NovelToon NovelToon
London’S Heart Surgeon

London’S Heart Surgeon

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pernikahan rahasia / Kehidupan alternatif
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan

Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
​Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Malam yang seharusnya menjadi puncak kemegahan bagi seluruh dokter Delphi Medical Centre justru menjadi malam paling tenang di kamar hotel Lyra. Sementara di luar sana London mungkin sedang sibuk dengan iring-iringan mobil mewah menuju istana, Lyra justru sedang duduk bersila di atas tempat tidur dengan piyama satin berwarna abu-abu dan rambut yang dicepol asal-asalan.

​Di atas meja, gaun biru navy yang sudah ia beli hanya tergeletak begitu saja. Lyra tidak menyentuhnya. Ia benar-benar tidak berniat untuk datang.

​Ketenangan yang Berisik

​Secara fisik, Lyra terlihat sangat tenang. Ia memegang sebuah buku jurnal medis berat, mencoba membedah teori terbaru tentang bedah pediatrik. Namun, di dalam dadanya, suasana hatinya sedang ribut luar biasa.

​Ia benci kenyataan bahwa meskipun ia sudah berusaha bersikap "bodo amat" dan fokus pada pengetahuan, masalah percintaan selalu saja menyeretnya kembali. Ia ke London untuk lari dari rutinitas di Indonesia, tapi malah terjebak dalam drama rumah tangga yang lebih toksik dengan Pharma.

​“Kenapa sih hidup gue nggak bisa flat aja kayak detak jantung pasien yang udah lewat?” batinnya sambil menghela napas kasar.

​Ia tidak mau bersaing dengan Veronica. Ia tidak mau memperebutkan perhatian Pharma. Baginya, cinta yang harus diperjuangkan sampai berdarah-darah dan penuh drama kasar seperti yang dilakukan Pharma itu sudah tidak ada harganya. Tapi ironisnya, semakin ia mencoba menjauh, semakin kuat badai emosi itu menghantamnya.

​Teror di Layar Ponsel

​Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di samping bantal menyala terus-menerus. Notifikasi pesan masuk seperti rentetan tembakan.

​Pharma: Lyra, mobil sudah di depan hotelmu. Supirnya bilang kamu tidak turun. Apa yang kamu lakukan?!

​Pharma: Jangan kekanak-kanakan. Cepat turun sekarang! Veronica dan saya sudah menunggu di mobil. Ini perintah!

​Pharma: Lyra! Jawab telepon saya! Jangan bikin saya malu di depan orang istana karena asisten saya tidak muncul!

​Lyra melirik ponsel itu dengan tatapan kosong. Ia bahkan tidak berminat untuk membalas. Ia justru meraih remote TV, menyalakan berita malam yang menyiarkan secara langsung kedatangan para tamu di Royal Gala Dinner.

​Di layar TV, ia melihat mobil mewah rumah sakit Delphi berhenti di karpet merah. Kamera menyorot Pharma yang turun dengan tuxedo hitam yang sangat sempurna tampan, gagah, namun wajahnya terlihat sangat tegang dan sering melirik ke arah ponselnya.

​Lalu muncul Veronica, turun dengan gaun merah menyala yang sangat berani, langsung menggandeng lengan Pharma dengan posesif. Mereka berdua terlihat seperti pasangan paling berpengaruh di London malam itu.

​"Tuh, udah cocok kan berdua?" gumam Lyra sambil menyuap potongan buah ke mulutnya. "Gue nggak ada, lo tetep bisa pamer, Pharma. Jadi nggak usah sok butuh gue."

​Antara Pengetahuan dan Luka

​Meskipun ia berusaha cuek, ada satu titik di hatinya yang merasa sesak saat melihat tangan Veronica melingkar di lengan suaminya di TV nasional. Lyra segera mematikan TV itu. Ia tidak mau memberikan celah bagi rasa sakit untuk menang.

​Ia kembali membuka jurnal medisnya. Baginya, satu baris ilmu pengetahuan jauh lebih berharga daripada seribu kata manis dari pria yang hobi main kasar.

​"Besok pagi, gue bakal ke rumah sakit kayak nggak terjadi apa-apa. Gue bakal tetep jadi asisten yang efisien, dapet ilmu, terus cabut ke Indo," bisik Lyra mantap.

​Namun, jauh di lubuk hatinya, Lyra tahu... Pharma tidak akan melepaskannya semudah itu setelah dipermalukan dengan ketidakhadirannya malam ini.Ponsel Lyra bergetar hebat di atas nakas. Karena nomor yang muncul adalah nomor kantor pusat Delphi, Lyra mengira ada keadaan darurat medis atau pasien anak yang kritis. Dengan perasaan was-was, ia mengangkatnya.

​"Halo? Ada apa?" tanya Lyra cepat.

​"Dokter Lyra, ini sopir jemputan. Saya sudah di lobi hotel. Anda diminta segera keluar sekarang karena ada berkas Lord Sterling yang harus ditandatangani segera untuk keperluan protokol istana. Penting sekali, Dok!" suara di seberang sana terdengar panik.

​Karena sifatnya yang bodo amat tapi tetap tanggung jawab sama urusan pasien, Lyra nggak pikir panjang. Dia cuma menyambar cardigan panjang untuk menutupi piyama satin abu-abunya, memakai sandal hotel, dan langsung lari turun ke lobi.

​Begitu pintu otomatis hotel terbuka, Lyra langsung menuju mobil hitam mewah yang terparkir tepat di depan pintu masuk. Namun, baru saja ia mendekat, kaca jendela belakang mobil itu perlahan turun.

​Bukannya berkas yang ia lihat, tapi wajah Pharma yang sangat tampan namun terlihat murka di balik setelan tuxedo-nya. Dan di sampingnya, ada Veronica yang tampil glamor dengan gaun mewah dan riasan wajah sempurna.

​Lyra membeku di tempat. Angin malam London yang dingin menusuk piyama tipisnya.

​"Mana berkasnya?" tanya Lyra asbun, mencoba tetap terlihat tenang meski penampilannya sangat kontras dengan kemewahan di depannya.

​"Tidak ada berkas, Lyra," desis Pharma. Matanya menatap tajam dari ujung rambut Lyra yang berantakan sampai ke sandal hotel yang ia kenakan. "Masuk ke mobil. Sekarang."

​Veronica tertawa sinis, menutupi mulutnya dengan tangan yang memakai sarung tangan renda. "Ya ampun, Pharma... jadi ini asisten kebanggaanmu? Lihat penampilannya, seperti baru bangun dari mimpi buruk. Kamu benar-benar ingin membawanya ke istana dengan baju tidur seperti itu?"

​Lyra menyilangkan tangan di dada, menatap mereka berdua dengan tatapan malas. "Oh, jadi ini cuma jebakan? Dih, nggak kreatif banget. Udah ya, gue mau balik tidur. Dingin tahu nggak."

​Baru saja Lyra mau balik badan, Pharma membuka pintu mobil dan keluar. Dia berdiri tegap di depan Lyra, auranya sangat mengintimidasi.

​"Saya sudah bilang, jangan mempermalukan saya!" suara Pharma rendah tapi penuh penekanan. "Saya sudah menunggu satu jam dan kamu malah santai dengan piyama ini? Masuk, atau saya seret kamu di depan semua orang!"

​"Seret aja kalau berani," tantang Lyra asbun. "Biar sekalian masuk berita: 'CMO Delphi Seret Asisten Berpiyama ke Istana'. Keren tuh judulnya."

​Pharma hampir saja kehilangan kendali dan mencengkeram lengan Lyra, tapi teriakan manja Veronica dari dalam mobil menghentikannya. "Pharma, ayo! Kita sudah sangat terlambat! Biarkan saja dia kalau memang mau jadi pecundang di hotel ini!"

​Pharma menatap Lyra dengan tatapan benci tapi juga penuh kerinduan yang aneh. "Kamu benar-benar sudah tidak peduli, ya?"

​"Bukannya dari kemarin lo yang ngajarin gue buat nggak peduli?" balas Lyra telak.

1
Cici Winar86
di sinopsis nya pharma dokter jantung..tapi ini di bilangnya di sini dokter saraf...
AEERA♤
bacaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!