NovelToon NovelToon
Love Ribbon

Love Ribbon

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Marsanda

Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepupu yang nekat

Beberapa menit setelah mama keluar, kamar kembali tenang.

Zea langsung menjatuhkan diri ke kasur.

"Gue hampir jantungan gara-gara lo." katanya sambil menarik selimut ke wajahnya.

Fira masih berdiri di tengah kamar, melihat-lihat sekeliling dengan penuh rasa takjub.

"Kamar lo sekarang udah berubah ya, enak banget, rapi, wangi dan nggak ada jadwal piket ditempel di dinding."

"Ya iyalah, ini bukan asrama." jawab zea santai.

Fira mendekat ke meja belajar, menyentuh lampu kecilnya. "Di pesantren gue, tiap dinding ada tulisan....jadwal piket, jadwal ngaji, jadwal makan, jadwal hidup."

Zea tertawa. "Jadwal hidup apaan?"

"Jam empat pagi bangun, jam lima doa, jam enam siap-siap, jam tujuh belajar, jam tujuh doa malam, jam sembilan malam tidur. Bahkan kalo gue pengen galau pun kayaknya harus isi formulir dulu."

Zea ngakak, dan tiba-tiba terdengar suara mamanya dari bawah.

"Zea! fira! makan malam dulu!"

Fira langsung menoleh cepat. "Makan malamnya jam berapa?"

"Ini." jawab zea.

Fira terdiam dramatis. "Jam segini?"

"Iya kenapa?" tanya zea.

"Di tempat gue, jam segini udah doa malam." jawab fira.

Zea berdiri sambil menarik tangan sepupunya. "Sekarang lo lagi di dunia bebas, ayo turun!"

Fira berjalan mengikuti zea ke ruang makan dengan ekspresi seperti turis pertama kali ke kota. Di meja makan sudah ada nasi hangat, ayam goreng, sayur sop, dan sambal.

Fira menatap meja itu lama. "Tante yang masak semua ini?"

Mama tersenyum. "Iya fira."

"Di pesantren lauknya kadang misterius tan, bentuknya ayam, rasanya… ya semoga ayam."

Zea langsung menahan tawa.

"Fira." tegur adek dari ayahnya itu.

Fira buru-buru duduk rapi. "Bismillah."

Ia menyuap nasi pertama kali, lalu membeku.

Matanya membesar.

"YA ALLAH."

Zea dan mama langsung menoleh.

"Kenapa?" tanya mama zea.

"Ini ayamnya… empuk banget."

Zea hampir tersedak minumnya.

"Emang biasanya keras?" tanya zea.

"Kadang bisa buat latihan bela diri."

Mamanya akhirnya ikut tertawa kecil, fira makan dengan lahap, benar-benar seperti orang yang habis pulang dari medan perang.

"Pelan-pelan, fir." kata zea.

"Gue lagi balas dendam rasa."

Mama zea memperhatikan fira dengan lembut. "Kamu boleh istirahat di sini beberapa hari, tapi besok kita tetap hubungi orang tua kamu ya."

Fira berhenti mengunyah sebentar, lalu mengangguk pelan. "Iya, tante."

Zea menatap sepupunya itu untuk pertama kalinya sejak datang tadi, fira terlihat lebih tenang.

Setelah makan selesai, fira menyandarkan badan ke kursi. "Ini pertama kalinya gue makan malam tanpa mikirin bel bunyi, sejak gue resmi masuk ke pesantren." katanya pelan.

Zea tersenyum kecil. "Selamat datang di rumah."

Fira menoleh dan tersenyum balik, malam itu bukan cuma soal kabur dari pesantren, tapi soal duduk bareng, makan hangat, dan merasa nggak sendirian.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam ketika suara mesin mobil memasuki halaman rumah.

Klek

"Assalamu’alaikum!" suara papa terdengar dari teras.

Zea dan fira yang sedang duduk di ruang keluarga langsung menoleh.

"Wa’alaikumussalam!" jawab mama dari dapur.

Tak lama kemudian, suara langkah lain masuk.

“Aku pulang....capek banget hari ini." suara raka menyusul.

Zea berbisik pelan ke fira. "Siap-siap lo di Interogasi babak ke dua."

"Nggak usah nakut-nakutin." balas fira pelan.

Papa masuk sambil melepas jas kantornya, begitu melihat fira duduk di sofa, wajahnya langsung berubah kaget lalu hangat.

"Loh, fira?"

Fira cepat berdiri dan menyalami papa. "Assalamu’alaikum, om."

"Wa’alaikumussalam, kamu sampai kapan?" tanya papa zea.

"Tadi om, sampai habis magrib."

Raka yang baru masuk langsung berhenti di tengah ruang tamu.

"Eh, fira."

"Kak raka." fira menyalami raka.

"Kok bisa tiba-tiba muncul? biasanya kalo ke sini rame-rame sama keluarga." tanya papa zea.

Suasana mendadak sedikit hening, zea melirik fira sedangkan fira menarik napas pelan.

"Aku….emang sengaja ke sini sendiri, om."

Papa duduk di sofa, memperhatikan wajahnya. "Kamu nggak lagi di pesantren?"

Fira terdiam dua detik, lalu dengan suara pelan tapi jelas, ia berkata. "Fira kabur dari pesantren, om."

Raka yang tadinya mau ambil minum langsung berhenti. "HAH?"

Sedangkan papanya zea diam, ia tidak langsung marah, hanya menatap dira lebih serius.

"Kabur?" tanya papa zea.

Fira mengangguk kecil. "Iya om, fira nggak bilang siapa-siapa, langsung berangkat ke sini."

Raka mengusap tengkuknya. "Ne­kat banget kamu ya."

Fira menunduk. "Aku capek kak....aku masuk pesantren karena disuruh bukan karena pilihan aku sendiri, aku coba bertahan tapi rasanya makin berat."

Mama yang berdiri di dekat dapur ikut mendekat, duduk di kursi seberang, raka duduk di sandaran sofa.

"Orang tua kamu sudah tahu?" tanya papa zea.

"Belum om."

Zea menelan ludah pelan, papanya menghela napas panjang, tapi nada suaranya tetap lembut.

"Kabur bukan cara yang benar, fira tapi kalau kamu merasa tertekan, itu memang harus dibicarakan."

Fira mengangguk pelan. " Aku nggak benci pesantren om, aku cuma nggak mau dipaksa."

Mama zea menyentuh tangan fira. "Besok tante telepon ayah kamu ya, biar semuanya jelas dan nggak khawatir."

Fira langsung terlihat sedikit cemas. "Aku dimarahin nggak tan?"

Wanita paruh baya itu tersenyum kecil. "Itu pasti, tapi ingat! berani berbuat berani bertanggung jawab."

Papa berdiri dan menepuk pelan bahu fira. "Istirahat dulu, kamu sampai malam pasti capek."

"Iya om."

Zea menatap sepupunya, fira yang tadi terlihat gugup kini sedikit lebih tenang, datang malam-malam, ngaku kabur, tapi tetap disambut dengan suara yang tidak meninggi. Dan untuk pertama kalinya malam ini fira merasa mungkin kabur memang salah tapi datang ke rumah ini bukan keputusan yang salah.

Di kamar, zea dan fira baru saja akan rebahan ketika terdengar suara papa dari bawah.

"Fira, om mau telepon ayah kamu sekarang."

Fira langsung duduk tegak. "Apa? sekarang om?"

Zea ikut menoleh. "Tuh kan…."

Fira buru-buru turun ke ruang tamu.

"Om… jangan sekarang boleh nggak?" suaranya panik.

Om nya itu menatapnya tenang.

"Kalau bukan sekarang, kapan? orang tua kamu pasti khawatir."

"Ayah pasti lagi capek….abis dari ladang."

Papa zea tersenyum kecil. "Justru itu, biar dia tau."

"Om, nanti ayah marah."

"Kalau marah, biar om yang kena dulu."

Zea berdiri di samping fira, memberi tatapan semangat.

Akhirnya Papa tetap menekan tombol panggil, nada sambung terdengar. Sekali, dua kali, lalu suara berat menjawab.

"Assalamu’alaikum."

"Wa’alaikumussalam." jawab papa zea tenang.

Di seberang, suara itu terdengar lelah tapi tegas.

“Iya? ada apa bram? tumben kamu nelpon malam-malam begini."

"Saya mau ngasih tahu bang, kalau fira ada di rumah kami."

Hening.

Beberapa detik.

"APA?" suara ayah fira langsung naik setengah oktaf.

Zea refleks menahan napas.

"Fira di rumah kamu? maksudnya gimana? dia bukannya di pesantren?"

Fira langsung menutup wajahnya sedangkan papa zea tetap tenang.

"Iya, dia sampai magrib tadi."

Terdengar suara kursi bergeser di seberang telepon. "Ini anak…!"

Ayah fira terdengar setengah marah, setengah kaget. "Kabur dia ya?"

Fira makin menunduk.

"Iya." jawab papa zea pelan.

"Ya allah...." suara ayah fira terdengar gemas.

"Saya dari pagi di ladang, panas-panasan ngurus panen sayur, kirim ke pasar, baru duduk mau minum teh… eh dapat kabar anak saya pindah provinsi!"

Raka yang baru bergabung langsung menahan tawa. Ayah fira masih ngomel tapi nadanya lebih ke gemas dari pada benar-benar marah.

"Fira ada di situ? sini kasih teleponnya bram."

Papa zea menyerahkan ponsel. "Bicara sama ayah kamu."

Fira menerima ponsel dengan tangan gemetar.

"Assalamu’alaikum, yah…."

"Wa’alaikumussalam! kamu ini kenapa, hah? hebat sekali kabur dari pesantren, itu pesantren fira bukan penjara!" suara ayahnya terdengar tegas

Fira mengecilkan suara. "Iya, yah…."

"Kamu naik apa ke sana?"

"Travel…."

"Booking dulu?"

"Iya…."

Di seberang terdengar helaan napas panjang. "Pinter juga ya kaburnya, terencana."

Zea menutup mulutnya supaya tidak ketawa.

Ayah fira lanjut ngomel. "Ayah bayar pesantren, kamu malah kabur, itu ustaz fahri nanti tanya ke ayah, ayah jawab apa? ‘Maaf, anak saya lagi piknik ke kota’?”

Fira hampir tertawa di sela takutnya. "Ayah…."

"Apa?"

"Fira capek…."

Hening.

Nada Ayahnya sedikit turun. "Capek kenapa?"

"Aku masuk bukan karena aku mau….aku coba bertahan, tapi rasanya berat."

Di seberang terdengar napas panjang lagi. "Kamu itu anak ketiga paling kecil lagi, harusnya paling manja, ini malah paling nekat."

Fira menunduk sambil tersenyum tipis.

"Tapi kamu sampai dengan selamat?”

"Iya yah."

"Tante sama om kamu baik?"

"Baik banget yah."

Beberapa detik hening.

Lalu suara ayahnya terdengar lebih tenang. "Ya sudah, kamu di situ dulu."

Fira mengangkat kepala cepat. "Hah?"

"Ayah lagi musim panen, sayur lagi banyak pesanan minggu ini, kepala ayah sudah penuh sama kol dan cabai, jangan ditambah drama kamu dulu."

Raka sampai memalingkan wajah karena menahan tawa.

"Jadi fira disini sampai kapan yah?" tanya fira.

"Seminggu." jawab ayahnya tegas.

"Kamu di sana seminggu, tenangkan pikiran, habis itu kita bicara baik-baik. Atau kamu mau ayah suruh ustadz fahri jemput kamu buat balik ke pesantren?"

Fira langsung menggeleng cepat.

"Nggak mau, yah! ustadz fahri galak banget, baru dengar suaranya aja fira langsung tegak duduk. Dia kalo marah alisnya sampai ketemu, terus nasihatnya panjang banget kayak khutbah jum'at, capek tau yah di interogasi mulu, makanya fira kabur….fira belum siap balik ke pesantren." ujarnya jujur, nada suaranya mulai melemah.

"Ehh....yaudah, ayah telepon ustadz fahri sekarang aja ya biar beliau jemput pakai motor, sekalian bawa helm cadangan."

"Ayah!" fira membelalak panik.

"Makanya jangan kabur-kabur lagi kayak kurir salah alamat."

Fira mengangguk cepat meski ayahnya tidak bisa melihat secara langsung.

"Iya, yah."

"Dan jangan bikin repot om sama tante."

"Iya….

"Ya sudah. Istirahat sana besok ayah telepon lagi."

"Iya yah."

Telepon ditutup.

Fira berdiri diam beberapa detik sebelum menyerahkan ponsel kembali, papa zea tersenyum kecil.

Raka bersiul pelan.

"Dimarahin tapi tetap dikasih izin, level juragan sayur emang beda."

Mamanya tersenyum hangat.

"Ayah kamu cuma kaget, dari ladang langsung dapat kabar anaknya kabur, ya wajar."

Fira tertawa kecil. "Tadi ayah bilang kepalanya udah penuh kol sama cabe."

Zea langsung memeluk sepupunya. "Seminggu ini lo resmi healing di sini."

Raka menyeringai. "Tanpa aksi ninja lagi."

Fira akhirnya tertawa lepas.

Malam itu, meski sempat tegang, suasana akhirnya kembali hangat.

Di desa sana, seorang juragan sayur mungkin masih menggeleng-geleng kepala memikirkan anak bungsunya, dan di rumah ini anak bungsu itu mendapat seminggu waktu untuk bernapas tanpa harus kabur lagi.

Bersambung

1
syahsari
zea emang ga waras sih😭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!