Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aditya Tahu
Hari ini Ditya ngerasa ada yang berbeda di dadanya, sesuatu yang terasa aneh, dan juga gelisah.
Dia udah tiga hari nggak ketemu Fira langsung. Chat iya, tapi ketemu fisik belum. Dan entah kenapa hari ini dia kangen banget. Kangen banget sampe dia mutusin mau ke kafe sambil bawa sesuatu.
Dia mampir dulu ke toko kecil di pinggir jalan, beli bakpia coklat keju yang pernah Fira ceritain waktu itu. Dia juga beli teh hangat dalam botol. Fira suka minum teh hangat pas sore.
Ditya jalan ke kafe sambil senyum sendiri, dia bayangin ekspresi Fira waktu liat bakpia itu. Tapi begitu Ditya sampe deket kafe, langkahnya pelan-pelan mulai berhenti.
Di depan kafe, di bangku taman kecil yang ada di pinggir jalan, Fira lagi duduk sama seorang cowok, dan Ditya sama sekali nggak mengenalnya.
Mereka lagi ngobrol serius banget. Fira menunduk, keliatan lagi nangis atau abis nangis, matanya merah. Cowok itu mengulurkan tangan, lalu menggenggam tangan Fira pelan.
Dan Fira nggak menarik tangannya, jantung Ditya rasanya kayak diinjek.
Dia berdiri di situ, nggak bisa gerak. Nggak bisa napas normal. Cuma bisa ngeliatin dari jauh dengan tangan yang makin lama makin gemetar sambil genggam kantong bakpia.
Siapa cowok itu?
Kenapa Fira megang tangan dia?
Kenapa Fira nangis?
Kenapa mereka keliatan kayak dua orang yang punya sejarah panjang?
Ditya mencoba jalan maju, memcoba masuk. Tapi kakinya nggak mau bergerak. Sesuatu di dalam dadanya menahan, sesuatu yang dingin dan berat.
Cowok itu bicara sesuatu pada Fira sambil menunduk, tatapannya serius banget. Terlalu serius buat orang yang cuma kenalan biasa, terlalu intens buat sekadar teman.
Dan Fira melihat cowok itu dengan tatapan yang Ditya kenal, tatapan antara marah, sedih, dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang seperti rindu yang lama dipendem.
Ditya pernah liat tatapan itu sekali, waktu Fira melihat foto-foto lama di ponselnya, dan nggak sadar sambil menangis.
Waktu dia ngerasa Fira lagi inget seseorang dari masa lalu, dan sekarang tatapan itu keluar lagi, untuk cowok yang ada di depannya itu.
Ditya mundur selangkah, tangannya menggenggam kantong bakpia makin erat, sampe plastiknya bunyi kriyuk pelan. Dia balik badan, jalan cepet dan nggak liat ke belakang lagi.
***
Ditya sampe di parkiran motor dengan nafas kayak orang habis lari, lalu duduk di jok motor, menaruh kantong bakpia di depan, ngeliatin benda itu beberapa detik.
Bakpia yang dia beli buat Fira, teh hangat yang dia beli buat Fira, yang nggak jadi dikasih.
Ditya melempar kantong itu ke bawah motor, menggenggam setang sambil menutup mata. Kepalanya panas, dadanya sesak. Ada sesuatu yang naik dari perut ke tenggorokan, sesuatu yang pahit dan menyesakkan.
Kenapa Fira bisa pegangan tangan sama cowok lain, sedangkan Fira sudah menjadi pacarnya.
Ditya mengambil ponselnya dengan tangan gemetar. Membuka chat Fira. Dia mengetik, tapi menghapus pesan itu lagi. Ditya merasa bingung, entah apa yang harus ia ketik.
Akhirnya Ditya mengetik satu kalimat aja.
"Fira, siapa cowok yang tadi sama kamu di depan kafe?"
Ditya ngeliatin layar ponselnya yang nggak berubah. Cuma ada centang dua biru, Fira baca tapi nggak membalasnya.
Kenapa nggak langsung bales?
Kalau emang nggak ada apa-apa, seharusnya Fira bales santai. Tapi Fira diem, dan keheningan itu membuat Ditya makin nggak tenang.
***
Sepuluh menit kemudian, akhirnya ada balasan masuk.
"Ditya, kita perlu bicara."
Dia langsung balas. "Tentang apa? Tentang cowok itu?"
Lama lagi nggak bales, Ditya mengepalkan tangannya di atas jok motor, ngeliatin layar ponsel sambil gigit bibir. Jalanan di sekitar kafe rame, orang orang lalu lalang nggak peduli sama cowok yang lagi duduk sendirian dengan muka berantakan.
Akhirnya ponselnya bunyi lagi.
"Iya. Tentang dia."
Ditya ngerasa sesuatu nggak beres. Nggak beres banget, Fira nggak langsung jelasin siapa cowok itu.
Itu bukan cara orang menjelaskan seorang temen biasa, Ditya mengetik lagi, tangannya gemetar.
"Dia siapa Fir? Jawab aku sekarang."
Dan kali ini balasan Fira lebih pendek dari sebelumnya. Lebih berat, kayak sesuatu yang udah lama disembunyiin.
"Dia Anggara, Dit."
Cuma tiga kata, tapi tiga kata itu kayak bom yang meledak tepat di tengah dada Ditya.
Anggara.
Nama itu. Nama yang pernah Ditya liat di caption foto-foto lama Fira. "Satu tahun bersama A. Terima kasih sudah jadi rumah." Nama yang ada di foto itu, yang membuat Ditya pertama kali sadar, bahwa Fira pernah dicintai, pernah bahagia, pernah punya dunia yang lengkap sebelum semuanya runtuh.
Anggara yang menghilang, yang meninggalkan Fira tanpa kabar berbulan bulan. Yang membuat Fira jadi orang yang takut percaya lagi.
Dan sekarang dia kembali, Ditya melempar ponselnya ke jok, sambil menggenggam kepalanya dan menahan amarah.
Dia tau ini bakal terjadi, deep inside dia tau.
Tapi nggak nyangka bakal secepat ini, di saat dia baru aja mulai beneran usaha, baru aja mulai ngelawan traumanya, baru aja mulai ngerasa siap.
Orang itu kembali, orang yang lebih dulu punya tempat di hati Fira.
Ditya mengambil ponselnya lagi, ngeliatin balasan Fira yang terakhir. Ditya ingin membalasnya lagi, tapi tangannya nggak bisa ngetik.
Karena yang paling dia takutkan, bukan pertanyaan itu. Yang paling dia takutkan adalah jawabannya.
Ditya duduk sendirian di parkiran kafe, sambil menggenggam ponselnya erat. Bakpia yang dia beli tergeletak di aspal di bawah motor, plastiknya kotor kena debu jalanan.
Dan Ditya ngerasa, dia baru aja kehilangan sesuatu, yang bahkan belum pernah sepenuhnya jadi miliknya.
bab ini kita full karokean...😅😅😅😅
bener gak sih nadanya gini....😅😅😅