NovelToon NovelToon
Dendam 172

Dendam 172

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying di Tempat Kerja
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34

"Tenang saja kami tidak akan menuduh kamu lagi," ucap Pak Anton.

Dia menatapku dengan pandangan penuh selidik, seolah sedang menimbang setiap gerak mataku. Aku menahan napas. Dalam ruangan itu, udara terasa lebih berat dari biasanya, bukan karena panas, melainkan karena kebenaran yang perlahan terkuak.

"Pelaku utama hanya ingin menunjukkan kalau teror ini bukan main main. Kita harus mengombinasikan semua informasi ini. Pertama, pelakunya adalah Nirmala. Pihak IT sudah memverifikasi ini adalah video asli, hanya saja keberadaan lokasinya janggal sekali."

Semua terdiam.

"Maksudnya janggal bagaimana?" tanyaku.

"Lokasi pembuatan video berada di markas kepolisian pusat," ucap Pak Anton sambil menunjukkan sebuah data lokasi video Nirmala di layar tablet.

Aku mengernyit. Angka koordinat dan peta digital itu seperti sebuah lelucon yang dirancang dengan sangat rapi.

"Saya menyaksikan sendiri bagaimana mereka bisa memanipulasi CCTV. Hanya data lokasi sepertinya itu sangat mudah bagi mereka," jelasku, mengingat bagaimana si Bisu mempermainkan sistem pengawasan. Aku yakin video Nirmala itu dengan mudah bisa dimanipulasi.

"Ya, Nirmala ini merepotkan sekali," ucap Pak Romi. "Andai dia diberlakukan adil, mungkin dia akan jadi aset masa depan bangsa ini."

Raut kecewa terlihat jelas di wajahnya. Nada suaranya tidak hanya mengandung penyesalan, tetapi juga rasa bersalah yang tak terucap.

"Ok. Jadi kesimpulannya adalah Nirmala lah pelakunya. Kemungkinan dia memakai aplikasi Memento untuk mengerahkan para pembunuh bayaran ke negara ini," ucap Pak Anton.

"Yang jadi pertanyaan adalah di mana keberadaan Nirmala sekarang," ucap Pak Cipto, mewakili pertanyaan semua orang.

"Teror ini penuh dengan jebakan," ucap Pak Ronald. "Hanya ada dua cara. Pertama, kita harus bisa berkomunikasi dengan Nirmala dan negosiasi dengan Nirmala. Sebenarnya apa yang dia inginkan."

Pak Ronald mengatakan itu dengan nada berat. Dia meletakkan pensilnya dan menyeruput teh, seolah butuh waktu untuk menelan pilihan pahit yang baru saja ia ajukan.

"Lalu yang kedua?" tanya Pak Cipto.

"Yang kedua kita jadikan Bu Lusi sebagai pancingan agar Nirmala menyerahkan diri. Bukankah dia sangat menyayangi ibunya," ungkap Pak Ronald.

Semua terdiam.

Anak remaja usia 17 tahun bisa membuat sebuah negara harus bernegosiasi. Artinya kekuatan Nirmala dengan negara itu seimbang, seperti dua negara yang sama sama kuat akhirnya gencatan senjata. Ini memang memalukan, tetapi inilah kenyataan yang tidak bisa disangkal.

"Cara yang kedua ini memalukan sekali. Artinya kita seperti penjahat saja menyandera seseorang agar pelaku menyerah," ucap Pak Romi.

"Lalu apa ada jalan lain?" tanya Pak Ronald.

"Korban makin random saja. Sementara eksekutornya saja tidak pernah terlacak. Dia seperti bayangan, dekat sekali dengan kita, tapi kita tidak bisa menangkapnya," ujar Pak Haris.

Semua terdiam.

Benar benar sistem keamanan dipermainkan oleh remaja usia 17 tahun. Memalukan sekali. Apakah negara ini kekurangan pasukan berkualitas, padahal anggaran tiap tahun naik terus.

"Tidak ada cara lain," ucap Pak Anton. "Kita harus ke rumah sakit jiwa. Demi kepentingan bersama, kita harus memancing Nirmala keluar dari persembunyiannya."

Tampak Pak Romi akan protes, tetapi Pak Anton mengangkat tangannya. Isyarat itu jelas. Dia tidak mau dibantah.

"Ok. Itu saja keputusannya," ucap Pak Anton.

Dengan berat hati kami mengambil keputusan yang memalukan. Nirmala tak dapat ditemukan, akhirnya menjadikan ibunya sebagai pancingan. Ini seperti perampok yang menyandera seseorang demi memancing target keluar dari persembunyian.

Aku menatap meja rapat yang penuh berkas. Dalam benakku, potongan potongan fakta mulai tersusun. Jika Nirmala sengaja menanamkan jejak palsu di markas kepolisian pusat, maka dia tidak sekadar menantang negara ini, dia sedang mengejeknya. Dia ingin menunjukkan bahwa setiap sistem, sekuat apa pun, tetap memiliki celah.

"Anton, Zaki sekarang ke rumah sakit.

Ibunya Nirmala ke sini," ucap Pak Anton.

Ini memang memalukan, tetapi teror ini harus dihentikan. Tidak ada ruang lagi untuk idealisme ketika korban terus berjatuhan. Dengan perasaan berat, kami langsung bergerak ke rumah sakit.

Jalan jalan lengang. Sekolah sekolah yang biasanya ramai hari ini tampak sepi. Semua sekolah sepakat melakukan pembelajaran daring. Penjelasan kepolisian sebelumnya bahwa teror sudah berhenti justru menjadi bumerang. Teror terus berlanjut tepat setelah pengumuman itu, membuat masyarakat ragu dan panik. Pembunuhan pun terus terjadi.

Anehnya, pernyataan sebelumnya belum juga diklarifikasi. Ketegangan publik semakin tinggi. Isu teroris Asia Tenggara kembali dihembuskan, padahal biasanya jika isu teroris muncul, penangkapannya cepat. Kali ini tidak. Keadaannya mengingatkanku pada kasus korupsi, lama penanganannya dan penuh alasan. Belum ada yang berani mengatakan bahwa ini sebenarnya hanya ulah anak usia tujuh belas tahun, korban perundungan, yang sedang menagih keadilan yang dulu tak pernah ia dapatkan.

Rumah sakit sepenuhnya sudah dijaga. Aparat bersenjata berdiri di setiap sudut koridor. Kami memasuki ruangan Ibu Lusi. Dia berada di ruangan khusus seorang diri. Pintu ruangan terbuka.

Tampak dia sedang duduk dengan pandangan kosong. Saat pintu terbuka, dia hanya memandang sekilas. Tidak ada raut ketakutan. Tubuhnya pun tidak gemetar. Kontras sekali dengan informasi yang pernah kudapat. Kata istriku, dia suka mengamuk dan hanya bisa tenang kalau ada istriku di dekatnya.

Wajahnya tampak pucat, tetapi sepertinya bukan karena kurang makan. Di dahinya ada keringat, padahal ruangan ini ber-AC.

Zaki menghampirinya, sedangkan aku tetap berdiri beberapa langkah di belakang, mengamatinya.

"Ibu Lusi," sapa Zaki.

Lusi melihat Zaki sekilas.

"Pergilah. Negara ini tidak adil," ucapnya tanpa ekspresi.

"Anda harus menghentikan anak Anda," ucap Zaki.

"Apakah Anda mau menemani saya?" jawab Lusi, jelas tidak nyambung.

"Tolong, Anda harus bicara pada Nirmala."

"Bicara apa?" tanya Lusi.

"Bilang saja Anda rindu padanya," jawab Zaki.

"Anda gila ya?" tanya Lusi.

Aku mengernyit. Zaki kenapa juga bertanya pada orang yang jelas depresi. Sebenarnya siapa yang gila di ruangan ini.

Tiba tiba Lusi tertawa, lalu menangis, lalu tertawa lagi. Namun bukan itu yang menarik perhatianku.

Sekilas aku melihat kapalan hitam di tangan Lusi, seolah dia terbiasa melakukan push up. Tangannya kurus, tetapi aku menebak dia memiliki otot yang kekar. Detail kecil itu tidak selaras dengan citranya sebagai pasien lemah dan tak berdaya.

Dalam benakku, sebuah kemungkinan mulai terbentuk. Jika Lusi memang sering berlatih fisik, maka ada lebih banyak hal tentang keluarga ini yang belum kami pahami. Dan seperti semua teror yang cerdas, kuncinya mungkin justru berada pada orang yang selama ini kami anggap paling tidak berbahaya.

"Sudahlah, kalian pulang. Anakku tak akan datang. Dia sudah mati, dan yang membunuh adalah kalian," ucapnya. Kali ini tatapannya tajam, jauh dari kesan kosong sebelumnya.

Telepon berdering. Pak Haris yang menelepon.

"Bilang ke Zaki jangan banyak tingkah. Segera bawa target," ucap Pak Haris, terdengar dingin dan tanpa ragu.

Sambungan terputus.

"Ki, cepat," ucapku.

Zaki mendekat, tangannya terulur hendak memegang bahu Lusi. Namun tiba tiba sebuah pukulan mendarat tepat di ulu hati Zaki.

Zaki terhuyung, wajahnya seketika pucat. Nafasnya tersengal, pasti terasa sesak.

Aku terpaku sepersekian detik.

Pukulan itu terlalu presisi, terlalu kuat untuk seorang pasien rumah sakit jiwa yang katanya lemah.

Kecurigaanku berubah menjadi keyakinan.

Dia tidak gila.

Dia berbahaya.

Dan mungkin, sejak awal, kamilah yang masuk ke dalam jebakan.

1
Nurr Tika
jgn di gantung dong thor lgi seru 💪
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sebnrnya siapa mereka
Nurr Tika
bikin penasaran thor
Nurr Tika
makin penasaran
Nurr Tika
sebanarnya meraka maunya pa
Nurr Tika
sebenarnya siapa mereka
Nurr Tika
apakah mereka terlibat akan teror itu
Intan Melani
iya kan si anak y di tolong kakek
Nurr Tika
lanjut,,,,,,
Nurr Tika
diantara mereka ada yg jd mata" siapa ya, lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,,
Nurr Tika
lanjut thor semakin seru
Fitur AI
Semangat ya pak , nanti jangan lupa mampir kenovel aku hehehe...🙏😊
Fitur AI
seharus nya bersukur punya cowo begini
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
benarkah nirmala msh hidup
Nurr Tika
lanjut thor
Intan Melani
aqkya pernah baca thor kayanya y si Nirmala di buang ke jurang sama 2orang cwo. di temuin sama kakek2 terus di obati terus di ajarin bela diri bwt balas dendam.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!