NovelToon NovelToon
MAHAR KEBEBASAN

MAHAR KEBEBASAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. NYONYA MAHENDRA

Dipta Mahendra tidak pernah mengenal kata kalah, dan ia tidak akan membiarkan kematian merebut satu-satunya hal yang telah ia beli dengan harga selangit. Di lantai kamar mandi yang basah, dengan telapak tangan yang masih meneteskan darah akibat irisan pisau tadi, Dipta mendekap tubuh Keyla yang pingsan. Matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan kegilaan yang absolut.

​Ia berdiri, menggendong Keyla yang tak berdaya menuju ranjang. Dengan gerakan yang efisien namun kaku, ia mengambil ponsel di atas nakas dan menekan tombol panggil cepat.

​"Bayu, siapkan semuanya sekarang juga," perintah Dipta, suaranya rendah namun bergetar oleh otoritas yang mematikan.

​"Semuanya, Tuan? Maksud Anda—"

​"Pernikahan. Hari ini. Detik ini juga," potong Dipta tajam. "Cari pendeta yang bisa tutup mulut di gereja pinggiran kota. Aku tidak butuh pesta, aku tidak butuh saksi selain kau dan kedua orang tuanya. Siapkan mobil dalam lima menit. Dan satu lagi, hubungi Alan Atmadja. Katakan padanya, jika dia ingin perusahaannya tetap berdiri besok pagi, dia harus ada di gereja dalam satu jam."

​"Tapi Tuan, Nona Keyla... kondisinya—"

​"Lakukan saja!" bentak Dipta sebelum membanting ponselnya ke atas kasur.

​Dipta membasuh luka di tangannya dengan kasar, hanya membalutnya dengan sapu tangan mahal yang segera memerah. Ia kemudian mendekati Keyla, mengganti jubah mandi gadis itu dengan gaun putih yang kebetulan sudah ia siapkan di lemari—gaun yang tadinya diniatkan untuk makan malam formal, namun kini akan menjadi saksi bisu pengikatan paksa.

​Keyla mulai mengerang, matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Begitu wajah Dipta muncul di jarak pandangnya, Keyla tersentak, mencoba menjauh namun tubuhnya terlalu remuk.

​"Kita akan pergi, Keyla," ujar Dipta sambil memasangkan sepatu ke kaki Keyla yang dingin.

​"Pergi... ke mana? Bunuh aku saja, Dipta... aku mohon," bisik Keyla, suaranya nyaris tak terdengar.

​Dipta mendongak, menatap Keyla dengan intensitas yang mengerikan. "Kau tidak akan mati. Kau akan menjadi Nyonya Mahendra hari ini. Secara hukum, secara agama, dan secara mutlak. Setelah ini, tidak seorangpun yang bisa mengambilmu dariku."

​"Anda gila..." Keyla terisak, air matanya membasahi gaun putih itu. "Aku membencimu... aku membencimu sampai mati!"

​"Kebencianmu adalah bahan bakar yang menarik bagiku, Sayang," sahut Dipta dingin. Ia mengangkat Keyla, mengabaikan protes lemah gadis itu, dan membawanya menuju lift pribadi di mana Bayu sudah menunggu dengan wajah pucat.

​**

​Mobil Rolls-Royce hitam itu melaju membelah jalanan pinggiran kota menuju sebuah gereja tua yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Di dalam mobil, keheningan terasa begitu berat. Keyla hanya bersandar pada jendela, menatap jalanan dengan tatapan mati. Ia merasa seperti domba yang sedang dibawa ke tempat penjagalan.

​Begitu sampai di halaman gereja, sebuah mobil lain sudah terparkir. Alan Atmadja dan Kirana berdiri di sana dengan wajah yang dipenuhi ketakutan.

​Dipta keluar dari mobil, menarik Keyla yang lemas untuk berdiri di sampingnya. Ia memegang pinggang Keyla dengan cengkeraman yang begitu kuat, memastikan gadis itu tidak akan jatuh atau melarikan diri.

​"Dipta! Apa-apaan ini? Bayu bilang pernikahan hari ini?" Alan menghampiri dengan napas tersengal. "Keyla belum siap! Lihat dia, dia bahkan tidak bisa berdiri tegak!"

​Dipta menatap Alan dengan tatapan yang membuat pria tua itu bungkam seketika. "Dia tidak perlu berdiri tegak untuk mengucapkan 'ya', Alan. Dia hanya perlu bernapas. Kau sudah menerima uangnya, kan? Sahammu sudah naik, kan? Sekarang, tunaikan bagianmu dari kesepakatan ini."

​Kirana menangis, mencoba mendekati Keyla. "Key... Sayang, maafkan Mama..."

​Keyla membuang muka, suaranya parau namun penuh bisa. "Jangan panggil aku Sayang. Kalian berdua... kalian bukan orang tuaku. Kalian adalah penjual manusia."

​"Masuk!" perintah Dipta, menyeret Keyla masuk ke dalam gereja yang suram itu.

​Di dalam gereja, seorang pendeta tua berdiri dengan gugup. Ia telah dibayar mahal oleh Bayu untuk melakukan prosesi kilat tanpa banyak bertanya. Suasana sangat mencekam; hanya ada suara langkah kaki mereka yang menggema di lantai kayu yang tua.

​Dipta berdiri di depan altar, tangannya masih mencengkeram lengan Keyla yang gemetar.

​"Mulai," ucap Dipta pada pendeta.

​"Tapi... apakah pengantin wanita bersedia?" tanya pendeta itu ragu saat melihat wajah Keyla yang penuh jejak air mata dan memar yang coba ditutupi make-up tipis.

​Dipta menoleh pada Alan, lalu kembali pada pendeta. "Dia bersedia. Lanjutkan."

​Alan mendekat, berbisik di telinga Keyla dengan suara gemetar, "Key... demi perusahaan, demi keselamatan Ayah... tolong. Lakukan ini."

​Keyla menoleh pada ayahnya, menatap pria yang dulu ia puja itu dengan rasa muak yang tak terhingga. Kemudian ia beralih pada Dipta, pria yang semalam telah merenggut paksa dunianya.

​"Anda ingin aku mengatakannya, kan?" suara Keyla terdengar dingin di tengah keheningan gereja. "Anda ingin memiliki 'hak milik' yang sah?"

​"Katakan, Keyla," desis Dipta, matanya berkilat penuh kemenangan.

​Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Keyla menatap pendeta itu. "Lakukan saja. Ikat aku dengan monster ini. Tapi ingatlah, di mata Tuhan, ini bukan pernikahan. Ini adalah pemerkosaan yang dilegalkan."

​Pendeta itu gemetar, namun di bawah tatapan mematikan Dipta, ia mulai membacakan janji suci. Dipta mengucapkan sumpahnya dengan suara yang mantap dan tegas, seolah sedang menandatangani kontrak akuisisi terbesar dalam hidupnya.

​"Keyla Atmadja, apakah engkau menerima Dipta Mahendra sebagai suamimu?"

​Hening yang panjang menyelimuti. Keyla merasakan cengkeraman tangan Dipta di lengannya semakin mengencang, kuku pria itu seolah menembus kulitnya. Ia melihat ibunya yang terisak dan ayahnya yang menunduk malu. Ia menyadari tidak ada pintu keluar.

​"Ya," bisik Keyla pelan. "Aku terima."

​Setelah kata-kata itu terucap, pendeta menyatakan mereka sebagai suami istri. Dipta tidak menunggu instruksi untuk mencium pengantinnya. Ia meraup bibir Keyla dengan kasar di depan orang tuanya, sebuah ciuman yang tidak mengandung cinta, melainkan klaim kepemilikan yang brutal.

​"Sekarang, kau resmi menjadi milikku, Nyonya Mahendra," bisik Dipta di telinga Keyla saat ia melepaskan ciumannya. "Masa mudamu, masa depanmu, dan setiap napasmu... semuanya ada di bawah namaku."

​Dipta berbalik pada Alan dan Kirana. "Kalian boleh pergi. Urusan kita selesai. Jangan pernah temui dia tanpa izinku."

​"Tapi Dipta, dia anak kami—" Kirana mencoba memprotes.

​"Dia adalah istriku sekarang," potong Dipta tajam. "Dan aku tidak suka berbagi milikku dengan siapapun, termasuk kalian."

​Dipta menarik Keyla keluar dari gereja, mengabaikan tangisan ibunya. Begitu kembali di dalam mobil, Dipta menarik napas lega. Ia memandang surat nikah di tangannya, lalu beralih pada Keyla yang kini meringkuk di sudut kursi, menatap kosong ke luar jendela.

​"Jangan berpikir untuk mencoba bun uh d iri lagi, Keyla," ujar Dipta sambil membelai rambut gadis itu dengan protektif yang menakutkan. "Karena sekarang, kau bahkan tidak punya hak atas nyawamu sendiri. Aku yang menentukan kapan kau boleh pergi, dan itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat."

​***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!