Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Project Pamor
Kopi Tetangga, Pukul 15.30, Tiga Hari Kemudian
Udara di coffeeshop pagi itu diwarnai oleh aroma kopi dan kegembiraan yang nyata. Ferdy, Andika, dan Roni duduk melingkar di meja favorit mereka, layar laptop menunjukkan laporan penjualan pertama dan email resmi dari kurator seni.
"Gue masih nggak percaya," ucap Roni, matanya berbinar melihat notifikasi transfer dari platform penjualan print.
"Dua print digital laku! Sama satu permintaan cetak fisik ukuran besar! Ini lumayan buat nutup sewa lensa yang kemaren."
"Email dari Pak Suryadi, kurator Galeri Nasional itu, juga serius banget," tambah Andika, jarinya menunjuk layar.
"Dia mau ketemu minggu depan, bahas kemungkinan masukin 3 karya kita di pameran kolektif bertema 'Artefak & Memori'. Exposure-nya gila nih!"
Ferdy tersenyum lebar, rasa bangga dan lega mengisi dadanya. Usaha mereka tidak sia-sia.
"Kita patut bersyukur. Dan…" dia berhenti sejenak, memandangi foto keris di layar laptopnya, "kayaknya object kita kali ini bener-bener membawa keberuntungan."
"Bener juga," kata Andika, mengangguk serius. "Aura dari museum itu kayak nyerap ke foto-fotonya. Orang yang liat kayak bisa ngerasain 'sesuatu'."
Roni mencondongkan badan, suaranya berbisik penuh konspirasi.
"Ngomong-ngomong, lo pada mikir nggak sih? Apa pengaruhnya ya kalau salah satu dari pusaka yang ada di foto itu… beneran kita simpen dan rawat? Bukan fotonya, tapi benda aslinya. Apa bakal bawa keberuntungan yang lebih besar?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Andika terkekeh. "Jangan-jangan lo mau nyolong dari museum, Ron?"
"Bukan! Maksud gue… gimana kalo ada yang punya koleksi pribadi gitu. Atau kita cari benda-benda sejenis di pasar loak. Katanya sih, benda pusaka yang dirawat dengan baik sama pemilik yang cocok, bisa ngasih 'blessing'."
Obrolan itu mengingatkan Ferdy pada sesuatu.
"Ngomong-ngomong soal keberuntungan…" dia mulai, lalu menceritakan tentang nasi berkat dari Ibu Kos di malam dia putus asa.
"Pas gue lagi bener-bener bokek dan mau makan indomie, tiba-tiba dapat rejeki nomplok. Dan itu bertepatan banget sama waktu gue lagi fokus ngerjain foto-foto ini."
"Andaikan memang ada 'penghuni' dari salah satu pusaka itu yang ngikutin lo, Fer," kata Roni, setengah bercanda setengah serius, "gue penasaran, gimana caranya lo berinteraksi sama dia?"
Pertanyaan itu seperti kunci yang membuka pintu di pikiran Ferdy. Selama beberapa hari terakhir, dia memang sudah mulai menerima—bahkan mengharapkan—kehadiran tak kasatmata itu. Wangi melati yang selalu muncul di saat-saat tenang atau penuh syukur, perasaan diawasi yang justru menenangkan, dan mimpinya yang aneh.
"Gue… gue udah mulai ngajak ngobrol," akui Ferdy dengan malu-malu, membuat Andika dan Roni terkesima.
"Iya, tahu sendiri lah, kayak orang gila. Tapi gue anggap aja dia ada. Kadang gue bilang 'makasih' pas ada hal bagus, atau ceritain kalo lagi kesel. Gue juga…" dia tersipu, "kadang nyisihin dikit makanan atau minuman di sudut meja. Biasa aja. Kayak simbol."
"Waduh, lo jadi medium ya, Fer?" goda Andika, tapi matanya penuh rasa penasaran.
"Bukan medium. Cuma… percaya aja kalau alam itu nggak cuma yang kelihatan. Dan kalau dia memang ada dan baik, kenapa nggak diajak berteman?" jawab Ferdy, yakin.
Pertemuan itu berakhir dengan keputusan untuk melanjutkan project "PAMOR" dengan mencari objek-objek bersejarah lain di Jakarta yang kurang terekspos. Mereka juga sepakat untuk tidak main-main dengan benda pusaka asli—itu wilayah yang riskan secara hukum dan spiritual.
---
Gazebo Fakultas Ilmu Budaya, Pukul 16.45, Sore itu Juga
Setelah berpisah dengan timnya, Ferdy harus menghadiri pertemuan kecil terkait bab analisis skripsinya bersama beberapa teman seperjuangan dan seorang asisten dosen.
Mereka duduk di gazebo terbuka yang dikelilingi pepohonan rindang, buku dan laptop berserakan di atas meja kayu.
Diskusi berjalan alot. Ferdy sedang mencoba mempertahankan argumennya tentang "etika visual dalam fotografi jurnalistik bencana" ketika sebuah kehadiran yang familiar—dan kini sedikit membuatnya tegang—mendekat.
"Ferdy? Wah, ketemu lagi."
Kirana. Dia hari ini tampil lebih casual namun tetap elegant: blazer linen warna krem di atas tank top putih, celana wide-leg pants hitam, dan sneakers putih bersih. Rambutnya diikat ponytail rapi. Di tangannya, ada sebuah paper bag bermerek toko baju ternama di mall.
Teman-teman Ferdy langsung hening, mata mereka beralih antara Ferdy dan Kirana yang terkenal sebagai salah satu 'cewek sempurna' kampus—cantik, pintar, keluarga kaya, sekarang sedang menempuh S2 Manajemen.
"Kirana," sapa Ferdy dengan nada datar, mencoba menyembunyikan keheranan.
"Saya jadi kepikiran nih," kata Kirana dengan senyum manis namun terlihat tulus ada sedikit rasa bersalah.
"Kamu tidak pernah mengirim chat biaya dry clean baju itu. Jadi saya pikir… mungkin kamu sungkan atau benar-benar sibuk. Akhirnya saya inisiatif deh, beliin baju ini sebagai penggantinya." Dia menyodorkan paper bag itu.
"Mohon diterima ya. Biar rasa bersalah saya berkurang."
Ferdy terdiam, melihat paper bag itu seperti melihat benda asing. Teman-temannya mulai tidak bisa menahan diri.
"Wih, Ferdy dijagain sama mbak S2 nih!" celetuk salah satu temannya, Reza, yang juga ada di situ.
"Baju baru dari cewek cantik. Nih, bukti tabrakan yang membawa berkah," tambah yang lain sambil tertawa.
Ferdy memerah. "Ini… nggak perlu sih, benaran deh."
"Tolong, Ferdy. Biar saya lega," pinta Kirana, matanya yang sipit menyipit lebih dalam karena senyuman yang tulus. "Ini cuma kaos katun biasa dan sebuah kemeja linen. Saya ukur-ukuran dari kaos kamu yang… terkena capcay itu. Harap pas."
Merasa tidak enak dan di bawah tekanan "audiens", Ferdy akhirnya menerima paper bag itu. "Ya udah. Terima kasih. Tapi… beneran nggak perlu."
"Dan jangan khawatir, saya nggak maksa minta nomor hape atau apa," kata Kirana sambil tertawa ringan, seperti membaca pikiran Ferdy.
"Sekali lagi maaf ya untuk kejadian waktu itu. Semoga skripsinya lancar!" Dia melambaikan tangan dan pergi dengan langkah percaya diri, meninggalkan Ferdy yang masih kebingungan dan teman-temannya yang mulai menggodanya habis-habisan.
"Jodoh kali nih, Fer! Cewek level S2, tajir, baik lagi!"
"Katanya tabrakan bawa jodoh, bener kan!"
Ferdy mengeluh, mencoba fokus kembali ke skripsinya, tapi pikirannya terganggu. Kirana tampak… baik. Sangat berbeda dengan kesan 'cuek' dan 'sok sibuk' yang ia tangkap saat tabrakan. Apakah penilaiannya salah?
---
Di Balik Penampilan, dalam Alam Tak Kasatmata
Dasima, yang sejak Kirana muncul sudah berada dalam posisi siaga tinggi, melayang di antara mereka. Awalnya, energi kebencian dan trauma masa lalunya langsung menyala. Tapi saat dia mengamati lebih dekat… ada yang tidak beres.
Kirana di kehidupan lampau adalah Putri Kirana dari Kerajaan Sunda. Wanita itu licik, ambisius, matanya selalu penuh kalkulasi dan kekejian yang tersembunyi di balik senyuman. Aura yang dulu dia rasakan adalah aura gelap, dingin, penuh dengan niat menguasai dan menghancurkan.
Tapi Kirana yang di depannya sekarang… aura-nya berbeda. Ada cahaya di dalamnya. Tidak sepenuhnya murni—ada ambisi modern, keinginan untuk terlihat baik, mungkin sedikit kepentingan pencitraan—tapi tidak ada kebusukan, tidak ada dendam berdarah, tidak ada energi racun seperti dulu.
Dia terlihat seperti manusia biasa: sedikit ceroboh, baik hati, dan ingin menebus kesalahan.
Ini mustahil, pikir Dasima, bingung. Wajahnya… mirip. Sangat mirip. Tapi jiwanya? Getarannya? Bukan orang yang sama. Atau… jangan-jangan reinkarnasi tanpa memori? Dan tanpa sifat jahatnya?
Dasima mencoba 'membaca' lebih dalam, menyelami lapisan energi di sekitar Kirana. Dia menemukan jejak-jejak kehidupan yang normal: tekanan akademik, harapan keluarga, keinginan untuk sukses di dunia korporat, sedikit rasa kesepian. Tidak ada bekas-bekas kehidupan sebagai putri kerajaan, tidak ada noda pembunuhan.
Keraguannya makin menjadi. Apa ini hanya kebetulan wajah yang mirip? Atau memang jiwa yang sama, tapi dimurnikan oleh siklus reinkarnasi? Hukum karma bisa bekerja dengan cara yang tak terduga. Mungkin jiwa Kirana yang lama telah 'dibersihkan' dan sekarang lahir kembali tanpa beban dosa masa lalu.
Tapi naluri Dasima sebagai penjaga tetap tak bisa tenang. Dia memutuskan untuk tidak langsung memusuhi Kirana modern ini, tetapi akan mengawasinya dengan ketat. Siapa tahu, di kedalaman jiwa yang tak disadari, benih-benih sifat lama itu masih tidur.
---
Kamar Kos Ferdy, Pukul 20.00
Ferdy duduk di tempat tidurnya, memandangi dua potong baju baru yang tergantung di pintu lemari. Kaos katun hitam premium dan kemeja linen warna biru muda. Keduanya bagus, bahkan mereknya yang terkenal mahal. Dia merasa aneh. Menerima hadiah semahal ini hanya karena kecelakaan kecil terasa berlebihan.
Di atas meja, di samping laptop, ada sepotong kecil brownies yang dia beli tadi sore dan segelas teh botol. Seperti biasa, dia mengambil sedikit brownies dan menaruhnya di atas tutup botol, di sudut meja yang sama. Sebuah ritual baru.
"Jadi, gimana nih?" ucap Ferdy pada ruangan yang sepi, memulai 'percakapan' satu arahnya. "Aku dapet baju baru. Dari Kirana. Teman-temanku bilang dia cewek baik. Aku juga mulai mikir… mungkin aku yang salah menilai. Dia cuma ceroboh."
Dia menunggu, seolah mengharapkan jawaban. Tidak ada suara, hanya wangi melati yang tiba-tiba agak kuat, seperti angin kecil.
"Tapi… ada perasaan aneh juga. Bukan takut, tapi… waspada. Kayak ada yang bilang 'hati-hati'. Itu kamu ya?" Ferdy tersenyum kecil.
"Atau jangan-jangan aku jadi paranoia."
Dia memandang baju-baju itu lagi. "Aku harus terima kasih ke dia nggak sih? Atau chat aja bilang bajunya udah diterima? Tapi ntar dikira aku mau dekat-dekat." Dia menghela napas.
"Ribet. Lebih gampang urusan sama kamu. Nggak perlu basa-basi, nggak perlu mikirin perasaan."
Dasima, yang duduk di lantai mendengarkan, tertawa dalam hati. Ya, Raden. Aku di sini memang lebih sederhana. Hanya ada rasa sayang dan keinginan untuk menjaga.
Ferdy kemudian membuka laptop, melihat lagi email dari kurator. "Project kita bakal dipamerin. Aku nggak percaya. Semoga ini bukan cuma keberuntungan sesaat." Dia menatap foto keris di layar.
"Kalau memang ada yang ikut dari museum… makasih ya. Tapi tolong, jangan bikin hidupku rumit. Aku cuma mau hidup tenang, kerja yang aku suka, cukup buat makan."
Malam semakin larut. Ferdy akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada Kirana: "Hai Kirana, baju sudah diterima. Terima kasih banyak. Terlalu baik. Sukses terus buat S2-nya." Netral, sopan, berjarak.
Balasan datang cepat: "Sama-sama, Ferdy! Senang kamu suka. Good luck buat skripsinya! 😊"
Sederhana. Tidak ada maksud tersembunyi yang terlihat.
Dasima mengamati semua ini. Dia melihat Ferdy yang mulai membuka diri pada kemungkinan adanya dunianya, tetapi juga melihat ancaman potensial dari masa lalu yang mungkin—atau mungkin tidak—akan bangkit. Dan sekarang, ada Kirana versi baru, sebuah teka-teki hidup yang harus dipecahkan.
Dia melayang mendekati jendela, memandang bulan purnama yang hampir bulat sempurna. Lima ratus tahun lalu, di bawah bulan yang sama, janji cinta dan pengkhianatan terjadi. Sekarang, di bawah bulan yang sama, sebuah bab baru ditulis dengan karakter yang mungkin sama, mungkin berbeda.
"Satu hal yang pasti, Raden," bisik Dasima pada cahaya bulan. "Apapun yang terjadi, kali ini aku akan memastikan ceritamu berakhir dengan baik. Entah itu dengan bantuan wangi melati, atau dengan mengusir setiap ancaman yang mendekat—bahkan jika ancaman itu datang dengan wajah yang pernah aku kenal."
Dan di kamar itu, Ferdy tertidur dengan kaos baru yang masih dalam bungkusan, sementara setitik kecil brownies di sudut meja perlahan-lahan seolah kehilangan esensinya, diserap oleh kehadiran tak kasatmata yang berjaga penuh kasih.