NovelToon NovelToon
My Little Lily

My Little Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:633
Nilai: 5
Nama Author: Nanawf_98

Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.

Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 12

Kini taman telah menjadi tempat yang wajib Lily kunjungi setiap pagi. Selepas sang kakak pergi ke sekolah, ia akan merengek seperti biasa. Membuat ibunya tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginannya.

Seperti pagi ini, meskipun langit tampak mendung, dan udara menjadi lebih dingin dari biasanya, semangat Lily tetap sama. Selalu membumbung tinggi. Seolah tak ada yang mampu menggoyahkannya.

Nafas yang keluar dari mulut, membentuk asap yang lenyap seketika. Kedua tangan Lily erat mendekap tubuh sendiri. Mencari sisa-sisa kehangatan yang mungkin saja tertinggal. Jempol kakinya yang gemuk bergerak-gerak. Lalu menekuk. Seperti kaki burung yang tengah mencengkram sesuatu. Sedangkan lututnya gemetar menahan dingin.

Sarah datang setelah mengunci pintu dan gerbang. Tubuhnya terbalut jaket tebal. Di tangan, sebuah topi dan sweater ia genggam. Sarah berjalan kearah Lily yang telah menunggunya di depan rumah sembari berjongkok.

"Ini pakai dulu sayang, dingin."

Melihat benda-benda ditangan ibunya, seketika Lily menolak. Ia merasa dirinya baik-baik saja saat ini. Dalam pikiran yang terbentuk sejak lama, benda-benda itu seperti momok menakutkan yang harus ia hindari. Karena ketika dirinya sakit, ia harus mengenakan itu semua. Dan rasa khawatir yang di barengi larangan-larangan akan ia dapatkan setelahnya. Lily tidak mau saat dirinya telah memakai itu, ibunya justru akan melarangnya untuk datang ke taman.

"Kalau kamu nggak pakai ini, kamu akan kedinginan." Kata Sarah lagi.

Lily tetap kekeh menolak. Membuat Sarah hanya bisa pasrah. Sweater dan topi itu tetap ia bawa, masuk ke dalam tas. Bersama jas hujan dan payung untuk berjaga-jaga.

Lily berjalan sendiri di depan. Dengan langkah cepat, sedikit berlari. Rambutnya yang telah disisir rapi, menjadi berantakan terbawa angin, tanpa bandana sebagai penahan, sehingga menutupi mata. Membuat usaha yang ia lakukan sejak pagi, menjadi sia-sia.

Rasa khawatir Sarah semakin tinggi ketika angin yang berhembus semakin kencang. Ia mencoba mengejar, tetapi anak itu dengan gesit menghindar. Sebuah tawa tercipta. Begitu lepas, begitu riang.

Orang-orang yang melihat akan mengira mereka sedang bermain-main. Begitu juga dengan Lily yang mungkin saja berpikir begitu. Tetapi kenyataan yang ada tidak seperti yang terlihat. Anak itu mudah sekali sakit, apalagi terserang flu. Sarah hanya sedang mencoba menghindari itu.

Ketika mereka sampai di taman, Lily telah duduk di tempat biasa. Anehnya, ia tak menemukan kakek dan nenek dimanapun. Netranya terus mengedar ke sekeliling. Mencari dan terus mencari. Namun tak kunjung ketemu. Bahkan sepeda yang sering mereka gunakan pun tak ada. Tak terparkir di tempat biasa. Dalam pangkuan, tubuhnya menjadi tak tenang.

"Ma... Enek mana?" Tanyanya pada sang ibu, nadanya sedikit tak sabar.

"Mungkin sebentar lagi mereka datang, kita tunggu sebentar lagi yah." Balas Sarah berusaha menenangkan.

Sesungguhnya ia pun ragu. Biasanya di jam-jam seperti ini, sepasang lansia itu baru saja selesai berlari. Kemudian mereka akan duduk disini untuk melakukan sesi mendongeng seperti biasa. Namun ini sudah terlalu siang, mereka jelas tak akan datang.

Anak-anak lain juga merasa kebingungan. Mereka yang telah menunggu sejak pagi, merasa kecewa, lalu satu demi satu mulai pergi.

"Mama..." Rengekan itu adalah pertanda sebelum rengekan lain datang. Yang disusul dengan tangisan super kencang ala Lily.

Sarah memijat ruang diantara kedua alisnya. Merasa tak siap dengan putrinya yang akan tantrum lagi. Beberapa hari ini ia merasa lebih santai menjalani hidup. Lily nya jauh lebih tenang, jauh lebih penurut. Anak itu tak lagi rewel ketika bangun di pagi hari. Juga tak lagi duduk lama di depan televisi. Kini ia cenderung lebih aktif bermain di luar bersama sang kakak atau duduk diam diruang tamu sembari mewarnai gambar. Dan semua itu berkat nenek dan dongeng-dongengnya. Ia sangat berterima kasih untuk itu.

"Enek..." Bibir Lily telah turun beberapa senti. Sementara matanya mulai berkaca-kaca. Air mata itu seolah siap tumpah kapan saja.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas dibenak Sarah. "Kamu mau ke rumah nenek nggak?" Tawarnya. Antara yakin dan tidak.

Lily terdiam sejenak, lalu mengangguk dengan antusias. "Au mama. Yo umah enek kayang." (*Mau mama. Ayo ke rumah nenek sekarang)"

Sarah berusaha mengingat alamat yang diberikan berdasarkan percakapan sebelumnya, lalu mencoba mencocokkannya dengan rumah-rumah yang berjejer di sekitar.

Dan disini lah mereka, di depan sebuah rumah yang terlihat berbeda dari rumah-rumah lain. Rumah itu bergaya kolonial yang memancarkan kemegahan klasik. Dengan pintu Belanda yang ikonik dan jendela-jendela tinggi yang simetris, menciptakan suasana rumah yang cerah dan elegan.

Halamannya sangat luas. Dihiasi berbagai macam tanaman. Dari bunga-bunga cantik, hingga tanaman herbal seperti gingseng, kunyit, sirih dan masih banyak lagi. Tersusun estetik. Sementara sekelilingnya di batasi pagar dari batu yang ditumpuk rapi setinggi pinggang orang dewasa.

Mereka menyusuri jalan setapak hingga ke teras. Tak dapat di pungkiri bahwa Sarah merasa terpesona dengan pemandangan hijau yang di dapatnya. Ini seperti taman yang berpindah ke rumah. Bahkan lebih indah.

Mata Lily berbinar cerah saat melihat kupu-kupu hinggap di salah satu bunga. Tangan kecilnya menggapai-gapai, namun tak sampai. Akhirnya ia meronta-ronta minta di turunkan dari gendongan.

"Uyun mama..."

Sarah segera mengerti, kemudian menurunkan Lily. Sementara matanya terus mengikuti kemana anak itu pergi, karena terkadang anak-anak suka melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Jadi perlu pengawasan extra, takutnya merusak sesuatu. Apalagi ini bukan rumahnya.

Dan sesuai yang ia duga. Karena tak berhasil menangkap kupu-kupu, anak itu mulai beralih minat. Ia hampir mematahkan tangkai bunga mawar yang hampir mekar.

"JANGANNN!!!" Teriak Sarah heboh.

Pupil mata gadis kecil itu melebar karena terkejut. Jemarinya yang siap memetik, tergantung di udara. Tak bergerak. Namun sedikit bergetar. Teriakan itu begitu mengguncangnya.

Sarah segera berlari untuk mengambil Lily. Menggendongnya lagi. Sorotnya begitu tajam, memberi peringatan, membuat gadis kecil itu ketakutan. Tubuh kecilnya mundur perlahan, seolah akan di makan. Lalu sembunyi di bahunya dengan isakan.

Rasa bersalah hadir di dalam hati. Namun hanya sesal yang ia rasakan kini. Sarah tak bermaksud membentak, itu hanya seruan yang keluar secara otomatis karena panik. Punggung yang hanya selebar telapak tangan, ia tepuk-tepuk pelan. Berusaha menenangkan. "Maafin mama yah sayang, udah bentak kamu. Mama nggak bermaksud kayak gitu," Katanya tulus.

"Kamu tahu nak? Bunga itu juga ingin hidup. Kalau kamu ambil, bunga itu akan mati dan layu. Nggak bisa mekar dan jadi bunga yang cantik lagi." Tambahnya mencoba memberi pengertian. Isakan Lily perlahan berhenti.

Suara derit pintu membuat keduanya menoleh. Kakek keluar dengan wajah bingung. Matanya yang tanpa kacamata, menyipit. Kerutan di dahinya bertambah. Namun begitu melihat siapa yang ada di depan rumahnya, senyum bahagia tak dapat di tutupi.

"Kalian..."

"Pagi kek." Sapa Sarah. Lalu mencium punggung tangannya. Yang diikuti oleh Lily. Tubuhnya sedikit membungkuk untuk meraih tangan kakek.

"Ayo masuk." Ajaknya ramah.

Sarah mengangguk sopan, lalu mengikutinya hingga ke dalam.

Ruang tamunya terlihat sangat luas. Dengan kursi-kursi yang berjejer rapi di bawah jendela. Di depannya, sebuah meja terbentang. Dengan ukiran rumit di permukaanya. Berbagai dekorasi tergantung di dinding. Ada lukisan-lukisan lama dan juga foto keluarga. Sementara di sudut lain, sepeda yang biasa mereka pakai terparkir.

Langkah kakek tak berhenti. Membuat Sarah bingung akan mengikutinya atau tidak. Ia berhenti lama di tengah-tengah, sembari mengamati sekitar.

Tak merasakan pergerakan dibelakangnya, kakek menoleh ke belakang. "Ayooo, kalian pasti mau ketemu nenek juga kan?"

"Memang nenek dimana sekarang kek?" Tanya Sarah.

Nafas kakek terhela berat. Senyum tipis terukir, namun matanya justru memancarkan kesedihan. "Dia sedang sakit. Deman dari semalam."

Sarah tak berkata apa-apa lagi. Hanya rasa sesak yang perlahan menyusup ke dalam hati.

Mereka berbelok ke kiri. Kemudian berhenti di depan sebuah pintu. Kakek menarik handle nya ke bawah, lalu membukanya perlahan.

"Nek, ada tamu." Ucapnya lembut.

Di atas ranjang, nenek membuka matanya perlahan. Setelah itu terdiam lama. Belum sepenuhnya sadar. Ia telah tertidur lama, matanya berusaha menyesuaikan. Saat kepalanya menoleh dan menemukan Lily, senyumnya tertarik lebar.

Nenek berusaha duduk dengan susah payah. Kakek dengan sigap membantu. Berdiri di sampingnya sembari menyesuaikan bantal untuk bersandar.

"Kalian kapan datang? Sudah lama yah?" Tanyanya dengan suara serak. Serta mata sedikit memerah.

"Enggak kok nek. Kita baru saja datang." Balas Sarah.

"Enek..." Seruan itu begitu kecil, begitu lembut. Tetapi terasa menghangatkan jiwa.

Senyum nenek semakin lebar. Ia ingin memeluk gadis kecil itu. Gadis kecil yang akhir-akhir ini selalu mengisi hari-harinya bersama sang suami. Namun kondisinya saat ini tak memungkinkan. Ia tak ingin anak itu tertular.

"Pak, tolong ambilkan kursi untuk mereka." Pintanya.

Kakek segera berlari keluar. Mengambil kursi terdekat dan menaruhnya di samping ranjang.

"Duduk nak." Perintahnya.

Sarah mengangguk. Setelah mengucapkan terima kasih, ia segera duduk. Bersama Lily dalam pangkuan. Sementara kakek sendiri memutari ranjang. Duduk disisi yang lain.

"Nenek gimana keadaannya? Apa masih demam?" Tanya Sarah.

"Nenek sudah jauh lebih baik setelah meminum obat. Dan karena kedatangan kalian, sepertinya akan segera sembuh." Balasnya di sertai canda.

Sarah dan Lily tinggal lama disana. Saling bertukar cerita, serta bersenda gurau. Tak jarang tawa keluar saat Lily mulai bertingkah aneh. Terkadang gadis kecil itu berjoged dengan heboh, terkadang ia akan melompat-lompat seperti katak. Rona wajah nenek juga telah berubah, tak sepucat tadi. Keringat mulai keluar dari tubuh, pertanda obat telah bereaksi.

Nenek memperlihatkan foto-foto keluarganya dalam sebuah album. Disana juga ada foto cucu nenek yang seusia Lily, membuat gadis kecil itu merasa tertarik. Ia menunjuk-nunjuk, lalu menatap lama. Kadang tersenyum, kadang tertawa. Entah apa yang membuatnya lucu. Entah mungkin karena fotonya atau mungkin karena cerita di balik foto itu.

Sarah menawarkan diri untuk memasak sebelum pulang, namun ditolak oleh mereka karena tak ingin merepotkan. Sayangnya ia lebih pemaksa dari yang dibayangkan, jadi ia meninggalkan Lily bersama mereka dan pergi ke dapur.

Setelah semuanya matang, mereka makan bersama di kamar nenek dengan suasana yang hangat. Seperti keluarga yang terbentuk tanpa hubungan darah, begitu akrab.

Hujan mulai turun saat Sarah dan Lily akan pulang. Awalnya hanya rintik kecil, namun perlahan mulai membesar. Untungnya Sarah telah membawa payung dan jas hujan sebelumnya. Jadi tubuh mereka tetap aman.

Setiap langkah yang mereka ambil dalam perjalanan pulang, do'a terus mengalun untuk kesembuhan nenek.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!