NovelToon NovelToon
ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

cerita keluarga besar yang harmonis dan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin Novel Toon Alif cariza nofiriyanto,isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili Novel Toon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 6

Sore itu, aku duduk di ruang keluarga sambil membaca buku, Dina menyiapkan minuman dingin untuk kami berdua, sementara Nenek Mira sibuk menata bunga yang baru dipetik dari pekarangan.

“Raka… Nak, kau harus lihat ini. Ma baru saja menemukan bunga yang warnanya persis seperti favorit Dina,” kata Nenek Mira sambil tersenyum nakal.

Aku menoleh, tersenyum. “Ma… kau memang selalu perhatian ya. Ini membuat rumah terasa lebih hidup.”

Dina tertawa kecil, menaruh gelas minum di meja. “Iya… rumah ini selalu terasa hangat karena Ma ada di sini.”

Tiba-tiba, cucu kecil kami berlari membawa bola kecil. “Kakek Raka! Main bola sama aku! Aku mau menang!”

Aku meletakkan buku, tersenyum, dan berdiri. “Baiklah, Nak… tapi ingat, Kakek ini punya trik rahasia!”

Nenek Mira ikut tertawa, membawa keranjang bunga sambil berkata, “Raka… jangan sampai kau jatuh ya, nanti Ma tersedak tawa!”

Aku menatap Dina sambil tersenyum. “Lihat, Dina… Ma sekarang lucu, tapi tetap membuat suasana hidup dan hangat. Tidak ada tekanan, hanya tawa dan kasih sayang.”

Dina menempelkan tangannya di lenganku. “Iya… rumah ini penuh cinta, tawa, dan kebahagiaan. Aku senang kita bisa menjaga semuanya seperti ini.”

Cucu kecil itu menendang bola ke arahku, dan aku pura-pura terjatuh dramatis. “Aduh! Kalah dari ninja kecil!”

Nenek Mira tertawa keras, menepuk tangan. “Itu baru pertarungan yang seru! Aku bangga sama kalian semua.”

Dina ikut tertawa, sambil memelukku. “Raka… lihat? Kita berhasil membuat rumah ini hangat dan harmonis. Ma tetap hadir, tapi tidak menekan, anak-anak bahagia, dan kita tetap punya ruang pribadi.”

Aku menatap Nenek Mira, tersenyum lega. “Terima kasih, Ma… rumah ini hangat karena Ma, tapi nyaman bagi kita semua.”

Nenek Mira menepuk bahu kami berdua sambil tersenyum hangat. “Benar… Ma bahagia melihat semuanya. Rumah ini hidup karena cinta, tawa, dan perhatian kalian semua. Tidak ada yang lebih indah dari ini.”

Dan malam itu, setelah anak-anak tidur, aku dan Dina duduk di balkon, memandang bintang sambil meminum teh hangat. Nenek Mira ikut duduk di sebelah kami dengan secangkir teh kecil.

“Raka… Dina… rumah ini sempurna karena kalian saling mencintai dan menghargai satu sama lain,” kata Nenek Mira lembut.

Aku menggenggam tangan Dina, tersenyum hangat. “Iya, Ma… selama kita bersama, rumah ini akan selalu penuh cinta, tawa, dan kehangatan. Selamanya.”

Dina menempelkan kepalanya di bahuku, tersenyum. “Iya… Raka… rumah ini adalah rumah impian kita.”

Nenek Mira tersenyum, menepuk tangan kami berdua. “Benar… dan Ma akan terus sayang, tapi juga memberi ruang bagi kalian. Rumah ini hidup karena cinta semua orang di dalamnya.”

Dan di bawah cahaya rembulan yang lembut, tawa, aroma teh dan bunga, serta kehangatan keluarga membuat rumah kami tetap hidup—tempat di mana cinta, perhatian, dan kebahagiaan berjalan berdampingan, tanpa ada yang tergeser.

---

Suatu sore yang cerah, kami memutuskan untuk bermain “perlombaan konyol” di halaman rumah. Anak-anak berlari dengan gaya lucu, Raka dan Dina ikut dengan langkah dramatis, dan Nenek Mira muncul dengan topi lucu sambil membawa timer kecil.

“Raka… Nak, kau pasti kalah kalau begitu, jangan sampai terpeleset!” teriak Nenek Mira sambil menahan tawa.

Aku menatap Dina sambil tersenyum licik. “Ayo… kita tunjukkan trik rahasia pasangan dewasa!”

Dina tertawa, memegang tanganku. “Baiklah, tapi jangan sampai Ma menang duluan, ya!”

Nenek Mira pura-pura serius, meniup timer. “Siap… mulai! Dan ingat, pemenang harus cium Ma sebagai hukuman!”

Anak-anak berteriak riang, lari zig-zag melewati bunga, sementara aku dan Dina mencoba menirukan gerakan mereka. Aku pura-pura tersandung sedikit, Dina ikut tertawa, dan Nenek Mira menertawakan kami berdua sambil mengibaskan topinya.

“Ha! Kalian kalah! Ma juaranya!” seru Nenek Mira sambil tertawa lepas.

Aku mengangkat tangan sambil tertawa. “Baiklah… hukuman diterima, Ma. Tapi ini curang, topi itu bikin kita kehilangan fokus!”

Dina ikut tertawa, memelukku. “Raka… rumah ini benar-benar hidup karena tawa Ma, anak-anak, dan kita. Aku senang bisa berada di sini.”

Nenek Mira menepuk bahu kami. “Benar… Ma bahagia melihat semua orang tertawa. Rumah ini penuh cinta, tawa, dan kebahagiaan. Tidak ada yang lebih indah dari ini.”

Anak-anak berlarian lagi, membawa bola, tawa mereka memenuhi halaman. Aku menatap Dina, tersenyum lega. “Lihat… rumah ini sempurna. Penuh tawa, cinta, dan perhatian. Semua punya tempatnya sendiri, tapi tetap satu keluarga.”

Dina menempelkan kepalanya di bahuku. “Iya, Raka… selama kita bersama, rumah ini akan selalu hangat dan bahagia. Selamanya.”

Nenek Mira ikut tersenyum, menepuk tangan kami. “Benar… Ma senang bisa melihat semuanya. Rumah ini hidup karena kita semua saling mencintai dan menghargai. Dan Ma janji, akan terus ikut tertawa bersama kalian.”

Dan malam itu, setelah anak-anak tidur kelelahan tapi bahagia, rumah kami tetap hidup, hangat, dan penuh tawa—tanda bahwa cinta, perhatian, dan kebahagiaan keluarga bisa berjalan bersama, tanpa ada yang tergeser.

---

Aku menatap rumah yang kini hening, hanya suara angin malam dan aroma bunga dari pekarangan yang tersisa. Semua tawa hari ini—dari anak-anak, dari Ma, dari Dina—masih terngiang di kepalaku. Aku tersenyum, menyadari bahwa kebahagiaan itu sederhana: kepercayaan, cinta, dan ruang untuk setiap orang. Dina ada di sisiku, anak-anak tertidur pulas, dan Ma tetap hadir dengan kasih sayangnya yang hangat tanpa menekan. Inilah rumah kami—rumah di mana cinta, tawa, dan perhatian berjalan berdampingan. Dan aku tahu, selama kami tetap saling mencintai, menghargai, dan memberi ruang, keluarga ini akan selalu bahagia… selamanya.

---

Malam itu, kami bertiga duduk di teras, menikmati udara malam. Anak-anak sudah tidur, tapi rumah tetap terasa hidup karena aroma teh hangat dan bunga dari pekarangan.

Nenek Mira menatap kami sambil tersenyum nakal. “Raka… Nak, kau ingat dulu waktu kau dan Dina sering ribut soal sarapan? Sekarang lihat kalian, tenang-tenang saja.”

Aku tersenyum, menepuk bahu Dina. “Iya, Ma… sekarang kita belajar lebih sabar, dan Ma juga belajar memberi ruang.”

Dina menempelkan kepalanya di bahuku. “Iya… Raka, rumah ini sekarang sempurna. Hangat, penuh cinta, tapi tetap nyaman.”

Nenek Mira tertawa kecil, menepuk tangan kami. “Benar… Ma bahagia melihat kalian begitu. Dan jangan lupa, Ma tetap sayang, tapi nggak akan ganggu urusan kalian.”

Aku menatap Dina, tersenyum hangat. “Lihat, Ma… kehadiran Ma membuat rumah ini hidup, tapi tetap terasa seperti milik kita juga. Aku senang semua bisa harmonis.”

Dina tersenyum, menggenggam tanganku. “Iya… Raka… selama kita bersama, rumah ini akan selalu penuh tawa, cinta, dan kebahagiaan.”

Nenek Mira tersenyum lembut. “Benar… Ma senang. Rumah ini hidup karena kalian saling mencintai dan menghargai. Aku bangga pada kalian semua.”

Aku menatap langit malam yang dipenuhi bintang, menarik napas panjang, lalu berkata sambil tersenyum:

“Raka, Dina, Ma… rumah ini bukan hanya tempat tinggal. Ini rumah cinta, tawa, dan kebahagiaan. Dan selama kita bersama, rumah ini akan selalu menjadi tempat terhangat di dunia.”

Dina menatapku dengan mata berbinar. “Iya, Raka… selamanya.”

Nenek Mira menepuk bahu kami berdua sambil tersenyum nakal. “Dan ingat… kalau nanti ada cucu baru yang bikin ribut, Ma siap jadi juri lagi!”

Kami bertiga tertawa lepas, menikmati malam itu. Rumah kami tetap hangat, hidup, dan penuh tawa—akhir yang sempurna untuk keluarga yang saling mencintai, menghargai, dan memberi ruang satu sama lain.

---

1
Emen Umakpauny
lanjutkan
Khoerun Nisa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!