NovelToon NovelToon
PLEASURE AND PUNISHMENT

PLEASURE AND PUNISHMENT

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Kriminal dan Bidadari / Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: lanasyah

"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
​Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
​Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: DIAGNOSA FORENSIK

Lantai semen tangga darurat itu terasa seperti lidah es yang menjilati telapak kakiku yang telanjang. Dinginnya menembus sumsum tulang, namun rasa sakit itu justru menjadi satu-satunya jangkar yang menahan kesadaranku agar tidak hanyut dalam kabut narkotika yang masih tersisa di aliran darah raga ini. Aku berhenti di lantai empat, menyandarkan punggung pada dinding semen yang lembap dan berlumut tipis. Paru-paru Zura terasa sempit, mengeluarkan bunyi siulan lirih yang menyiksa setiap kali aku menarik napas—sebuah simfoni kerusakan dari gaya hidup yang tidak pernah Valerie bayangkan sebelumnya.

Namun, bukan hanya sesak napas yang menggangguku. Sebuah sensasi panas mulai membakar di bawah kulitku, bergerak liar seperti ribuan jarum mikro yang ditusukkan serentak dari ujung kaki menuju pangkal leher. Saraf-sarafku berteriak, menagih dosis zat kimia yang biasanya mengalir lancar di sana.

"Fokus, Valerie," bisikku pada diri sendiri. Suaraku serak, berat, dan asing, namun otoritas di dalamnya tetap milikku. "Gunakan otakmu, bukan raga ini. Bedah situasinya seolah kau sedang berada di laboratorium."

Aku membuka tas tangan kecil berbahan kulit ular yang sempat kusambar dari meja rias. Isinya adalah potret kekacauan: pemulas bibir yang hancur, beberapa butir pil tanpa label yang berserakan, dan selembar foto usang seorang wanita tua yang tampak sedih. Namun, perhatianku tertuju pada benda yang kusembunyikan di balik telapak tanganku: 𝗞𝗼𝗶𝗻 𝗛𝗶𝘁𝗮𝗺.

Aku mengangkat koin itu ke arah cahaya temaram dari lampu darurat yang berkedip-kedip di langit-langit. Sebagai psikolog forensik yang sering bekerja sama dengan unit intelegen, aku dilatih untuk membaca simbol lebih dari sekadar estetika. Ukiran "0,1%" di tengahnya bukan sekadar desain; itu adalah pernyataan kasta—sebuah pengakuan bahwa pemiliknya adalah bagian dari segelintir orang yang memegang kendali atas kota ini. Di sisi belakangnya, terdapat ukiran angka koordinat yang sangat kecil, hanya bisa dibaca dengan mata yang terbiasa meneliti bukti mikro. Sebuah lokasi. Sebuah rahasia.

Aku beralih ke raga yang kini kutempati. Aku menyingkap lengan gaun hitam yang ketat dan mulai melakukan pemeriksaan mandiri seolah-olah aku sedang membedah subjek di atas meja otopsi.

𝗗𝗶𝗮𝗴𝗻𝗼𝘀𝗮 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮: 𝗕𝗲𝗸𝗮𝘀 𝗦𝘂𝗻𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻.

Aku meneliti lipatan siku kiri di bawah remang lampu. Ada satu bekas tusukan segar. Warnanya kemerahan dengan memar kebiruan yang menyebar di sekitarnya—indikasi bahwa jarum dimasukkan dengan kasar. Yang paling krusial adalah sudut tusukannya; ia masuk secara tegak lurus, bukan miring seperti yang biasa dilakukan oleh pengguna narkoba mandiri yang mencari vena secara hati-hati. Ini adalah tindakan paksa. Zura tidak menyuntik dirinya sendiri untuk bersenang-senang; seseorang memeganginya, menekan rontanya, dan menghunjamkan jarum itu dengan presisi seorang algojo yang sedang menjalankan eksekusi.

𝗗𝗶𝗮𝗴𝗻𝗼𝘀𝗮 𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮: 𝗧𝗿𝗮𝘂𝗺𝗮 𝗟𝗲𝗵𝗲𝗿.

Aku meraba leherku sendiri, merasakan kulit halus yang terasa panas. Di sana, aku menemukan sedikit pembengkakan di kelenjar getah bening dan bekas kemerahan samar berbentuk ibu jari di sisi kanan trakea. 𝘚𝘵𝘳𝘢𝘯𝘨𝘶𝘭𝘢𝘴𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘢𝘭 𝘱𝘢𝘳𝘴𝘪𝘢𝘭. Seseorang sempat mencekik Zura sebelum atau saat penyuntikan dilakukan. Tujuannya jelas: untuk memicu kepanikan, melemahkan perlawanan, dan mempercepat penyerapan zat ke otak melalui lonjakan adrenalin.

𝗗𝗶𝗮𝗴𝗻𝗼𝘀𝗮 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮: 𝗔𝗻𝗮𝗹𝗶𝘀𝗶𝘀 𝗧𝗞𝗣 𝗞𝗮𝗺𝗮𝗿 𝟰𝟬𝟮.

Aku memejamkan mata, memanggil kembali memori visual saat aku pertama kali terbangun di samping mayat pria itu. Dari posisi lidah yang sedikit menjulur, dilatasi pupil yang tidak simetris, dan warna 𝘭𝘪𝘷𝘪𝘥𝘪𝘵𝘢𝘴 (lebam mayat) yang mulai muncul di area wajah, ia tewas karena kegagalan jantung akut. Bukan karena serangan jantung alami akibat usia, tapi kemungkinan besar akibat interaksi zat kimia—mungkin 𝘥𝘪𝘨𝘪𝘵𝘢𝘭𝘪𝘴 atau potasium klorida—yang sengaja dicampurkan ke dalam minuman mahalnya.

"Ini bukan overdosis yang tidak disengaja," gumamku, suaraku bergema dingin di lorong tangga yang sepi. "Ini adalah panggung sandiwara yang dirancang dengan sangat teliti. Zura dirancang untuk mati sebagai pecandu di samping pria berpengaruh ini, menciptakan skandal yang sempurna untuk membunuh dua burung dengan satu batu: menyingkirkan saksi dan menghancurkan reputasi sang politikus."

Namun, satu variabel besar tidak masuk dalam perhitungan sang sutradara: 𝗝𝗶𝘄𝗮 𝗩𝗮𝗹𝗲𝗿𝗶𝗲. Mereka membunuh Zura, tapi mereka secara tidak sengaja menghidupkan seorang psikolog forensik di dalam raga yang seharusnya sudah menjadi bangkai.

Tiba-tiba, ponsel di dalam tas bergetar hebat. Sebuah pesan baru muncul di layar yang retak, mengirimkan cahaya putih yang menyilaukan mata sayuku:

"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘩𝘰𝘵𝘦𝘭? 𝘑𝘶𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘗𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘺𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬, 𝘡𝘶𝘳𝘢. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘮𝘱𝘶𝘵𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘯𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢."

Julian. Nama itu memicu lonjakan adrenalin yang pahit. Di kepolisian, Julian dikenal sebagai "Anjing Pelacak" dari divisi kriminalitas khusus. Ia efektif, brutal, dan yang terpenting: ia bisa dibeli. Jika Julian dikirim ke sini, dia bukan datang untuk melakukan olah TKP secara legal. Dia datang untuk "pembersihan"—yang berarti memastikan tidak ada saksi hidup, termasuk Zura.

Suara pintu tangga darurat di lantai paling atas berdentum terbuka, memecah kesunyian dengan suara logam yang mengerikan. Langkah sepatu bot berat mulai bergema, menciptakan resonansi yang menggetarkan dadaku. Langkah itu ritmis, berat, dan penuh tekanan. Langkah seorang pria yang terbiasa memburu manusia di gang-gang gelap kota.

Aku segera menyembunyikan Koin Hitam itu ke dalam pakaian dalamku—satu-satunya tempat yang kupikir tidak akan diperiksa secara sepintas. Aku harus mengubah strategi. Jika aku lari dalam kondisi fisik yang lemah dan sakau seperti ini, aku akan ditembak di punggung dan berakhir di selokan sebagai tersangka yang mencoba kabur. Jika aku tetap di sini, aku harus menjadi aktris yang lebih hebat dari Zura yang asli.

Aku harus menghadapi Julian bukan sebagai korban yang ketakutan, melainkan sebagai teka-teki yang akan membuat logika korupnya mengalami malfungsi.

Langkah sepatu itu berhenti tepat di bordes tangga satu lantai di atasku. Aku menengadah, menatap bayangan tinggi yang menutupi cahaya dari celah pintu. Di sana, berdiri seorang pria dengan jaket kulit cokelat tua, wajah yang tidak dicukur rapi, dan tatapan mata yang sekeras beton penjara. Ia memegang sebatang rokok yang tidak menyala di bibirnya.

"Zura?" suaranya berat, serak, dan mengandung ancaman yang kental. "Kau membuatku membuang-buang waktu dan bensin hanya untuk menjemput mayat yang ternyata masih bisa berdiri. Harusnya kau sudah dingin sekarang."

Aku berdiri tegak, mengabaikan getaran hebat di lututku. Aku menyilangkan tangan di depan dada, menatapnya langsung di mata dengan ketenangan seorang Valerie yang sedang menghadapi predator di ruang interogasi. Tidak ada air mata. Tidak ada keraguan.

"Maaf mengecewakanmu, Detektif Julian," jawabku dengan nada bicara yang datar dan terukur. "Tapi mayat ini baru saja menyadari bahwa ia punya terlalu banyak rahasia untuk dibawa ke liang lahat. Dan kurasa, kau adalah orang pertama yang ingin mendengar salah satunya."

Julian tertegun. Ia menurunkan kakinya yang tadinya hendak melangkah turun, matanya menyipit penuh kecurigaan. Ia menatapku seolah-olah aku adalah spesies baru yang belum pernah ia lihat. Zura yang ia kenal biasanya akan menangis, merayu, atau meringkuk ketakutan. Tapi wanita di depannya sekarang... wanita ini memiliki tatapan yang bisa membedah isi kepalanya.

"Kau..." Julian melangkah turun perlahan, mendekatiku hingga aku bisa mencium aroma tembakau dan alkohol dari napasnya. "Ada apa dengan matamu? Kau terlihat... berbeda."

"Dunia terlihat sangat berbeda ketika kau baru saja kembali dari kematian, Detektif," balasku tanpa berkedip. "Sekarang, pertanyaannya adalah: apakah kau di sini untuk membunuhku sesuai perintah Klub 0,1%, atau kau cukup cerdas untuk menyadari bahwa aku adalah satu-satunya tiketmu untuk keluar dari permainan kotor ini?"

Di tengah lorong sempit itu, ketegangan meledak. Aku bisa merasakan jantung raga Zura berdenyut kencang, namun otak Valerie tetap dingin. Ini bukan lagi soal bertahan hidup; ini adalah diagnosa forensik atas sebuah konspirasi besar, dan Julian adalah instrumen pertama yang akan kugunakan.

1
ayin muPp
SEMANGAT KAKK, isi novel yang kamu buat berbobot banget ga cuma cinta'an gitu. anw ga ada niatan buat up di apk lain gituu? biar lebih ramee
XXAURORA: apaaaa terimakasih yaaa, ada rekomendasi apk apa kira²?/Slight/
total 1 replies
Rani Saraswaty
sbg pembaca agaknya ikut mikir lama nih, penuh dg analisa utk menambah ilmu
XXAURORA: biar ikut mikir, jadi author ada temen🤭
total 1 replies
pocong
semangat
XXAURORA: terimakasih, terus ikutin ceritanya yaaa/Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!