Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."
Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Suara dari Jauh
Di tengah pengawasan ketat yang nyaris tanpa celah, Atlas tidak kehilangan akal jeniusnya. Ia menyadari bahwa di balik kemegahan kastil Valerius, ada beberapa pelayan yang bekerja karena terpaksa dan merasa iba melihat pria tampan itu diperlakukan seperti tahanan elit.
Sore itu, saat seorang pelayan muda sedang membersihkan balkon kamarnya, Atlas melihat kesempatan. Dengan gerakan kilat yang terlatih, ia menyambar ponsel pelayan itu saat penjaga di depan pintu sedang lengah.
Atlas bersembunyi di balik pilar besar, jantungnya berpacu cepat. Ia tidak punya waktu untuk mengetik. Ia segera menekan ikon rekaman suara dan mengirimkannya ke nomor pribadi Kaylee yang sudah ia hafal di luar kepala.
Suara Atlas terdengar sangat rendah, sedikit terengah, namun penuh dengan emosi yang mendalam:
"Ay... dengarkan aku baik-baik. Aku mencintaimu, lebih dari nyawaku sendiri. Dan aku sudah tahu... aku mencintai anak kita yang ada di dalam kandunganmu sayang. Kumohon, Ay, jangan pernah berpikiran buruk. Percaya padaku, hatiku bukan sekadar tempat tinggalmu, tapi hatiku hanya ada namamu."
"Jangan banyak pikiran, sayang. Makan yang banyak demi Mini Atlas. Kumohon tetap kuat, demi aku. Aku tidak akan berpaling pada siapapun, wanita gila ini tidak akan pernah menyentuh jiwaku. Aku akan menyelesaikan masalah ini secepatnya, aku akan pulang padamu. Aku sangat mencintaimu, Kaylee..."
Klik. Pesan terkirim. Atlas segera menghapus jejak pesan itu dan mengembalikan ponsel si pelayan dengan tatapan memohon agar ia tutup mulut. Pelayan itu mengangguk ketakutan namun simpatik.
Kaylee yang sedang menangis di kamarnya tersentak saat ponselnya bergetar. Sebuah nomor asing mengirimkan pesan suara. Dengan tangan gemetar, ia menekannya.
Begitu suara bariton yang sangat ia rindukan itu memenuhi ruangan, Kaylee menutup mulutnya dengan tangan. Air mata yang tadinya berisi keputusasaan, kini berubah menjadi air mata kekuatan. Atlas tahu tentang bayinya. Atlas masih mencintainya. Atlas sedang berjuang.
"Aku akan tunggu, At... aku dan anak kita akan tunggu kamu," bisik Kaylee sambil memeluk ponselnya di depan dada.
Di Italia, setelah mengirim pesan itu, sorot mata Atlas berubah. Ia bukan lagi pria yang putus asa. Ia mulai mengatur strategi. Ia sadar Bianca sangat terobsesi padanya, dan obsesi adalah kelemahan.
Malam itu, saat makan malam mewah bersama keluarga Valerius, Atlas tiba-tiba mengubah sikapnya. Ia tidak lagi ketus. Ia menatap Bianca dengan senyum misterius yang membuat wanita itu terpaku.
"Bianca," panggil Atlas pelan. "Kau ingin aku menjadi milikmu sepenuhnya, kan? Kalau begitu, aku ingin kau memberikan akses penuh padaku untuk membantu proyek pembangunan pelabuhan baru ayahmu. Biarkan aku membuktikan kalau aku layak menjadi menantu Valerius dengan kecerdasanku, bukan hanya dengan paksaan."
Bianca yang haus akan pengakuan dari Atlas langsung merasa menang. Ia tidak sadar bahwa dengan memberikan Atlas akses ke sistem perusahaan dan logistik keluarga Valerius, ia baru saja memberikan Atlas "kunci" untuk menghancurkan kekaisaran ayahnya dari dalam.
.
.
Kabar pernikahan Atlas dan Bianca di Italia meledak seperti bom di seluruh penjuru kampus Helsinki. Foto-foto mereka menghiasi majalah high-society internasional dan portal berita mewah. Di sebuah kafetaria kampus yang dulu menjadi saksi kemesraan mereka, Kaylee menatap layar tabletnya dengan mata berkaca-kaca.
Di sana, Atlas tampak berdiri dengan tuksedo putih yang mewah, merangkul pinggang Bianca yang mengenakan gaun pengantin bertabur berlian senilai jutaan Euro.
"Dia sangat cantik..." bisik Kaylee lirih.
Teman-temannya di kampus berbisik sinis, mengira Atlas adalah pria materialistis yang meninggalkan Kaylee demi kekuasaan mafia Italia. Namun, Kaylee menyentuh layar itu tepat di bagian mata Atlas. Ia melihat senyum itu. Senyum yang dipaksakan, yang tidak pernah mencapai matanya. Kaylee tahu, itu adalah senyum seorang prajurit yang sedang menjalankan misi bunuh diri demi melindungi orang yang ia cintai.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍