Lanjutan novel kultivator pengembara
Jian Feng berakhir mati dan di buang ke pusaran reinkarnasi dan masuk ke tubuh seorang pemuda sampah yang di anggap cacat karena memiliki Dantian yang tersumbat.
Dengan pengetahuannya Jian Feng akan kembali merangkak untuk balas dendam dan menjadi yang terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Untung besar
Pemimpin bandit itu, yang sedari tadi bersembunyi di balik semak berduri, gemetar hebat melihat seluruh anak buahnya tewas dalam hitungan detik.
Ia menyadari bahwa pria yang memakai tudung itu bukanlah manusia biasa, melainkan iblis yang berjalan di siang bolong.
"Jangan... jangan bunuh aku! Aku punya harta! Aku punya informasi!" teriak sang pemimpin bandit sambil merangkak keluar, mencoba memohon belas kasihan.
Jian Feng berjalan mendekat dengan langkah yang tenang namun mengintimidasi. Ujung jubah hitamnya menyapu genangan darah di tanah.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mencengkeram leher pria kekar itu dan mengangkatnya ke udara seolah pria itu tidak lebih berat dari sehelai bulu.
Jian Feng tidak melihat wajah ketakutan pria itu; matanya tertuju pada sebuah pedang yang tergantung di pinggang sang bandit. Pedang itu memiliki hulu berbentuk kepala naga dengan bilah berwarna perak gelap yang memancarkan aura dingin.
"Baja Meteorit?" gumam Jian Feng di balik penutup wajah sutranya. "Lumayan. Untuk ukuran sampah jalanan, kau memiliki selera yang bagus."
Dengan satu sentakan kasar, Jian Feng merampas pedang tersebut. Begitu ia mengalirkan sedikit Qi elemen air ke dalamnya, bilah pedang itu berdengung, memancarkan uap dingin yang mematikan.
Ini adalah pedang kelas menengah yang mampu meningkatkan hantaran elemen hingga lima puluh persen.
Tak berhenti di situ, mata tajam Jian Feng menangkap kilauan di jari-jari sang bandit. Tiga buah Cincin Penyimpanan.
Meskipun kapasitasnya kecil, di dunia ini, cincin penyimpanan adalah barang mewah yang jarang dimiliki praktisi tingkat rendah.
"T-tolong... ambil saja semuanya! Lepaskan aku!" rintih sang bandit dengan wajah membiru karena kehabisan napas.
Jian Feng melepas ketiga cincin itu dari jari sang bandit dengan gerakan yang sangat efisien, lalu memasukkannya ke dalam saku jubahnya.
Setelah memastikan tidak ada lagi barang berharga yang tersisa, sorot mata Jian Feng berubah menjadi sangat dingin—dingin yang mutlak.
"Kau memohon nyawa?" tanya Jian Feng, suaranya terdengar seperti bisikan maut. "Saat kau merampok dan membunuh orang-orang lemah di jalan ini, apakah kau memberikan mereka pilihan yang sama?"
"A-aku—"
KRAK!
Sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya, Jian Feng memperkuat cengkeramannya, mematahkan leher sang pemimpin bandit dalam satu gerakan instan.
Namun, ia tidak berhenti di situ. Untuk memastikan tidak ada "naskah keberuntungan" yang membuat pria ini bangkit kembali, Jian Feng menghunuskan pedang barunya.
SRETT!
Dalam satu tebasan vertikal yang sadis, ia membelah dada pria itu hingga ke hulu hati, menghancurkan Inti Qi-nya yang sudah retak. Tubuh tak bernyawa itu dicampakkan ke tanah seperti sampah yang tak berguna.
Jian Feng menyeka noda darah di bilah pedang barunya menggunakan baju mayat tersebut sebelum menyarungkannya.
Ia berbalik dan berjalan kembali menuju kereta kuda Keluarga Xiao, mengabaikan tatapan ngeri dari para pengawal dan wajah pucat ayahnya, Xiao Zhen.
"Kekuatan ini... dan kesadisan ini..." Xiao Zhen bergumam, tangannya sedikit gemetar. "Xiao Feng, kau benar-benar telah berubah menjadi orang yang berbeda."
Jian Feng berhenti di depan pintu keretanya. Ia menoleh sedikit, penutup wajah sutranya tersingkap ditiup angin, memperlihatkan separuh senyum sinisnya.
"Dunia ini tidak butuh orang baik, Ayah. Orang baik berakhir mati di dalam peti kristal seperti..." Jian Feng terdiam sejenak, memori tentang Lin Xue menusuk batinnya. Ia segera menepis rasa sakit itu. "Intinya, aku sudah mendapatkan modal tambahan. Sekarang, lanjutkan perjalanan. Aku tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi dengan bangkai-bangkai ini."
Ia masuk ke dalam kereta dan menutup pintunya rapat-rapat. Di dalam kesunyian, Jian Feng mulai memeriksa isi ketiga cincin penyimpanan barunya.
thor lu kaya Jiang Feng