NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Jabat Tangan di Tepi Jurang

Aroma apek dari lemari plastik murah itu menempel di satu-satunya blazer bermerek yang tersisa. Alana mengendus lengan jas abu-abu itu, lalu menyemprotkan parfum isi ulang yang dibelinya di minimarket. Baunya terlalu menyengat, campuran alkohol murahan dan aroma bunga melati sintetis, tapi itu satu-satunya cara menyamarkan bau lembap kontrakan Rini.

"Kamu yakin mau pakai sepatu itu?" tanya Rini, matanya tertuju pada *stiletto* hitam di kaki Alana. Solnya sudah agak tipis, dan ada goresan kecil di bagian tumit.

"Ini sepatu tempur, Rin," jawab Alana sambil mematut diri di cermin retak yang tergantung di dinding. Pantulan di cermin itu bukan lagi gadis manja yang menangis karena kartu kreditnya dipotong. Wajah itu kini lebih tuntas, tulang pipinya lebih tegas karena berat badannya turun drastis, dan matanya tidak lagi memancarkan keraguan. "Kalau aku mau meyakinkan orang bahwa aku masih Alana Wardhana yang punya kuasa, aku harus terlihat seperti itu."

Alana mengambil map cokelat berisi salinan dokumen yang dicurinya dari brankas ayahnya—serta data tambahan yang ia pelajari dari *file* digital di *cloud* sebelum aksesnya diputus. Di dalamnya ada kunci kehancuran proyek terbaru Hendra, sekaligus tiket masuk Alana ke dunia Elang Pradipta.

Perjalanan ke kantor Sagara Group di kawasan Kuningan adalah ujian mental tersendiri. Alana harus naik ojek *online* dan turun dua blok sebelum gedung utama agar tidak terlihat turun dari motor bebek oleh satpam lobi. Ia berjalan kaki di trotoar yang panas, keringat mulai menetes di punggungnya, namun ia menahan postur tubuhnya tetap tegak.

Lobi Sagara Tower berbeda dengan kantor ayahnya yang penuh ornamen emas dan marmer berukir. Di sini, semuanya kaca, baja, dan beton ekspos. Minimalis, dingin, dan mengintimidasi. Orang-orang yang berlalu-lalang memakai kemeja tanpa dasi, berjalan cepat sambil menatap tablet. Ini wilayah *The Disruptors*.

Alana melangkah menuju meja resepsionis. Seorang wanita muda dengan *headset* nirkabel menatapnya tanpa senyum.

"Saya ingin bertemu Pak Elang Pradipta," ucap Alana. Suaranya datar, tanpa nada memohon.

"Apakah sudah ada janji temu?"

"Belum. Tapi sampaikan saya Alana Wardhana. Ini menyangkut Proyek Amarta View."

Resepsionis itu mengetik sesuatu, lalu menggeleng. "Maaf, Bu Alana. Pak Elang sedang rapat direksi dan jadwalnya penuh sampai bulan depan. Kalau tidak ada janji, silakan tinggalkan pesan."

"Saya tidak bisa menunggu bulan depan," Alana mencondongkan tubuh, menatap tajam. "Telepon sekretarisnya. Bilang padanya, Wardhana Group punya salinan surat tanah ganda untuk lahan di Cikarang. Pak Elang akan mengerti."

Resepsionis itu ragu sejenak, tapi kemudian menggeleng tegas. "Maaf, Bu. Prosedur kami ketat. Silakan kirim email resmi."

Alana mengepalkan tangan. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Namanya memang 'Wardhana', tapi di lingkaran bisnis, semua orang tahu Hendra telah membuangnya. Ia tidak punya pengaruh.

Saat Alana hendak memikirkan rencana cadangan, pintu lift eksekutif di ujung lobi terbuka. Sekelompok orang keluar. Di tengah-tengah mereka, berjalan seorang pria berusia awal tiga puluhan dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung sesuka hati. Elang Pradipta. Dia sedang berbicara cepat pada asistennya, wajahnya terlihat kesal.

Ini satu-satunya kesempatan.

Alana menerobos antrean tamu. Dua orang sekuriti langsung sigap menghalanginya.

"Pak Elang!" seru Alana. Suaranya tidak histeris, tapi cukup lantang untuk membelah keriuhan lobi.

Elang tidak menoleh. Dia terus berjalan menuju pintu keluar.

"Dinas Tata Kota tidak menolak ijin Amarta karena AMDAL!" teriak Alana lagi, kali ini lebih spesifik. "Mereka menolak karena Ayah saya membayar Kepala Dinas tiga miliar rupiah dua hari sebelum sidang pleno!"

Langkah Elang terhenti seketika. Hening menyergap lobi itu.

Elang berbalik perlahan. Tatapannya dingin, tajam seperti silet. Ia menatap Alana dari ujung kaki sampai kepala, menilai wanita yang sedang ditahan lengan kirinya oleh sekuriti berbadan besar itu.

"Lepaskan dia," kata Elang pelan.

Sekuriti melepaskan pegangannya. Alana merapikan blazernya, mengangkat dagu, berusaha menyembunyikan getaran di tangannya.

"Siapa kamu?" tanya Elang, meski matanya menyiratkan dia sudah tahu.

"Alana. Putri Hendra Wardhana."

"Mantan putri, kudengar," koreksi Elang sinis. Ia berjalan mendekat, mengurangi jarak di antara mereka hingga Alana bisa mencium aroma kopi dan *musk* yang maskulin. "Kenapa saya harus percaya omongan orang yang diusir dari rumahnya sendiri? Kamu mau minta sumbangan? Atau mau jual info palsu demi uang makan?"

Kata-kata itu menusuk, tapi Alana tidak berkedip. "Bapak kehilangan dua puluh miliar bulan lalu karena proyek itu mangkrak. Saya punya bukti transfer, rekaman percakapan, dan tanggal pertemuan antara Ayah saya dan pejabat dinas terkait. Semuanya ada di sini."

Alana mengangkat map cokelatnya sedikit.

Elang menatap map itu, lalu kembali ke mata Alana. Ia mencari kebohongan, ketakutan, atau keputusasaan. Alana membalas tatapannya dengan nyala api dendam yang dingin.

"Kamu punya waktu lima menit. Ikut saya," ucap Elang singkat, lalu berbalik kembali menuju lift.

Alana menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya, lalu melangkah mengikuti Elang. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena adrenalin. Pintu gerbang pembalasannya baru saja terbuka.

Di lantai 40, ruang kerja Elang adalah benteng kaca yang menghadap cakrawala Jakarta. Tidak ada kursi tamu yang empuk, hanya meja kerja panjang yang penuh dengan maket bangunan dan layar monitor. Elang duduk di ujung meja, tidak mempersilakan Alana duduk.

"Buktikan," tantang Elang.

Alana membuka map, mengeluarkan dua lembar foto dan satu salinan buku besar. Ia meletakkannya di hadapan Elang. Itu adalah bukti aliran dana dari PT. Cipta Karya Semesta—perusahaan cangkang Siska—ke rekening pribadi pejabat dinas yang menangani ijin proyek Elang.

Elang mengambil foto itu. Alisnya berkerut. "Brengsek," gumamnya pelan. Ia mengenali nama di rekening itu.

"Hendra menggunakan perusahaan cangkang atas nama pacarnya untuk menyuap. Jadi kalau tertangkap, pacarnya yang kena, Wardhana Group tetap bersih," jelas Alana cepat. "Dan dia melakukan ini bukan cuma untuk uang. Dia ingin menghancurkan reputasi Sagara Group supaya investor Bapak lari ke dia."

Elang melempar foto itu kembali ke meja. Ia bersandar, menatap Alana dengan ketertarikan baru. "Oke. Info ini valid. Tapi kenapa kamu memberikannya padaku? Kamu bisa memeras ayahmu dengan ini untuk dapat uang saku kembali."

"Saya tidak butuh uang saku. Saya butuh senjata," jawab Alana tegas. "Saya ingin menghancurkan Hendra Wardhana sampai ke fondasinya. Dan saya tahu Bapak satu-satunya orang di Jakarta yang punya nyali dan modal untuk melawan dia."

"Ini bukan badan amal untuk anak durhaka, Alana."

"Saya tahu. Ini transaksi bisnis. Saya punya akses ke cara berpikir Hendra. Saya tahu di mana dia menyembunyikan aset, siapa saja simpanannya, dan kelemahan terbesar dalam struktur perusahaannya. Saya tawarkan semua informasi itu kepada Bapak."

"Dan apa imbalannya?"

"Modal," kata Alana. "Investasi. Saya arsitek. Saya punya firma yang ingin saya bangun. Dan saya butuh perlindungan hukum dari tim pengacara Bapak untuk melawan somasi yang diajukan Ayah saya."

Elang tertawa kecil, suara yang kering dan tanpa humor. "Jadi kamu mau aku membiayai musuhku untuk melawan musuhku yang lain?"

"Saya bukan musuh Bapak. Saya adalah aset yang dibuang oleh kompetitor Bapak karena mereka terlalu bodoh untuk melihat nilainya."

Ruangan hening selama beberapa detik. Elang mengetukkan jarinya di meja kaca. Ia sedang berhitung. Risiko versus keuntungan.

"Hendra sedang berusaha memenjarakanmu, kan?" tanya Elang tiba-tiba.

"Ya."

"Kalau aku membantumu, Hendra akan menyatakan perang terbuka pada Sagara."

"Dia sudah menyatakan perang saat dia menyuap pejabat itu. Bapak cuma belum membalas tembakannya."

Sudut bibir Elang terangkat sedikit. Senyum tipis yang berbahaya. Ia berdiri, mengulurkan tangan kanannya melintasi meja.

"Tim legal saya akan mengurus somasi ayahmu besok pagi. Dan soal firma arsitektur... kita lihat dulu kinerjamu. Jika info tentang suap ini berhasil membuat proyek Amarta jalan lagi, kamu dapat cek pertamamu."

Alana menatap tangan itu. Tangan yang akan menariknya dari lumpur kemiskinan, sekaligus tangan yang akan digunakannya untuk menampar wajah ayahnya. Ia menyambut uluran tangan Elang. Genggamannya kuat dan dingin.

"Sepakat," kata Alana.

Di luar dinding kaca, matahari mulai terbenam di langit Jakarta, membiaskan warna merah darah di atas gedung-gedung pencakar langit. Alana Wardhana yang naif telah mati di pesta ulang tahunnya yang gagal. Kini, di lantai 40 Sagara Tower, seorang pemain baru telah lahir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!