Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 - Syarat Hidup
Ruangan itu bau antiseptik dan kopi basi.
Nadira duduk di ujung ranjang, punggungnya lurus dengan usaha yang menyakitkan. Tubuhnya masih bergetar halus sisa hipoglikemia, kata perawat. Rambutnya diikat asal, wajahnya pucat, mata cekung tapi tajam.
Dokter di depannya membuka map. "Kondisimu mengharuskan rehabilitasi terstruktur." Katanya tenang. "Rawat inap lanjutan, nutrisi ketat, jadwal terapi..."
"Tidak." Potong Nadira.
Sinta yang berdiri di sampingnya refleks menoleh. "Nadira..."
"Aku tidak menolak rehabilitasi." Nadira menegaskan, suaranya serak tapi tegas. "Aku menolak dikurung."
Dokter mengangkat alis. "Ini bukan hukuman."
"Bagi tubuhku, mungkin." Jawab Nadira. "Bagi kepalaku, iya."
Dia menelan ludah, menahan pusing yang datang tiba-tiba. Dunia berputar sedikit, lalu kembali fokus.
"Aku mau rawat jalan intensif." Lanjutnya. "Jadwal jelas. Target jelas. Aku datang karena aku memilih, bukan karena dipaksa."
Dokter menutup map perlahan. "Kondisimu kemarin hampir fatal."
"Aku tahu." Kata Nadira. "Itu sebabnya aku bicara jujur sekarang. Kalau aku dipaksa, aku akan melawan. Kalau aku melawan, aku akan kalah lagi. Aku tidak mau kalah dengan cara itu."
Sunyi menggantung.
Sinta menggenggam jemari Nadira di balik punggungnya diam-diam, memberi jangkar.
Dokter akhirnya berkata, "Ada risiko."
"Aku bersedia tanda tangan risiko." Jawab Nadira cepat. "Dengan satu syarat."
"Apa?"
"Tidak ada akses tanpa persetujuanku." Kata Nadira. "Tidak ada laporan ke pihak luar. Tidak ada 'pendamping' yang memutuskan untukku."
Sinta tahu siapa yang dimaksud.
Dokter menghela napas. "Baik. Tapi ini bukan kebebasan mutlak."
Nadira mengangguk. "Ini cukup."
Saat dokter keluar, Sinta menoleh. "Kamu yakin?"
Nadira memejamkan mata sejenak. Rasa mual naik, ia menahannya dengan napas pendek.
"Aku tidak yakin apa pun." Katanya pelan. "Aku hanya tahu aku tidak bisa hidup kalau kepalaku dirantai."
***
Arvin duduk di mobil yang terparkir di pinggir jalan, mesin mati. Tangannya memegang ponsel tanpa membuka layar. Ia sudah di sana hampir satu jam. Menunggu bukan hal baru. Yang baru adalah menunggu tanpa izin berharap.
Sinta mengirim pesan singkat.
[Dia setuju rehab. Rawat jalan. Syaratnya ketat.]
Arvin membaca berulang. Ada lega. Ada takut.
Dia mengetik balasan, menghapus, mengetik lagi.
[Bagaimana kondisinya?]
Balasan datang cepat.
[Stabil. Keras kepala seperti biasa.]
Sudut bibir Arvin terangkat tipis, senyum yang cepat mati.
Dia tahu, kalau ia masuk sekarang, semuanya akan bergeser. Rehabilitasi bisa berubah jadi arena tarik-menarik. Cinta bisa berubah jadi pengawasan.
Ponsel bergetar lagi.
[Dia tidak ingin ditemui. Setidaknya sekarang.]
Kalimat itu tidak mengejutkan. Tetap saja rasanya seperti dipukul pelan tapi tepat. Arvin bersandar, menutup mata. Ia mengingat kata-kata sendiri... cinta tanpa batas bisa menjadi kekerasan lain.
"Kalau aku menunggu." Gumamnya, "aku harus benar-benar menunggu."
Bukan di lorong rumah sakit. Bukan di pinggir hidupnya. Dia menyalakan mesin, mengemudi pergi perlahan, seperti orang yang baru belajar melepaskan pegangan.
Di lampu merah, ia bertanya pada dirinya sendiri... kalau nanti dia tidak kembali, apakah aku masih utuh? Jawabannya belum ada.
***
Raka mengikat celemek dengan gerakan kikuk. Cermin dapur memantulkan wajahnya lebih kurus, mata cekung, rambut sedikit berantakan. Di dadanya, rasa malu berdampingan dengan tekad yang anehnya tenang.
"Mas, itu sarung tangan." Kata supervisor.
"Oh... iya." Raka cepat memakainya.
Pekerjaan pertamanya hari itu mencuci panci. Tangannya cepat perih oleh air panas dan sabun.
Tidak ada yang tahu siapa dia dulu. Tidak ada yang peduli. Dan untuk pertama kalinya, itu terasa... aman.
Saat istirahat, Raka duduk di bangku plastik, menyesap air putih. Ponselnya bergetar nomor lama yang dulu selalu ia jawab. Ia menatap layar lama, lalu menekan tolak.
Godaan datang bukan dalam bentuk uang atau jabatan, tapi janji identitas lama. Menjadi penting lagi. Menjadi penyelamat lagi.
Ia menghela napas, menatap telapak tangannya yang memerah.
"Tidak." Katanya pada dirinya sendiri. "Aku mau hidup."
Sore hari, ia pulang ke kamar sewaan sempit. Ia membuka buku catatan, menulis pengeluaran, menulis rencana.
Tidak besar. Tidak muluk. Tapi miliknya.
***
Ruang sidang penuh.
Lampu kamera menyala. Bisik-bisik berlapis. Nama Aluna beredar seperti umpan. Ia berdiri, mengenakan pakaian sederhana. Rambutnya diikat rapi. Tidak ada perhiasan.
Hakim masuk. Semua berdiri.
Saat namanya dipanggil, Aluna melangkah ke depan. Kakinya terasa berat, tapi langkahnya tidak goyah.
Jaksa membacakan dakwaan. Kata-kata tajam, rapi, tanpa emosi.
Wajah-wajah korban terlihat di bangku pengunjung. Ada yang menatap kosong. Ada yang marah.
Aluna menelan ludah.
Saat diberi kesempatan bicara, ruang itu sunyi.
"Saya tidak akan membela diri dengan niat baik." Katanya, suaranya jelas. "Atau dengan alasan tekanan."
Ia berhenti sejenak, menatap lurus. "Saya bertanggung jawab atas dampak dari tindakan saya. Dan saya siap menghadapi proses ini."
Tidak ada air mata. Tidak ada dramatisasi. Hanya kalimat yang tidak bisa ditarik kembali.
Di luar gedung, wartawan mengepung. Pertanyaan dilontarkan.
Aluna berhenti sebentar. "Saya tidak minta simpati." Katanya. "Saya minta proses."
Lalu ia berjalan pergi, pundaknya kaku tapi tegak.
***
Sesi terapi pertama terasa seperti ditelanjangi.
"Kenapa kamu melawan?" Tanya terapis.
Nadira tertawa kecil, pahit. "Karena kalau aku diam, aku hilang."
"Dan kalau kamu melawan?"
"Aku hancur." Jawab Nadira cepat.
Dia memijat pelipis, menahan nyeri. "Aku benci tubuh ini." Katanya, tiba-tiba. "Aku benci ia punya batas."
"Batas bukan musuh." Kata terapis.
"Bagi orang seperti aku." Nadira mengangkat bahu, "batas terasa seperti pengkhianatan."
Terapis mencatat.
"Rehabilitasi ini." Lanjut Nadira, "aku setuju karena aku mau hidup. Tapi jangan minta aku jadi jinak."
Terapis menatapnya lama. "Kita tidak menjinakkan. Kita menegosiasikan."
Kata itu... menegosiasikan... menempel.
Saat sesi berakhir, Nadira duduk lama di bangku. Tubuhnya lelah, kepalanya berisik, tapi ada satu hal baru... kerangka.
Dia mengirim satu pesan pendek ke Sinta.
[Aku mulai.] Tidak lebih. Tidak kurang.
***
Hari-hari Arvin menjadi sunyi dengan cara yang baru. Dia bekerja. Ia tidur. Ia berlari pagi. Tidak ada pesan. Tidak ada pembaruan langsung.
Suatu sore, ia menerima email singkat dari pihak rehabilitasi... ringkasan medis, tanpa detail personal. Dia menutupnya setelah membaca kata stabil.
Ia menulis di buku catatan... Jika aku mencintainya, aku harus bisa hidup tanpa memegang kemudinya.
Kalimat itu menyakitkan.
Ia bertanya-tanya, apakah ini melepaskan, atau hanya menunggu lebih rapi? Jawabannya belum datang.
***
Minggu berlalu.
Raka menerima gaji pertamanya. Kecil. Jujur. Dia mentraktir dirinya makan sederhana. Ia tersenyum pada kasir.
Di malam hari, ia menerima pesan dari seseorang yang ia bantu dulu
[terima kasih] singkat, tanpa permintaan.
Dia menyadari sesuatu, menolong tanpa menyelamatkan adalah keterampilan yang harus dipelajari. Kemudian Raka mematikan lampu, tidur tanpa mimpi besar.
***
Di rumah, Aluna melepas sepatu, duduk di lantai. Tubuhnya gemetar. Bukan karena takut, tapi kelelahan yang menumpuk.
Ia tidak menang. Ia juga tidak kalah. Ia menjalani.
Ponselnya bergetar pesan dari pengacaranya tentang jadwal berikutnya. Aluna mengangguk pada layar kosong.
"Baik." Katanya.
***
Di sini...
Nadira menerima rehabilitasi dengan syarat yang memaksa dirinya sendiri bertanggung jawab.
Arvin diuji untuk menunggu tanpa mengikat melepaskan tanpa pergi.
Raka mulai hidup dari bawah, membayar harga kecil tapi konsisten.
Aluna menghadapi sidang pertama, memilih proses di bawah sorotan.
Tidak ada kemenangan besar. Hanya komitmen yang tidak terlihat. Dan untuk pertama kalinya bagi mereka... itu cukup untuk bertahan satu hari lagi.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...
kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍