Lanjutan novel kultivator pengembara
Jian Feng berakhir mati dan di buang ke pusaran reinkarnasi dan masuk ke tubuh seorang pemuda sampah yang di anggap cacat karena memiliki Dantian yang tersumbat.
Dengan pengetahuannya Jian Feng akan kembali merangkak untuk balas dendam dan menjadi yang terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Skin baru
Udara di sekitar alun-alun kota mendadak menjadi statis.
Jian Feng, dengan mata yang berkilat tajam di balik tudungnya, tidak lagi memberikan ruang untuk bernapas.
Dalam sekejap mata, tubuhnya menghilang meninggalkan sisa-sisa energi petir di tempatnya berdiri.
Ia muncul tepat di atas kepala monster raksasa itu, seolah jatuh dari langit. Dengan kekuatan penuh yang ia kumpulkan di lengannya, ia mengayunkan pedangnya.
SLASH!
Bunga api memercik saat bilah pedang menghantam tempurung kepala monster itu.
Namun, Jian Feng mendesis kesal saat merasakan getaran kuat kembali ke lengannya. Kulit monster itu sekeras baja hitam. "Apa-apaan makhluk ini?! Kulitnya tebal sekali!"
Monster itu meraung, puluhan tangannya melesat seperti tombak ke arah Jian Feng.
Jian Feng tidak mundur; ia justru berlari di atas lengan-lengan monster yang menjalar, menebas setiap jari raksasa yang mencoba mencengkeramnya.
Begitu jaraknya cukup dekat, ia melompat dan menghujamkan pedangnya tepat ke satu-satunya mata besar yang berdenyut di tengah wajah monster itu.
"AAARRGHH! GRRRRRWWW!"
Monster itu menjerit, suaranya menggetarkan kaca-kaca bangunan yang masih tersisa. Jian Feng tidak membiarkannya pulih.
Ia memejamkan mata sejenak, memusatkan seluruh sisa Qi petirnya ke bilah pedangnya.
"TEKNIK PETIR: KILAT PEMUTUS JIWA!"
Pedang Jian Feng meledak dalam cahaya biru yang menyilaukan. Gerakannya kini sepuluh kali lebih cepat.
Ia bergerak melingkar, menciptakan bayangan-bayangan yang menebas ratusan tangan monster itu dalam satu detik. Di puncak serangannya, ia menusukkan pedangnya dalam-dalam ke tengah kepala makhluk itu, melepaskan aliran listrik jutaan volt.
CRAAAAKKK!
Monster itu kaku seketika, asap keluar dari setiap pori tubuhnya sebelum akhirnya ambruk menjadi tumpukan daging hangus.
Jian Feng mendarat di atas puing-puing, napasnya tersengal-sengal. Ia terduduk sejenak di reruntuhan, menatap kehancuran di sekelilingnya.
"Huh... untung saja aku berhasil. Sepertinya banyak korban yang mati." gumamnya getir.
GROOORRRWW!! GROOORRRWW!!
Suara geraman yang sama kembali bergema, kali ini dari berbagai arah. Jian Feng tersentak, ia berdiri dan melihat ke arah sudut kota. Matanya membelalak.
Tidak hanya satu, tapi ada tiga, empat monster tangan banyak lainnya yang sedang merayap keluar dari bayang-bayang bangunan, menghancurkan apa pun yang mereka lewati.
"Apa-apaan monster ini?!" teriak Jian Feng. Ia menoleh ke arah Tuan Fang yang masih terpaku di belakang pasukannya. "Hei kau! Cepat evakuasi warga biasa! Panggil bantuan dari sekte-sekte terdekat, sekarang juga!"
Tuan Fang gemetar, namun ia mengangguk patuh. "Baiklah! Tapi... aku tidak yakin mereka mau membantu dengan cepat."
"Yah, aku tahu itu. Mereka tidak mungkin mau mengorbankan nyawa demi orang lain tanpa keuntungan. Tapi aku yakin pasti ada beberapa sekte yang punya harga diri akan datang." Jian Feng mendengus. Ia merogoh cincin dimensinya, mengeluarkan sebuah botol berisi cairan hijau pekat.
Glek... glek...
"Rasanya menjijikkan," Jian Feng menyeka mulutnya. Ramuan itu mulai bekerja, menutup beberapa luka terbuka di tubuhnya meski rasa sakitnya masih terasa.
Jian Feng mengeluarkan sebuah artefak kecil berbentuk bunga es yang sangat indah. Permukaannya memancarkan hawa dingin yang luar biasa hingga udara di sekitarnya membeku.
"Padahal aku belum ingin menggunakan ini. Tapi melawan beberapa monster itu sekaligus... akan sangat sulit tanpa ini."
Jian Feng melemparkan bunga es itu ke langit. "Aktiflah!"
TING!
Artefak itu pecah menjadi ribuan partikel cahaya putih. Langit malam yang tadinya penuh debu mendadak dituruni salju-salju kecil.
Es mulai merambat di tanah, membekukan darah dan puing-puing. Cahaya suci menyinari tubuh Jian Feng, perlahan-lahan mengubah wujudnya.
Pakaiannya yang compang-camping lenyap, berganti dengan Zirah Perisai Es Abadi.
Jubah putih perak dengan detail kristal biru yang mewah menjuntai di bahunya, berkilat terkena cahaya bulan.
Pedang Giok Hitamnya pun bertransformasi menjadi Pedang Kristal Salju yang bening namun sangat mematikan.
Jian Feng tersenyum, aura melankolisnya berubah menjadi aura keagungan yang membekukan. Ia melakukan beberapa tebasan percobaan di udara, menciptakan bilah-bilah es yang tajam.
"Setelah ini, aku pasti akan menagih hadiah yang sangat besar," Jian Feng menatap gerombolan monster yang mulai mendekat. "Kemarilah kalian, makhluk-makhluk bodoh! Mari kita lihat apakah tangan kalian bisa bergerak saat membeku!"
Dengan satu hentakan kaki, Jian Feng melesat, meninggalkan jejak es di udara, siap untuk membantai gelombang monster berikutnya.
Penampilan Jian Feng kini berubah total menjadi sosok "Kultivator Es Suci". Bagaimana para monster itu akan menghadapi kekuatan elemen es yang mampu membekukan jiwa?
thor lu kaya Jiang Feng