kesedihan atas kematian ibunya, rasa sakit di kakinya, dan rasa hina yang ia terima setiap hari selama bertahun-tahun seolah meledak menjadi satu aliran emosi yang tak terkendali.
Tanpa sepatah kata pun, Lunaris meraih bola voli terdekat yang ada di lantai. Dengan seluruh tenaga yang tersisa di lengannya, ia melempar bola itu sekuat-kuatnya ke arah Bracia.
Wush!
Bola itu melesat cepat, nyaris mengenai wajah Bracia sebelum akhirnya membentur dinding di belakangnya dengan suara yang keras.
Lapangan seketika hening. Anak-anak yang tadinya tertawa kini terdiam dengan mulut menganga. Tidak ada yang pernah menyangka Lunaris, si pendiam yang selalu tunduk, berani membalas serangan Bracia secara frontal.
"Lo... lo berani lempar gue?" Suara Bracia meninggi, wajahnya memerah padam karena murka. Keangkuhannya merasa terluka karena ditantang di depan umum.
Bracia baru saja hendak melangkah maju untuk membalas ketika pintu gedung olahraga terbuka lebar. Pak Renald, guru olahraga mereka, masuk dengan peluit di lehernya.
"Semuanya baris! Cepat!" Perintahnya tegas.
"Kali ini lo bisa lepas, tapi nanti liat aja apa yang bakal gue lakuin buat bales perbuatan lo." Bracia terpaksa menghentikan langkahnya. Ia menatap Lunaris dengan tatapan janji akan pembalasan yang lebih keji nanti, lalu berbalik menuju barisan bersama teman-temannya.
Lunaris masih berdiri mematung, dadanya naik turun dengan napas tersengal. Air mata kemarahan menggenang di matanya, namun ia menolaknya untuk jatuh.
Pak Renald memperhatikan Lunaris yang tampak berantakan, keringat dingin mengucur di dahinya, dan kakinya yang bengkak terlihat jelas karena ia mengenakan celana pendek olahraga.
"Lunaris, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali," Tegur Pak Renald. "Kaki kamu... itu bengkak parah. Kamu ke UKS saja sekarang, jangan dipaksakan ikut kelas."
Lunaris hanya mengangguk lemah. Tanpa melihat ke arah siapa pun, ia mengambil tasnya dan berjalan tertatih keluar dari gedung olahraga.
Semua kejadian itu tak lepas dari pengamatan sepasang mata di sudut lain lapangan. Aaron berdiri diam di sana, dikelilingi teman-temannya yang sedang bercanda, namun perhatiannya terfokus sepenuhnya pada sosok Lunaris yang menjauh. Ia melihat betapa kerasnya Lunaris mencoba untuk tidak runtuh.
Aaron menatap punggung Lunaris dengan pandangan yang sulit dibaca.
.
.
.
Bau alkohol dan antiseptik menyambut Lunaris saat ia mendorong pintu geser UKS.
Di dalam, seorang dokter jaga wanita bernama Sarah tengah merapikan lemari obat. Ia menoleh ketika mendengar suara pintu yang dibuka terdengar.
Dan saat matanya melihat siapa yang datang seketika wanita itu membelalak melihat cara Lunaris berjalan.
"Astaga, Nak! Apa yang sudah terjadi? Sini, duduk cepat," Dr. Sarah segera menghampiri dan membantunya duduk di pinggir ranjang periksa.
Saat kaus kaki olahraga Lunaris dilepaskan, dr. Sarah menarik napas pendek. Pergelangan kaki kanan Lunaris sudah tidak lagi sekadar bengkak; warnanya keunguan gelap, kulitnya tegang, dan suhunya terasa panas saat disentuh.
"Astaga, sudah berapa lama kakimu seperti ini?" Tanya dokter Sarah saat memeriksa kondisi kaki Lunaris. Wanita itu menggelengkan kepala, tangannya dengan cekatan memeriksa area yang cedera. "Ini sudah parah sekali. Ini bukan sekadar terkilir biasa kalau dibiarkan begini. Kenapa baru dibawa ke sini sekarang? Kamu mau kaki kamu cacat?"
Lunaris hanya menunduk, menahan ringisan saat jari dokter itu menekan bagian yang nyeri. "Saya belum sempat memeriksanya, Dok. Kemarin saya cukup sibuk mengurus pemakaman ibu saya"
Tangan Sarah yang sedang memeriksa kondisi kaki Lunaris seketika berhenti ketika mendengar ucapan Lunaris. Wanita itu mendongak menatap Lunaris dengan tatapan dalam.
"Saya sudah mendengar berita tentang ibumu, dan saya turut berbelasungkawa untuk ibumu. Tapi itu bukan alasan kamu mengabaikan dirimu sendiri. Kesehatanmu juga penting, Luna."
Dokter Sarah menghela napas, lalu meraih buku surat izin. "Saya buatkan surat rujukan. Kamu harus ke rumah sakit sekarang juga untuk rontgen. Saya takut ada retakan di tulangnya."
"Nggak perlu, Dok," Potong Lunaris cepat. Ia menarik kakinya perlahan. "Saya baik-baik saja. Paling cuma butuh kompres dan istirahat sebentar. Saya juga nggak punya biaya buat ke rumah sakit."
"Kamu gak perlu khawatir soal biaya. Sekolah akan membantu biaya pengobatannya, kamu gak lupa kan kesehatan murid juga dijamin oleh sekolah. Kamu hanya perlu datang dan diperiksa"
"Saya benar-benar tidak apa-apa. Kaki saya tidak separah itu untuk dibawa ke rumah sakit. Saya hanya butuh istirahat sebentar."
Melihat gurat keras kepala yang begitu dalam di wajah gadis itu, Sarah akhirnya menyerah. Ia tahu sorot mata itu; sorot mata seseorang yang sudah terbiasa menelan rasa sakit sendirian. "Baiklah, kalau itu maumu. Saya obati seadanya dulu untuk meredakan bengkaknya. Tunggu di sini, saya ambilkan es batu dan perban di ruang sebelah."
Sepeninggal dokter muda itu, suasana UKS menjadi hening. Lunaris menyandarkan kepalanya ke dinding, memejamkan mata mencoba mengusir rasa pening akibat hantaman bola tadi.
Brak!
Pintu UKS terbuka dengan kasar. Lunaris tersentak dan membuka matanya, hanya untuk menemukan Aaron berdiri di ambang pintu. Napas pemuda itu tidak beraturan, dan tatapannya... tajam sekaligus dingin, menusuk tepat ke arah Lunaris.
"Aaron? Kenapa lo ke sini? Bukannya jam pelajaran pak Renald belum selesai?"
Mengabaikan pertanyaan Lunaris. Aaron melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan dentuman keras.
Ia berdiri di depan ranjang Lunaris, menjulang tinggi dengan aura intimidasi yang pekat.
"Jadi," Suara Aaron terdengar rendah namun penuh penekanan. "Apa ini 'ketenangan' yang lo maksud dan lo cari?"
Lunaris membuang muka. "Ron kalo lo cuma mau ngajak ribut, mending lo keluar. Gue mau istirahat."
"Lihat gue, Luna!" Bentak Aaron. "Lo bilang dengan gue jauhin lo, bakal bikin lo tenang. Tapi apa yang gue lihat di lapangan tadi? Anak-anak yang lain gak berenti gangguin lo dan Bracia hampir bikin kepala lo pecah! Mereka makin berani karena mereka tahu nggak ada lagi yang berdiri di depan lo!"
"Gue bisa jaga diri gue sendiri," Balas Lunaris, suaranya bergetar karena emosi. "Lo lihat tadi, kan? Gue bisa balas Bracia! Gue nggak diam aja!"
"Balas dengan lemparan bola yang melesat? Itu namanya cari mati, bukan jaga diri!" Aaron tertawa sinis, meski matanya memancarkan rasa perih yang nyata. "Lo cuma bikin mereka makin haus buat hancurin lo, Luna. Lo keras kepala, lo sok kuat, padahal kaki lo bahkan sudah nggak bisa menapak lantai dengan benar."
"Cukup lo gak perlu ikut campur. Ini hidup gue, bukan urusan lo!"
"Hidup lo jadi urusan gue sejak gue memutuskan buat peduli!" Aaron maju selangkah, membuat Lunaris terdesak ke sandaran ranjang. "Tapi oke. Kalau lo memang lebih milih hancur sendirian daripada aman bareng gue, terserah."
Aaron merogoh saku jaket olahraganya, mengeluarkan sebuah tube salep pereda nyeri dosis tinggi dan melemparnya ke pangkuan Lunaris.
"Pakai itu. Jangan dibuang kalau lo masih sayang sama kaki lo," Ucap Aaron dingin. Ia menatap Lunaris sekali lagi—tatapan yang seolah meratapi kehancuran hubungan mereka—sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Lunaris terdiam, jemarinya perlahan menyentuh tube salep yang masih terasa hangat karena suhu tubuh Aaron.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, jatuh tepat di atas nama merek salep itu.
Ia merasa menang karena berhasil mengusir Aaron, namun entah kenapa, hatinya justru merasa lebih hancur daripada sebelumnya.