Yang Chi, seorang mahasiswi sekaligus penulis novel amatir, terbangun di dalam dunia ceritanya sendiri setelah menyelesaikan bab tragis tentang kematian sang Permaisuri, Yang Nan. Namun, bukannya menjadi pahlawan, ia justru terjebak dalam tubuh Xiao Xi Huwan, putri dari kerajaan tetangga sekaligus antagonis utama yang baru saja membunuh Permaisuri tersebut.
Kini, Yang Chi harus berhadapan dengan murka Kaisar Long Wei, pria yang seharusnya menjadi pelindung permaisurinya namun kini bersumpah akan memenggal kepala Xiao Xi dengan tangannya sendiri. Berbekal pengetahuannya sebagai penulis tentang rahasia istana dan plot masa depan, Yang Chi harus memutar otak untuk membersihkan namanya, menghindari hukuman mati, dan mengungkap konspirasi gelap yang ternyata jauh berbeda dari apa yang ia tulis di atas kertas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dari taman ke lembah kabut
"Ini masih siang, Tuan. Aku ingin berjalan-jalan di taman saja, boleh?" tanya Yang Chi sambil menyeka sisa madu di sudut bibirnya. Ia merasa jenuh jika harus terus mengurung diri di kamar, sementara matahari di luar masih bersinar cerah.
Long Wei yang sedang mengasah pedangnya berhenti sejenak. Ia melirik ke arah jendela, lalu kembali menatap Yang Chi yang memasang wajah memelas.
"Jika kau keluar sendiri, Ibu Suri atau pengawal Li Xuan akan langsung meringkusmu," ucap Long Wei dingin. Ia berdiri, menyarungkan pedangnya dengan bunyi klik yang tegas. "Kalau begitu, akan kutemani."
Yang Chi langsung melompat turun dari ranjang dengan girang. "Benarkah? Wah, Tuan Kaisar ternyata baik juga ya kalau sudah dikasih paha ayam!"
"Diamlah, jangan membuatku menyesali keputusan ini," sahut Long Wei, meski sebenarnya ia ingin memastikan keselamatan Yang Chi secara langsung.
Mereka pun berjalan menuju taman rahasia di bagian belakang istana. Taman itu sangat indah, penuh dengan bunga krisan yang sedang mekar dan sebuah kolam ikan koi yang tenang. Namun, karena tangan mereka masih terikat tali sutra merah, langkah mereka harus benar-benar selaras.
"Tuan, lihat! Bunganya cantik sekali, mirip seperti yang aku gambarkan di... eh, maksudku mirip seperti di kampung halamanku," celoteh Yang Chi sambil menarik Long Wei mendekat ke arah rumpun bunga.
Long Wei hanya mengikuti tarikan tangan Yang Chi tanpa protes. Ia memperhatikan bagaimana Yang Chi tersenyum lebar saat melihat kupu-kupu hinggap di atas kelopak bunga. Untuk sejenak, ia lupa bahwa wanita di depannya adalah musuh politiknya.
"Kenapa kau begitu senang dengan hal-hal kecil seperti ini?" tanya Long Wei pelan, suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya.
Yang Chi menoleh, wajahnya berseri-seri. "Karena di tempatku—maksudku, hidup itu sangat singkat, Tuan. Kita harus menikmati setiap detik sebelum... ya, sebelum plot ceritanya berubah menjadi tragis."
Long Wei tertegun mendengar kata-kata Yang Chi. Ia hendak bertanya lebih lanjut, namun tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki yang terburu-buru dari balik semak-semak tinggi.
"Siapa di sana?!" bentak Long Wei sambil menarik Yang Chi ke belakang punggungnya, tangannya sudah siap di hulu pedang.
Seorang prajurit muda berlari mendekat dan langsung bersujud di depan Long Wei dengan napas terengah-engah. "Lapor, Baginda! Kami menemukan jejak kuda di perbatasan utara menuju Lembah Kabut. Sepertinya Pangeran Deng Xiaoping baru saja melewati gerbang secara rahasia!"
Mendengar itu, wajah Long Wei langsung berubah menjadi sangat serius. Yang Chi pun ikut menegang.
"Tuan, itu dia! Mereka sudah bergerak!" bisik Yang Chi panik. "Kita tidak bisa menunggu sampai subuh, mereka akan hilang ditelan kabut kalau kita tidak berangkat sekarang!"
Long Wei menatap Yang Chi dengan tatapan yang sangat tajam. "Persiapkan kudanya sekarang! Kita berangkat dalam sepuluh menit!"
Long Wei mengangkat tubuh Yang Chi dengan mudah dan mendudukkannya di bagian depan pelana kuda hitamnya yang gagah. Tubuh kecil Yang Chi kini benar-benar terkunci di antara kedua lengan kokoh Long Wei yang memegang kendali kuda.
Gleekk.
Yang Chi menelan ludah dengan susah payah. Punggungnya menempel sempurna pada dada bidang Long Wei yang keras seperti batu karang. Ia bahkan bisa merasakan hembusan napas hangat Long Wei yang menerpa puncak kepalanya dan aroma maskulin yang bercampur bau besi pedang yang begitu intens.
Astaga, jangan mati dulu Yang Chi! Kau belum merasakan seenak apa kaisar ini kalau sudah jadi suami, batin Yang Chi dengan wajah yang sudah semerah tomat. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.
Long Wei menyadari kegelisahan gadis di depannya. Ia sedikit mempererat dekapannya pada kendali, secara tidak sengaja membuat Yang Chi semakin terhimpit padanya. "Pegang erat surai kudanya jika kau takut jatuh. Perjalanan ini akan sangat cepat," bisik Long Wei dengan suara baritonnya yang rendah tepat di telinga Yang Chi.
"I-iya, Tuan! Saya pegangan kok!" jawab Yang Chi dengan suara yang sedikit melengking karena gugup.
"Cyiaaaaa!"
Long Wei menghentakkan kakinya pada sisi perut kuda, dan seketika kuda itu melesat kencang bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya. Mereka meninggalkan gerbang istana, membelah angin menuju perbatasan utara.
Kecepatan kuda yang luar biasa membuat Yang Chi refleks menyandarkan kepalanya di bahu Long Wei dan memejamkan mata rapat-rapat. Di tengah derap kaki kuda yang riuh, Yang Chi tersenyum tipis di balik ketakutannya. Kalau begini terus, aku rela deh nggak pulang ke dunia ku .