Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10. Bear Vs Trile
"Ray.., banyak kabar yang beredar tentang kekuatanmu itu. Banyak diantara mereka yang percaya dan tidak sedikit pula yang masih meragukan. Malam ini Ayah hanya ingin memastikan semuanya darimu." lanjut Kaisar Jack Zen berbalik menatap Ray Zen.
"Kakakmu Mei Zen mengatakan, saat dalam perang melawan iblis di perbatasan selatan satu tahun yang lalu, kau datang bersama pasukan bayanganmu. Apakah itu benar Ray?"
"Benar, Ayah." jawab Ray Zen singkat.
Kaisar Jack Zen mengangguk sejenak, lalu kembali bertanya. "Apakah keempat bayangan yang juga pernah ada saat menghadapi bencana Gerbang Petaka adalah pasukan bayanganmu?"
"Benar, Ayah."
Kaisar Jack Zen mengangguk lagi. Kali ini ia benar-benar mengerti. Keempat bayangan tempo itu ternyata bukan milik Jia Yi, melainkan milik Ray Zen. Ternyata saat itupun Ray Zen telah ikut membantu menghentikan bencana yang terjadi di Kekaisaran Awan Putih.
Wajar saja saat itu Jia Yi tidak terlalu perduli dengan kekaguman orang-orang padanya. Dan bahkan saat ditanya pun, Jia Yi juga tidak mengerti mengapa keempat bayangan itu bisa ada.
(Cerita tentang bencana Gerbang Petaka itu terdapat pada Chapter 47 di Season 1).
"Apakah benar… kau juga yang telah memusnahkan Sekte Kumbang Hitam, Ray?”
(Cerita tentang musnahnya Sekte Kumbang Hitam terdapat pada Chapter 74 di Season 1).
Ray Zen mengangguk tanpa ragu. “Benar, Ayah.”
Mei Ling terkejut. “Mengapa Ray…?”
“Sekte Kumbang Hitam adalah sekte yang jahat ibu,” jawab Ray Zen tenang. “Mereka telah melakukan banyak kejahatan. Jika dibiarkan, mereka akan semakin kuat dan pada akhirnya akan melakukan pemberontakan.”
Kaisar menghela napas panjang, lalu mengangguk. “Aku sudah lama tahu itu. Sekte Kumbang Hitam memang sering melakukan kejahatan secara terang-terangan. Tapi sebagai seorang Kaisar, aku tak bisa bergerak bebas. Apalagi karena Sekte Kumbang Hitam adalah salah satu sekte besar kekaisaran ini. Hilangnya mereka akan menggangu keseimbangan kekaisaran.”
Ia menatap Ray Zen dengan mata penuh rasa terima kasih. “Namun ternyata aku salah, Ray. Hilangnya mereka justru membuat kekaisaran ini menjadi lebih baik. Terimakasih putraku. Berkat bantuanmu, sekte itu benar-benar musnah sekarang.”
Sementara itu, di area latihan tersembunyi, dikelilingi pepohonan tinggi dan formasi pelindung, Bear dan Trile berdiri saling berhadapan.
Yang lain membentuk lingkaran.
“Kau siap Bear?” tanya Trile sambil mengeluarkan sepasang belati hitam keunguan berkilau miliknya.
Bear mengepalkan tinjunya. “Majulah, nona Trile,”
Aura Trile meledak lebih dulu. Energi setara ranah Legend *4 berputar cepat mengelilingi tubuhnya, sepasang belatinya memantulkan warna hitam keunguan.
Ia melesat. Cepat dan Mematikan.
Clang!
Belatinya menghantam lengan Bear—namun suara yang terdengar seperti logam menghantam baja.
Bear tidak bergeming. Senyum tipis terlihat di wajahnya.
“Apa?” Trile menyeringai, lalu meningkatkan serangannya. Tebasan demi tebasan belati membentuk bayangan bilah yang menari di udara.
Bear menahan semuanya dengan tubuhnya sendiri.
“Tubuhnya sangat keras…” Tiger berdecak.
Han Yu terdiam. Matanya yang tajam terus memperhatikan jalannya pertarungan itu. Ia benar-benar terkejut dengan kekuatan Bear sekarang. Bear mampu menahan serangan mematikan dari Trile tanpa bergeming sedikitpun.
"Apakah ini tingkat kekuatan yang berada diatas ranah Legend." batinnya.
Sementara itu, Virdrax dan Navhara tidak begitu terkejut dengan kemampuan Bear. Mereka sudah melihat sendiri, bagaimana Bear membunuh banyak binatang buas ratusan ribu tahun dengan mudah di Jantung Hutan Larangan.
Namun sebaliknya, mereka terkejut dengan kemampuan Trile. Kecepatan dan serangannya benar-benar luar biasa. Jika saja lawannya bukan Bear, mungkin Trile sudah menang dengan mudah sejak tadi.
Bear maju satu langkah, tanah retak di bawah kakinya. Satu pukulan dilepaskan.
BOOM!
Udara meledak. Trile terpental, berguling beberapa meter sebelum berhenti. Ia bangkit dengan napas memburu—namun wajahnya justru bersinar.
“Luar biasa!”
Ia kembali menyerang, kali ini dengan kekuatan dan kecepatan yang ditingkatkan.
Bear meraung, auranya meledak penuh sebagai binatang buas ratusan ribu tahun yang setara dengan Half-Saint 1. Tubuhnya diselimuti cahaya keemasan samar.
Benturan mereka mengguncang tanah, pepohonan bergoyang hebat.
Namun akhirnya, Bear berdiri tegak, sementara Trile terengah, sepasang belatinya tertancap di tanah untuk menopang tubuhnya. Ia tertawa puas. “Aku kalah, Bear. Kau benar-benar hebat.”
Bear tersenyum lebar. “Aku hanya beruntung, nona Trile.”
"Hemp, kau jangan senang dulu Bear. Jika saja aku yang ikut berpetualang dengan tuan Ray, mungkin aku juga sudah berada diranah itu, atau malah lebih tinggi." balas Trile lagi.
"Hehehe, sudahlah adik. Bear memang sudah menjadi sangat kuat sekarang." ucap Tiger sambil mendekat kearah mereka berdua.
Yang lain bertepuk tangan, menyaksikan pertarungan mereka yang luar biasa hebat. Di kejauhan, bulan bersinar terang, seolah menyaksikan hal yang sama.
...****************...
Keesokan harinya, cahaya matahari pagi mulai menembus langit, memantulkan sinarnya dengan indah di atas Istana Kekaisaran Awan Putih yang menjulang megah dan mewah.
Seperti biasa, suasana istana sudah ramai sejak fajar menyingsing. Para pelayan berlalu-lalang dengan langkah cepat namun teratur—sebagian membawa nampan berisi hidangan sarapan untuk para petinggi kekaisaran, sebagian lainnya membersihkan koridor-koridor luas yang berlapis marmer putih, sementara sisanya merawat taman-taman istana yang dipenuhi bunga eksotis dan pepohonan hijau yang terawat rapi.
Di setiap sudut istana, para prajurit berpatroli dengan langkah tegap. Pedang dan perisai mereka berkilau terkena sinar matahari pagi. Dari arah lapangan latihan, terdengar teriakan komandan dan suara benturan senjata. Sekelompok prajurit sedang melatih formasi tempur, gerakan mereka serempak, disiplin, dan penuh kekuatan.
Berbeda dengan suasana luar, bagian dalam istana terasa jauh lebih tenang. Para pejabat tinggi dan bangsawan menikmati sarapan pagi sambil berdiskusi mengenai urusan negara, perdagangan, serta politik antarwilayah. Senyum diplomatis dan tatapan penuh perhitungan tampak jelas di wajah mereka.
Di salah satu kamar besar yang terletak di sayap timur istana, seorang pemuda tampan dengan mata tajam dan rambut hitam tersisir rapi duduk di tepi tempat tidur, memandangi halaman istana melalui jendela besar. Tatapannya dalam, seolah memikirkan sesuatu yang jauh melampaui dinding istana.
Pemuda itu adalah Ray Zen.
Di belakangnya berdiri tujuh orang dengan aura yang tidak kalah kuat. Mereka adalah Bai Hu, Han Yu, Bear, Tiger, Trile, Virdrax dan Navhara.
Ray Zen sengaja memanggil mereka semua kedalam kamarnya, karena hari ini mereka akan melakukan sesuatu hal yang sangat penting.
“Pangeran,” Bai Hu akhirnya membuka pembicaraan dengan suara hormat, “hal penting apa yang hendak Pangeran sampaikan?”
Ray Zen tetap diam sesaat. Ia berdiri, lalu berbalik perlahan, menatap satu per satu wajah pengawalnya. Tatapannya tegas, namun terselip keyakinan yang sulit dijelaskan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss.....
Selamat Membaca.....
Lanjut Terussss.....
reader yg setia masih menanti update yg terbaru