Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan Liztha
"Duduk!" Suara Herman begitu dingin, namun sinar matanya redup, seperti memendam kekecewaan yang dalam.
"Ba-pak, I-Ibu... kapan datang?" tanya Rayyan basa-basi. Padahal dia sudah tahu, karena memang dia yang menelepon mereka agar datang menjaga Ayra, supaya ia bisa menemui Liztha yang terus menerus meneleponnya.
"Kemarin Nak, kamu ke mana saja?" tanya Elly. Dia memeluk putra kesayangannya penuh kerinduan.
"Maaf Bu, kemarin aku ada tugas ke luar kota. Apa Ayra tidak memberitahu kalian?"
"Tidak sama sekali. Istrimu itu setelah sampai di sini langsung pamit pergi ke rumah peninggalan orang tuanya. Padahal Ibu dan Bapak datang ke sini karena ingin menengok dia juga. Tapi yang ditengok malah pergi gitu saja dengan alasan mau menenangkan diri. Benar-benar tidak sopan!" Elly menjawab ketus. Bibirnya yang runcing mencuat ke atas, layaknya emak-emak yang sedang bergibah.
"Ke luar kota mana? Apa ada perusahaan yang tidak memberi izin jika karyawannya sedang mendapatkan musibah? Tidak bisa izin untuk menemani istrimu yang baru saja keguguran?"
Kali ini Herman setengah berteriak. Bola matanya menyorot tajam ke retina sang putra, seolah ingin menembus hingga ke dasarnya.
"Tapi keberangkatannya sudah dijadwalkan dan aku tidak tahu kalau Ayra akan keguguran." Rayyan masih memberikan alasan, meski matanya tak bisa berbohong. Dan Herman tahu itu.
"BAPAK TAHU KAMU BERBOHONG!" Setelah itu Herman mengurut dada sebelah kirinya yang terasa sangat sakit dan sesak.
"Ayo Bu, kita pulang sekarang juga. Aku sudah tidak sudi berlama-lama berada di rumah ini," ucapnya dengan napas yang memburu.
Herman berusaha berdiri tegak sambil tetap memegangi dada kirinya yang berdenyut nyeri. Elly nampak begitu cemas melihat kondisi suaminya yang memucat. Namun di sisi lain, hati kecil Elly juga merasa kesal pada sikap suaminya yang dianggap terlalu keras menyalahkan putra kesayangan mereka dan justru membela Ayra secara berlebihan.
Herman kembali menatap ke arah Rayyan dengan sepasang mata yang memancarkan penghakiman tajam. Hati nuraninya sebagai seorang ayah, sekaligus sahabat karib dari almarhum orang tua Ayra, benar-benar merasa tercabik melihat kenyataan ini.
"Kalau kamu tetap keras kepala dan bersikap seperti ini, jangan pernah anggap aku sebagai Bapakmu lagi!"
Suara Herman terdengar sangat dingin, seolah menusuk langsung ke sanubari terdalam Rayyan. Pemuda itu mematung, dia benar-benar tak menyangka jika ayahnya akan mengeluarkan ancaman seberat itu hanya demi Ayra.
"Apa sebenarnya yang sudah Ayra cekokkan pada Bapak, hingga beliau bisa semurka seperti ini?" batin Rayyan dengan rasa geram yang memuncak. Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih. Ia sama sekali tak merasa bersalah sedikit pun atas segala luka batin yang ia torehkan di hati Ayra selama ini. Rayyan masih saja merasa bahwa perjodohannya dengan Ayra adalah sebuah kesalahan besar yang telah menumbalkan cintanya pada Liztha. Dengan logika semu itu, ia merasa pengkhianatannya adalah bentuk keadilan, meski sebenarnya ia dan Liztha sama-sama tidak memiliki hati nurani.
"Pak, jangan berlebihan. Ayra cuma butuh waktu saja," bantah Rayyan, meski hatinya mulai tidak tenang.
"Berlebihan kamu bilang?" Herman tertawa getir.
"Bapak yang meminta pada ibunya untuk menikah denganmu. Karena Bapak yakin kalau Ayra akan menjadi istri yang baik untuk kamu. Tapi malah sebaliknya, kamulah yang sudah menyakitinya. Apa di luar sana kamu punya perempuan lain? Wanita tidak tahu diri mana yang mau sama suami orang, hah?!"
Kata-kata Herman langsung menghentak jantung Rayyan. Tapi dia masih bersyukur karena itu tandanya Ayra belum memberitahukan tentang Liztha pada Herman.
"Sabar, Pak! Kalau Ayra maunya tinggal di sana, ya sudah tidak usah dipusingkan. Jangan terus menyalahkan anak kita. Belum tentu apa yang Bapak ucapkan barusan adalah kebenaran. Andaipun begitu, bukan tidak mungkin jika Ayralah penyebabnya. Rayyan tidak puas pada istrinya dan..."
"Dan mencari kepuasan dari wanita lain? Bagaimana jika hal ini terjadi pada Ibu atau Sherly dan Anika? Apa Ibu tidak berpikir ke situ? Bagaimana rasanya?" Herman brrteriak keras, menyela cepat ucapan istrinya. Tapi kemudian napasnya tersengal setelah meluapkan emosinya. Mata lelaki paruh baya itu merah dan berair saat menatap sang putra, penuh luka. Membuat bulu kuduk Rayyan merinding seketika. Baru kali ini dia melihat ayahnya begitu marah.
Elly menghampiri suaminya yang masih berdiri. Dia mengelus dada suaminya supaya lelaki itu bisa lebih tenang. Elly khawatir darah tinggi suaminya kambuh saat itu juga.
"Sudah Pak, tidak baik marah-marah terus. Ibu tidak mau darah tinggi Bapak kumat. Sabar ya, semua pasti ada jalan keluarnya."
Rayyan yang ada di belakang Elly mengangguk pelan.
"Iya Pak, kalau dia memang mau rehat, aku juga tidak keberatan. Setelah kami sama-sama tenang, aku janji akan bicara baik-baik pada Ayra," cicit Rayyan.
Dia mencengkeram pinggang ibunya seolah mencari perlindungan.
"Pulangnya besok pagi saja, ya? Kita menginap dulu semalam di sini, ya Psk?" bujuk Elly. Suaranya dibuat selembut mungkin, supaya emosi suaminya mereda.
Herman mengatur napasnya yang sesak, setelah itu meminta istrinya untuk mengantar dia ke kamar.
Rayyan bernapas lega kali ini. Tapi dia juga masih was-was, apa yang akan terjadi jika suatu saat Bapaknya tahu tentang kebenaran yang sesungguhnya? Bagaimana nasib hubungannya dengan Liztha? Hanya Liztha lah yang selalu ada di pikiran Rayyan. Bukan rasa bersalah karena telah menyebabkan terjadinya tragedi keguguran sang istri.
***
"Ray, kamu sudah dengar kalau Pak Willy akan segera pensiun dan akan menyerahkan jabatan CEO-nya pada putranya?" kata Liztha saat mereka tengah menikmati makan siang di kantin kantor.
"Iya, sebenarnya kabar itu sudah berembus dari beberapa bulan yang lalu. Tapi sampai sekarang mana? Tidak ganti-ganti, tuh," cibir Rayyan sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dengan kasar.
"Tidak Ray, sekarang desas-desus itu sudah semakin kuat. Katanya minggu depan Pak Willy sudah akan memperkenalkan putranya pada seluruh karyawan di sini. Katanya juga, dia masih muda. Seumuran kita," kata Liztha lagi. Entah kenapa Rayyan menangkap ada nada genit dalam suara kekasihnya itu.
"Kalau dia masih muda memangnya kenapa? Kamu mau menggoda dia?" tuduh Rayyan ketus. Hatinya mendadak panas dan sewot sendiri. Tapi Liztha malah tertawa manja, sambil meletakkan jemari lentiknya di dekat pangkal paha Rayyan dan sengaja meremasnya perlahan.
"Tidak usah cemburu, Sayang... kamu sudah cukup memuaskan buat aku..." bisiknya tepat di telinga Rayyan, diakhiri dengan sebuah desahan menggoda. Mendengar itu, hidung Rayyan kembang-kempis, serasa dialah lelaki paling jantan di dunia ini.
"Eh, Ibu sama Bapak kamu bagaimana? Masih di rumahmu?"
"Sudah pulang kemarin."
"Si Ayra?"
Rayyan mengedikkan bahu sambil mencebikkan bibirnya merasa tidak suka.
"Kayaknya masih betah tinggal di rumah peninggalan orang tuanya. Aku tidak peduli. Bahkan dia menyuruhku cepat-cepat mengurus perceraian kami."
Liztha menjentikkan jarinya dengan mata yang berbinar penuh ambisi.
"Itu kabar bagus! Lalu tunggu apa lagi? Kenapa tidak segera kamu urus?"
Rayyan mengembuskan napas kasar, tampak frustrasi.
"Bapak..." keluhnya lirih. "Beliau mengancam tidak mau mengakui aku sebagai putranya lagi jika aku sampai meninggalkan Ayra."
Usulan Penutup Bab (Untuk menambah jumlah kata dan ketegangan):
Liztha terdiam sejenak, gurat kekecewaan tampak jelas di wajahnya yang dipoles riasan tebal. Namun, wanita itu segera menyunggingkan senyum licik. Ia mendekatkan wajahnya, menatap Rayyan dengan tatapan yang seolah mampu menjerat logika pria di hadapannya itu.
"Ray, sampai kapan kamu mau hidup di bawah bayang-bayang ancaman Bapakmu? Ayra sudah menyerah, dia sendiri yang minta cerai. Itu tiket kebebasan kita," bisik Liztha provokatif.
Rayyan tertegun. Di satu sisi, ia takut kehilangan harta dan pengakuan dari ayahnya. Namun di sisi lain, egonya sebagai laki-laki merasa tertantang oleh hasutan Liztha. Pikirannya benar-benar kacau, terbelah antara rasa takut pada murka Herman dan obsesi gilanya pada wanita yang kini tengah merayunya terang-terangan di tempat umum.
Ia tidak sadar, bahwa setiap keputusan yang ia ambil saat ini sedang menuntunnya menuju jurang kehancuran yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Rayyan hanya terdiam, membiarkan tangannya digenggam erat oleh Liztha, tanpa tahu bahwa badai yang lebih besar dari sekadar kemarahan sang Bapak tengah mengintai di depan mata.
lanjut min ceritanya
Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?
Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.
Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?
Tentu saja tidak!
Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?
Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"