Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Ketika sampai di bawah, dengan lincah bocah itu melentingkan tubuhnya ke depan. Tubuhnya berputar ringan di udara, lalu kedua kakinya menapak tanah lebih dulu dengan sempurna.
Ia berdiri tegak.
Dan tersenyum lagi.
Namun wajah Laras justru memucat.
“K… k… kau ini makhluk apa? Dedemit hutan, ya?!” tanyanya tergagap.
Tadi, saat bocah itu masih berada di atas pohon, Laras tak menyadari sesuatu yang ganjil. Namun begitu sinar matahari menyentuh tubuhnya dengan jelas, barulah terlihat bulu-bulu halus berwarna kehijauan menyelimuti hampir seluruh kulit bocah itu.
Bulu itu tipis… tapi nyata.
Bocah itu mengerutkan dahi. Ia tak mengerti mengapa manusia di depannya tampak ketakutan.
Ia melangkah mendekat.
Mengitari Laras perlahan, seolah sedang mengamati makhluk asing.
Memang, selama ini ia hanya pernah melihat manusia dari kejauhan—para perampok yang sesekali melintas di tepi hutan. Tak pernah ia melihat seorang gadis kecil, apalagi yang berwajah secerah ini.
Rasa ingin tahunya tumbuh.
Entah mengapa, hatinya terasa tertarik.
“Argh… agh… aghh…” suara dari tenggorokannya terdengar seperti geraman tertahan. Bukan marah. Bukan pula ancaman. Hanya suara yang tak terbentuk menjadi kata.
Laras makin mundur selangkah.
“H-hey! J-jangan mendekat!”
Namun bocah itu justru berhenti… lalu tiba-tiba bersiul nyaring.
Suara siulan itu jernih dan panjang.
Tak lama kemudian, sesuatu yang menakjubkan terjadi.
Kupu-kupu besar di ladang itu, termasuk yang bercorak loreng harimau, beterbangan mendekat. Satu demi satu, mereka berputar dan berkumpul di atas kepala bocah kumal itu, membentuk pusaran warna-warni yang indah.
Seolah ia adalah bagian dari alam itu sendiri.
Ketakutan di wajah Laras perlahan memudar.
Digantikan rasa takjub.
“Hei… kau hebat sekali!” serunya tanpa sadar. “Bagaimana caramu melakukannya? Aku berlari seharian mengejar mereka, tapi kau hanya bersiul… dan semuanya datang!”
Bocah itu kembali tersenyum.
Kupu-kupu hinggap di bahunya. Di rambutnya. Bahkan di ujung jarinya.
Dan untuk pertama kalinya, Laras tak lagi melihatnya sebagai dedemit hutan.
Melainkan sesuatu yang… luar biasa.
Sejenak bocah itu mengangkat telunjuknya, lalu melentingkannya ke arah Laras. Ia kembali bersiul.
Sebagian kupu-kupu yang berputar di atas kepalanya langsung mengepakkan sayap dan terbang menuju Laras. Mereka mengitari tubuh gadis kecil itu, berkilauan diterpa cahaya matahari. Kupu-kupu loreng harimau yang tadi dikejarnya pun ikut terbang mendekat, lalu hinggap lembut di rambut hitamnya.
Laras terdiam sesaat.
Lalu wajahnya berseri-seri.
“Waaah… indah sekali!” serunya. “Hihihi… geli… geli!”
Ia tertawa kegirangan saat sayap-sayap halus itu menyentuh pipinya. Ia berlari kecil berputar-putar karena geli, sementara kupu-kupu beterbangan mengikuti geraknya.
Bocah kumal itu tersenyum lebar melihat tingkah Laras. Ia ikut berlari kecil di belakangnya, langkahnya ringan dan lincah.
Akhirnya Laras berhenti, terengah namun bahagia.
“Hmmm… ternyata kau bocah baik,” katanya sambil menatapnya lekat. “Dan aku yakin kau punya kemampuan yang aneh. Tapi aku suka.”
Ia mengamati tubuh bocah itu dari ujung kepala hingga kaki.
“Walau tubuhmu kehijauan seperti berlumut…”
Laras lalu tersenyum ramah.
“Oh ya, namaku Laras. Siapa namamu?”
Ia menjulurkan tangan kanannya.
Bocah itu terdiam, memandangi tangan kecil yang terulur itu dengan bingung.
“Kenapa? Kau ragu?” Laras menggoyang-goyangkan tangannya. “Ayo, julurkan tanganmu. Kita bersalaman. Biar resmi berkenalan.”
Bocah itu masih diam sejenak. Namun ketika melihat tangan Laras terus bergoyang, ia seperti mulai mengerti. Perlahan, ia mengangkat tangannya dan menyentuh tangan Laras.
“Nah, begitu!” Laras langsung menggenggam tangannya.
Bocah itu tersentak kecil.
Barangkali belum pernah ia merasakan sentuhan selembut itu. Matanya sedikit melebar, lalu ia tersenyum lagi.
“Namamu siapa?” tanya Laras.
“Agh… agh…”
“Kau gagap?” Laras memiringkan kepala.
“Agh… aghh…”
“Kau aneh sekali. Tak bisa bahasa manusia, ya?”
“Agg… shh… agh…” Suaranya seperti desis angin yang tersangkut di tenggorokan.
Laras menghela napas kecil.
“Hmmm… baiklah. Kalau begitu… bagaimana kalau aku saja yang memberimu nama? Mau?”
Bocah itu tak menjawab. Namun ia tak menarik tangannya. Ia hanya menatap Laras dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Laras melepaskan genggamannya perlahan.
“Karena kau bocah ajaib… aku akan memberimu nama…”
Ia berpikir sejenak, lalu tersenyum lebar.
“Braja. Ya! Namamu Braja. Keren, kan?”
Bocah itu kembali tersenyum.
Dan entah bagaimana, senyumnya kali ini terasa berbeda—seolah ia benar-benar mengerti bahwa sejak saat itu, ia tak lagi tanpa nama.