Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebingungan Zafira
Fira nggak bisa tidur, sudah jam dua pagi tapi matanya masih melek lebar, ngeliatin langit langit kamar kos yang retak retak. Kata kata Adit terus berputar di kepala, kayak kaset rusak yang diulang ulang terus.
"Aku suka sama kamu Fir, dan itu sudah lama."
Fira berbalik badan ke kanan, menutup mata, dan mencoba untuk tidur. Tapi ia nggak bisa tidur. Kenapa sih? Kenapa harus bingung kayak gini? Harusnya dia seneng kan? Ada cowok baik yang pedulu sama dia. Tapi kenapa rasanya malah tambah berat?
Fira mengambil ponselnya, melihat jam. Sekarang sudah jam dua lewat sepuluh menit. Rania pasti sudah tidur. Tapi dia butuh bicara, butuh curhat.
Tangannya gemetar, lalu mulai mengetik pesan untuk Rania.
...💌...
Fira: Ran, lo sudah tidur belum?
Nggak nyangka, beberapa detik kemudian Rania bales.
^^^Rania: Belum nih, lagi nonton drakor. Lo kenapa, Kok belum tidur?^^^
Fira: Aku sama Ditya... Bisa telpon nggak?
^^^Rania: Oke. Bentar ya.^^^
Ponsel Fira langsung berbunyi, yang tak lain dari Rania. Fira langsung mengangkatnya.
...📞...
"Hallo, Ran."
^^^"Iya, Fir. Ada apa sih? Lo kedengeran lemes banget suaranya."^^^
Fira tarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya pelan.
"Ran. Tadi malam, Ditya mengaku suka sama aku."
Hening sebentar. Terus terdengar suara Rania yang terdengar kaget.
^^^"SERIUS?! Terus kamu jawab apa?"^^^
"Awalnya, aku cuma diam saja, Ran. Tapi..."
^^^"Tapi apa? Bukannya, kamu juga suka sama, Ditya?"^^^
"Iya Ran, aku juga tau. Pasti kamu nggak akan percaya deh dengan semua ini."
^^^"Memangnya ada apa?"^^^
"Sebenarnya, Ditya mengajak aku untuk menjalin HTS, Ran." ucapku dengan suara yang sedikit gemetar.
^^^"Terus, kamu setuju gitu?"^^^
"Iya, Ran. Aku setuju, dan kami resmi menjalin HTS," ucapku pelan. "Karena aku dan Ditya takut, jika kita pacaran, takut malah saling menyakiti dan akhirnya ada kekecewaan lagi."
Air mata mulai mengalir. Fira mengusap cepet pake punggung tangan sambil lanjut ngomong.
^^^"Dan aku juga takut, kalau Ditya ternyata sama seperti Anggara. Pergi tanpa bilang bilang, dan meninggalkan aku sendirian lagi. Ran, aku nggak kuat kalau harus sakit lagi seperti kemarin, begitu juga Ditya, dia nggak mau patah hati lagi."^^^
Rania diem sebentar, nafasnya terdengar berat dari seberang sana.
"Fir, dengerin aku baik-baik ya. HTS juga nggak nutup kemungkinan kalo kalian akan saling jatuh hati. HTS itu menyakitkan, Fir. Kita bukan miliknya, tapi kita sama-sama takut kehilangan."
Fira hanya terdiam, dan menghela nafas pelan.
^^^"Ditya bukan Anggara, Fir. Stop bandingin mereka berdua. Mereka dua orang yang berbeda. Ditya selalu ada buat kamu, dia dateng tiap hari, dia perhatian. Dan itu, bukan hal yang pernah Anggara lakukan padamu."^^^
"Tapi Ran, Anggara juga dulu perhatian, dulu juga dia selalu ada. Tapi tetep aja kan dia pergi gitu aja."
^^^"Iya, dan itu bukan salah kamu Fir. Itu pilihan Anggara. Pilihan yang brengsek. Tapi kamu nggak bisa hidup dalam ketakutan terus, gara-gara satu orang yang nyakitin kamu. Kamu masih muda Fir, kamu masih berhak bahagia, kamu berhak jatuh cinta lagi."^^^
Fira nangis makin kenceng.
"Tapi aku takut Ran, aku bener-bener takut, itu sebabnya kita sepakat untuk menjalin HTS saja."
^^^"Aku tau sayang, aku tau. Untuk sekarang, kamu jalani aja hubungan kamu sama Ditya sebagai HTS. Dan hanya waktu yang akan menjawabnya."^^^
"Tapi kita sepakat buat nggak pakai hati, dan nggak saling jatuh cinta, Ran."
^^^"Fira, aku yakin. Seiringnya kalian terus bersama, perasaan itu pasti akan berubah menjadi cinta. Dan hubungan HTS itu, pasti akan berubah menjadi pacaran yang sebenarnya."^^^
Fira merenungkan kata-kata Rania.
"Tapi nanti gimana kalau ternyata aku nggak bisa? Gimana kalau di tengah jalan, aku malah membuat Ditya sebagai pelarian atas rasa sakitku?"
^^^"Semuanya pasti butuh proses, Fira. Perlahan aja, siapa tau Ditya malah jatuh hati beneran sama kamu."^^^
Fira mengusap air mata, nafasnya mulai agak tenang.
"Ran, makasih ya. Makasih sudah selalu dengerin aku."
^^^"Sama-sama sayang. Aku cuma pengen kamu bahagia. Dan aku merasa, Ditya bisa membuat kamu bahagia. Cuma kamu yang bisa memutuskan itu."^^^
"Aku akan liat, sejauh mana hubungan HTS ini akan bertahan. Apa akan terus HTS selamanya? Atau kita malah pacaran beneran?"
^^^"Nah gitu dong. Dan satu hal lagi, Fir."^^^
"Apa?"
^^^"Lepaskan kalung itu."^^^
Fira tersentak, tangannya refleks menggenggam kalung perak, yang berbentuk hati di lehernya.
"Ka-kalung ini?"
^^^"Iya. Kalung pemberian Anggara. Kamu masih pake sampe sekarang kan?"^^^
"Iya, aku masih memakainnya."
^^^"Fir, selama kamu masih pake kalung itu, berarti kamu masih nyimpen Anggara di hati kamu. Meski cuma sedikit, kalau kamu emang mau menjalin hubungan sama Ditya, kamu harus lepas masa lalu kamu. Termasuk kalung itu."^^^
Fira ngeliatin kalung di tangannya. Kalung yang udah dia pake hampir dua tahun. Kalung terakhir yang Angga kasih sebelum pergi.
"Oke Ran, aku bakal lepas kalung ini."
^^^"Bagus. Sekarang tidur sana, sudah malem banget. Besok kamu harus kerja kan?"^^^
"Iya. Makasih ya Ran, beneran makasih banget."
^^^"Iya sayang. Tidur yang nyenyak. Dan inget, apapun keputusan dan hubungan kalian nanti, aku bakal dukung."^^^
Setelah panggilan selesai, Fira duduk diem di pinggir kasur sambil menggenggam kalung itu. Kalung perak berbentuk hati, simbol cinta pertamanya. Simbol janji yang nggak pernah ditepati, simbol masa lalu yang harus dia tinggalkan.
Dengan tangan gemetar, Fira membuka kalung itu dari lehernya. Rasanya berat banget, kayak melepas bagian dari dirinya. Tapi begitu kalung itu lepas, Fira ngerasain ringan. Kayak beban yang selama ini dia bawa akhirnya turun.
Fira menaruh kalung itu di laci meja, di paling dalam. Lalu menutup laci itu rapat-rapat.
"Selamat tinggal Anggara," bisiknya pelan. "Makasih sudah mengajarkan aku tentang cinta, meski harus berakhir sakit. Tapi sekarang aku harus move on. Aku harus mencoba bahagia lagi."
Fira rebahan di kasur, kali ini rasanya lebih ringan. Matanya mulai berat, tubuhnya capek setelah nangis panjang.
Dan malem itu, untuk pertama kalinya dalam berbulan bulan, Fira tidur tanpa kalung Anggara. Tidur dengan hati yang mulai terbuka buat kemungkinan yang baru.
***
Pagi harinya, Fira bangun dengan perasaan beda. Lebih seger, lebih hidup gitu. Dia mengecek ponselnya, dan ada pesan dari Ditya.
...📩...
Ditya: Pagi Fir. Semoga tidur kamu semalam nyenyak ya. Jangan lupa sarapan.
Fira tersenyum saat membaca pesan itu, lali ia membalasnya.
^^^Fira: Pagi Dit. Iya, tidur aku nyenyak kok. Kamu udah sarapan?^^^
Ditya: Aku sudah sarapan kok, tadi sarapan nasi goreng instan hehe. Kalo kamu?
^^^Fira: Belum nih, aku mau masak mie dulu.^^^
Ditya: Jangan mie terus Fir, itu nggak baik buat kesehatan kamu. Nanti aku beliin nasi uduk ya, pas ke kafe.
^^^Fira: Nggak usah repot-repot, Dit."^^^
Ditya: Nggak repot kok. Aku juga mau makan nasi uduk soalnya hehe.
Fira tertawa kecil saat membaca chat itu. Ditya emang selalu bisa membuat dia tersenyum. Fira mulai mengetik lagi.
^^^Fira: Dit, makasih ya. Makasih buat kemarin.^^^
Ditya: Sama-sama Fir. Sekarang, kita jalanin dulu aja, meskipun sekedar HTS sih.
Fira tak membalas lagi pesan dari Ditya, ia menaruh ponselnya di dada, dan Fira malah senyum-senyum sendiri.
Tapi satu hal yang Fira nggak tau, Ditya juga lagi berjuang dengan dirinya sendiri. Berjuang buat bener-bener mengikhlaskan Jessica. Berjuang buat menjalani hari-harinya bersama Fira, tanpa harus ada bayang-bayang dari Jessica, mantan pacarnya.
Dan kadang, perjuangan itu nggak semudah yang dikira. Kadang juga, masa lalu nggak segampang itu untuk ditinggalkan.
jadilah wanita teges jng terlalu bucin ma laki. fira Cinta sendirian 🤣