"Manut yo, nek gak manut koe mau jadi anak durhaka!?"
"Perempuan iku musti ayu! musti lues! musti biso sekabehane! Koe ndak perlu berpendidikan tinggi, cukup jadi perempuan yang cantik, semua materi datang padamu, nduk."
Lahir dari keluarga miskin, tinggal di rumah gubuk, tapi memiliki orang tua yang berambisi tinggi untuk menjadi kaya. Rukmini, di tempa menjadi anak yang serba bisa. Dia anak satu - satunya tapi tercekik oleh ke egoisan orang tuanya, sehingga tumbuh dendam dan kebencian pada orang tua nya.
Dia melawan aturan, melawan takdir bahkan melawan Tuhan nya, dengan membuat ikatan perjanjian darah dengan yang gelap hanya agar dia bebas dari orang tua nya, tidak peduli apa konsekunsinya..
"WANI TEKO WANI MATI!"
[Novel RUKMINI ini adalah kisah lengkap tentang Rukmini, Sosok ibu yang ada di novel SUARA]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.6. Ketahuan bapak [RUKMINI]
Beberapa saat kemudian Rukmini terbangun, dia merasakan sakit luar biasa di perut nya. Rasanya seperti ada sesuatu yang menusuk - nusuk dan meremas - remas perut Rukmini. Tapi saat Rukmini membuka mata, yang terlihat adalah wajah Bagus.
"Koe sudah bangun? Yuk tak anter pulang." Ucap Bagus, Rukmini memegangi perut nya.
"Weteng (perut) ku sakit banget." Ucap Rukmini, Bagus lalu memberi Rukmini sesuatu.
"Iki obat, dari simbok. Kamu minum dulu supaya perut nya ndak sakit." Ucap Bagus, Rukmini kecil mengangguk.
Tanpa curiga sedikitpun, Rukmini meminum entah apa itu yang di berikan oleh Bagus dengan wadah batok kelapa. Rukmini bisa merasakan sedikit amis, tekstur nya juga tidak seperti air biasa.. Entah lah, Rukmini tidak bisa menjabarkan.
Dan ajaib nya, tak sampai sepuluh menit perut Rukmini yang semula sangat melilit itu hilang sakit nya. Hilang benar - benar hilang tanpa sedikitpun merasakan sakit yang tersisa.
"Oh ya, kata simbok.. Obat itu khusus di buat nya, kalo nanti koe sakit perut lagi.. Bisa kesini." Ucap Bagus, Rukmini manggut - manggut.
"Terimakasih, ya?" Ucap Rukmini, Bagus tersenyum.
"Wes toh? Yuk tak anter pulang." Ucap Bagus, Rukmini mengangguk.
"Simbok mana? Aku tak pamit." Ucap Rukmini.
"Simbok tidur, ndak usah pamit. Simbok yang tadi suruh anter koe pulang." Ucap Bagus, Rukmini agak merasa tidak enak hati.. Tapi akhir nya mengangguk.
Mereka lalu kemudian berjalan menyusuri jalanan setapak yang sudah tidak lagi terendam banjir, agak licin karena lumpur. Rukmini menggendong keranjang berisi baju yang sudah di cucinya, dan aneh nya langit nya masih sangat gelap dengan gerimis kecil - kecil yang mengiringi jalan mereka.
Bagus menebang daun pisang dan menjadikan nya payung untuk nya dan Rukmini, masing - masing satu. Tidak ada percakapan apapun sepanjang jalan, mereka berdua hanya diam dan terus diam sampai akhir nya mereka semakin dekat dengan rumah wak Parto.
"Jangan takut Rukmini." Ucap Bagus tiba - tiba seolah tau apa yang Rukmini rasakan.
Rukmini melewati rumah itu, bahkan wak Parto pun melihat Rukmini tapi.. wak Parto tidak memanggil Rukmini, malah wak Parto seperti orang ketakutan dan masuk ke dalam. Rukmini lega dan mempercepat langkah nya, sampai akhir nya makin dekat demgan rumah nya.
"Aku antar sampai di sini saja ya, Mini." Ucap Bagus, Rukmini menoleh.
"Iyo, makasih banyak yo sudah antar aku balik." Ucap Rukmini, Bagus tersenyum.
Rukmini juga tidak mungkin membawa Bagus ke rumah nya, ayah nya bisa marah besar. Sangat kebetulan Bagus tidak mau mampir juga ke rumah nya.
"Sampai ketemu lagi, Mini." Ucap Bagus, Rukmini mengangguk.
"RUKMINI." Teriak bapak nya dari jauh.
"Dalem, pak." Rukmini menoleh ke bapak nya.
"Balik!" Teriak bapak nya, Rukmini kembali menoleh ke aras Bagus tapi ternyata Bagus sudah tidak ada di tempat.
'Eh, sudah pergi.' Batin Rukmini.
"RUKMINI!" Teriak bapak nya lagi.
"Iyo pak." Rukmini akhir nya lanjut jalan pulang.
Rukmini sampai di teras rumah nya dan meletakan keranjang cucian baju nya, bapak nya sudah berkacak pinggang.
"Koe nyuci opo main!? Lama banget!" Ucap bapak nya.
"Hujan gede pak, kali nya banjir juga aku tadi neduh dulu." Ucap Rukmini, bapak nya mendengus kesal.
"Jaga rumah! Bapak mau nyusul ibumu ke ladang." Ucap bapak nya Rukmini mengangguk.
"Kata ibu bawa tampah pak." Ucap Rukmini, bapak nya menarik tampah lalu pergi dari rumah.
Rukmini yang kedinginan itu masuk ke dalam untuk lebih dulu berganti pakaian karena pakaian mya basah kuyup dan kotor meski dia memakai daun pisang, dia ke kamar mandi dan merasa heran karena celana nya sudah tidak keluar darah..
"Opo aku sudah sembuh?" Gumam Rukmini, dia tidak melihat bekas darah menstruasi nya.
Akhir nya Rukmini mencuci pakaian nya dengan air hujan yang mengalir dari genteng rumah nya, dan kemudian dia jemur pakaian nya bareng dengan pakaian - pakaian yang dia cuci di kali.
"Kalo tau hujan aku ndak ke kali tadi, nyuci pake air hujan saja." Gumam Rukmini.
Rukmini selesai menjemur dan kemudian dia masuk ke kamar dan akan menyisir rambut panjang nya, tapi tiba - tiba.. Dia mendengar suara deheman laki - laki.
"Ehem!"
DEG!!
Rukmini kecil menoleh dan ketakutan, dia takut itu wa Parto yang datang ke rumah nya. Saat Rukmini menoleh menatap sekitar saat itu juga muncul sebuah tangan besar, hitam dengan kuku kuku panjang nya membelai rambut Rukmini.
"Hhhh!" Rukmini, kaget saat merasa rambut nya di belai.
Tapi di sana tidak ada siapapun, padahal jantung Rukmini sudah berdebar tidak karuan.
______________________________________
Beberapa hari setelah nya..
Setelah Rukmini sudah tidak lagi menstruasi, dia kembali bekerja di ladang. Seperti biasanya dia membantu kedua orang tua nya, dan kali itu Rukmini kembali meminta agar dekat dengan ibunya, dia tidak mau kejadian bersama wak Parto terulang.
Tapi ibunya yang tidak tahu apapun mengira bahwa Rukmini ini malas, dia tidak mengijinkan Rukmini bekerja di dekat nya dan malah menyuruh Rukmini kecil itu mencari kayu bakar di pekarangan di pinggiran ladang, di sana ada banyak pohon yang jelas banyak ranting nya yang patah.
"Nek nggak bawa banyak, jangan balik kesini. Ndak usah makan koe." Ucap ibunya mengancam.
Begitu setiap harinya, Rukmini akan di ancam lebih dulu, padahal tanpa di ancam pun dia rajin. Tapi perut lapar jelas mengurangi tenaga dan kinerja nya juga jadi kurang, yang ada Rukmini kelaparan.
"Bu, aku boleh ndak makan dulu? Nanti aku tak cari kayu yang banyak." Ucap Rukmini, mencoba tawar menawar.
"Perut kenyang yang ada koe makin males, iki makan ubi dulu. Pokoke nek belum dapet banyak jangan pulang." Ucap ibunya Rukmini, Rukmini mengangguk.
Dia pergi ke belakang ladang, tidak begitu jauh sebenar nya.. Tapi tempat itu jarang sekali di kunjungi kedua orang tua Rukmini karena hanya pekarangan kosong yang di tumbuhi pohon - pohon. jaman dulu.. meskipun rumah rumah warga masih berupa gubug gubug bambu tapi tanah mereka lumayan luas, salah satunya lahan milik orang tua Rukmini itu.
Tapi.. lagi - lagi Rukmini bertemu dengan orang yang paling dia hindari, wa Parto. Seolah mengikuti Rukmini, wa Parto muncul dan menarik tangan Rukmini sambil membekap nya dan membawa Rukmini masuk ke semak - semak.
"Shhh! Nek koe berisik tak panggil sekalian ibumu." Ucap wa Parto, dan Rukmini akhir nya menggeleng - geleng dengan ketakutan.
Dan ya, lagi dan lagi Rukmini di paksa oleh laki - laki tua tak tahu malu itu. Tidak lihat situasi atau kondisi, wa Parto melancarkan aksi nya pada Rukmini lagi, untuk yang ke sekian kali nya. Rukmini hanya bisa menangis tanpa suara, mulut nya di bekap oleh tangan kasar wa Parto sehingga dia makin tak bisa melawan.
Saat wa Parto sedang memaksa Rukmini itu, tiba - tiba saja ayah Rukmini datang ke sana dan melihat anak nya yaitu Rukmini sedang di lecehkan oleh teman baik nya sendiri, dia pun langsung naik pitam.
"PARTO!! Asu koe!!" Ayah Rukmini yang kebetulan membawa parang itu datang menghampiri wa Parto.
Parto yang ketahuan itu panik dan bangun hendak lari, tapi karena kesulitan oleh celana nya akhir nya parang ayah Rukmini lebih dulu mendarat di punggung nya.
"AARGH!!" Parto teriak ketakutan, Rukmini yang melihat itu juga ketakutan, dia juga buru - buru merapihkan dirinya lagi sambil menangis
"Kurang ajar koe!! Wani (berani) koe ngerusak anakku!!" Teriak ayah Rukmini, dia membabi buta melayangkan parang nya berkali - kali.
"Arrgh! Ampun Man, ampun!"
"Brengsek!!"
"Aarghh!!"
"Bajingan koe! Mati koe!!"
BERSAMBUNG!