Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Pengakuan Cinta
Malam semakin larut, namun udara di kediaman Daviko masih terasa panas oleh sisa-sisa perdebatan di mobil tadi. Setelah sampai di rumah, Saliha langsung masuk ke kamar untuk menidurkan Kaffara. Ia sengaja menghindari kontak mata dengan Daviko.
Namun, Daviko tidak bisa tinggal diam. Bayangan Saliha yang mengatakan bahwa dirinya sudah tidak ada di hati wanita itu benar-benar mengoyak kewarasannya.
Setelah memastikan Kaffara terlelap di ranjang bayinya, Saliha melangkah keluar kamar dengan niat mengambil air minum di dapur. Namun, langkahnya terhenti di lorong remang-remang. Sosok tegap Daviko sudah berdiri di sana, menunggunya.
Tanpa sepatah kata pun, Daviko mencengkeram lengan Saliha. Tidak kasar, namun sangat kuat dan penuh penekanan.
"Pak, apa yang Bapak lakukan? Lepaskan saya," bisik Saliha, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang.
Daviko tidak menjawab. Ia menarik Saliha menuju ruang kerjanya yang berada di ujung koridor. Pintu kayu jati itu terbuka dan tertutup dengan suara debuman yang cukup keras. Daviko langsung mengunci pintu dari dalam.
"Pak, ini sudah larut. Saya harus istirahat," ujar Saliha, suaranya sedikit bergetar. Ia mencoba menjaga jarak, namun Daviko melangkah maju dengan cepat.
Srett!
Daviko menarik lengan Saliha dan membawanya ke dinding ruangan. Ia mengurung tubuh mungil Saliha dengan kedua lengannya yang bersandar pada dinding, memaksa Saliha menatap langsung ke dalam matanya yang berkilat penuh emosi.
"Dua tahun, Saliha? Kamu bilang dua tahun lagi kamu akan mencari pria lain?" Suara Daviko rendah, serak, dan penuh luka. "Katakan padaku, bagaimana cara kamu menghapusku dari hatimu secepat itu sementara aku... aku justru merasa tersiksa setiap kali melihatmu bersikap dingin seperti ini?"
Saliha membuang muka, dadanya naik turun karena napas yang sesak. "Bapak yang menghapus saya empat tahun lalu. Bapak yang mengumpat saya dengan sumpah serapah. Sekarang, saat saya sudah terbiasa dengan rasa sakit itu, kenapa Bapak mencoba menggalinya kembali?"
Daviko mendekatkan wajahnya, hingga Saliha bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di keningnya. Memori masa lalu saat mereka masih merenda kasih, saat mereka berjanji untuk saling memiliki selamanya, tiba-tiba menyeruak memenuhi ruangan itu.
"Aku gila, Saliha. Aku akui aku gila karena telah menyakitimu," bisik Daviko. "Tapi malam ini, setelah mendengar pria-pria lain memujimu, aku sadar satu hal. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Bahkan saat aku menikah dengan Amara, ada satu sudut di hatiku yang selalu menyebut namamu dengan penuh kebencian yang sebenarnya adalah cinta yang terabaikan."
Saliha memejamkan mata erat-erat. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Cukup, Pak. Jangan katakan lagi. Itu semua sudah berlalu. Bapak sudah punya kehidupan, dan saya sudah punya pilihan hidup sendiri."
"Tidak ada yang berlalu begitu saja, Saliha!" Daviko sedikit berteriak, suaranya tertahan di tenggorokan. "Aku mencintaimu, Saliha. Masih sangat mencintaimu. Jangan pernah berpikir untuk mencari pria lain setelah kontrak ini habis. Aku tidak akan membiarkannya."
Saliha merasa dunianya seolah berputar. Di balik tembok pertahanan yang ia bangun dengan susah payah, hatinya berteriak mengakui hal yang sama. Ia masih mencintai pria ini. Pria yang menjadi cinta pertama. Pria yang baginya sekarang adalah tembok tinggi yang mustahil untuk dipanjat kembali tanpa rasa takut terjatuh.
"Pak... tolong jangan seperti ini," Saliha mencoba mendorong dada tegap Daviko dengan tangan gemetar. "Bapak adalah majikan saya. Saya pengasuh anak Bapak. Itu saja. Jangan gunakan posisi Bapak untuk memaksa perasaan saya."
"Aku tidak memaksa, aku hanya menagih apa yang pernah menjadi milikku!" Daviko mencengkeram bahu Saliha lembut namun posesif. "Tatap mataku, Saliha. Katakan dengan jujur, apakah benar tidak ada lagi nama Daviko di hatimu? Katakan kalau kamu sudah benar-benar tidak mencintaiku, maka aku akan melepaskanmu malam ini juga."
Saliha terdiam. Lidahnya kelu. Ia ingin berbohong, ia ingin mengatakan "tidak", tapi sorot mata Daviko yang penuh kerapuhan itu melumpuhkan logikanya.
Ruangan kerja yang penuh dengan buku-buku militer dan dokumen penting itu seolah menjadi saksi bisu betapa rapuhnya seorang perwira di depan wanita yang ia cintai.
"Kenapa diam?" Daviko menekan kembali. "Katakan, Saliha!"
Saliha menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya. "Mencintai Bapak adalah kesalahan terbesar yang pernah saya buat, dan saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Saya takut... saya sangat takut untuk kembali."
Daviko tersentak. Cengkeramannya di bahu Saliha melemah. Ia melihat ketakutan yang nyata di mata Saliha, ketakutan yang ia ciptakan sendiri empat tahun lalu.
"Aku akan melindungimu, Saliha. Aku bersumpah, sumpah serapah yang pernah aku ucapkan, sudah benar-benar aku tarik. Sumpah itu tidak akan mengikatmu lagi," ujar Daviko tulus.
"Melindungi?" Saliha tersenyum getir di tengah tangisnya. "Sudah, Pak. Jangan kembali ucapkan bahwa Pak Viko sudah menarik sumpah serapah itu. Karena harus Pak Viko tahu, saya...saya tidak akan pernah menerima Bapak di dalam hati saya lagi." Suara Saliha bergetar, perlahan air matanya mulai turun.
Kalimat itu seperti tamparan keras bagi Daviko. Ia terdiam seribu bahasa. Penyesalan itu datang kembali, lebih berat dari sebelumnya. Ia menyadari hatinya teramat sakit dengan pengakuan Saliha barusan. Dan kini, Daviko seperti terjerat oleh sumpahnya sendiri, dia terjerat dalam rasa bersalah yang tak berujung.
Saliha menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri. Ia bergeser menjauh dari dinding, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. Ia berdiri tegak, meski matanya masih sembab.
"Saya mohon, Pak. Jangan lakukan ini lagi. Jika Bapak masih ingin saya menjaga Kaffara sampai dua tahun ke depan, maka hargai batasan kita. Jangan buat saya merasa terancam di rumah ini," ujar Saliha dengan nada bicara yang tegas namun penuh kesedihan.
Daviko menatap punggung Saliha yang mulai menjauh menuju pintu. "Kamu boleh menjauh dariku sekarang, Saliha. Kamu boleh membangun tembok setinggi mungkin. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa menghancurkan sumpahku sendiri demi kebahagiaanmu."
Saliha tidak menjawab. Ia segera membuka kunci pintu dan berlari keluar, meninggalkan Daviko yang berdiri mematung di tengah ruang kerjanya yang luas.
Sesampainya di kamarnya, Saliha merosot di balik pintu. Ia mendekap dadanya yang terasa sangat sesak. Di dalam hatinya, sebuah pengakuan yang jujur namun pahit ia bisikkan pada sunyinya malam.
"Aku juga masih mencintaimu, Mas... Tapi tembok ini terlalu tinggi, dan aku terlalu lelah untuk memanjatnya kembali hanya untuk dihina lagi."
Malam itu, keduanya terjaga dalam kamar yang berbeda namun dalam rasa rindu dan sakit yang sama. Saliha menyadari bahwa Daviko kini bukan lagi sekadar majikan yang dingin, melainkan sosok posesif yang siap melakukan apa saja untuk memilikinya kembali. Dan Saliha, ia harus lebih kuat menjaga hatinya agar tidak runtuh di bawah kaki pria yang pernah terluka karena pengkhianatannya.
Jangan lupa like dan komen ya. Dan jangan lupa juga, diikuti profilnya Author. Agar kalian bisa tahu kapan Author up date.
semangat ya😚