NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 : Mimpi

Lunaris membuka matanya perlahan. Napasnya tertahan di tenggorokan saat menyadari ia tidak sedang berbaring di kasurnya yang empuk, melainkan berdiri di tengah sebuah reruntuhan istana yang megah namun mengerikan.

Langit di atasnya berwarna merah pekat seperti memar, tanpa matahari ataupun bulan. Pilar-pilar marmer raksasa yang menyangga atap istana itu telah runtuh sebagian, hangus terbakar seolah baru saja dilahap api neraka.

Lunaris menunduk ketika merasakan sensasi basah dan lengket di telapak kakinya yang telanjang.

Mata gadis itu membelalak horor.

Darah.

Ia sedang berdiri di atas genangan darah segar yang menggenang hingga mata kaki. Bau anyir besi dan kematian langsung menusuk hidungnya, membuat perut Lunaris mual seketika.

"Apa... apa ini?" Cicitnya gemetar.

Kagetnya belum reda, tiba-tiba suara derap langkah kaki ribuan orang terdengar menggema dari arah belakang. Lunaris menoleh, dan jantungnya seakan berhenti berdetak.

Sekelompok besar orang—ratusan, mungkin ribuan—berlari ke arahnya dengan wajah penuh amarah. Mereka mengenakan pakaian kuno, tunik kasar dan gaun lusuh seperti rakyat jelata dari abad pertengahan. Tangan mereka memegang obor, garpu tanah, dan batu.

"Itu dia! Tangkap dia!"

"Pengkhianat!"

"Pendosa!"

"Dia yang membawa kehancuran ini!"

Teriakan-teriakan itu bersahut-sahutan, penuh kebencian yang murni. Lunaris tidak mengerti apa yang terjadi, tapi instingnya berteriak untuk lari.

Gadis itu berbalik dan berlari sekuat tenaga, membelah genangan darah yang memercik ke kakinya. Ia memejamkan mata rapat-rapat dan menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, berusaha mengusir suara cacian yang memekakkan telinga itu.

"Gue gak tahu apa-apa! Pergi jangan kejar gue!" Jerit batinnya.

Anehnya, semakin kencang ia berlari, suara-suara bising itu perlahan-lahan memudar. Teriakan kemarahan itu berubah menjadi bisikan, lalu senyap sama sekali.

Hening. Keheningan yang justru terasa lebih mencekam daripada keributan tadi.

Lunaris memberanikan diri membuka matanya.

Ia kini berada di sebuah aula singgasana yang hancur. Tidak ada lagi orang-orang yang mengejarnya. Namun, pemandangan di depannya jauh lebih mengerikan.

Orang-orang yang tadi mengejarnya... kini telah menjadi tumpukan mayat yang bergelimpangan di sekelilingnya. Tubuh mereka kaku, mata mereka melotot kosong menatap Lunaris seolah menuntut pertanggungjawaban.

Di ujung aula, di atas sebuah singgasana batu hitam yang retak, duduk seorang wanita.

Lunaris menyipitkan mata, berusaha melihat wajah wanita itu, namun pandangannya mengabur. Wajah sosok itu tertutup bayangan kelam. Satu-satunya yang terlihat jelas adalah gaun putih mewah yang dikenakannya kini telah berubah warna menjadi merah karena lumuran darah.

Di tangan kanannya, wanita itu menggenggam sebuah pedang besar yang ujungnya meneteskan cairan merah kental.

Wanita itu tidak bergerak, tapi Lunaris bisa merasakan tatapan tajam dari balik bayangan wajahnya. Tatapan yang dingin, kecewa, dan penuh tuduhan.

"Lihatlah..." Suara wanita itu terdengar berat, bergema di seluruh ruangan seolah berasal dari dinding-dinding istana itu sendiri. "Lihatlah apa yang telah kau perbuat."

"B-bukan..." Lunaris menggeleng, mundur selangkah. "Bukan gue..."

"Ini semua karenamu," Tuding wanita itu, mengangkat pedangnya lurus ke arah Lunaris. "Darah mereka ada di tanganmu. Kehancuran ini adalah dosamu. Kau harus menanggung semuanya."

Seolah mendapat komando, mayat-mayat di sekitar Lunaris mulai membuka mulut mereka meski tubuh mereka tak bergerak. Suara mereka berdengung serempak, menuding Lunaris.

"Salahmu..."

"Pembunuh..."

"Kau menghancurkan kami..."

Tekanan di dada Lunaris semakin berat, seolah paru-parunya diremas oleh tangan tak kasat mata.

"GAK!" Lunaris berteriak histeris, air matanya tumpah. "GUE GAK NGELAKUIN APA-APA! INI BUKAN SALAH GUE!"

KRAK!

Tepat saat Lunaris berteriak, lantai tempat ia berpijak retak hebat. Goncangan keras terjadi, dan dalam sekejap mata, lantai itu runtuh sepenuhnya.

"AAAAAAA!"

Lunaris jatuh ke dalam jurang gelap tanpa dasar. Sensasi jatuh itu begitu nyata, perutnya terlilit mual, angin menderu di telinganya.

BRAK!

"Aduh!"

Lunaris tersentak bangun, napasnya memburu cepat, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Rasa sakit yang nyata menjalar di pinggang dan punggungnya. Ia mengerjap-ngerjap bingung, menyadari bahwa ia tidak lagi berada di dalam mimpi mengerikan itu, melainkan tergeletak di lantai kayu yang keras. Sepertinya ia baru saja jatuh dari tempat tidur karena mimpi buruk tadi.

"Hah... hah... Ternyata cuma mimpi," Gumam Lunaris sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. Mimpi itu terasa begitu nyata, bau darahnya bahkan seolah masih tertinggal di indra penciumannya.

Sambil meringis menahan sakit di pinggangnya yang sepertinya memar, Lunaris mencoba bangkit dan duduk.

"Sial, sakit banget lagi..." keluhnya sambil memijat punggung bawahnya.

Namun, saat Lunaris mendongak dan mengedarkan pandangan ke sekeliling, gerakan tangannya terhenti. Keningnya berkerut dalam.

Ruangan ini luas. Langit-langitnya tinggi dengan ukiran klasik yang rumit. Jendelanya besar-besar tertutup tirai beludru tebal berwarna merah marun. Perabotan di dalamnya—lemari kayu jati besar, meja rias antik, dan ranjang berukuran king size tempat ia jatuh tadi—semuanya terlihat sangat mewah dan kuno.

Dan yang terakhir Lunaris melihat sebuah lukisan tua yang bagian wajah lukisan itu dirobek.

Ini bukan kamarnya yang sempit dan sederhana.

Ini bukan rumahnya.

"Di... dimana Gue?" bisiknya panik. Rasa sakit di pinggangnya seketika terlupakan, digantikan oleh kewaspadaan yang memuncak.

Di tengah kebingungan dan sisa-sisa rasa takut akibat mimpi buruk tadi, Lunaris dikejutkan oleh suara bariton yang berat dan familiar.

"Sudah puas teriak-teriaknya, Tuan Putri?"

Suara bariton yang berat dan bernada sinis itu memecah keheningan, membuat Lunaris melonjak kaget di tempatnya duduk. Jantungnya yang belum tenang karena mimpi buruk, kini dipacu lagi oleh kehadiran tiba-tiba itu.

Lunaris menoleh cepat ke arah pintu. Di sana, bersandar pada kusen pintu kayu jati yang kokoh, berdiri Sirius dengan tangan terlipat di dada. Tatapannya tajam, namun bibirnya menyunggingkan senyum miring yang jelas-jelas sedang mengejek.

"S-Sirius?!" Lunaris tergagap, masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang baru terkumpul separuh. "Sejak kapan lo di situ?"

"Sejak kau berteriak seperti orang gila dan jatuh dari kasur dengan pose yang sangat... tidak estetik," Jawab Sirius datar, namun ada kilatan geli di matanya. "Kau tahu, ini masih terlalu pagi untuk membuat keributan. Suaramu itu bisa membangunkan hantu-hantu di mansion ini."

Mendengar sindiran itu, wajah Lunaris memanas. Ia buru-buru bangkit berdiri, mengabaikan rasa nyeri di pinggangnya, dan berusaha terlihat senormal mungkin meski rambutnya pasti sudah seperti sarang burung.

"Abaikan soal itu!" Sergah Lunaris cepat, mencoba mengalihkan topik. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan mewah nan kuno itu sekali lagi. "Sekarang jelasin, gue ada di mana sekarang? Kamar ini jelas bukan kamar gue dan bukan rumah gue."

Sirius mendengus pelan, lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Langkah kakinya terdengar berat di lantai kayu. "Tentu saja bukan. Kau pikir rumah kecilmu itu punya kamar tamu seluas ini? Ini tempat tinggalku."

"Tempat tinggal lo?" Lunaris mengernyit. "Lo bilang kau tidak punya rumah!"

"Aku bilang anggap saja aku tidak punya rumah. Bukan berarti benar-benar tidak punya. Lagipula tempat ini masih cukup nyaman walaupun sudah kutinggalkan 400 tahun, yang paling utama karena manusia jarang berani mendekat," Jelas Sirius santai.

"4-400 tahun? Rumah ini udah terbengkalai 400 tahun?!" Lunaris menatap sekeliling kamar itu dengan tatapan ngeri.

Rumah yang dibiarkan tidak berpenghuni beberapa tahun saja sudah bisa jadi sarang hantu, apalagi mansion ini sudah kosong selama 4 abad.

"Tidak usah takut ada hantu, yang berdiri di depanmu sekarang bahkan bukan manusia."

Oh benar juga, Sirius sebagai pemiliknya juga bukan manusia. Tapi tetap saja Lunaris merasa ngeri.

"Lalu... kenapa gue bisa ada di sini? Bukannya semalam kita mau ke rumah gue?"

Sirius berhenti tepat di depan Lunaris, menatap gadis itu dengan tatapan menilai. "Kau lupa? Atau pura-pura lupa?"

Lunaris mengerjap bingung. "Hah?"

Sirius menghela napas panjang, seolah menjelaskan hal ini adalah pekerjaan paling melelahkan di dunia. "Semalam, saat di perjalanan, kau malah tidur pulas di punggungku. Aku sudah mencoba membangunkanmu—mengguncang bahumu, memanggil namamu, bahkan hampir menjatuhkanmu ke aspal—tapi kau tidur seperti orang mati."

Mata Lunaris membulat sempurna. "Bohong! gue... gus gak mungkin tidur kaya gitu!"

"Oh, ya? Kau bahkan mengigau," Tambah Sirius, kali ini seringainya makin lebar.

"Me-mengigau apa?" Tanya Lunaris was-was.

Sirius mencondongkan tubuhnya sedikit, meniru nada bicara anak kecil yang sedang merajuk. "'Awas ya, Bracia... kembalikan pensilku... nanti aku gigit lho... nyam nyam...'" Sirius terkekeh pelan. "Kau terdengar sangat mengerikan saat mengancam akan menggigit orang, tapi nadamu lebih mirip balita yang mainannya direbut. Benar-benar hiburan gratis."

Blush!

Wajah Lunaris seketika memerah padam hingga ke telinga. Rasa malunya meledak sampai ke ubun-ubun. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, ingin rasanya menghilang ditelan bumi saat itu juga.

"ITU PASTI BOHONG! LO CUMA NGARANG, KAN?!" Teriak Lunaris dari balik telapak tangannya.

"Terserah kau mau percaya atau tidak," Jawab Sirius acuh tak acuh. "Karena aku tidak tahu alamat rumahmu dan kau tidak bisa dibangunkan, aku tidak punya pilihan selain membawamu ke sini. Bersyukurlah aku tidak meninggalkanmu di pinggir jalan."

Lunaris menurunkan tangannya perlahan, masih dengan wajah merona. Saat itulah, ia baru benar-benar memperhatikan penampilan Sirius dengan jelas.

Mulut Lunaris sedikit terbuka karena terkejut.

Ada yang berbeda. Sangat berbeda.

Semalam, Sirius terlihat seperti pangeran vampir yang keluar dari lukisan abad pertengahan dengan rambut hitam panjang sepinggang dan kemeja bergaya victorian. Tapi sekarang...

Rambut hitam panjang itu sudah lenyap.

Kini, rambut Sirius dipotong pendek dengan gaya two-block cut yang rapi namun tetap memiliki volume. Poni depannya dibiarkan jatuh sedikit menutupi dahi dan alisnya, membingkai wajah tampannya dengan sempurna—persis seperti gaya rambut idol Korea.

Bukan hanya rambut, pakaiannya pun berubah total.

Tidak ada lagi kemeja berenda atau celana bahan kain yang kaku. Sirius kini mengenakan kaos hitam polos yang membalut tubuh atletisnya, dilapisi jaket bomber hitam yang stylish. Kakinya dibalut celana jeans hitam slim-fit dan sepatu sneakers mahal yang warnanya senada.

Meskipun kini ia berpakaian kasual selayaknya remaja masa kini, aura bangsawan yang dingin dan elegan itu sama sekali tidak luntur. Justru, penampilan barunya membuat Sirius terlihat berkali-kali lipat lebih mempesona—dan berbahaya.

"Rambut lo..." Lunaris menunjuk kepala Sirius dengan jari gemetar. "Dan baju lo... Kenapa lo berubah drastis begini?"

Sirius menyisir rambut barunya ke belakang dengan jari, sebuah gerakan yang terlihat sangat natural namun mematikan bagi jantung siapa pun yang melihatnya.

"Kenapa? Aneh?" Tanyanya sambil mengangkat alis. Dan saat tersenyum gigi taringnya yang sedikit lebih panjang menyembul keluar dari kedua sisi

"B-bukan aneh, tapi... Lo jadi seperti..." Lunaris bingung mencari kata yang tepat. "Seperti manusia normal. Maksudku, lo jadi kaya beda orang!"

Sirius mengangkat bahu acuh tak acuh.

"Rambut panjang terlalu mencolok di zaman ini. Orang-orang terus menatapku aneh semalam," Jawabnya santai. "Aku hanya menyesuaikan diri dengan gaya di eramu, aku harus terlihat seperti manusia modern, bukan?"

Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar itu sekilas. "Ternyata selera manusia zaman sekarang tidak terlalu buruk."

"Tapi... dari mana kau dapat baju-baju itu? Dan siapa yang memotong rambutmu sebagus itu di tengah hutan begini?"

"Memang apa lagi? Aku menggunakan sihirku tentu saja," Jawab Sirius singkat, enggan menjelaskan lebih detail.

Lunaris masih terdiam, merasa sangat aneh melihat monster penghisap darah dari legenda kuno kini berdiri di depannya dengan penampilan yang sangat... tampan dan manusiawi.

"Sudah selesai mengagumiku?" tanya Sirius dingin, memecah lamunan Lunaris. "Sekarang, berhentilah melongo. Cepat mandi dan bersiap. Kita punya banyak urusan hari ini, dimulai dari mengantarmu pulang sebelum tetanggamu melapor ke polisi soal anak hilang secara misterius."

1
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!