"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Langkah Baru di Kerajaan Sendiri
Mobil sport mewah milik Raden melaju tenang membelah jalanan kota yang cukup padat.
Setelah meninggalkan kegaduhan di rumah sakit lama tadi, suasana di dalam kabin mobil terasa jauh lebih ringan dan sejuk.
Alana menyandarkan kepalanya di jok kulit yang empuk seperti kasur. Sesekali ia mengembuskan napas panjang.
Rasa sesak di dadanya perlahan mulai mencair.
"Kenapa, Sayang? Masih memikirkan kata-kata Mia?" tanya Raden perhatian tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
Tangan kirinya bergerak meraih tangan Alana dan menggenggamnya erat di atas persneling.
Alana menoleh, menatap dari samping wajah Raden yang tampak tampan, tegas, namun menenangkan.
"Aku hanya merasa lega, Sayang. Rasanya seperti baru melepaskan beban yang sangat berat," jawab Alana lirih.
Raden membawa punggung tangan Alana ke bibirnya dan menciumnya cukup lama.
"Tenang, Sayang. Mulai sekarang dan seterusnya, tidak ada lagi yang berani merendahkanmu."
"Aku tidak akan membiarkan satu orang pun melukaimu, Sayang. Bahkan dengan kata-kata sekalipun," tegas Raden.
Alana tersenyum tulus. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung karena memiliki pria yang selalu menjadi tameng untuknya.
"Terima kasih, Sayang... karena selalu ada di sampingku."
"Bukan hanya di sampingmu, tapi aku akan selalu berjalan bersamamu," balas Raden sambil mengedipkan sebelah matanya.
Tak lama kemudian, mobil melambat dan berbelok memasuki kawasan pusat bisnis yang prestisius.
Raden menghentikan mobilnya tepat di depan gedung baru berlantai tiga yang tampak sangat elegan dan mewah dengan aksen kaca serta lampu-lampu estetik.
Raden turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Alana layaknya seorang putri.
Ia mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Alana.
Setelah Alana turun dari mobil, Raden tidak langsung mengajaknya masuk. Ia membiarkan Alana berdiri di sampingnya sejenak.
Mereka memandangi kemegahan gedung di hadapan mereka yang tampak bersinar di bawah cahaya matahari.
Raden merangkul pundak Alana dengan sangat protektif.
Seolah ia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa wanita di sampingnya ini adalah prioritas utama dalam hidupnya.
Mereka berdiri cukup lama di depan lobi megah Alana Medical Center itu.
Alana menatap papan nama besar berbahan kuningan yang terpasang di dinding marmer.
Nama "Alana" terpampang jelas dan indah di sana, sejajar dengan lambang medis yang sakral.
"Ayo masuk, Sayang. Mari kita lihat isi dari kerajaan kecilmu," bisik Raden lembut tepat di telinga Alana.
Begitu pintu kaca itu terbuka otomatis, aroma terapi mawar yang menenangkan langsung menyambut mereka.
Interior klinik itu dirancang dengan sangat hangat dan indah, sesuai kepribadian Alana.
Sangat jauh berbeda dari kesan kaku rumah sakit pada umumnya.
Beberapa staf administrasi dan perawat yang sudah bersiap langsung berdiri dan membungkuk hormat saat melihat kedatangan mereka.
"Selamat siang, Bu Alana. Selamat siang, Dokter Raden," sapa mereka serempak seperti paduan suara.
Alana sempat terdiam sejenak. Panggilan "Bu Alana" itu terasa sangat asing namun sekaligus memberikan kekuatan baru baginya.
Ia sekarang bukan lagi bawahan yang harus lari ke sana kemari karena perintah senior. Di sini, ia adalah pemiliknya.
Alana mengulas senyum manis dan tulus miliknya.
Ia lalu mengangguk sopan kepada setiap staf dan perawat yang berbaris menyambutnya.
"Selamat siang juga semuanya. Terima kasih atas sambutan hangatnya."
"Saya harap kita semua bisa bekerja sama dengan baik untuk memberikan pelayanan terbaik di sini," balas Alana lembut namun penuh wibawa.
Sikap rendah hati Alana itu sontak membuat mereka semua merasa dihargai.
Mereka tampak saling pandang, merasa sangat beruntung memiliki atasan yang begitu anggun dan ramah.
Setelah membalas sapaan para staf dengan penuh martabat, Raden membimbing Alana menuju sebuah ruangan di lantai satu.
Pintunya bertuliskan: Kepala Klinik - Alana Putri.
Saat pintu kayu itu dibuka, Alana spontan menutup mulutnya karena terkejut.
Ruangan itu sangat luas dengan jendela besar yang menghadap langsung ke taman kecil di samping gedung.
"Aku merasa semua ini seperti mimpi, Sayang," lirih Alana sambil memegang meja kerja marmernya yang mewah.
"Ini bukan mimpi, Sayang. Ini adalah balasan dari setiap ketulusanmu."
"Dan ingat, mulai sore ini, aku akan praktik di ruangan sebelah untuk membantumu," jawab Raden mantap.
Hingga tak terasa matahari mulai terbenam.
Sinar jingga mulai merasuk melalui celah jendela ruangan Alana saat mereka selesai memeriksa alur klinik.
Raden berdiri di belakang kursi Alana, lalu memijat pundak tunangannya itu dengan gerakan pelan nan lembut.
Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
Sebuah undangan fisik berwarna emas sedikit gelap dengan ukiran timbul yang sangat mewah kini berpindah ke tangan Alana.
"Acara pertunangan resmi kita... tiga hari lagi?" tanya Alana lirih saat membaca deretan tanggal yang tertera di sana.
"Benar, Sayang... semua kolega, media, dan tentu saja orang-orang yang pernah menghina serta meremehkanmu akan hadir."
"Mereka akan menyaksikan di Adicandra Hall bahwa kamu resmi menjadi milikku," bisik Raden penuh penekanan.
Alana menarik napas panjang, lalu menatap undangan itu dengan perasaan haru.
Ternyata, babak baru kehidupannya sudah benar-benar dimulai.
****
Catatan Penulis:
Ciee, makin nggak sabar ya nunggu bab besok? Akhirnya Alana resmi jadi Bos dan tiga hari lagi mau tunangan! Siap-siap ya, pesta di Adicandra Hall pasti bakal bikin gempar satu kota!
Btw, gue juga punya karya lain yang nggak kalah seru...
Buat kalian yang suka karakter wanita yang lebih savage dan barbar lagi, yuk mampir ke novel kedua gue yang judulnya: "My Savage Wife: Mafia Juga Takut Istri".
Kalian bakal ketemu sama Zia, si dokter sekaligus pengacara yang hobi bikin suaminya si bos mafia kena mental karena tingkahnya yang kocak dan latahnya yang unik!
Yuk, langsung aja mampir ke profil gue dan 'Favoritkan' novelnya sekarang juga! Sampai ketemu di petualangan Zia dan sang mafia! 🔥✨