NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Hancur

Bel istirahat berdentang nyaring, memantul di lorong-lorong sekolah yang mulai ramai. Namun, bagi Lunaris, gema suara itu terdengar seperti lonceng kematian yang lambat dan menyakitkan.

Setelah mengompres kakinya di UKS dan merasakan sedikit kelegaan dari rasa nyeri yang membakar, Lunaris memutuskan untuk kembali ke kelas. Ia hanya ingin mengambil seragam sekolahnya, mengganti baju olahraganya yang kotor, dan menghilang ke sudut paling sepi di perpustakaan hingga sekolah usai.

Namun, harapan sederhana itu hancur begitu ia membelok ke koridor sepi yang menuju tangga lantai dua.

Langkah pincangnya terhenti mendadak. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis, digantikan oleh aura mencekam yang pekat. Bracia sudah berdiri di sana, bersandar santai di dinding dengan senyum miring yang mengerikan.

Kali ini, Bracia tidak hanya bersama Emmeline dan Tessa. Di belakangnya, lima siswa laki-laki dengan tubuh besar dan tatapan beringas berdiri tegak layaknya algojo yang siap mengeksekusi pendosa.

Lunaris mundur selangkah, nalurinya berteriak untuk lari, tapi kakinya yang cedera menahannya di tempat.

"Tangkap dia," Perintah Bracia singkat. Nada suaranya datar, tanpa emosi, seolah ia sedang menyuruh membuang sampah.

"Mau apa kalian?! Lepasin gue!" Lunaris menjerit saat tangan-tangan kekar mencengkeram kedua lengan dan bahunya.

Ia mencoba memberontak, memukul dan menendang sebisanya. Namun, dengan pergelangan kaki yang bengkak parah dan kondisi fisik yang lemah karena duka juga belum ada sedikitpun makanan yang mengisi perut Lunaris, perlawanannya sia-sia.

Kekuatannya tak ubahnya seekor semut melawan raksasa.

Mereka menyeret Lunaris secara paksa, tak peduli saat kakinya yang cedera tersandung dan bergesekan kasar dengan lantai. Mereka membawanya naik menuju lantai tiga—area gedung tua yang sudah lama dikosongkan karena kerusakan atap dan pipa.

Tempat itu sunyi, berdebu, dan dilupakan oleh semua orang.

Tujuan mereka adalah toilet belakang di ujung lorong. Sebuah ruangan lembap dengan keramik pecah, berbau pesing menyengat, dan coretan vandalisme di dindingnya. Begitu mereka masuk, pintu ditutup rapat, memisahkan Lunaris dari satu-satunya akses bantuan.

Bracia maju selangkah, menjambak rambut Lunaris dengan kasar hingga gadis itu mendongak paksa, menatap mata Bracia yang penuh kebencian.

"Tadi di lapangan lo berani banget, ya? Merasa jagoan karena bisa ngelawan gue?" bisik Bracia tajam. "Sekarang, ayo kita lihat seberapa berani lo ngelawan gue."

Tanpa peringatan, Bracia memberi isyarat dagu. Dua siswa laki-laki itu menekan punggung Lunaris, memaksanya berlutut di depan salah satu kloset duduk yang airnya keruh dan menjijikkan.

"Cuci dulu otak lo biar sadar diri! Kalo lo itu bukan apa-apa."

Bracia mencengkeram tengkuk Lunaris dan dengan kekuatan penuh membenamkan kepala gadis itu ke dalam lubang toilet.

Blub! Blub!

Dunia Lunaris seketika gelap dan basah. Air kotor yang berbau busuk masuk ke hidung dan mulutnya, membakar saluran pernapasannya.

Lunaris meronta hebat, tangannya mencakar-cakar lantai ubin yang licin, kakinya menendang-nendang udara dalam kepanikan murni. Paru-parunya terasa mau meledak.

Saat kesadarannya nyaris hilang, Bracia menarik rambutnya ke atas, membiarkannya menghirup oksigen dengan rakus hanya selama sedetik.

"Uhuk! Haaah... tolong..."

"Masih mau ngelawan gue, hah?! Jawab!"

Belum sempat Lunaris menjawab, kepalanya kembali dibenamkan. Lagi. Dan lagi. Sampai Lunaris tidak lagi memiliki tenaga untuk meronta, hanya tubuhnya yang mengejang refleks mencari udara.

Akhirnya, Bracia melepaskannya. Lunaris terbatuk-batuk hebat, memuntahkan air kotor dari perutnya, matanya merah dan perih.

Kemudian tanpa peringatan, Lunaris yang masih terbatuk, tubuh lemasnya dilemparkan ke tengah lantai basah seperti onggokan sampah tak berharga.

Tubuhnya basah kuyup, menggigil hebat antara kedinginan dan ketakutan.

"Menyedihkan," Cibir Emmeline.

Emmeline dan Tessa tertawa renyah, seolah sedang menonton pertunjukan sirkus. Mereka mengambil gumpalan tisu bekas yang berserakan di tempat sampah, lalu melemparkannya ke wajah dan tubuh Lunaris.

"Ini tempat yang cocok buat lo, sampah! Lo sama kotornya kayak tisu ini!" Ejek Tessa, diikuti tawa para siswa laki-laki.

Tak berhenti di siksaan mental, kelima siswa laki-laki itu mulai bergerak. Tendangan demi tendangan mendarat di rusuk, punggung, dan perut Lunaris.

Bugh! Bugh!

"Argh!" Lunaris mengerang tertahan, meringkuk memeluk lututnya untuk melindungi organ vitalnya. Tapi setiap kali ia mencoba melindungi diri, pukulan yang datang justru semakin keras. Rasa sakit fisik itu mulai terasa tumpul, tertutup oleh rasa sakit di jiwanya yang perlahan retak.

Bracia melipat tangan di dada, menatap Lunaris yang sudah babak belur dengan kepuasan yang gila. Ia belum selesai. Ia ingin menghancurkan Lunaris sampai ke akar-akarnya, memastikan gadis itu tidak akan pernah bisa bangkit lagi.

"Buka bajunya," Perintah Bracia dingin.

Mata Lunaris membelalak lebar di tengah wajahnya yang lebam. Ketakutan yang lebih besar daripada kematian menyergapnya.

"Nggak... nggak..." Lunaris menggeleng lemah, suaranya parau dan pecah. "Jangan... tolong, gue mohon jangan buka baju gue..."

"Cepetan," Bentak Bracia.

Emmeline dan Tessa maju, dengan paksa menarik dan merobek pakaian olahraga Lunaris yang basah dan bau.

Lunaris mencoba menepis tangan mereka dengan sisa tenaganya yang nyaris nol, tapi kelima siswa laki-laki itu menahan kaki dan tangannya.

"TIDAK! IBU! IBU!!!" Jeritan Lunaris menggema di dinding keramik, tapi tak ada yang mendengar.

Saat melihat Lunaris yang hampir telanjang, Bracia menyeringai. "Guys, lakuin apa yang kalian mau lakuin." Ucap Bracia yang disambut sorakan kepuasan dari kelima cowok itu.

Dalam hitungan detik, martabatnya dilucuti. Ia telanjang, terekspos di bawah lampu toilet yang redup. Kelima siswa laki-laki itu mulai melakukan tindakan pelecehan, tangan-tangan kotor mereka menyentuh kulit Lunaris, meninggalkan jejak trauma yang tak akan pernah bisa dihapus.

Bracia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, merekam setiap detik kehancuran itu. Merekam air mata, ketelanjangan, dan ketidakberdayaan Lunaris.

"Senyum, Luna. Ini momen bersejarah lo," Ejek Bracia sambil mendekatkan kamera ke wajah Lunaris yang hancur. "Ayolah, gak usah pura-pura nolak. Bukannya lo suka ngegodain cowok, termasuk ngegodain tunangan gue."

"Dengar baik-baik. Rekaman ini bakal jadi jaminan. Kalau lo berani muncul di depan Aaron lagi, atau kalau lo berani ngadu ke siapa pun... video ini bakal tersebar ke seluruh sekolah, bahkan ke internet."

Kalimat itu adalah paku terakhir di peti mati jiwa Lunaris.

Penghinaan, rasa sakit fisik, dan hancurnya harga diri menjadi beban yang terlalu berat untuk dipikul oleh seorang gadis yang baru saja kehilangan ibunya.

Pandangan Lunaris mulai mengabur. Langit-langit toilet yang kotor perlahan berputar.

Suara tawa setan di sekelilingnya perlahan menjauh, berganti dengan dengung sunyi yang panjang. Dalam sisa kesadarannya yang mulai padam, Lunaris tidak memikirkan Aaron, tidak memikirkan kakinya, tidak memikirkan sekolah.

Ibu... sakit... batinnya lirih. Tolong jemput Luna... Luna mau ikut Ibu... Luna udah gak kuat lagi....

Tubuh Lunaris akhirnya terkulai lemas. Gelap merengkuhnya, menyelamatkannya sementara dari realitas yang seperti neraka.

Melihat korbannya sudah tak sadarkan diri, Bracia menurunkan ponselnya. Ia menatap tubuh ringkih yang penuh memar dan telanjang itu dengan tatapan jijik, seolah melihat bangkai tikus.

"Sudah cukup. Ayo pergi," Perintah Bracia. "Biarkan dia membusuk di sini sendirian. Biar dia rasakan gimana rasanya nggak punya siapa-siapa."

Gerombolan itu melangkah keluar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Pintu toilet ditutup, dan suara rantai besi yang dililitkan pada gagang pintu terdengar beradu.

Klik.

Lunaris terkunci. Sendirian. Telanjang. Hancur. Sebuah monumen kekejaman manusia yang tersembunyi di balik dinding sekolah, menunggu waktu untuk ditemukan atau dilupakan selamanya.

1
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!