Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengajaran Pertama
Ci Lung sadar ada yang salah saat ia bangun.
Bukan tekanan lembah.
Bukan suara asing.
Tapi… ada orang di jarak satu lengan.
Ci Lung membuka mata.
Bocah itu jongkok di sampingnya. Diam, fokus. Seolah lagi ngitung napas Ci Lung.
“…ngapain kamu di situ.”
Bocah itu refleks berdiri. “Aku takut Guru pergi.”
Ci Lung menatap kosong. “aku mau ke sungai. Jaraknya cuma sepuluh langkah.”
“Kalau tersesat?”
“…kita di lembah yang sama.”
Bocah itu mikir serius, lalu mengangguk. Tetap berdiri di situ.
Ci Lung bangkit.
Bocah itu ikut bangkit.
Ci Lung mulai jalan.
Bocah itu nempel di belakang, selisih satu langkah, rapi kaya bayangan.
Ci Lung berhenti.
Bocah itu berhenti.
Ci Lung menoleh. “kamu mau ngapain?”
“…ikut.”
Masalahnya bukan bocah ini jenius.
Masalahnya dia terlalu patuh.
Ci Lung lalu duduk di batu, buang napas panjang.
“Haaa…”
Bocah itu ikut buang napas.
"Haaa..."
Napasnya terlalu dalam, terlalu fokus.
Qi di sekitar bocah itu bergetar halus.
Ci Lung langsung melotot. “WOI—ngapain nahan napas kayak mau mati?”
Bocah itu panik. “Ma-maaf! Aku kira itu latihan!”
“Latihan palamu. Napas tuh masuk keluar, bukan ditimbun.”
“Ohhhhhh.”
Bocah itu coba lagi. Kali ini lebih santai.
Qi mengalir lebih rapi.
Sistem muncul setengah transparan.
[Efisiensi Penyerapan Murid +3%]
Ci Lung: “…kau bercanda sistem?.”
Siang hari, Ci Lung makan.
Nasi kasar. Sayur seadanya. Air sungai.
Bocah itu duduk di seberang, nonton dengan penuh hormat.
Ci Lung makan cepat. “Ngapain liatin?”
“Guru makan, tenang.”
“Ini namanya lapar.”
Bocah itu mengangguk, lalu meniru: makan pelan, kunyah rapi, punggung lurus.
Lima menit kemudian.
“Guru,” katanya polos, “perutku hangat.”
Ci Lung menatap mangkuknya.
“…kamu baru sadar cara makan yang bener?”
Sistem muncul lagi.
[Stabilitas Tubuh Murid +5%]
Ci Lung nutup mata. “aku cuma mau kenyang.”
Sore hari lebih parah.
Ci Lung lagi nyapu daun kering, bukan latihan, bukan juga kultivasi. Cuma sekedar nyapu.
Bocah itu ikut nyapu. Gerakannya ringan dan konsisten.
Ci Lung ngedumel, “Kalau capek, berhenti.”
Bocah itu berhenti. Tegak. Diam.
Angin di sekitarnya… ikut berhenti.
Daun-daun yang hampir jatuh gantung di udara sesaat sebelum jatuh rapi.
Ci Lung menoleh pelan.
“…kamu jangan dengerin semua omonganku mentah-mentah bisa?.”
Bocah itu panik. “Sa-salah?”
“kamu bikin lembah keliatan aneh.”
“Ohhhhhh.”
Bocah itu langsung nyapu asal.
Qi buyar. Angin normal.
Ci Lung menghela napas lega.
Sistem: [Pengendalian Tidak Sadar Murid +7%]
Ci Lung: “TOLONGGG JANGANNN.”
Di luar lembah, orang-orang cuma lihat hal kecil.
Tekanan zona hitam kadang berubah tipis
Ada bocah sering terlihat keluar-masuk
Bocah itu… sehat
Kesimpulan mereka?
“Anak itu selamat karena lembah lagi tenang.”
Tidak ada yang menghubungkannya ke Ci Lung.
Dan Ci Lung sendiri?
Malamnya, ia duduk bersandar di tembok, bocah itu duduk di sampingnya, deket, tapi gak nyentuh.
"kamu tuh,” kata Ci Lung pelan, “gak perlu nempel terus.”
Bocah itu mikir lama. “Kalau aku menjauh… aku takut salah.”
Ci Lung terdiam.
“…yaudah. Tapi jangan bikin ribet.”
Bocah itu tersenyum lebar. “Iya, Guru.”
Sistem muncul kecil di sudut pandangan.
[Ikatan Murid: Stabil]
[Diskon Kenaikan Level: Aktif]
Ci Lung menatap angka utangnya.
“…aku beneran naik level nih cuma gara-gara napas, makan, sama nyapu.”
Ia menutup mata.
“Dunia ini udah rusak.”
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠