Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Kedatangan Ipar dan Mantan Mertua Daviko
Pagi menyingsing melalui celah gorden. Cahaya matahari menyinari wajah Saliha yang baru saja terbangun, tangannya masih memeluk Kaffara.
Daviko masuk ke kamar untuk mengambil seragamnya. Ia terhenti sejenak, menatap pemandangan itu. Saliha terlihat begitu penyayang, dan Kaffara tampak sangat sehat dan ceria.
Daviko melangkah mendekat, memperhatikan wajah Saliha yang tampak tirus dan pucat. Ada lingkaran hitam di bawah matanya.
"Apa benar kamu belum pernah menikah, Saliha?" gumam Daviko sangat pelan, menyampaikan rasa penasarannya sejak semalam. Meskipun sebenarnya ia sama sekali tidak peduli dengan kehidupan Saliha.
Saliha bangkit, membuat Daviko langsung menjauh. Saliha menduduki ranjang, sementara Kaffara masih dibiarkan terbaring. Wajah bayi itu terlihat tersenyum kecil, entah apa yang ia tertawakan.
"Segera mandi dan bersihkan dirimu. Setelah itu, ceritakan semuanya padaku secara jujur di ruang tamu. Jika aku menemukan satu saja kebohongan, aku akan menyeretmu keluar dari rumah ini tanpa ampun," ucap Daviko sebelum berbalik pergi dengan langkah militernya yang angkuh.
Saliha terduduk, mendekap Kaffara lebih erat. Ia tahu, hari ini akan menjadi hari di mana semua lukanya harus dibuka di hadapan pria yang paling ia takuti sekaligus masih ia cintai.
Suasana di ruang tamu, terasa lebih dingin daripada suhu pendingin ruangan yang menyala. Daviko duduk tegak di kursi tunggal dengan kaki menyilang.
Sementara Saliha duduk di sofa panjang dengan kepala tertunduk. Di antara mereka, hanya ada keheningan yang menyesakkan, sebelum Daviko akhirnya memecah kesunyian dengan suara yang menyerupai dentuman peluru.
"Aku tanya sekali lagi, dan pastikan ini yang terakhir kalinya aku bertanya hal bodoh ini padamu." Daviko mencondongkan tubuhnya ke depan, sorot matanya yang tajam seolah hendak menelanjangi kebenaran di balik wajah pucat Saliha.
"Apa benar kamu belum pernah menikah dan tidak memiliki anak dari hubungan mana pun?"
Saliha menarik napas pendek yang terasa berat di dadanya. Ia tidak berani menatap mata pria itu. "Benar, Pak. Saya tidak pernah menikah. Setelah... setelah hubungan kita berakhir, saya tidak pernah sampai ke jenjang itu dengan siapa pun. Saya belum pernah hamil, apalagi melahirkan."
Daviko mendengus, tawa sinisnya yang singkat terdengar menyakitkan. "Lalu kenapa kamu membiarkan dirimu hancur sampai pada titik ini? Mengonsumsi obat-obatan hanya karena pria-pria yang meninggalkanmu? Kamu ingin aku merasa iba?"
"Saya tidak meminta dikasihani, Pak. Saya hanya ingin bertahan hidup. Saya datang melamar pekerjaan ke sini, tidak tahu kalau itu anak Bapak," bisik Saliha lirih.
Daviko bangkit, merapikan baret hijau dan seragam lorengnya yang sangat rapi. "Simpan semua drama itu. Bagiku, kamu tetaplah Saliha yang dulu, wanita yang lebih memilih hasutan pria lain daripada kesetiaan. Urus Kaffara dengan benar. Bekerjalah sesuai tugasmu. Pastikan dia kenyang dan jangan biarkan dia menangis sedikit pun selama aku pergi. Ingat, kamu di sini hanya karena air susu itu, bukan karena hal lain."
Tanpa menunggu jawaban, Daviko melangkah pergi. Langkah sepatunya yang beradu dengan lantai marmer terdengar tegas dan angkuh, meninggalkan Saliha yang mematung dengan air mata yang hampir jatuh. Saliha kemudian berbalik, melangkah gontai menuju kamar atas untuk menemui Kaffara yang baru saja terbangun.
Sementara itu di kantor Ajen, pikiran Daviko tidak benar-benar berada di atas tumpukan dokumen yang harus ia tandatangani.
Bayangan Saliha yang menyusui Kaffara dengan penuh kasih semalam terus mengganggu fokusnya. Kata "Galaktorea" yang diucapkan Saliha terus terngiang di telinganya.
"Galaktorea...." gumamnya sambil menatap layar komputer di mejanya.
Jarinya mulai mengetik kata kunci itu di kolom pencarian. Sesaat kemudian, ribuan informasi muncul. Daviko membaca dengan saksama.
Sebuah kondisi medis di mana kelenjar susu memproduksi ASI pada wanita yang tidak hamil atau menyusui. Pemicu utama, gangguan hormonal, efek samping obat-obatan antidepresan, atau stres emosional yang ekstrem.
Daviko terdiam. Pikirannya melayang pada ucapan Saliha semalam, tentang bagaimana hidupnya selalu gagal sejak mereka berpisah.
"Sepertinya sumpahku memang sedang berjalan padanya," gumam Daviko dengan suara rendah.
Ada perasaan ganjil yang menyusup di sudut hatinya. Kepuasan karena melihat Saliha menderita akibat sumpah serapahnya dulu, tapi di sisi lain, ada rasa sesak yang tidak ia mengerti.
Melihat Saliha yang begitu tirus, pucat, dan hampir gila karena depresi bukanlah kemenangan yang ia bayangkan sebelumnya. Namun, Daviko segera menggelengkan kepalanya. Prajurit tidak boleh lemah karena masa lalu, pikirnya.
Baginya, Saliha tetaplah pekerja. Seorang ibu susu yang dibayar untuk mengasuh Kaffara. Tidak kurang, tidak lebih.
Dua hari berlalu, Saliha mulai terbiasa dengan rutinitasnya. Meskipun Daviko memperlakukannya seperti pajangan yang tak terlihat, Saliha merasa menemukan tujuannya kembali setiap kali menatap mata bulat Kaffara. Bayi itu sangat mirip dengan Daviko, tegas namun butuh kasih sayang.
Siang itu, Saliha sedang berada di kamar utama Daviko. Kaffara sedang menyusu langsung padanya, sebuah momen yang biasanya membuat Saliha merasa tenang.
Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang king size yang dulu merupakan ranjang pengantin Daviko dan mendiang istrinya, Amara.
Tiba-tiba, suara riuh terdengar dari lantai bawah. Saliha menghentikan gerakannya saat mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru menaiki tangga.
BRAK!
Pintu kamar terbuka dengan kasar. Saliha tersentak, spontan menutupi dadanya dengan kain bedong Kaffara.
Di ambang pintu, berdiri seorang wanita paruh baya dengan pakaian glamor dan seorang wanita muda yang wajahnya sangat mirip dengan foto pernikahan Daviko di ruang tamu. Mereka adalah Ibu Ratna, mantan mertua Daviko, dan Tari, adik dari almarhumah Amara.
"Siapa kamu?!" Teriakan Ibu Ratna membelah keheningan kamar.
Saliha gemetar hebat. Ia mencoba bangkit namun Kaffara masih dalam posisinya. "Saya... saya pengasuh Kaffara, Bu."
Tari melangkah maju dengan wajah penuh kemarahan. Matanya tertuju pada Saliha yang duduk di atas ranjang kakaknya.
"Pengasuh? Pengasuh macam apa yang berani duduk di ranjang Mbak Amara dengan keadaan... astaga! Kamu menyusuinya?"
"Kurang ajar!" Ibu Ratna mendekat, wajahnya merah padam. "Daviko tidak pernah bilang kalau dia mencari ibu susu. Kenapa ada wanita asing di kamar menantuku? Dan kenapa kamu berani sekali menyentuh ranjang ini dengan tubuh kotormu?"
"Maaf, Bu... saya hanya menjalankan perintah Pak Daviko. Kaffara tidak mau minum dari dot," jelas Saliha dengan suara bergetar.
Tari menarik paksa selimut yang menutupi kaki Saliha. "Keluar! Kamu tahu tidak siapa yang baru saja kamu gantikan? Kamu pikir dengan menyusui Kaffara, kamu bisa menggantikan posisi kakakku di hati Mas Daviko? Lihat dirimu, kamu tampak seperti wanita murahan yang sengaja menjebak kakak iparku!"
"Saya tidak bermaksud begitu, Mbak...."
"Jangan panggil aku Mbak! Ibu, lihat ini! Daviko pasti sudah gila memasukkan wanita seperti ini ke rumahnya!" Tari berteriak histeris. Ia mencoba meraih Kaffara dari pelukan Saliha.
"Berikan bayi itu padaku! Jangan biarkan anak Mbak Amara tertular sial dari wanita macam kamu!"
"Jangan, Mbak! Nanti Kaffara nangis" Saliha berusaha melindungi bayi itu, namun tenaganya kalah kuat dari amarah Tari.
Kaffara mulai menangis kencang, suaranya melengking penuh ketakutan. Suasana menjadi sangat kacau. Ibu Ratna terus memaki, menuduh Saliha sebagai wanita penggoda yang memanfaatkan kematian Amara untuk masuk ke rumah Daviko.
"Ada apa ini?"
Suara menggelegar itu membuat semua orang di kamar terdiam. Daviko berdiri di depan pintu dengan seragam yang masih lengkap, napasnya memburu. Ia baru saja pulang dan mendengar keributan dari luar.
"Daviko! Jelaskan pada Ibu, siapa wanita ini? Kenapa dia ada di ranjang Amara dan menyusui cucuku?" Bu Ratna menghampiri Daviko dengan air mata yang mulai mengalir.
Daviko menatap Saliha yang kini meringkuk di pojok ranjang sambil mendekap Kaffara yang menangis histeris. Wajah Saliha benar-benar hancur, ia terlihat seperti pesakitan yang siap dieksekusi.
"Dia Saliha, pengasuh baru Kaffara. Aku yang memintanya tinggal di sini," jawab Daviko dengan nada dingin yang berusaha ia jaga.
"Tapi tidak begini caranya, Mas!" Tari menyela. "Dia menyusui langsung. Di kamar Mas Daviko. Di ranjang Mbak Amara. Mas sudah melupakan Mbak Amara secepat itu sampai membawa wanita asing masuk ke kamar pribadimu?"
Saliha hanya bisa menunduk, air matanya jatuh membasahi pipi Kaffara. Ia merasa dirinya benar-benar hina.
Di mata dunia, ia hanyalah pengganggu. Di mata Daviko, ia adalah pengkhianat. Dan di mata keluarga ini, ia adalah sampah yang mengotori kenangan suci.
Daviko menatap Saliha lama, sebelum akhirnya membuang muka. "Ibu, Tari, mari bicara di bawah. Saliha, bawa Kaffara ke kamarmu di bawah sekarang juga. Jangan pernah naik ke kamar ini lagi tanpa izinku."
Saliha segera bergerak cepat. Dengan tangan gemetar, ia merapikan pakaiannya dan menggendong Kaffara menjauh dari kamar itu, melewati Tari dan Bu Ratna yang menatapnya dengan pandangan penuh kebencian seolah-olah ia adalah kuman yang menjijikkan.
Di dalam kamar kecilnya di bawah, Saliha jatuh terduduk di lantai. Ia memeluk Kaffara erat-erat. Hatinya hancur berkeping-keping.
Sumpah Daviko benar-benar nyata. Ia tidak akan pernah bahagia, bahkan saat ia mencoba melakukan hal baik sekalipun, dunia akan selalu menemukannya sebagai pihak yang bersalah.
semangat ya😚