NovelToon NovelToon
Bukan Suami Biasa

Bukan Suami Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / CEO / Pernikahan Kilat / Identitas Tersembunyi
Popularitas:57.1k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Follow IG @Lala_Syalala13

Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.

Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.

Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.

Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.

Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BSB BAB 34_Menghancurkan Nama Baik

Saat pintu lift terbuka di lantai 50, Arumi disambut oleh suasana yang sangat sunyi namun intens.

Di ruang tunggu utama hanya ada satu orang lagi yang duduk di sana, seorang wanita dengan gaun merah marun yang sangat elegan, rambutnya disanggul modern dengan rapi, dan sebuah tas Hermes edisi terbatas diletakkan di sampingnya.

Wanita itu menoleh, matanya yang tajam dan berbingkai eyeliner sempurna menatap Arumi.

Detik itu juga suasana di ruangan tersebut menjadi dingin.

"Arumi?" tanya wanita itu.

Suaranya merdu namun mengandung nada penghinaan yang tajam.

Arumi mengernyitkan dahi. Ia merasa mengenal wajah itu. "Clara?"

Clara Sutedja. Dia adalah mantan kekasih Adrian dari masa lalu yaitu seorang sosialita sekaligus desainer interior yang pernah dijodohkan oleh keluarga besar Arkadia sebelum Adrian menghilang dan memilih untuk hidup menyamar.

Clara adalah simbol dari segala hal yang Arumi takutkan yaitu kekayaan, koneksi, dan masa lalu suaminya.

"Aku tidak percaya mereka membiarkan seseorang yang tinggal di pemukiman kumuh masuk ke lantai ini." ucap Clara sambil berdiri. Ia berjalan mendekati Arumi, aroma parfum mahalnya memenuhi ruangan.

"Adrian benar-benar sudah gila, dia menyia-nyiakan hidupnya untuk bermain rumah-rumahan denganmu, dan sekarang dia mencoba memasukkanmu ke proyek ini?" ucap Clara tak habis pikir dengan Adrian.

Arumi mengepalkan tangannya. "Aku di sini karena bakatku, Clara. Bukan karena Adrian." seru Arumi tidak terima jika dia dibilang numpang tampil.

Clara tertawa, suara tawa yang terdengar seperti gesekan kristal yang tajam.

"Bakat? Arumi, ini adalah proyek negara. Ini soal prestise dan kau pikir Pak Laksamana akan memilih desainer yang bahkan tidak bisa membedakan mana sutra asli dan mana kain murahan yang kau pakai sekarang? Aku dan Adrian tumbuh di dunia yang sama. Kami bicara dalam bahasa yang sama. Kau? Kau hanya gangguan sementara dalam hidupnya." seru Clara dengan percaya diri.

"Kita lihat saja siapa yang bicaranya lebih didengar oleh Pak Laksamana nanti," balas Arumi tenang, meski hatinya berdegup kencang.

Pintu ruang kerja Pak Laksamana terbuka.

"Ibu Clara, Ibu Arumi, silakan masuk bersama-sama."

Di dalam ruangan yang menghadap langsung ke Monas itu, Pak Laksamana duduk dengan tenang.

Beliau adalah pria tua yang berwibawa dengan tatapan yang sangat analitis.

"Kakek Haris sudah bercerita banyak tentang kalian berdua." ucap Pak Laksamana tanpa basa-basi.

"Clara, perusahaan keluargamu punya reputasi hebat. Dan Arumi, kau adalah kejutan dari Singapura. Saya hanya butuh satu konsep untuk ruang kerja utama Presiden. Silakan, Clara kau duluan."

Clara membentangkan maket digitalnya. Desainnya sangat megah, penuh dengan emas, marmer Italia, dan lampu gantung kristal yang harganya miliaran rupiah.

"Istana harus menunjukkan kekuatan, Pak. Kita harus membuat siapa pun yang masuk ke sana merasa gentar dan takjub akan kekayaan bangsa ini." presentasi nya.

Pak Laksamana manggut-manggut, lalu menoleh pada Arumi.

"Dan kau, Arumi? Kau tidak membawa maket besar?" tanyanya.

Arumi maju ke depan, ia hanya membawa selembar sketsa tangan yang ia buat di atas kertas gambar sederhana.

"Pak Laksamana saya tidak membawa emas atau marmer, tapi saya membawa tanah dan bambu dari pelosok negeri." ucap Arumi.

Clara mendengus sinis, namun Pak Laksamana tampak tertarik.

"Presiden kita adalah pelayan rakyat Pak," lanjut Arumi.

"Jadi?"

"Jadi ruang kerja beliau tidak boleh membuat rakyat merasa gentar, ruang itu harus terasa seperti pelukan hangat dari ibu pertiwi. Saya menggunakan anyaman bambu dengan teknologi laminasi tinggi untuk dindingnya, memberikan kesan modern namun tetap membumi. Saya ingin ketika Presiden duduk di sana, beliau selalu diingat pada bau tanah dan keringat rakyatnya, bukan pada dinginnya marmer Italia." presentasi Arumi berjalan. dengan lancar.

Ruangan itu hening selama beberapa menit, Pak Laksamana berdiri, berjalan mendekati sketsa Arumi ia menyentuh garis-garis pensil yang ditarik Arumi dengan penuh perasaan.

"Anyaman bambu di kantor Presiden..." gumam Pak Laksamana.

"Sebuah ide yang sangat berani dan sangat berbahaya bagi reputasi seorang desainer jika gagal."

"Saya siap menanggung risikonya, Pak," ucap Arumi mantap.

Setelah pertemuan itu, Clara keluar dengan wajah memerah menahan marah.

Begitu mereka sampai di area lift, ia mencengkeram lengan Arumi.

"Kau pikir kau sudah menang?" desis Clara.

"Kau mungkin bisa merayu Pak Laksamana dengan filosofi rakyat-mu yang munafik itu. Tapi kau tidak tahu apa yang sedang terjadi di Jakarta Timur sekarang." serunya dengan marah.

Arumi menepis tangan Clara.

"Apa maksudmu?"

"Adrian. Kuli bangunan kesayanganmu itu sedang berada dalam masalah besar di toko material. Dion dan Romi bukan satu-satunya orang yang membencinya. Ada rahasia masa lalu Adrian yang tidak kau ketahui, Arumi. Sesuatu yang akan membuatmu lari menjauh darinya jika kau mengetahuinya."

Clara menyeringai, lalu melangkah masuk ke lift pribadinya.

Arumi merasa perasaannya tidak enak, ia segera berlari keluar gedung, mencoba menelepon Adrian. Namun, ponsel Adrian yaitu ponsel murah yang dibelinya di pasar loak tidak aktif.

Saat Arumi sampai di Toko Material Pak Haji, ia melihat kerumunan massa yang berteriak-teriak.

Ada asap mengepul dari bagian belakang toko yaitu area yang sedang mereka renovasi.

"Bakar! Penipu! Dia membahayakan warga!" teriak massa.

Arumi menyeruak di antara kerumunan, ia melihat Adrian sedang berdiri di depan kantor Pak Haji yang terbakar setengah bagian.

Pakaiannya compang-camping dan wajahnya penuh jelaga, di depannya berdiri seorang pria paruh baya yang tampak sangat marah, didampingi oleh beberapa pengacara.

"Toko ini menggunakan kayu ilegal! Dan mandornya, pria bernama Ian ini sudah menipu saya dalam kontrak pengadaan!" teriak pria itu.

"Itu fitnah! Kayu itu kami beli resmi dari Pak Haji!" teriak Adrian.

Ternyata, Dion dan Romi telah bekerja sama dengan salah satu oknum polisi dan mantan rekan bisnis Adrian yang dulu pernah dikhianati oleh ayah Adrian.

Mereka menanamkan kayu selundupan di gudang Pak Haji semalam dan melaporkannya hari ini.

Mereka ingin menghancurkan nama baik Arumi lewat kesalahan teknis di proyek pertamanya.

Pak Haji sendiri tampak terduduk lemas, ia ditangkap karena tuduhan penimbunan barang ilegal.

"Mas!" Arumi berlari mendekat.

Adrian melihat Arumi dan segera melindunginya dari lemparan batu warga yang mulai beringas.

"Arumi! Kenapa kau ke sini? Pergilah!" serunya.

"Aku tidak akan pergi!" tegas Arumi.

Tiba-tiba saja sebuah mobil polisi sungguhan datang, kali ini bukan tim Hendra tapi petugas polisi turun dan langsung memborgol Adrian.

"Saudara Ian, Anda ditahan atas tuduhan pemalsuan dokumen material dan penggunaan barang ilegal yang merugikan negara." ucap petugas itu.

"Tidak! Dia tidak tahu apa-apa! Saya desainer-nya, saya yang bertanggung jawab!" Arumi mencoba menghalangi, namun ia didorong hingga jatuh ke tanah.

Adrian menatap Arumi dengan tatapan yang sangat dalam, di tengah kekacauan itu, ia berbisik sangat pelan.

"Telepon Hendra Arumi dan gunakan kode Elang Hitam, ini saatnya aku harus berhenti menjadi Ian untuk sementara, atau kita berdua akan hancur." bisiknya.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...

...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...

...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...

...VOTE 💌...

...LIKE 👍🏻...

...KOMENTAR 🗣️...

...HADIAHNYA 🎁🌹☕...

1
Asyatun 1
lanjut
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
Asyatun 1
lanjut
Nasiati
😄😄😄😄 bahagia nya sikakek
Nasiati
Alhamdulillah
Nasiati
Alur ceritanya bangus
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
Asyatun 1
lanjut
Rahma Inayah
lahir baby satu SDH SPT lahir sekomplej 🤭🤭 persiapan yg amazing
Rahma Inayah
lnjut thor
Nasiati
skenario begitu apik dirancang Adria 👍
Asyatun 1
lanjut
Isabela Devi
anakmu masih bayi pasti butuh perhatian andian, anaknya sendiri di cemburui🤦
Isabela Devi
ayah siaga itu bagus tp ayah juga harus istirahat cukup juga
Isabela Devi
Arumi sante aja,, suami jaga 24 jam
Asyatun 1
lanjut
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
Sastri Dalila
👍👍👍
Lala_Syalala: terima kasih kak untuk bintang 🌟 5 nya, semoga selalu suka ya sama ceritanya dan cerita aku lainnya 🙏🏻🙏🏻😁😁🤗
total 1 replies
Isabela Devi
semoga setelah anaknya lahir lebih bahagia Laginya
Ariany Sudjana
puji Tuhan, pewaris Adrian sudah lahir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!