NovelToon NovelToon
Kupinjam Waktu Untuk Membalasmu

Kupinjam Waktu Untuk Membalasmu

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Berondong / Ketos / Reinkarnasi / Obsesi / Pembaca Pikiran / Tamat
Popularitas:472
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Dinding Kepercayaan

Odelyn merampas Arsa dari pelukan Gavin, mendekap bayinya begitu erat seolah takut dunia akan mengambilnya lagi. Gavin bersimpuh di kaki Odelyn, menangis penuh penyesalan karena kecerobohannya telah hampir melenyapkan nyawa anak mereka.

​Melalui ponsel Odelyn yang masih menyala, suara Hediva terdengar lembut.

"Arsa aman, Lyn? Jangan menangis. Saya akan pastikan wanita itu membusuk di tempat paling gelap di dunia ini."

​"Terima kasih, Hediva... terima kasih," bisik Odelyn.

​Malam itu, Odelyn duduk di kamar bayi, menatap Arsa yang sudah tertidur. Gavin mendekat, ragu-ragu. Odelyn menoleh pelan.

​"Gavin, ini peringatan terakhir. Benar-benar terakhir," ucap Odelyn.

"Bukan cuma harta kamu yang hilang kalau ini terjadi lagi. Tapi aku sendiri yang akan memastikan kamu nggak akan pernah lihat matahari lagi. Paham?"

​Gavin mengangguk pelan, menyadari bahwa ia telah sangat beruntung memiliki istri yang kuat dan sahabat sehebat Hediva.

Setelah insiden penculikan Arsa, Nike resmi dijatuhi hukuman penjara maksimal tanpa remisi.

Odelyn menggunakan seluruh koneksi hukumnya untuk memastikan wanita itu "membusuk" di sel paling terisolasi. Namun, kemenangan itu terasa hambar.

​Di dalam rumah mereka yang megah, Odelyn mulai membangun dinding es. Ia tidak bisa lagi menatap Gavin tanpa teringat betapa mudahnya pria itu dimanipulasi oleh air mata murah.

​Setiap kali Gavin mencoba menyentuhnya, Odelyn menghindar. Setiap kali Gavin pulang, Odelyn memeriksa riwayat teleponnya secara obsesif. Odelyn mulai meragukan apakah Gavin benar-benar berubah, atau hanya sedang "takut" padanya.

​"Aku sudah memberikan semua hartaku padamu dan Arsa, Lyn. Apa itu belum cukup?" tanya Gavin suatu malam dengan nada putus asa.

​Odelyn menoleh, menatap Gavin dengan tatapan kosong.

"Harta bisa dicari, Gavin. Tapi rasa aman yang hilang... itu nggak punya harga."​

Di seberang benua, di kantor pusat Vandermere Group di London, Hediva tidak lagi terlihat seperti ksatria yang tulus. Di depannya, terpampang layar besar yang memantau kondisi mental Odelyn melalui algoritma perilaku dan laporan dari agen rahasianya di Singapura.

​Hediva menuangkan whiskey mahal ke gelasnya. Senyumnya tidak lagi lembut; itu adalah senyum seorang predator yang telah menunggu mangsanya terluka cukup parah.

​Selama ini, Hediva membantu bukan hanya karena cinta, tapi karena investasi. Dia membiarkan Gavin kembali agar Gavin melakukan kesalahan. Dia menyelamatkan Arsa agar dia menjadi pahlawan tak tergantikan. Tujuannya satu: Membuat Odelyn merasa bahwa Gavin adalah beban, dan hanya Hediva-lah satu-satunya pria yang setara dengannya.

​"Gavin adalah bidak yang sudah rusak," gumam Hediva pada asistennya.

"Sekarang saatnya kita tarik Odelyn ke tempat di mana dia seharusnya berada. Di samping saya."Hediva tiba-tiba terbang ke Singapura dengan alasan audit proyek satelit.

Ia mengatur pertemuan privat dengan Odelyn di sebuah restoran tertutup di puncak gedung.

​"Kamu terlihat hancur, Odelyn," ucap Hediva, suaranya terdengar sangat simpatik namun ada tekanan di dalamnya.

"Berapa lama lagi kamu mau bertahan dengan pria yang hampir melenyapkan anakmu? Kamu adalah seorang Ratu, Lyn. Kamu butuh Raja, bukan beban yang harus terus kamu jaga."

​Odelyn terdiam, menyesap anggurnya.

"Gavin sedang berusaha, Hediva."

​"Berusaha tidaklah cukup di dunia kita," potong Hediva cepat. Ia mencondongkan tubuhnya.

"G-Corp sedang goyang karena skandal penculikan itu. Saya bisa mengambil alih semuanya, menyelamatkan reputasimu, dan memberikan Arsa masa depan di London sebagai pewaris Vandermere. Tinggalkan Gavin. Dia tidak akan pernah bisa melindungimu seperti saya."

Namun, ambisi Hediva melampaui sekadar kata-kata. Tanpa sepengetahuan Odelyn, Hediva diam-diam mensabotase beberapa proyek Gavin di lapangan, membuat Gavin terlihat tidak kompeten lagi di mata dewan direksi.

​Hediva ingin menciptakan situasi di mana Gavin kehilangan segalanya—harta, karier, dan kepercayaan diri—sehingga Odelyn tidak punya pilihan selain berpaling.

​Malam itu, Gavin pulang dengan wajah sangat hancur. "Lyn... proyek di Jurong gagal total. Izinnya dicabut tiba-tiba. Aku nggak tahu kenapa semuanya jadi berantakan lagi."

​Odelyn melihat Gavin dengan rasa curiga yang makin dalam. Namun, sisi Mastermind-nya menangkap sesuatu yang janggal. Ia melihat pola kegagalan proyek Gavin sangat rapi, terlalu rapi untuk sebuah kecelakaan.​

Odelyn masuk ke ruang kerjanya dan mulai melakukan tracing digital terhadap aliran dana dan dokumen pencabutan izin proyek Gavin. Di sana, ia menemukan jejak samar sebuah perusahaan cangkang yang berbasis di Swiss.

​Perusahaan itu milik Vandermere Group.

​Odelyn menyandarkan punggungnya, jantungnya berdegup kencang. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Gavin mungkin tidak kompeten, tapi Hediva jauh lebih berbahaya.

Hediva sedang mencoba "menghancurkan" hidupnya secara perlahan agar dia bisa "menyelamatkannya".

​"Jadi ini wajah asli kamu, Hediva?" bisik Odelyn pada layar monitornya.

​Odelyn kini berada di antara dua pria: Suami yang ia ragukan kesetiaannya, dan sahabat yang diam-diam ingin memilikinya dengan cara menghancurkan dunianya.

Malam itu, hujan turun deras di Singapura. Gavin duduk di pojok ruang kerja dengan tumpukan berkas pembatalan proyek yang berserakan. Dia terlihat seperti pria yang sudah kehilangan jiwanya.

​"Aku gagal lagi, Lyn. Mungkin Hediva benar... aku memang nggak layak buat kamu dan Arsa," gumam Gavin tanpa menoleh saat Odelyn masuk.

​Odelyn berjalan mendekat, tapi bukan untuk memeluknya. Dia melemparkan sebuah tablet ke atas meja Gavin. Di layarnya terpampang diagram aliran dana dari perusahaan cangkang di Swiss menuju para kontraktor yang memboikot proyek Gavin.

​"Berhenti mengasihani diri sendiri, Gavin. Kamu bukan gagal karena bodoh," ucap Odelyn dingin.

"Kamu gagal karena kamu sedang dihancurkan oleh orang yang kamu anggap pahlawan."

​Gavin mengerutkan kening, membaca data itu dengan teliti. Matanya membelalak. "Vandermere? Hediva? Nggak mungkin... dia yang nyelametin gue di London! Dia yang bantu nyari Arsa!"

​"Itu cara dia beli kepercayaan kita, Gavin!" bentak Odelyn.

"Dia sengaja bikin kamu kelihatan nggak becus supaya aku muak sama kamu dan lari ke pelukannya. Dia mau ambil alih hidup aku, perusahaan kita, dan masa depan Arsa. Dia nggak cuma mau aku, dia mau kehancuranmu secara total."

Gavin terdiam membeku. Rasa dikhianati oleh sahabat sendiri jauh lebih perih daripada diserang oleh musuh seperti Baron.

​Odelyn mencengkeram kerah kemeja Gavin, memaksanya menatap matanya yang tajam.

"Dengerin gue. Gue bertahan sama lo bukan karena gue nggak punya pilihan. Gue punya seribu alasan buat pergi ke London sekarang dan hidup mewah sama Hediva. Tapi gue milih lo."

​"Kenapa, Lyn? Setelah semua kebodohan gue?" tanya Gavin lirih.

​"Karena Arsa butuh ayahnya yang punya tulang punggung, bukan pengecut yang cuma bisa nangis di pojok ruangan! Sekarang pilih: lo mau diem aja sampe Hediva ambil semua yang kita punya, atau lo bangun dan kasih tahu dia kalau dia udah salah pilih lawan?"

Kata-kata Odelyn seperti listrik yang menyengat saraf Gavin. Tatapan matanya yang tadi redup mulai memancarkan api kemarahan—kemarahan yang sehat.

​Gavin berdiri, merapikan kemejanya. "Apa rencana kita, Mastermind?"

​Odelyn tersenyum tipis—senyum yang sangat dirindukan Gavin. "Hediva bakal ngajak gue makan malam perpisahan besok sebelum dia balik ke London. Dia pikir dia udah menang. Dia pikir gue bakal bawa Arsa dan ikut dia."

​"Lalu?"

​"Kita bakal mainin game dia. Kita buat dia merasa di atas angin, sampai dia sendiri yang membongkar kartu as-nya. Sementara itu, Gavin... gue mau lo temuin kontak lama lo di London. Kita butuh 'orang dalam' yang benci sama cara kerja Hediva di Vandermere Group. Kita bakal serang jantung pertahanannya saat dia sibuk ngerayu gue."

Besok malamnya, di sebuah restoran privat yang dipesan khusus oleh Hediva, suasana terasa sangat intim. Hediva tampil sangat mempesona, ia bahkan sudah menyiapkan tiket first class ke London untuk Odelyn dan Arsa.

​"Jadi, bagaimana, Odelyn? Kamu sudah siap meninggalkan semua drama ini?" tanya Hediva sambil menyesap anggurnya, tampak sangat percaya diri.

​Odelyn menghela napas panjang, berakting seolah dia sudah sangat lelah. "Gavin benar-benar sudah hancur, Hediva. Dia kehilangan proyek, kehilangan semangat... aku rasa kamu benar. Aku butuh keamanan."

​Hediva tersenyum penuh kemenangan.

"Keputusan yang cerdas. Saya sudah siapkan semuanya. Kamu nggak perlu mikirin Gavin lagi. Biarkan dia membusuk di sini dengan kegagalannya."

​"Tapi ada satu masalah, Hediva," ucap Odelyn sambil meletakkan ponselnya di meja. "Gavin nggak se-gagal yang kamu kira."

​Tiba-tiba, layar televisi di restoran itu (yang sudah diretas oleh Gavin) menyiarkan berita mendadak: Skandal Manipulasi Pasar oleh Vandermere Group di Asia Tenggara Terbongkar. Saham Vandermere di London terjun bebas.

​Wajah Hediva mendadak kaku. "Apa-apaan ini?"Pintu restoran terbuka. Gavin masuk dengan langkah tegap, tidak ada lagi raut wajah pecundang. Di belakangnya ada tim auditor independen dan pengacara internasional.

​"Halo, Hediva," ucap Gavin dengan nada suara yang dalam dan stabil. "Terima kasih atas 'pelajaran' berharganya. Gue baru sadar kalau untuk jagain Odelyn, gue nggak cuma harus jadi orang baik, tapi gue harus jadi lebih licik dari ular kayak lo."

​Gavin melemparkan berkas bukti sabotase Hediva ke atas meja. "Semua bukti ini sudah masuk ke dewan komisaris kamu di London. Kamu bukan cuma bakal kehilangan Odelyn, tapi kamu bakal kehilangan tahta kamu di Vandermere."

​Hediva berdiri, ia menatap Odelyn dengan tatapan yang sangat gelap. "Kamu memilih pria lemah ini dibanding saya, Odelyn?"

​Odelyn berdiri di samping Gavin, menggandeng tangan suaminya dengan erat.

"Dia mungkin punya celah, Hediva. Tapi dia punya satu hal yang nggak akan pernah kamu punya: Ketulusan yang nggak perlu pake strategi. Selamat jalan ke neraka, Hediva."

1
Anonymous
Keren banyak banget plot twisnya😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!