NovelToon NovelToon
Doa Bersama Cahaya

Doa Bersama Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga / Mantan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.

Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.

Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Doa, Rindu, dan Kesempatan Baru

🕊

Malam itu, kamar terasa lebih sunyi dari biasanya. Aku duduk di tepi kasur, menatap langit-langit, rasanya hati ini berat. Beberapa hari terakhir aku menyebarkan CV, mengirim lamaran, dan menghadiri beberapa panggilan wawancara, namun selalu berakhir dengan penolakan atau jawaban yang menggantung.

Tanganku mengelus foto di nakas samping tempat tidur. Foto itu adalah kenangan paling berharga bagiku, aku dan mama tersenyum hangat di taman kecil dekat rumah lama. Mama yang cantik dengan senyum lembutnya selalu menjadi cahaya dalam hidupku.

“Mama… aku rindu,” bisikku pelan. Air mata mulai menetes, menetes di pipi ku. “Aku rindu pelukanmu, rindu canda dan nasihatmu… Alea selalu berdoa agar mama bahagia di sana, dan selalu datang ke mimpiku.”

Aku menarik napas panjang, menatap foto itu lebih lama. Setiap detil wajah mama terpatri dalam ingatan: mata lembutnya, senyum hangat yang selalu menenangkan, aroma wangi parfum favoritnya, dan cara ia mengelus kepalaku ketika aku sedih. Mama telah pergi karena kanker usus. Aku ingat betul bagaimana ia sering lupa makan atau makanan yang ia makan selalu penuh cuka atau sambal—selalu mencoba membuat segalanya lebih ringan, tapi tubuhnya sendiri menderita.

“Mama… Alea ingin berusaha sekuat tenaga. Tolong… doakan Alea, biar bisa dapat pekerjaan yang baik, biar bisa mandiri. Mama… Alea kangen sekali,” suaraku pecah, air mata menetes deras.

Aku menunduk, menata sajadah di lantai. Aku mulai berdoa, dengan hati hampa tapi tulus. Kata-kata mengalir tanpa suara: permohonan agar diberikan kemudahan, agar diberikan pekerjaan yang bisa mengasah kemampuan, dan agar jalan hidupku terbuka. Aku menangis dalam diam, membiarkan setiap rasa rindu dan kehilangan tumpah dalam doa.

Setelah beberapa lama, aku menunduk lebih lama, menempelkan wajahku di sajadah. Ada perasaan lega yang aneh—seperti meski dunia menolak, setidaknya ada doa yang tulus, ada mama yang mungkin mendengarkan dari sana. Aku menarik napas panjang, mengusap air mata, dan bertekad esok hari aku harus tetap berusaha.

Seminggu kemudian, pagiku dimulai dengan persiapan biasa. Aku menata portofolio, memastikan CV terlihat rapi, dan mengenakan pakaian yang sopan tapi nyaman. Hari ini berbeda. Panggilan wawancara datang dari sebuah pabrik gaun pengantin ternama. Lokasinya lumayan jauh, tapi aku tahu ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.

Perjalanan panjang membuat pikiranku berkecamuk. Aku menatap jalanan yang ramai, memikirkan mama, keluarga, dan semua perjuangan yang sudah kulalui. Rasanya campur aduk antara gugup, cemas, dan sedikit optimis.

Sesampainya di depan pabrik, gedung putih besar dan rapi menanti. Aku menarik napas panjang, menyesuaikan tas portofolio, dan melangkah masuk. Seorang resepsionis wanita menyapa dengan sopan. “Selamat pagi, bisa saya bantu?”

Aku tersenyum tipis. “Selamat pagi, saya Alea Senandika Kaluna. Saya diundang untuk wawancara kerja posisi desain dan jahit.” Resepsionis mengangguk, menatap daftar panggilan. “Oh iya, silakan duduk sebentar. Atasan akan memanggil segera.”

Aku duduk di kursi tunggu, menatap sekeliling. Ruangan itu rapi, wangi kain dan parfum menguar samar. Di rak, beberapa gaun pengantin tergantung, warna-warnanya elegan dan menawan. Melihat itu, aku tersenyum tipis. “Ini… tempat yang tepat. Aku harus bisa.”

Tak lama kemudian, seorang pria Korea masuk ke ruangan. Rambut hitamnya rapi, setelan formal, dan wajahnya terlihat tegas tapi tidak menakutkan. Ia menatapku, tersenyum tipis, dan berbicara dengan bahasa Inggris yang jelas.

“Good morning. Are you Alea Senandika Kaluna?” Aku menunduk sopan. “Yes, sir. Good morning. I’m Alea.” Ia mengangguk, menatap portofolio di tanganku. “Please, have a seat. I have seen your resume and portfolio. Very interesting. But I want to know more about your experience and skills.”

Aku menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. “Yes, sir… I have worked at a boutique, sewing and embellishing dresses. I also learned design principles and fabric handling from the owner and designer. I am very committed and willing to learn more.”

Pria itu menatapku serius, lalu tersenyum tipis. “Good. I like your confidence. Can you explain how you handle tight deadlines and detailed work?” Aku tersenyum tipis. “Yes, sir. I am used to working under pressure at the boutique. I have to finish orders on time while keeping quality. I plan my work carefully, organize my tasks, and focus on accuracy. I always try to improve myself.”

Ia menatap portofolio lagi, lalu menatap ku. “Very good. You have potential. But this position needs someone who can adapt quickly and work with the Korean team. Are you ready for that?” Aku mengangguk mantap. “Yes, sir. I am ready to learn and adapt. I want to gain experience and contribute to your team.”

Wawancara berlanjut selama hampir satu jam. Ia menanyakan teknik menjahit, pengalaman bekerja dengan pelanggan, cara menghadapi revisi desain, dan kemampuan berkomunikasi dengan tim. Setiap pertanyaan aku jawab dengan tenang, walau jantung berdetak kencang.

Setelah wawancara selesai, pria itu tersenyum dan berjabat tangan. “Thank you, Alea. You did very well. We will contact you within a week. I think you have the attitude and skills we are looking for.” Aku tersenyum tipis, menundukan kepala sopan. “Thank you very much, sir. I really appreciate this opportunity.”

Keluar dari pabrik, aku menarik napas panjang. Rasanya campur aduk—lega karena sudah mencoba yang terbaik, gugup menunggu hasilnya, tapi ada optimisme yang hangat di hati. Aku menatap langit sore yang berwarna jingga. “Mama… Alea sudah berusaha semaksimal mungkin. Tolong doakan aku bisa diterima. Aku ingin mandiri, ingin membuktikan diri.”

Di perjalanan pulang, aku menatap jalanan ramai. Setiap orang tampak sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Aku menyadari dunia kerja nyata memang keras dan penuh tantangan, tapi setiap usaha yang kulakukan adalah pijakan untuk masa depan.

Sesampainya di rumah, aku duduk di ruang tengah, menata portofolio dan catatan wawancara. Ayu masuk dari dapur, menatapku dengan senyum hangat. “Kamu terlihat lelah, Alea… bagaimana wawancaranya?” Aku tersenyum tipis. “Lumayan, Kak… agak menegangkan, tapi aku sudah berusaha maksimal. Ini pengalaman pertama aku menghadapi dunia nyata.”

Ayu menepuk pundakku. “Bagus, Alea… aku bangga sama kamu. Aku tahu ini belum mudah, tapi kamu sudah mulai menunjukkan tekad yang kuat. Jangan patah semangat, ya.” Chandrika melompat-lompat, menatapku dengan mata berbinar. “Kaka… semoga diterima! Aku yakin kamu pasti bisa!” Aku tersenyum sambil menepuk kepala adik bungsuku itu. “Terima kasih, Ara… doa kamu pasti membantu.”

Dika masuk ke kamar, menatapku sambil tersenyum tipis. “Alea… aku salut sama kamu. Baru lulus, tapi berani menghadapi dunia nyata. Aku tahu ini sulit, tapi aku percaya kamu punya kemampuan dan tekad yang kuat.”

Aku mengangguk tipis, menarik napas. “Iya, Dik… ini memang tantangan pertama, tapi aku harus berani. Aku ingin mandiri dan membuktikan diri.”

Malam itu, sebelum tidur, aku menatap foto mama di nakas. “Mama… Alea sudah menghadapi wawancara pertama di pabrik gaun pengantin. Aku berharap ini jalan yang baik. Mama… doakan aku diterima, ya. Aku ingin membuatmu bangga.”

Aku menangis pelan, menyeka air mata, lalu menunduk di atas sajadah. Doaku mengalir, tulus dan penuh harap. Aku memohon kelancaran, keberanian, dan kesempatan untuk membuktikan diri.

Hari-hari berikutnya terasa menegangkan. Setiap notifikasi di handphone membuat jantung berdegup kencang. Lalu, satu sore, notifikasi email masuk:

"Dear Alea Senandika Kaluna,

We are pleased to inform you that you have been selected for the position at our bridal gown factory. Please report to work next Monday. We look forward to working with you.”Jantungku berdetak kencang, aku menunduk, menahan air mata. “Mama… Alea diterima. Terima kasih… aku janji akan bekerja keras dan membahagiakanmu dari sini.” Aku menatap saudara-saudaraku, tersenyum tipis. “Aku dapat kerjaan… aku diterima.” Chandrika meloncat kegirangan. “Yeay! Kaka Alea diterima! Aku bangga banget sama Kaka!”

Ayu tersenyum, menepuk pundakku. “Selamat, Alea… aku tahu kamu akan berhasil. Dunia kerja memang keras, tapi kamu sudah membuktikan diri.” Dika menepuk punggungku. “Bagus, Alea… aku yakin kamu akan belajar banyak dan sukses di sana.”

Aku tersenyum, menarik napas panjang. Semua doa, usaha, dan ketekunan membuahkan hasil. Aku tahu jalan ini baru permulaan, tapi aku siap menghadapi dunia nyata dengan tekad, keberanian, dan doa mama yang selalu menemani.

Malam itu, aku menulis di jurnal: "Hari ini Alea diterima bekerja di pabrik gaun pengantin. Dunia nyata keras, tapi aku mulai merasakan hasil usaha dan doa. Mama… aku ingin membuatmu bangga. Aku akan bekerja keras, belajar dari pengalaman, dan membangun masa depan. Terima kasih atas doa dan bimbinganmu dari sana. Alea siap menghadapi tantangan baru dengan hati yang teguh dan tekad yang kuat."

Aku menutup buku catatan, menatap foto mama di nakas. Senyum tipis tersungging di wajahku. Malam itu, tidur terasa lebih tenang. Hati penuh rasa syukur, doa, dan optimisme. Dunia nyata memang menantang, tapi aku siap melangkah, satu langkah demi satu langkah, menuju masa depan yang kuimpikan.

☀️☀️

1
mama Al
seperti lingkungan alea baik semua
Skngwr20: Terima kasih sudah berkunjung kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!