Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 - Nama yang Disebut Terlalu Keras
[Nadira, kamu sudah lihat ini?]
Pesan dari Rendi masuk pukul enam pagi, disertai tautan. Nadira masih setengah sadar ketika membukanya.
Judul artikel itu muncul di layar ponsel “Peneliti Muda Diduga Tidak Kooperatif dalam Proyek Bersponsor Negara”
Nadira duduk tegak. Dia membaca pelan. Tidak ada tuduhan langsung. Tidak ada data palsu. Hanya rangkaian kalimat licin...
"Beberapa sumber menyebutkan..."
"Dikabarkan memiliki sikap sulit diarahkan..."
"Diduga menghambat progres tim..."
Nama lengkapnya disebut tiga kali. Nadira menghela napas panjang. Dia menutup ponsel. Lalu membukanya lagi. Pesan demi pesan masuk.
[Kamu kenapa?]
[Itu kamu kan?]
[Hati-hati ya, Nad.]
Dia bangkit dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi, membasuh wajah. Di cermin, dia menatap dirinya sendiri.
"Akhirnya." Gumamnya. "Sampai juga ke sini."
Di kantor riset, suasana berubah. Orang-orang berbicara lebih pelan. Tatapan menghindar. Nadira berjalan melewati lorong, menyapa seperti biasa.
"Halo, pagi."
"Pagi." Jawab seseorang cepat, lalu berpaling.
Di pantry, dua peneliti berhenti bicara saat Nadira masuk. Dia mengambil air, pura-pura tidak mendengar bisikan.
"Katanya dia bikin sponsor kabur."
"Makanya proyek kacau."
Nadira meneguk air. Dia tidak membantah. Karena ia tahu membantah di tahap ini hanya akan memperpanjang narasi.
Dr. Ratna memanggilnya siang itu. "Kamu tahu artikel itu?"
"Iya."
"Kami tidak mengeluarkan pernyataan."
"Tapi tidak menyangkal juga." Kata Nadira datar.
Dr. Ratna terdiam. "Kami sedang mempertimbangkan respons."
"Bu." Kata Nadira pelan, "nama saya sudah di luar. Diam bukan netral."
Dr. Ratna menghela napas. "Kamu ingin apa?"
"Pernyataan fakta. Bukan pembelaan."
"Kamu sadar ini bisa memperkeruh?"
"Lebih keruh dari ini?" Nadira tersenyum tipis.
Dr. Ratna menatapnya lama. "Kamu keras kepala sampai akhir."
"Atau jujur sampai akhir." Balas Nadira.
Hening.
"Kami akan bahas." Kata Dr. Ratna akhirnya.
Nadira berdiri. "Terima kasih."
Saat keluar, kakinya terasa lemas tapi langkahnya tetap lurus.
***
"Rak, kamu dipanggil HR." Suara Bimo terdengar hati-hati.
Raka mengangguk. Dia sudah menduga. Di ruang kecil HR, seorang perempuan berjas duduk dengan map.
"Kami dapat laporan." Katanya.
"Laporan apa?"
"Keluhan pelanggan. Katanya kamu terlihat tidak ramah."
Raka mengerutkan kening. "Kapan?"
"Beberapa minggu terakhir."
Raka terdiam, dia tahu ini efek domino.
"Kami juga mempertimbangkan efisiensi." Lanjut HR. "Shift malam akan dikurangi."
Raka menatapnya. "Dan saya?"
"Kamu bisa tetap. Tapi jam kerja tidak penuh, gaji dipotong."
"Kalau saya tidak setuju?" Tanya Raka.
HR tersenyum profesional. "Kami bisa akhiri kontrak lebih cepat."
Raka mengangguk. "Saya butuh waktu."
"Kami tunggu sampai besok."
Raka keluar ruangan, duduk di tangga belakang. Dia menatap tangannya sendiri.
"Bertahan atau pergi." Gumamnya. "Sama-sama sakit."
Malam itu, Raka menelepon Nadira. "Aku mungkin harus pergi."
"Dari kerja?"
"Iya."
"Kamu siap?"
"Tidak." Jawab Raka jujur. "Tapi aku juga tidak siap terus diperkecil."
Nadira terdiam sejenak. "Pergi bukan kalah."
"Aku tahu."
"Tapi jangan pergi karena kamu diusir."
Raka tersenyum pahit. "Kadang bedanya tipis."
"Kamu masih punya pilihan." Kata Nadira. "Gunakan itu."
***
"Bu, nama Bapak ada di dokumen ini."
Suara auditor terdengar formal. Seorang dosen senior Pak Wicaksono memandang berkas di depannya dengan wajah pucat.
"Saya hanya tanda tangan proposal." Katanya. "Saya tidak tahu detail pencairan."
"Kami menemukan alur dana yang tidak wajar."
Pak Wicaksono terdiam. "Siapa yang mengajukan skema ini?"
Auditor menyebut satu nama. "Aluna Prameswari."
Pak Wicaksono menutup mata. "Dia mahasiswa." Katanya pelan. "Saya percaya."
Tapi, kepercayaan itu kini berubah jadi bumerang.
Aluna duduk di apartemen sempit, ponselnya bergetar tanpa henti. Nama Pak Wicaksono muncul di layar. Dia tidak mengangkat.
Pesan masuk.
[Aluna, ini apa maksudnya? Kamu libatkan saya?]
Tangannya gemetar. "Aku tidak bermaksud." Bisiknya pada layar. "Aku cuma mau selamat."
Ponsel kembali bergetar. Kali ini dari nomor lain.
[Kamu sudah keterlaluan.]
Aluna menutup telinga, seolah itu bisa menghentikan semua suara.
***
Beberapa hari kemudian, pernyataan resmi keluar. Bukan besar. Tidak heroik. Hanya satu paragraf...
“Perbedaan metodologi menjadi alasan perubahan struktur tim. Tidak ditemukan pelanggaran etik oleh Nadira Savitri.”
Nadira membacanya di layar laptop, sendirian. "Tidak ditemukan pelanggaran." Gumamnya. "Bahasa aman." Namun cukup.
Beberapa rekan mengirim pesan.
[Maaf ya, Nad.]
[Aku harusnya percaya dari awal.]
Nadira membalas singkat.
[Terima kasih sudah jujur sekarang.]
***
Pagi hari, Raka kembali ke HR. "Saya tidak lanjutkan kontrak." Katanya.
HR mengangguk. "Baik. Kami proses."
Keluar gedung, Raka menghirup udara panjang. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada rasa lega besar. Hanya ruang kosong.
Dia mengirim pesan ke Nadira.
[Aku pergi.]
Balasan datang cepat.
[Aku tahu. Kamu baik-baik saja?]
Raka menatap langit.
[Belum. Tapi aku utuh.]
***
Aluna akhirnya datang ke kantor audit. Wajahnya pucat. Rambutnya kusut.
"Kami menemukan bahwa beberapa pihak terdampak keputusan Anda." Kata auditor. "Termasuk dosen pembimbing. Termasuk staf administrasi." Lanjutnya lagi.
Aluna menelan ludah. "Aku tidak bermaksud melibatkan mereka."
"Dampak tidak selalu butuh niat." Jawab auditor dingin.
Air mata jatuh tanpa suara. "Aku cuma tidak mau sendirian." Kata Aluna lirih.
Auditor menutup map. "Sekarang, kamu harus bertanggung jawab."
***
"Kamu kuat." Kata Arvin sore itu.
"Aku hanya bertahan." Jawab Nadira.
"Kadang itu sama."
Nadira menatap kampus yang mulai sepi. "Namaku sudah terlanjur disebut."
“Dan kamu masih berdiri.”
Nadira tersenyum kecil. "Karena aku berhenti berharap dilindungi."
Arvin mengangguk. "Itu titik dewasa."
Nama Nadira sudah dikenal publik tidak sepenuhnya bersih, tapi tidak runtuh.
Raka berjalan tanpa pekerjaan, tanpa jaringan, tapi dengan keputusan miliknya sendiri.
Aluna duduk di ruang audit, menyadari bahwa menyelamatkan diri dengan mengorbankan orang lain selalu menuntut harga lebih mahal.
Bab ini tidak memberi keadilan penuh. Hanya kejelasan. Dan mulai sekarang, tidak ada lagi yang bisa berpura-pura tidak tahu.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...
kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍