Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.
Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.
Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.
Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.
Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Bersabar
Langkah kaki bergema pelan di tangga marmer yang mengarah ke lantai dasar Restoran Pasar Baru. Cahaya lampu gantung berkilau lembut, namun suasana hati mereka sama sekali tidak tenang. Di tengah perjalanan menuruni tangga itu, Fauzan Arfariza—sosok muda dengan sorot mata setenang danau namun sedalam jurang—berkata kepada pria paruh baya di sampingnya, Rahmat Hendarto.
“Bapak Rahmat, mohon jangan terburu-buru,” ucap Fauzan dengan suara rendah namun tegas. “Jika ini benar pemeriksaan rutin, maka kita tetap harus bersikap kooperatif.”
Rahmat Hendarto mengangguk perlahan. Sebagai Kepala Dinas Kebersihan, ia telah menyaksikan banyak sandiwara birokrasi—yang murni, dan yang busuk. Setelah mencapai lantai dasar, ia tidak serta-merta maju ke depan. Ia memilih berjalan beberapa langkah di belakang dua orang muda itu, mengamati dengan saksama, menahan amarah yang mulai menggelegak di dada.
Begitu mereka tiba di lobi utama, pemandangan yang tersaji bak lakon murahan yang terlalu sering dimainkan. Empat hingga lima orang berseragam pemeriksa kebersihan sedang mengusir para tamu yang tengah menikmati santapan mereka.
“Pergi! Pergi sekarang juga! Jangan makan di sini lagi! Standar kebersihan restoran ini tidak memenuhi syarat!”
“Cepat keluar! Tempat ini ditutup sementara! Disegel!”
Suara bentakan menggema, merobek kenyamanan yang selama ini menjadi ciri khas Restoran Pasar Baru. Di sisi lobi, seorang pria setengah baya berdiri dengan sikap congkak, sebatang rokok menyala di antara jarinya. Asap abu-abu mengepul malas ke udara, seolah mengejek peraturan yang terpampang jelas: Dilarang Merokok. Di sampingnya berdiri seorang pemuda dengan setelan rapi dan senyum puas—Herlambang Ahda.
Manajer lobi, dengan wajah menahan kesal, melangkah maju dan berkata sopan, “Pak, mohon rokoknya dimatikan. Merokok dilarang di area ini.”
Pria setengah baya itu meliriknya dengan tatapan merendahkan. “Restoran ini sebentar lagi tutup juga. Apa pentingnya sebatang rokok?” katanya sambil menghembuskan asap ke udara. “Lagipula, kamu siapa? Bukan pemilik, kan? Jangan sok mengatur. Cepat panggil bosmu ke sini.”
Saat itulah rombongan Fauzan menyaksikan seluruh adegan itu dengan jelas. Pardi Sugara, manajer operasional, melangkah maju dengan wajah memerah oleh amarah.
“Atas dasar apa kalian menutup restoran kami?” bentaknya.
Pria setengah baya itu mencibir. “Atas dasar kebersihan yang buruk. Bagaimana kalau ada yang mati setelah makan di sini? Tempat seperti ini pantas ditutup untuk perbaikan.”
Pardi Sugara mengepalkan tangan. “Semua operasional kami sesuai aturan. Tidak ada masalah kebersihan. Anda bahkan belum memeriksa dapur kami. Atas dasar apa Anda berani menyatakan kami melanggar?”
“Atas dasar apa?” Pria itu tertawa dingin. “Atas dasar aku adalah Kepala Seksi Inspeksi. Kalau aku bilang lolos, maka lolos. Kalau aku bilang tidak, maka tidak. Sesederhana itu.”
Mendengar itu, Rahmat Hendarto yang sejak tadi menahan diri tak lagi sanggup berdiam. Ia melangkah maju dengan wajah mengeras. “Omong kosong! Siapa yang memberi Anda wewenang seperti itu?”
Pria setengah baya itu meliriknya malas. “Orang tua, hidungmu kenapa sampai tiga lubang? Pergi sana cari angin. Kamu bukan pemilik. Urusan apa ini denganmu?”
“Kamu—!”
“Pak Rahmat, jangan mengalirkan Energi Vital,” Fauzan berujar pelan sambil menarik Rahmat ke belakang. “Serahkan urusan ini padaku.”
Dada Rahmat Hendarto naik turun menahan amarah. Ia tahu, jika emosi-nya tak terkendali, keadaan bisa menjadi jauh lebih buruk.
Fauzan menatap pria setengah baya itu dengan senyum tipis penuh sindiran. “Anda tidak mengenali beliau?”
Pria itu mengangkat alis. “Kenapa harus? Memangnya dia orang penting?”
Saat itulah Herlambang Ahda melangkah maju dengan penuh kemenangan. “Fauzan Arfariza, akhirnya kau turun juga. Sekarang kau tahu betapa hebatnya aku, bukan?”
Ia mendekat, suaranya sarat kesombongan. “Kau pikir punya restoran itu hebat? Kalau aku marah, aku bisa menutupnya dalam hitungan menit.”
Nora Ananta, yang berdiri di samping Fauzan, berkata dengan nada dingin, “Menutup restoran sebesar ini pasti harus ada alasannya, bukan?”
Tatapan Herlambang Ahda merayapi Nora tanpa malu, lalu ia tertawa. “Ini Kepala Seksi Inspeksi dari Dinas Kebersihan. Katanya sudah jelas—katanya itulah alasannya. Kalau dia bilang tutup, ya tutup.”
Ia mendekat sedikit lagi. “Terus terang saja, kalau hari ini kalian tidak memuaskan Ir. Herlambang Ahda, jangan harap restoran ini bisa buka lagi di masa depan.”
Fauzan mengangkat tangan, menghentikan Nora yang hendak bicara. “Baik,” katanya tenang. “Lalu apa yang harus kulakukan agar kau puas?”
Herlambang Ahda tertawa keras. “Sekarang kau sadar akibat menyinggungku, ya? Di atas tadi kau sok pamer di depanku. Sekarang takut?”
Ia menyeringai. “Dengar baik-baik. Walaupun kau punya uang, kau cuma orang kaya baru. Jaringan dan koneksimu tak ada apa-apanya dibanding aku. Menghancurkanmu hanya butuh waktu sebentar.”
Dengan nada penuh belas kasihan palsu, ia berkata, “Aku tidak ingin terlalu kejam. Satu miliar Rupiah. Serahkan hari ini, urusan selesai.”
“Itu perampokan!” seru Nora dengan marah.
Pria setengah baya itu membentak, “Diam! Gadis kecil, jangan banyak bicara. Percaya atau tidak, aku bahkan bisa menolak uang itu dan langsung menyegel tempat ini. Kalian tak akan pernah buka lagi!”
Fauzan tersenyum samar. “Satu miliar tidak terlalu besar,” katanya. “Tapi setidaknya beri aku alasan.”
“Alasan?” Pria itu mendengus. “Kebersihan di sini tidak memenuhi standar. Satu miliar itu denda.”
Wajah Rahmat Hendarto memucat karena amarah. “Satu miliar hanya dengan satu kalimat? Hebat sekali wibawa Anda. Siapa sebenarnya Anda? Tunjukkan identitas Anda!”
Pria itu menyeringai. “Orang tua, aku masih menahan diri saat gadis cantik itu bicara. Tapi kenapa orang tua sepertimu ikut campur terus? Identitasku bukan untukmu. Pergi!”
Fauzan kembali menahan Rahmat, lalu bertanya dengan suara dingin, “Anda dari dinas mana?”
Herlambang Ahda menjawab cepat, “Ini Kepala Seksi Inspeksi Dinas Kebersihan. Kalau kau menyinggungnya, restorannya bisa disegel sekarang juga.”
“Kepala Seksi, ya?” Fauzan tertawa pelan. “Tak mengenali Kepala Dinas sendiri, tapi berani menyebut diri Kepala Seksi. Aktingmu buruk.”
Pria setengah baya itu tersentak. “Berani-beraninya kau menakut-nakutiku dengan Kepala Dinas? Kau kira bisa asal menunjuk orang tua lalu mengaku itu atasan kami?”
Rahmat Hendarto melangkah maju. “Akulah Kepala Dinas Kebersihan. Kamu dari bagian mana? Jelaskan sekarang!”
Sekilas kepanikan melintas di mata pria itu. Ia menoleh ke Herlambang Ahda, mencari pegangan.
Namun Herlambang Ahda sama sekali tidak gentar. Ia melempar puntung rokok ke lantai dan menginjaknya. “Orang sepertimu mengaku Kepala Dinas?” katanya mengejek. “Pakaianmu saja mungkin tidak sampai lima ratus ribu Rupiah.”
Ia telah menyelidiki Fauzan. Seorang pemuda miskin yang kebetulan beruntung menolong Tianda Baskara. Tapi tetap saja, orang miskin adalah orang miskin—tak mungkin punya koneksi sebesar itu.
Ia kembali menatap Fauzan. “Satu miliar. Bayar atau tidak? Kalau tidak, aku segel sekarang!”
Pria setengah baya itu kembali berteriak kepada anak buahnya, “Cukup bicara! Segel sekarang! Tutup tempat ini!”
Saat itulah aura Fauzan berubah. Senyum menghilang, digantikan tatapan sedingin baja. Energi Murni di dalam hati-nya bergejolak, Keseimbangan dan Kestabilan di tubuhnya berputar sempurna.
“Menyegel gundulmu!” teriak Fauzan. “Aku sudah terlalu lama menahan kesabaranku!”
Kakinya terangkat, menghantam pria setengah baya itu hingga terhempas ke lantai.
Keributan meledak seketika. Para pengunjung yang tersisa, juga orang-orang yang berkumpul di luar restoran, terpaku kaget. Tak seorang pun menyangka pemilik muda yang tadi begitu tenang berani melawan pejabat dengan kekerasan.
Pria setengah baya itu bangkit dengan wajah merah padam. “Kalian semua buta? Serang dia! Lumpuhkan bocah ini! Hancurkan restorannya!”
Atas perintah itu, para bawahannya menyerbu Fauzan dengan wajah buas, tak tahu bahwa mereka sedang melangkah menuju kehancuran yang tak terelakkan—karena badai sesungguhnya baru saja dimulai.
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT