NovelToon NovelToon
SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Trauma masa lalu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.

Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI YANG TIDAK SEMPAT DIUCAPKAN

Arunika melirik jam dinding di atas meja barista. Jarum pendeknya sudah hampir menyentuh angka sepuluh. Di luar, kerumunan wisatawan di trotoar Braga mulai menipis, menyisakan lampu-lampu jalan yang memantul di atas aspal basah. Bagi dunia luar, waktu bergerak normal—detik demi detik yang terukur. Namun di meja nomor sembilan ini, waktu terasa melingkar, menjebak mereka dalam pusaran memori tiga tahun lalu.

Arunika berdiri, merapikan tas selempangnya yang terasa berat, seberat beban informasi yang baru saja ia terima. Ia menatap Senja yang masih terpaku, seolah laki-laki itu takut jika ia bergerak sedikit saja, seluruh dunia yang baru saja ia "sentuh" akan kembali hambar.

“Tapi hari ini sudah malam, nanti sepulang kerja aku ke sini kalau kamu di sini,” ucap Arunika lembut, mencoba memberikan kepastian di tengah ketidakpastian eksistensi laki-laki itu.

Senja mendongak. Sorot matanya yang tadi sempat benderang karena rasa pahit kopi, kini kembali meredup, digantikan oleh kecemasan yang purba. “Kalau aku tidak ada di sini?” tanyanya pelan. “Gimana kalau saat kamu pergi, aku tersedot kembali ke bangku taman itu dan tidak bisa berdiri lagi?”

Arunika menggigit bibir bawahnya. Ia sendiri tidak tahu hukum apa yang berlaku bagi Senja. Namun, ia tidak bisa tinggal di sini selamanya. Besok pagi, ia masih harus menghadapi realitas dunia yang melelahkan: tumpukan berkas, atasan yang menuntut, dan pandangan-pandangan manusia "normal" yang tidak akan pernah mengerti apa yang ia lalui malam ini.

“Kamu akan tetap di sini,” kata Arunika meyakinkan, meski ia sendiri ragu. “Kamu sudah berhasil masuk ke kafe ini. Kamu sudah meminum kopimu. Kamu sudah meninggalkan jejak di cangkir itu. Itu artinya kamu punya kekuatan untuk tetap tinggal.”

Arunika melangkah menuju pintu keluar. Bel kecil di atas pintu kembali berbunyi, ting!, menyambut angin malam yang menusuk tulang. Ia menoleh sekali lagi ke arah meja nomor sembilan. Di sana, Senja duduk sendirian—benar-benar sendirian bagi mata orang lain. Cangkir kopi yang isinya tinggal separuh dan mangkuk es krim yang sudah mencair tampak mengambang di atas meja di mata para pengunjung lain yang tidak menyadari kehadiran Senja.

Arunika berjalan pulang menuju kosannya yang tak jauh dari pusat kota. Di sepanjang trotoar, ia teringat kembali kalimat yang ia ucapkan pada Senja tadi.

“Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin.”

Kalimat itu kini terasa seperti tamparan bagi dirinya sendiri. Arunika menyadari bahwa selama ini, ia pun sering merasa menjadi "Senja" di dunianya. Di kantor, ia adalah karyawan yang jarang diajak bicara. Di lingkungan sosial, ia adalah gadis yang lebih suka tenggelam dalam buku daripada obrolan kosong. Ia merasa tidak dianggap hidup oleh sekelilingnya, dan mungkin itulah alasan mengapa frekuensi jiwanya bisa menangkap keberadaan Senja.

Malam itu, Arunika tidak bisa tidur. Pikirannya melayang pada inisial S & A di meja kafe. Jika 'A' itu bukan dirinya, lalu di mana 'A' yang asli? Mengapa setelah tiga tahun, 'A' itu tidak pernah kembali? Dan mengapa Senja tetap tertinggal di Braga dalam kondisi yang menyedihkan seperti itu?

Keesokan harinya, matahari terbit dengan acuh tak acuh. Arunika menjalani rutinitasnya seperti robot. Ia mengetik laporan, membalas email, dan menerima teguran dari manajernya karena dianggap kurang fokus. Namun, di balik kacamata dan wajah lelahnya, pikiran Arunika terus berlari kembali ke kafe di jalan Braga.

Ia bertanya-tanya: Apakah Senja masih di sana? Apakah kopi yang ia tinggalkan tadi malam sudah dibersihkan oleh pelayan, atau pelayan itu akan ketakutan karena melihat cangkir yang bergerak sendiri?

Setiap detik terasa seperti jam yang berjalan lambat. Arunika merasa seperti sedang menjalani dua kehidupan sekaligus. Kehidupan yang membosankan di kantor, dan kehidupan yang penuh rahasia bersama seorang laki-laki tanpa bayangan.

“Arunika! Kamu dengar saya tidak?” suara keras atasannya membuyarkan lamunannya.

“Iya, Pak. Maaf,” jawabnya singkat.

Rekan kerjanya berbisik-bisik. “Dia kenapa sih? Dari tadi ngelamun terus. Kayak nggak napak di bumi.”

Arunika hanya terdiam. Ia teringat ucapannya pada Senja. Biarkan saja mereka memandang sebelah mata. Ia tidak butuh mereka tahu bahwa malam ini, ia punya janji yang jauh lebih penting daripada sekadar lembur laporan bulanan.

Malam itu, Braga terasa lebih dingin dari biasanya. Arunika berlari kecil menyusuri trotoar, napasnya memburu menciptakan uap tipis di udara. Saat ia sampai di kafe, meja nomor sembilan itu kosong melompong. Tidak ada Senja, tidak ada aroma kopi, hanya permukaan kayu yang diam membisu.

Panik mulai merayap di dada Arunika. Ia kembali keluar, menoleh ke kiri dan ke kanan, sampai matanya menangkap siluet yang sangat ia kenal di kejauhan.

Di sebuah halte bus yang remang-remang, Senja duduk mematung. Lampu neon di atasnya berkedip-kedip tidak stabil, menciptakan bayangan yang tampak patah-patah di aspal. Ia tidak lagi menatap kosong seperti di bangku taman tempo hari; kali ini, ada gurat kebingungan yang lebih dalam di wajahnya.

"Senja!" Arunika berseru sambil menghampiri, napasnya tersengal. "Kenapa kamu di sini? Aku cari kamu di kafe."

Senja mendongak perlahan. Ia tidak langsung menjawab. Jemarinya meraba permukaan kasar bangku halte tersebut, seolah sedang mencoba membaca bahasa braille yang tersembunyi di sana.

"Aku seperti pernah ke sini," ucap Senja lirih. Suaranya terdengar jauh, hampir teredam oleh suara kendaraan yang lewat di depan mereka. "Setelah kemarin aku bisa jalan-jalan dan mencoba mengingat... aku sampai di sini. Dan aku merasa... aku mengenal tempat ini."

Arunika duduk di sampingnya. Ia bisa merasakan aura dingin yang lebih pekat dari tubuh Senja malam ini. "Apa yang kamu ingat? Apa ada seseorang yang kamu tunggu di sini?"

Senja mengerutkan kening, tampak tersiksa oleh pikirannya sendiri. Ia menekan pelipisnya seolah sedang memaksa sebuah pintu yang berkarat untuk terbuka.

"Aku tidak tahu," jawabnya dengan nada putus asa. "Aku tidak tahu apa yang terjadi di sini. Kepalaku kosong, Arunika. Aku tidak ingat kejadiannya, aku tidak ingat wajah siapa pun. Aku hanya merasa pernah ke sini. Rasanya... sangat sesak."

Ia menatap aspal di depan kakinya. "Rasanya seperti ada sesuatu yang tertinggal di bawah lampu ini. Sesuatu yang sangat penting, tapi aku tidak tahu itu apa."

Arunika menatap halte bus yang sepi itu. Ia teringat kembali kata-katanya kemarin. "Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin."

Ia mengulurkan tangan, kali ini dengan keberanian penuh, menggenggam tangan Senja yang sedingin es. "Nggak apa-apa kalau belum ingat. Setidaknya sekarang kita tahu kalau jejak kamu bukan cuma di kafe itu. Jejak kamu ada di sepanjang jalan ini."

Senja menatap tangan Arunika yang menggenggamnya. Untuk sesaat, lampu halte berhenti berkedip dan menyala terang secara konstan.

"Kenapa rasanya menyakitkan, Arunika? Kalau aku tidak ingat apa pun, harusnya aku tidak merasa sedih, kan?" tanya Senja parau. "Tapi berdiri di halte ini... rasanya seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat aku miliki."

Arunika terdiam. Ia menyadari satu hal: Senja bukan sedang mencari memori tentang kejadiannya—dia sedang mencari sisa-sisa emosi yang tertinggal. Entah itu kecelakaan, perpisahan, atau penantian, Senja hanya merasakan gema dari rasa sakit itu tanpa tahu sumbernya.

"Kita cari pelan-pelan," bisik Arunika. "Harini sudah malam. Besok, sepulang kerja, aku akan ke sini lagi. Jangan ke mana-mana. Kalau kamu merasa hilang, ingat saja kalau aku bisa lihat kamu."

Senja mengangguk perlahan, meski tatapannya tetap terpaku pada aspal jalanan yang gelap. Di antara bisingnya kota, halte bus itu menjadi saksi bisu dua jiwa yang mencoba menyusun kembali kepingan hidup yang telah lama pecah.

Gemini said

Senja menatap lurus ke arah jalanan yang kosong, di mana lampu-lampu kendaraan yang lewat hanya tampak sebagai garis cahaya yang kabur. Ia tidak menoleh saat Arunika duduk di sampingnya. Bahunya tampak sedikit merosot, seolah beban yang ia pikul tidak berbentuk fisik, melainkan sesuatu yang abstrak namun sangat berat.

"Tapi aku seperti mengingat ada janji yang tidak terpenuhi, rasanya cuma seperti itu," ucapnya pelan.

Suaranya datar, tanpa emosi yang meluap, namun justru itu yang membuat Arunika merasa dadanya seperti diremas. Kalimat itu terdengar seperti sebuah gema dari masa lalu yang tidak lagi memiliki gambar, hanya menyisakan rasa bersalah yang tak tahu ditujukan untuk siapa.

"Janji apa?" tanya Arunika hati-hati.

Senja menggeleng, terlihat frustrasi dengan isi kepalanya sendiri. "Aku tidak tahu. Aku tidak ingat apa yang dijanjikan, atau kepada siapa janji itu dibuat. Aku cuma merasa... aku seharusnya tidak di sini. Aku seharusnya berada di tempat lain, memberikan sesuatu, atau mengatakan sesuatu."

Ia mengepalkan tangannya di atas lutut. "Rasanya seperti kamu berjalan keluar rumah dan merasa ada yang tertinggal, tapi kamu tidak tahu benda apa itu. Kamu hanya tahu, selama kamu tidak menemukannya, kamu tidak akan pernah bisa tenang."

Arunika memperhatikan bagaimana lampu halte kembali berkedip, memantulkan bayangan mereka yang tampak ganjil. Di bawah cahaya yang tidak stabil itu, Senja terlihat seperti seseorang yang sedang memudar.

"Mungkin janji itu yang menahan kamu di Braga," gumam Arunika. "Mungkin kamu belum 'pulang' karena kamu merasa masih punya utang kata-kata."

Senja menoleh perlahan. Tatapannya yang berkabut bertemu dengan mata Arunika. "Kalau janji itu tidak akan pernah bisa terpenuhi lagi, apa aku akan terus berada di halte ini selamanya? Menunggu bus yang tidak pernah membawaku ke mana-mana?"

Arunika teringat kembali kutipannya sendiri tentang orang lain yang memandang sebelah mata. Ia menyadari bahwa Senja bukan hanya tidak dianggap hidup oleh orang lain, tapi dia sendiri merasa tidak berhak untuk hidup—atau bahkan untuk mati—karena janji yang menggantung itu.

"Nggak," jawab Arunika mantap. "Kita bakal cari tahu janji itu. Walaupun rasanya cuma samar-samar, perasaan kamu nggak mungkin bohong."

Arunika berdiri, merapatkan jaketnya karena angin malam semakin menusuk. Ia harus pergi sekarang, namun ia merasa berat meninggalkan Senja di halte yang sepi itu.

"Harini sudah malam," kata Arunika lagi, mengulang janjinya. "Besok sepulang kerja aku ke sini. Kamu tunggu di sini, atau di kafe, atau di mana pun yang membuat kamu merasa 'ingat'. Aku bakal cari kamu."

Senja hanya mengangguk kecil. Saat Arunika melangkah pergi dan menoleh sekali lagi dari kejauhan, ia melihat Senja masih di sana, duduk mematung di bawah lampu halte yang pucat. Sosoknya tampak seperti bagian dari sejarah Braga yang terlupakan—sebuah janji yang tertinggal di antara deru mesin dan hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur.

1
Ira Indrayani
/Rose//Heart/
Dinaneka
Ceritanya bagus..
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍
Dinna Wullan: terimakasih dukungannya kak dina, siap meluncur
total 1 replies
Ros Ani
mampir lagi Thor karya barumu,semangat berkarya & sukses 💪
Dinna Wullan: terimakasih kak semoga suka, itunggu kritik dan sarannya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!