Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepatu Hak Tinggi
...୨ৎ──── E V A ────જ⁀➴...
Waktu aku buka mata, aku merasa posisi kepalaku terjuntai dari bahu si idiot ini.
Dunia terasa oleng, dan aku bisa lihat koridor kecil dengan anak tangga yang menuju ke suatu tempat yang aku duga sebagai dek.
Aku masih di kapal?
Aku dengar pintu dibuka, dan sedetik kemudian aku dilempar ke lantai seperti karung kentang. Sebuah erangan keluar dari mulutku, dan saat penglihatanku fokus ke cowok yang melemparku, aku enggak mengenali dia. Dia pakai setelan jas, bukan baju biasa seperti yang lain.
"Lepas gaun dan sepatunya!" gumamnya sebelum keluar ruangan dan menutup pintu.
"Hah?"
Tangan-tangan mencekal lenganku dan memaksaku berdiri. Saat aku dengar resleting gaunku ditarik paksa, sisa-sisa efek obat yang mereka kasih ke aku langsung menghilang seketika.
"Apaan, sih!" jeritku.
Aku mulai memberontak, memutar dan melawan sambil memukul tangan-tangan yang coba menyentuhku. Sebuah hantaman keras mengenai sisi kepalaku dan membuatku jatuh ke pinggul.
Menahan rasa sakit, aku angkat kepala, aku lihat empat perempuan berjejer dekat dinding. Satu menatapku dengan pandangan kosong, sementara tiga lainnya menangis tanpa suara, air mata mengalir di pipi mereka.
Aku diberdirikan lagi. Kepala aku berkunang-kunang, dan aku lihat dua cowok yang kembali coba melepas gaunku.
"Jangan sentuh aku, bangsat!" teriakku.
Butuh satu detik lagi sampai aku benar-benar sadar kalau aku sedang ada di dalam masalah besar.
Tawa panik pun keluar dari mulutku. Aku memutar badan dan lari ke arah pintu.
Salah satu cowok menarik rambutku dan menghantamkan mukaku ke pintu. Setelah itu aku diseret mundur. Suara kain robek terdengar jelas waktu gaun itu dicabik paksa dari tubuhku.
Tuhan.
Aku tarik napas dalam-dalam, mataku bergerak liar dari para cewek ke para cowok, lalu ke seluruh ruangan kosong.
Ada dua jendela kecil berbentuk oval, dan lewat situ, aku bisa lihat air laut yang gelap dan bergelombang.
Cuma pakai bra dan celana dalam hitam, insting bertahan hidup yang sudah menjagaku sejak lahir langsung mode aktif.
Aku lepas sepatu dari kaki kananku, dan sambil berteriak, aku menerjang cowok terdekat, menusukkan hak setinggi dua belas sentimeter itu tepat ke bola matanya.
Saat otakku mencerna apa yang baru saja aku lakukan, aku menatap dengan kaget dan memberi dia waktu untuk jatuh ke lantai.
Aku tersedak melihat pemandangan menjijikkan itu dan refleks menutup mulut dengan tangan.
Tangan aku bebas?
Kapan mereka melepas ikatanku?
Pandanganku jatuh ke gaun robek yang dibeli Nasrin buat aku.
Dia kerja keras buat dapatkan uang itu.
Dia kelihatan bangga sekali waktu melihatku secantik itu pakai gaun tersebut.
Sekali lagi aku menatap cowok idiot itu.
Aku membunuhnya?
Dengan satu sepatu.
Sial, sekarang aku cuma pakai satu sepatu.
Aku dijatuhkan oleh cowok lainnya. Saat aku jatuh, mataku terpaku ke cowok dengan sepatu yang masih menancap di matanya.
Dia benaran mati?
Mati benaran?
Tubuhku menghantam lantai dengan benturan menyakitkan, dan itu membuatku keluar dari syok. Tanganku terayun ke mana-mana, disertai geraman dan teriakan marah, aku memukul setiap bagian tubuh cowok ini.
Aku angkat lututku dan menghantam selangkangannya, membuat dia juga ambruk ke samping sambil mengeluarkan jeritan konyol.
"Ya Tuhan!" gumamku sambil berdiri, melepas sepatuku yang satunya dan menggenggamnya erat. "Ayo. Aku bakal bunuh kamu, anjing bangsat. Aku suka banget gaun itu!"
Aku mendekatkan dia dan mulai menghantam dia pakai hak sepatu sampai akhirnya dia berhasil mengambil senjatanya.
Saat dia mengarahkan pistol ke aku, aku lompat menjauh dari atas tubuhnya dan teriak, "Oh, sial!"
Tawa bodoh dan gugup keluar dari mulutku sebelum aku tarik napas dalam-dalam. "Sial sial sial sial!"
Dia tetap mengarahkan pistol itu kepadaku sambil berdiri, lalu berbisik, "Anjing jalang!"
Lalu dia menghantamkan gagang senjata itu ke sisi kepalaku dan membuatku langsung enggak sadarkan diri.