Kalian percaya Transmigrasi? Percaya Jiwa manusia bisa tertukar?
Jessie Cassandra, gadis cantik yang terkenal Queen Bullying di sekolah, tak ada yang berani padanya termasuk guru, dia benci orang miskin. Secara mendadak membuat jiwanya tertukar dengan gadis yang sering ia bully.
Raya Azzahra, Korban Bully. Gadis culun dan miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di sekolah ternama.
=-=-=
"Kembalikan tubuh gue, cupu!" Hardik Jessie.
"B-bagaimana caranya? Aku gak tau apa yang terjadi." Raya masih heran.
"Lo pasti main dukun. Lo mau rebut kehidupan gue yang sempurna ini." Tuduh Jessie.
=-=-=
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana jiwa mereka bisa tertukar? Bagaimana mereka menjalani hari di tubuh yang berbeda? Lantas apakah jiwa mereka bisa kembali ke tubuh asli?
=-=-=
Penasaran? Ikuti kisahnya. Jangan lupa beri dukungan LIKE, COMMENT, VOTE dan FAVORIT.
LOVE YOU~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beruang Kutub
*
Ternyata Pipit tidak datang sendiri, dia bersama seseorang yang Raya kenal karena satu kelas. Cowok berpostur tinggi yang terkenal dengan sikap plengernya.
"Ray, natapnya bisa biasa aja gak? Jangan kayak singa betina yang gak makan setahun." Cetus Pipit sedikit ngeri.
Raya diam, mengalihkan pandangan, tidak berminat menanggapi.
Pipit bergeser sedikit mendekati cowok itu lalu berbisik "Nathan, kok sepupu lo diem aja ya? Dia gak bisa bisu kan?"
"Gak lah. Tante Indah bilangnya udah baikan kok, mungkin sedikit ada gangguan ingatan." Balas Nathan juga berbisik.
Raya mendengus, apa yang mereka lakukan? Mereka berbisik, tapi suara mereka begitu keras. Tapi untuk menegur, dia malas.
"Ray, gimana kabar lo? Apa lo baik-baik aja?" Tanya Nathan menatapnya intens.
"Buta? Lihat sendiri kan?" Ketus Raya melirik sinis.
"Yaa kan gue nanya baik-baik, jawabnya gak usah ketus gitu dong." Nathan tersinggung.
Pipit melihat handphone Raya tergeletak di lantai, ia mengambilnya "Handphone lo retak Ray, masih hidup gak yah?" Pipit mencoba menyalakan.
"Buang aja." Balas Raya dengan entengnya.
"Hah?!" Pipit menganga lebar, begitupun Nathan.
"Rongsokan gak ada gunanya, buat apa di simpen." Cibir Raya di sertai dengusan kecil.
"Masih nyala tau Ray, yakin mau di buang?" Tanya Pipit tidak percaya.
"Yakin." Raya tegas menjawab. Namun detik berikutnya dia tersadar sesuatu "Eh jangan. Sini." Serunya merebut handphone itu di tangan Pipit.
Pipit tertawa "Gak usah sok mau buang Ray, entar lo gak punya handphone lagi." Ledeknya puas.
Raya mendengus kesal. Dia bukan tidak ingin membuangnya, tapi dia butuh handphone ini karena menunggu Jessie menghubunginya. Dan dia mendadak kesal karena orang yang menempati tubuh Jessie belum juga menelfon. Apa cewek itu lupa atau sengaja? Dia pasti sedang bersenang senang menikmati jadi orang kaya.
Seseorang masuk dan menghampiri mereka dengan tatapan datarnya. Raya mengenalnya, dia teman sekelas juga dia cowok yang pernah ia tendang burungnya. Ia mendengus, memilih memainkan handphone.
"Darimana aja lo bro? Lama banget." Tanya Nathan saat sahabatnya berdiri di sampingnya.
"Macet." Balas Satria santai. Pandangan Satria melirik Raya yang sibuk sendiri "Bagaimana kabar lo? Apa udah membaik?" Tanyanya dengan tampang datar.
Raya mengangkat sebelah aslinya, cowok ini bertanya sama dia? Sepertinya iya "Menurut lo?" Balasnya ketus, kembali lagi memainkan handphone.
Satria, Pipit serta Nathan mengerutkan kening bingung. Apa mereka tidak salah dengar?
"Ray, lo bilang apa tadi?" Tanya Pipit, ingin Raya mengulang ucapannya.
"Apa lo tuli? Gue gak harus mengulang ucapan gue barusan. Gak penting banget." Balas Raya semakin ketus, namun juga semakin membuat mereka bingung.
"Sejak kapan lo manggilnya lo gue? Biasanya juga aku kamu." Tanya Nathan terheran.
Raya ingin menjawabnya dengan umpatan, namun teringat jika ini bukanlah dirinya yang dulu. Jadi dia hanya bisa memilih diam, bicara apapun pasti akan salah dan membuat mereka curiga.
Pipit mendekatkan wajah ke Nathan "Kayaknya otak Raya geser deh pas kecelakaan." Bisiknya namun keras.
Nathan mengangguk setuju "Bener, otaknya jadi koslet."
"Yaakk ngomong apa kalian berdua? Kalo mau gosip jangan depan gue." Seru Raya bersungut sungut.
Sedetik kemudian Pipit menyengir kuda "Dengar ya?" Tanyanya dengan wajah pengin di tampol.
"Lo pikir gue budeg." Cetus Raya sedikit menyentak.
Pipit memilih bungkam, sahabatnya itu menjadi mengerikan setelah kecelakaan. Satria diam menatapnya penuh tanda tanya, sejak kapan Raya suka tantrum begini?
Itulah diri Raya alias Jessie pada dasarnya. Dia memang datar dan dingin jika sekitarnya tidak menarik atau membosankan. Dia juga bisa berubah menyeramkan jika suasana hatinya buruk dan ada yang membuatnya emosi jadi memilih membully. Dia lebih sering tantrum saat kesal namun mencoba menahan agar tidak main fisik, tapi di ganti dengan mengeluarkan semua umpatan serta perkataan pedas yang bisa menusuk sampai ke ulu hati. Sepedas memakan cabai seribu kilo.
"Ray, lo itu baru sembuh dari koma. Jangan marah marah gitu dong, gue nih masih sepupu lo." Ucap Nathan memperingati.
"I don't care." Balasnya sengit.
Nathan pun mengikuti Pipit, bungkam seribu bahasa.
Raya melirik Satria yang terlihat menahan tawa melihat dua temannya bungkam, saat dia ingin membuka suara tiba tiba saja seseorang masuk ke dalam ruangan.
"Eh ada temannya Raya." Bu Indah tersenyum saat Pipit, Nathan juga satu cowok yang belum ia kenal menyalami dirinya sopan.
"Satria, dia temanku tante." Ucap Nathan memperkenalkan Satria, seakan tahu tatapan bingung tantenya.
Bu Indah mengangguk, Satria tersenyum tipis.
"Kalian sudah lama disini?" Tanya Bu Indah.
"Kami baru dateng kok." Balas Pipit, ia kenal dekat dengan ibunya Raya.
Bu Indah yang ingin kembali bertanya, langsung di potong seseorang.
"Ada makanan?" Tanya Raya. Wajahnya memelas, dia sudah lama menahan lapar.
"Ada, Ibu belikan makanan kesukaanmu." Bu Indah menyerahkan bungkus plastik pada putrinya.
Wajah Raya langsung berbinar, berpikir jika makanan kesukaan pasti sangat enak. Segera ia membuka bungkus makanan itu. Sontak saja wajah sumringahnya menghilang, ia menjatuhkan rahang, mulut menganga lebar.
"What is this?" Pekiknya tertahan.
"Makanan kesukaanmu. Tempe bacem." Jawab Bu Indah tersenyum.
"Hah?!" Raya melotot.
Hampir saja Raya menjerit dengan segala kata mutiara yang terbendung dalam otaknya. Okelah jika pemilik tubuh ini miskin, tapi dia pikir yang di maksud makanan kesukaan itu seperti Ayam, ikan, seafood, sate atau iga sapi gitu. Tapi ini? Sungguh di luar dugaannya. Ini seperti dia hampir mendapat hadiah namun ternyata ZONK.
Mulutnya ingin berkata, namun semua kata mendadak hilang. Bagaimana dia harus menjelaskannya? Melihat makanan ini, selera makannya jadi hilang. Bahkan ia tidak tahu jenis makanan apa ini.
"Kenapa diam saja? Ayo di makan dong." Bu Indah memerintah.
"Apa harus di makan?" Tanya Raya cengo, wajahnya penuh permohonan.
"Gak. Buang aja." Yang membalas Pipit dengan entengnya.
Raya mendelik, Pipit lagi dan lagi hanya menyengir kuda.
"Ray, lo semenjak bangun dari koma aneh sumpah." Ujar Pipit mengungkapkan kebingungannya "Ini pasti karna beruang kutub."
"Beruang kutub?" Raya mengernyit heran.
"Ya gue tahu yang nabrak lo itu si beruang kutub, meski kalian sama sama koma tapi tetap aja ini salah dia." Jawab Pipit.
Wajah Raya langsung tidak bersahabat "Siapa maksud lo beruang kutub?"
"Ya siapa lagi kalau bukan Jessie." Balas Pipit di sertai tawa ejekannya "Kan lo tahu, dia tuh mirip beruang kutub. Kalo diem lihatnya tenang kaya boneka beruang, namun dingin auranya. Tapi kalo lagi kumat, beuuhhh... Langsung keluar tuh cakarnya, nyeremin banget wajah dia."
Ucapan Pipit mengundang gelak tawa Nathan, akhirnya mereka berdua tertawa terpingkal.
Raya menganga tak percaya 'Jadi selama ini mereka ngatain gue Beruang kutub?' Batinnya mengamuk, sungutnya ingin keluar, bahkan wajahnya tampak memerah.
"Dia punya nama, Jessie. Sebut namanya dengan benar." Seru Satria menghentikan tawa temannya.
Sontak saja Raya menatapnya, apa dia membelanya? Jessie pernah memukulnya, seharusnya dia marah dan ikut mengejek seperti temannya.
"Teman lo kaku banget njir." Ucap Pipit pada Nathan, matanya melirik Satria.
"Dia emang begitu, kaku kayak kanebo kering." Balas Nathan terkekeh, Satria hanya memutar bola matanya malas.
"Yang di bilang teman kalian itu benar, tidak baik mengganti nama orang sesuka hati." Ujar Bu Indah setuju pendapat Satria "Dan sebaiknya jangan menyalahkan gadis itu atas kecelakaan ini, dia juga sama sama terluka parah. Ini murni kecelakaan, takdir." Lanjutnya.
"Iya tante." Cicit Nathan dan Pipit bersamaan.
...----------------...