Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Air yang Mengukir Batu
Hujan musim penghujan datang lebih awal dari biasanya di Sukamaju. Kali ini, hujan tidak hanya turun dengan lama, namun juga cukup deras untuk membuat sungai yang melintasi desa mulai meluap sedikit. Air menggenangi sebagian petak sawah yang baru saja ditanami, membawa lumpur dan dedaunan dari lereng bukit ke arah dataran rendah. Warga berkumpul dengan cepat, membawa ember dan alat-alat sederhana untuk membuat tanggul darurat, berusaha menyelamatkan bibit-bibit yang telah mereka tanam dengan penuh harapan.
Alya terbangun oleh suara keributan di luar rumah pada tengah malam. Ia segera bangkit, mengenakan jaket tebal, lalu keluar bersama Sultan dan Satria yang masih menguap. Di jalan desa, lampu senter berkelip-kelip menerangi wajah-wajah yang lelah namun penuh semangat. Pak Lurah sedang memberikan arahan dengan suara yang kuat agar terdengar di tengah desisan hujan dan suara air yang mengalir deras.
“Jangan khawatir dengan sawah yang sudah tergenangi!” teriak Pak Lurah. “Fokus pada sungai agar tidak meluap lebih jauh. Kita bisa menanam ulang nanti, tapi kalau sungai meluap, banyak rumah yang akan terdampak!”
Alya segera bergabung dengan kelompok warga yang sedang membangun tanggul darurat di tepi sungai. Tangan mereka terasa dingin dan penuh lumpur, namun tidak ada yang mengeluh. Mereka bekerja bersama-sama, membawa tanah dari tempat yang lebih tinggi untuk menambah tinggi tanggul, sementara beberapa orang lain memasang bambu sebagai penahan arus air yang kian deras.
Dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh lampu senter dan kilat yang kadang menyambar di langit, Alya merasakan sesuatu yang ia tidak rasakan sebelumnya—rasa kebersamaan yang begitu kuat hingga membuat setiap tantangan terasa lebih ringan. Tidak ada lagi perbedaan pendapat tentang kerja sama atau arah desa. Yang ada hanya tujuan yang sama: melindungi apa yang telah mereka bangun bersama.
Setelah Badai Berlalu
Hujan akhirnya reda pada pagi hari. Matahari muncul dengan perlahan dari balik awan kelabu, menerangi kondisi desa yang terlihat sepi dan lelah. Sungai kembali ke alur semula, namun sebagian petak sawah dan kebun kerja sama tergenang air dan penuh lumpur. Bibit-bibit yang baru saja ditanam sebagian besar terbawa oleh arus atau terbenam dalam lumpur.
Di bawah tenda sederhana yang telah menjadi tempat berkumpul mereka, warga duduk dengan wajah yang penuh kekecewaan. Beberapa orang terdiam menyendiri, sementara yang lain saling berbicara dengan suara rendah. Kerja sama yang baru saja mereka mulai dengan penuh semangat kini menghadapi ujian pertama yang berat.
Dimas dan Clara datang ke desa pada sore hari yang sama, membawa bantuan berupa makanan dan obat-obatan darurat. Mereka melihat kondisi kebun dan sawah dengan wajah yang penuh prihatin.
“Kami sangat menyesal dengan apa yang terjadi,” ujar Dimas dengan suara yang lembut. “Kita bisa melakukan evaluasi dan melihat bagaimana cara membantu desa untuk pulih.”
Pak Suroto menghela napas panjang. “Kita sudah bekerja keras untuk menyiapkan semua ini. Sekarang hanyalah jadi lumpur belaka.”
“Bukan hanya lumpur, Pak Suroto,” ujar Alya dengan tenang. “Setiap tanah yang kita kerjakan, setiap bibit yang kita tanam, itu sudah meninggalkan jejak di sini. Kita hanya perlu membersihkannya dan memulai lagi.”
Clara mengeluarkan selembar peta yang menunjukkan wilayah desa dan jalur sungai. “Kami telah berbicara dengan tim ahli dari perusahaan. Mereka mengatakan bahwa banjir seperti ini bisa dicegah dengan membangun sistem drainase yang lebih baik dan menanam pohon pelindung di lereng bukit. Ini bisa menjadi bagian dari kerja sama kita—bukan hanya fokus pada produksi, tapi juga pada konservasi lingkungan.”
Alya melihat wajah warga yang mulai menunjukkan rasa ingin tahu. “Artinya, kita tidak hanya akan menanam tanaman untuk dijual, tapi juga untuk melindungi desa kita sendiri?” tanya Ratna dengan suara yang penuh harapan.
“Benar,” jawab Clara dengan senyum. “Kesehatan lingkungan adalah dasar dari semua produksi yang berkelanjutan. Jika kita bisa menjaga sungai dan tanah kita tetap sehat, maka hasil panen kita juga akan lebih baik dan stabil dalam jangka panjang.”
Membangun dari Dasar
Keputusan untuk memulai ulang datang tidak lama setelah itu. Namun kali ini, mereka tidak hanya fokus pada penanaman kembali bibit tanaman. Mereka bekerja bersama-sama dengan tim ahli dari pihak kerja sama untuk membuat perencanaan yang lebih matang—mulai dari membangun sistem drainase yang efektif, menanam pohon pelindung di lereng bukit, hingga membuat lahan tanggul yang bisa digunakan untuk menanam tanaman tahan banjir.
Prosesnya tidak mudah. Mereka harus belajar teknik baru yang sebelumnya tidak mereka kenal, bekerja dengan jadwal yang lebih terstruktur, dan berbagi pengetahuan antara generasi muda dan tua. Pak Suroto, yang awalnya ragu dengan perubahan, kini menjadi salah satu yang paling bersemangat dalam belajar teknik konservasi tanah.
“Saya sudah bertani selama lebih dari empat puluh tahun,” katanya pada salah satu sesi pelatihan. “Tapi baru sekarang saya benar-benar memahami bahwa tanah bukan hanya tempat untuk menanam, tapi juga bagian dari rumah kita yang harus kita jaga.”
Anak-anak desa juga ikut berkontribusi. Mereka membantu menanam bibit pohon di lereng bukit, membawa air untuk menyirami bibit yang baru saja ditanam, dan bahkan membuat pamflet tentang pentingnya menjaga lingkungan untuk dibagikan ke desa-desa sekitar. Satria, yang kini sudah berusia tiga tahun, seringkali ikut bermain di dekat lokasi kerja, membawa ember kecil dan membantu menyiram bibit pohon dengan cara yang lucu namun penuh semangat.
Selama tiga minggu, desa Sukamaju tampak seperti sebuah lokasi pembangunan yang terus bergerak. Tidak ada hari yang terbuang sia-sia. Pagi mereka habiskan untuk bekerja di kebun dan sawah, siang mereka belajar bersama dengan teknisi dari pihak kerja sama, dan malam mereka berkumpul untuk berdiskusi dan merencanakan langkah selanjutnya.
Alya merasa hati menjadi hangat setiap kali melihat warga bekerja bersama-sama dengan semangat yang tinggi. Meskipun mereka telah mengalami kegagalan pada awalnya, namun kegagalan itu justru membuat mereka lebih kuat dan lebih bersatu. Tidak ada lagi yang merasa bahwa kerja sama ini adalah milik sebagian orang saja—semua orang merasa memiliki dan bertanggung jawab atas apa yang mereka bangun bersama.
Tantangan dari Dalam dan Luar
Namun tantangan tidak hanya datang dari alam. Ketika mereka mulai mempersiapkan hasil panen pertama setelah banjir, mereka menghadapi masalah baru dari pasar. Harga komoditas pertanian di pasar utama turun drastis karena pasokan yang melimpah dari daerah lain. Dimas datang ke desa dengan wajah yang cemas untuk memberitahu kabar itu.
“Kita tidak bisa menjual hasil panen kita dengan harga yang kita harapkan,” ujarnya dengan suara yang penuh penyesalan. “Jika kita tetap menjual dengan harga pasar saat ini, kita tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun—bahkan mungkin akan mengalami kerugian.”
Warga mulai merasa gelisah. Beberapa orang mulai menyalahkan diri sendiri, merasa bahwa mereka salah dalam memilih kerja sama. Namun Alya segera mengangkat suara untuk menenangkan suasana.
“Kita tidak bisa mengontrol harga pasar,” katanya dengan tenang. “Tetapi kita bisa mengontrol bagaimana kita menghadapinya. Kita sudah belajar banyak hal selama ini—bukan hanya tentang bertani, tapi juga tentang bagaimana mengelola usaha kita sendiri.”
Ia kemudian mengusulkan untuk membuat produk olahan dari hasil panen mereka. “Misalnya, kita bisa membuat sambal dari cabai yang kita tanam, membuat keripik dari singkong, atau membuat sirup dari buah-buahan yang kita punya. Produk olahan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harga pasar.”
Clara mengangguk dengan senyum. “Kami bisa membantu dengan pelatihan tentang pengolahan produk dan pembuatan label yang menarik. Bahkan, pihak perusahaan bisa membantu memasarkan produk olahan kalian ke pasar yang lebih luas.”
Ide itu mendapatkan dukungan dari semua warga. Mereka segera mulai bekerja—beberapa orang menangani pengolahan produk, beberapa orang belajar tentang keamanan pangan, dan beberapa orang lain mendesain label dan kemasan yang menunjukkan ciri khas desa Sukamaju. Bu Wening, yang terkenal dengan keterampilan memasaknya, menjadi instruktur utama dalam pelatihan pengolahan makanan.
“Kita punya resep tradisional yang sudah ada sejak lama,” katanya dengan bangga saat mengajarkan cara membuat sambal yang awet lama tanpa menggunakan pengawet kimia berbahaya. “Sekarang kita bisa mengemasnya dengan baik dan menjualnya ke luar desa. Ini bukan hanya tentang mendapatkan uang, tapi juga tentang memperkenalkan budaya kita.”
Hasil yang Lebih dari Sekadar Angka
Empat bulan setelah banjir yang melanda desa, Sukamaju akhirnya merayakan hasil panen pertama dan produk olahan yang telah mereka buat. Di balai desa, mereka menampilkan berbagai produk yang telah siap dijual—sambal kemasan, keripik singkong rasa unik, sirup buah segar, dan berbagai jenis sayuran segar yang telah dipanen dengan cara yang lebih baik dan berkelanjutan.
Dimas datang bersama beberapa pembeli dari kota besar. Mereka melihat produk-produk yang ditampilkan dengan mata yang penuh kagum. “Saya tidak menyangka kalian bisa mencapai ini dalam waktu yang singkat,” ujarnya dengan kagum. “Produk-produk ini memiliki kualitas yang sangat baik dan cerita yang menarik. Pasti akan laku keras di pasar.”
Namun yang paling membuat Alya bahagia bukanlah pujian dari pembeli atau janji pemesanan yang datang bertubi-tubi. Melainkan melihat wajah warga yang penuh dengan kebanggaan dan rasa percaya diri. Mereka tidak lagi melihat diri mereka hanya sebagai petani biasa—mereka melihat diri mereka sebagai pengusaha kecil yang mampu menghadapi tantangan dan menemukan solusi sendiri.
Pada malam perayaan, semua warga berkumpul di lapangan desa. Mereka makan bersama, bernyanyi bersama, dan berbagi cerita tentang perjalanan yang telah mereka lalui bersama. Pak Lurah berdiri di tengah kerumunan dengan wadah kecil berisi air dari sungai desa dan tanah dari kebun mereka.
“Air ini pernah membawa kehancuran bagi kita,” ujarnya dengan suara yang kuat dan jelas. “Tanah ini pernah kita anggap hanya sebagai tempat untuk menanam. Tapi sekarang kita tahu—air bisa menjadi sumber kehidupan jika kita bisa mengelolanya dengan baik, dan tanah bisa memberikan hasil yang melimpah jika kita merawatnya dengan cinta.”
Ia kemudian menuangkan sedikit air dan tanah ke dalam wadah yang telah disiapkan, lalu menyerahkannya kepada Alya. “Kamu tidak datang ke sini untuk mengubah kita dengan paksa. Kamu datang untuk membantu kita menemukan kekuatan yang sudah ada di dalam diri kita sendiri. Ini untukmu, sebagai tanda bahwa kamu selalu menjadi bagian dari Sukamaju.”
Alya merasa mata menjadi hangat. Ia menerima wadah dengan hati yang penuh rasa syukur. “Saya tidak melakukan apa-apa besar,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar. “Saya hanya datang untuk belajar bersama kalian. Dan saya telah belajar banyak hal—tentang kerja sama, tentang ketahanan, dan tentang bagaimana kebaikan bisa tumbuh dari tanah yang pernah terkena badai.”
Sultan berdiri di sampingnya, meraih tangannya dengan lembut. Di samping mereka, Satria sedang bermain dengan anak-anak lain, tertawa riang sambil mengejar satu sama lain di bawah langit malam yang penuh bintang.
Jalan yang Masih Panjang
Setelah perayaan selesai dan warga mulai pulang ke rumah masing-masing, Alya dan Sultan tetap tinggal di lapangan desa. Mereka duduk di atas tikar yang masih tersisa, melihat lampu-lampu rumah yang mulai padam satu per satu dan suara nyamuk yang berkicau di sekitar mereka.
“Kamu merasa sudah mencapai tujuan yang kamu inginkan saat pertama kali datang ke Sukamaju?” tanya Sultan dengan suara yang lembut.
Alya tersenyum dan menggeleng perlahan. “Saya tidak pernah datang dengan tujuan yang pasti, Sayang. Saya hanya ingin membantu desa ini menemukan cara untuk hidup lebih baik. Dan sekarang saya tahu bahwa tujuan itu tidak akan pernah selesai. Setiap hari ada hal baru yang harus kita pelajari, setiap musim ada tantangan baru yang harus kita hadapi.”
Ia melihat ke arah kebun yang kini sudah terlihat lebih rapi dan terawat. Cahaya bulan menerangi tanaman-tanaman yang tumbuh dengan baik, serta pohon-pohon pelindung yang telah mereka tanam di lereng bukit. “Air mengukir batu dengan cara yang lambat namun pasti,” ujarnya pelan. “Begitu juga dengan perubahan yang kita lakukan di sini. Tidak cepat, tidak mudah, tapi pasti akan meninggalkan jejak yang abadi.”
Sultan mengangguk. “Kita mungkin tidak akan melihat hasil yang maksimal dalam waktu dekat. Tapi kita telah menanam benih perubahan yang akan tumbuh bersama dengan anak-anak kita, cucu kita, dan generasi setelahnya.”
Alya mengeluarkan buku catatannya dan menulis beberapa kalimat di halaman baru:
“Perubahan tidak selalu datang dengan gemuruh atau kejutan yang besar. Kadang ia datang seperti air yang mengalir perlahan, mengukir batu dengan kesabaran dan ketekunan. Di Sukamaju, saya belajar bahwa kemajuan bukan tentang mencapai titik akhir yang sempurna, tapi tentang menikmati perjalanan dan bekerja bersama untuk membangun sesuatu yang lebih baik dari yang kita temukan. Kita mungkin akan menghadapi badai lagi di masa depan, tapi kini kita tahu bahwa kita memiliki kekuatan untuk bertahan dan tumbuh kembali dengan lebih kuat.”
Ia menutup buku catatannya dan merasakan kedamaian yang mendalam mengalir di dalam dirinya. Di kejauhan, suara ayam jantan mulai bersuara, menandakan bahwa pagi baru akan segera tiba. Dan seperti setiap pagi yang datang, mereka semua akan bangkit lagi, bekerja bersama, belajar bersama, dan berjalan lebih jauh di jalan yang telah mereka tempuh dengan penuh cinta dan dedikasi.
Sukamaju tidak lagi hanya sebuah desa yang berada di persimpangan jalan. Ia telah menemukan jalannya sendiri—jalan yang tidak selalu lurus atau mudah, tapi jalan yang mereka pilih dengan hati dan jiwa