Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Setelah dari kantor pengacara, Kevin pulang ke rumah dengan tubuh yang masih terasa lelah. Kepalanya berdenyut, langkahnya berat, satu-satunya hal yang ia inginkan hanya merebahkan diri dan memejamkan mata sebentar. Namun baru saja pintu terbuka, suara nyaring langsung menyambutnya.
“Mantu tak guna, dari mana saja kamu, hah?”
Kevin berhenti melangkah. Pandangannya beralih ke sosok Fatma, mertuanya, yang duduk santai di ruang tamu dengan segenggam kuwaci di tangan. Lantai di sekitarnya penuh kulit berserakan. Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak hangat.
Dulu, ia sangat menghormati perempuan itu. Bahkan sempat menganggapnya seperti ibu sendiri. Tapi kini, tak ada senyum sambutan, tak ada pertanyaan tentang keadaannya, apalagi kepedulian setelah beberapa hari mereka tak bertemu.
“Apa Anda tidak bisa bicara dengan nada yang lebih pantas?” sahut Kevin sambil melangkah masuk.
Pandangan matanya turun ke lantai, lalu kembali ke wajah Fatma lalu melanjutkan kalimatnya, “Dan setelah ini, jangan lupa bereskan lantainya. Kalau anak Anda pulang, dia tidak suka rumah berantakan.”
Ucapan itu membuat Fatma langsung bangkit berdiri. Wajahnya memerah, matanya menajam menatap Kevin.
“Kurang ajar!” bentaknya. “Itu sudah jadi tugasmu membersihkan rumah. Hidup numpang dari istri saja berani sok jadi kepala rumah tangga.”
Ia menunjuk dada Kevin. “Ingat, aku ini ibu mertuamu. Kamu harus hormat.”
Tangan Kevin mengepal tanpa sadar. Sekilas ingatan lama menyeruak. Dulu, saat ia masih menjadi tuan muda keluarga Haris, tangannya tak pernah menyentuh sapu atau pel. Tangannya dirawat, dijaga, hanya dipakai untuk membaca berkas dan menandatangani dokumen penting.
Sekarang, semuanya terasa seperti lelucon pahit. Terasa begitu miris. 'Apa yang sebenarnya kamu lakukan pada hidupmu empat tahun ini, Vin?'
“Kamu dengar tidak?” suara Fatma kembali meninggi. “Sekarang kamu bersihkan lantai ini, lalu buat makan siang!”
Kevin menghela napas panjang. Perlahan, sudut bibirnya terangkat. Bukan marah, bukan juga pasrah tapi lebih ke sesuatu yang dingin dan meremehkan.
Alih-alih berdiri, ia justru duduk santai di sofa, meraih kuwaci dari meja, lalu mengupasnya dengan mulut.
“Apa tangan dan kaki Anda lumpuh,” ucap Kevin tenang, “atau yang tidak kena stroke cuma mulutnya saja?”
Fatma terperanjat. “Hah? Apa… apa yang kamu bilang?”
Kevin menoleh, menatapnya lurus tanpa gentar. “Lain kali periksa ke THT. Biar tidak perlu bertanya lagi seperti orang tuli.”
“Kevin!” jerit Fatma, suaranya bergetar antara marah dan tak percaya.
“Anda tidak perlu berteriak, Bu Fatma,” ucap Kevin santai sambil membersihkan daun telinganya dengan telunjuk, seolah meledek. “Pendengaran saya masih sangat baik, tidak seperti beberapa orang yang mulai terganggu karena sudah bau tanah.”
Fatma naik pitam. Dadanya mendadak terasa sesak dan ia terhuyung sedikit.
Kevin menatapnya tanpa bergerak sembari berkata dengan nada tenang, “Sudah saya bilang, jangan banyak bertingkah.”
“Awas kamu, Kevin!” ancam Fatma sambil menahan dadanya. “Kalau Iren pulang, akan aku adukan semua. Biar kalian sekalian cerai!”
Kevin baru saja hendak membalas ketika pintu kembali terbuka. Ia menoleh dan melihat Iren masuk bersama Vano. Tangan mereka saling menggenggam, langkah mereka seirama, seolah rumah itu sudah menjadi tempat yang biasa bagi lelaki itu.
Kevin menatap pemandangan itu lama. Anehnya, tidak ada amarah, tidak ada cemburu. Jika dulu hatinya mungkin akan terbakar, sekarang ia justru merasa kosong.
Salah satu kelebihan Kevin, ia bisa mencintai secara ugal-ugalan. Namun ketika rasa itu mati, ia juga bisa melepaskan tanpa sisa.
“Kevin! Apa yang kamu lakukan pada ibuku?” teriak Iren sambil berlari mendekat, membantu Fatma duduk di sofa.
Sementara itu, Vano dengan sigap mengambilkan air minum, sikapnya begitu alami, seolah rumah itu memang tempatnya.
Kevin memperhatikan semuanya dalam diam. Satu pikiran melintas di benaknya.
“Apa selama aku di rumah sakit, dia sudah sering membawa Vano ke rumah ini?” gumam Kevin pelan, namun cukup terdengar oleh dirinya sendiri.
Iren menoleh cepat dengan pandangan tak suka ke arah Kevin. “Kamu ngomong apa barusan?”
Kevin berdiri perlahan. Tatapannya beralih dari Fatma ke Vano, lalu kembali ke wajah istrinya. “Aku cuma heran,” ucapnya santai, “rumah ini sekarang terasa seperti rumah orang lain.”
Vano tersenyum tipis, sok tenang dengan nada lembut dan dibuat-buat ia berkata, “Aku cuma mengantar Iren pulang, Kevin. Jangan terlalu sensitif.”
“Ah, jadi sekarang kita sudah pakai nama depan,” Kevin terkekeh kecil, lalu menepuk-nepuk saku celananya. “Aku kira masih sebatas tamu.”
Fatma menyela dengan suara serak. “Jangan sok pintar kamu. Kalau bukan karena anakku, kamu itu tidak ada apa-apanya!”
Kevin mengangguk pelan, seolah mencerna. “Empat tahun lalu, mungkin iya,” katanya, lalu melangkah mendekat. “Tapi sekarang, Bu Fatma, Anda terlalu cepat menilai orang dari posisi sementara.”
Iren berdiri dengan wajah tegang. “Kevin, berhenti bicara seperti itu. Ibu lagi tidak sehat.”
Kevin menatapnya lama. “Lucu ya,” katanya pelan, “waktu aku terbaring lemah, tidak ada yang peduli aku sehat atau tidak.”
“Itu salahmu sendiri!” bentak Fatma. “Kerja tidak becus, suami tidak guna!”
Kevin tersenyum. Senyum tipis yang tidak sampai ke mata. “Tenang, Bu,” ujarnya ringan, “sebentar lagi Anda tidak perlu repot memanggilku mantu tak guna.”
Iren mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
Kevin tidak menjawab ia lebih memilih menoleh ke arah Vano. “Kamu kelihatan nyaman sekali di rumah ini,” katanya, “bahkan lebih sigap dari aku yang sah sebagai suami.”
Vano mendengus seolah mengejek, tapi tidak terlihat mungkin hanya Kevin saja yang diberikan petunjuk. “Jangan cari masalah. Kalau kamu merasa tidak dihargai, itu urusanmu dengan istrimu.”
“Oh, aku tidak cari masalah.” Kevin menggeleng pelan lalu dengan nada cukup tinggi ia berkata, “Aku cuma sedang mengamati.”
“Mengamati apa?” Iren menanggapi dengan nada naik satu oktaf.
“Mengamati bagaimana seseorang bisa menggantikan peran orang lain dengan sangat cepat,” jawab Kevin. “Seolah-olah posisi itu sudah lama kosong.”
Jawaban Kevin membuat Iren terdiam.
Fatma langsung menyambar. “Kalau kamu tidak betah, keluar saja dari rumah ini!”
Kevin tertawa kecil, lalu mengangguk. “Itu rencana yang bagus,” katanya, “tapi jangan khawatir, aku tidak akan pergi dengan tangan kosong.”
Vano menyipitkan mata. “Apa maksudmu?”
Kevin menatapnya lurus. “Maksudku,” katanya perlahan, “segala sesuatu yang pernah aku beri, aku ambil kembali, satu per satu.”
Iren melangkah mendekat. “Kevin, kamu mengancam?”
“Tidak,” jawab Kevin ringan, “aku cuma memberi pengumuman.”
Ia menarik sudut bibirnya saat melihat kepanikan di wajah Iren, lalu berjalan menuju kamar. Sebelum masuk, ia berhenti dan menoleh.
“Oh ya,” ucapnya tanpa emosi, “mulai sekarang, jangan sentuh barang-barangku. Aku tidak suka orang asing sok merasa punya hak.”
Tak lama pintu kamar tertutup dengan bunyi pelan, namun terasa menghantam.
Sementara di ruang tamu, Fatma masih terengah. Iren berdiri kaku dan Vano mengepalkan tangan.
“Dia berubah,” gumam Iren lirih.
Vano menatap pintu kamar itu lama, lalu berkata pelan, “Atau mungkin… kita yang terlambat sadar.”