NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Hantu Teratai

Cahaya putih itu tidak membawa kehangatan; ia membawa ketiadaan yang mutlak.

Sesaat setelah sinar ion satelit orbital menyentuh atmosfer di atas Kota Void, Li Wei merasakan seluruh sarafnya bergetar hebat. Frekuensi tinggi yang dihasilkan oleh senjata pemusnah itu merobek kesunyian aula altar, mengganti oksigen dengan bau ozon yang menyesakkan dan tekanan gravitasi yang meningkat drastis. Di bawah siraman cahaya yang menyilaukan, pilar-pilar batu mulai menguap sebelum sempat runtuh ke lantai.

"Chen Xi! Aktifkan protokolnya sekarang!" teriak Li Wei. Suaranya pecah, nyaris tenggelam oleh deru mesin penghancur yang turun dari langit.

Chen Xi tidak menjawab dengan kata-kata. Jemarinya menari liar di atas proyeksi virtual yang berkedip merah dalam peringatan bahaya. "Interferensi sedang diproses! Li Wei, aku butuh ledakan termal masif untuk mengacaukan sensor biometrik mereka! Jika tidak, satelit itu akan terus mengunci detak jantung kita!"

"Aku mengerti!" Li Wei menyahut sambil menghujamkan pedang Bailong miliknya ke lantai altar yang sudah mulai merekah.

Ia tidak lagi menggunakan teknik pedang konvensional. Li Wei membuka paksa gerbang sinkronisasi sarafnya hingga melampaui batas aman, membiarkan energi Void mengalir liar dari tulang belakangnya menuju bilah pedang. Rasa panas yang membakar mulai menjalar, membuat penglihatannya memerah.

"Jangan lakukan itu sendirian, Kak Li!" Xiao Hu berteriak dari balik pelindung reruntuhan, tangannya memeluk kotak musik tua dengan sangat erat.

"Xiao Hu, tetap di belakang Chen Xi!" perintah Li Wei tanpa menoleh. "Chen Xi, bersiaplah!"

"Sedikit lagi... aku butuh dua detik lagi!" balas Chen Xi dengan dahi yang dibanjiri keringat dingin. "Energi orbital ini terlalu kuat, mereka mencoba menembus dinding api kita!"

Li Wei menggeram, merasakan tekanan energi yang membuat pori-pori kulitnya mulai merembeskan darah. "Ambil semua energi ini! Limit Break!"

Bilah pedang Bailong mulai mengeluarkan suara retakan yang memilukan. Pendar ungu gelap meledak dari titik hantam, bertabrakan langsung dengan pancaran putih satelit yang menghujam ke bawah. Benturan dua kekuatan raksasa itu menciptakan gelombang kejut yang mengoyak sisa-sira zirah di pundak Li Wei, melempar debu dan serpihan batu ke segala arah.

"Sekarang! Masuk ke celah itu!" teriak Chen Xi sambil menyambar kerah baju Li Wei dan merangkul Xiao Hu dalam satu gerakan cepat.

Tepat saat ledakan tangki energi cadangan di sisi timur aula menyatu dengan resonansi Void milik Li Wei, mereka bertiga terjun ke dalam celah pembuangan limbah yang menganga di bawah altar. Di atas mereka, dunia seolah kiamat. Cahaya putih menelan aula itu sepenuhnya, menghapus keberadaan Altar Tengah dari koordinat realitas.

Dunia mendadak menjadi gelap dan dingin. Tubuh Li Wei menghantam dinding terowongan yang licin sebelum akhirnya mendarat di atas tumpukan material lunak di dasar kawah. Ia mencoba bernapas, namun paru-parunya terasa penuh dengan debu dan uap kimia. Di kejauhan, ia masih bisa mendengar gemuruh keruntuhan kota yang sedang terkubur.

"Semua diam," bisik Chen Xi di tengah kegelapan total. "Jangan aktifkan sinyal apa pun. Biarkan sistem mereka mencatat bahwa tidak ada tanda kehidupan yang tersisa di koordinat ini."

"Tapi tanganku... aku tidak bisa merasakannya," gumam Li Wei pelan.

"Tahan, Li Wei. Jangan bicara dulu," Chen Xi merangkak mendekat, jemarinya yang gemetar menyentuh bahu Li Wei. "Xiao Hu, kau terluka?"

"Aku tidak apa-apa, Kak Chen," suara Xiao Hu terdengar parau di sela isak tangis yang tertahan. "Tapi kotak musiknya... kotaknya pecah."

"Benda itu bisa diperbaiki nanti, Xiao Hu. Nyawamu tidak," sahut Chen Xi dengan nada yang sedikit melunak.

Li Wei mencoba memfokuskan pandangannya dalam kegelapan. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang tidak beraturan. Keheningan yang mengikuti ledakan itu terasa lebih menyesakkan daripada ledakan itu sendiri. Baginya, keheningan ini adalah tanda bahwa identitasnya sebagai perwira Kekaisaran telah benar-benar terhapus, terkubur bersama puing-puing aula yang hancur.

"Apakah mereka akan mengirim tim pembersih?" tanya Li Wei setelah beberapa saat.

"Tentu saja. Tapi radiasi Void yang kau lepaskan tadi akan membuat sensor mereka buta selama beberapa jam ke depan," jawab Chen Xi. "Itu waktu yang kita punya untuk menghilang ke dalam hutan sebelum matahari terbit."

"Kau benar-benar melakukan ini," Li Wei mendesah, rasa perih mulai menjalar hebat dari pundaknya ke seluruh lengan kanan. "Kau benar-benar memalsukan kematian kita."

"Bukan aku, Li Wei. Kita semua yang melakukannya," Chen Xi menghela napas panjang. "Mulai detik ini, tidak ada lagi Li Wei sang pahlawan Sektor 7, atau Chen Xi sang mata-mata Naga Laut. Kita hanya hantu yang merangkak di dasar kawah."

Li Wei terdiam, merenungi kata-kata itu. Rasa sakit fisik di bahunya seolah menjadi pengingat nyata bahwa setiap pilihan besar selalu menuntut pengorbanan yang permanen. Ia kehilangan lengannya, ia kehilangan pedangnya, dan ia kehilangan namanya.

"Mungkin memang lebih baik begini," ucap Li Wei akhirnya. "Hantu tidak perlu mematuhi perintah siapa pun."

"Ayo berdiri," Chen Xi membantu Li Wei bangkit. "Kita harus bergerak sebelum sisa-sisa panas dari ledakan ini membakar paru-paru kita."

Mereka mulai berjalan terseok-seok menyusuri terowongan limbah yang gelap, hanya mengandalkan cahaya redup dari perangkat navigasi Chen Xi yang sudah retak. Setiap langkah terasa berat, diiringi oleh suara tetesan air kimia yang jatuh dari langit-langit terowongan dan isakan kecil Xiao Hu yang berusaha tetap tegar.

"Kak Li, apakah Kak Han juga ada di sini?" tanya Xiao Hu tiba-tiba, membuat langkah Li Wei terhenti sejenak.

Li Wei terdiam, memori tentang sahabatnya yang tewas di tangannya sendiri kembali menghantam batinnya. Ia meraba saku zirahnya, memastikan chip saraf milik Han masih tersimpan di sana.

"Dia selalu bersama kita, Xiao Hu," jawab Li Wei pendek, suaranya terdengar lebih dingin untuk menutupi getaran emosi di dalamnya. "Dia yang membukakan jalan ini untuk kita."

"Kita hampir sampai di ujung terowongan," sela Chen Xi, mencoba mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak semakin kelam. "Aku bisa melihat cahaya bulan dari luar."

Saat mereka mencapai ujung terowongan, pemandangan di depan mereka sungguh mengerikan. Kawah raksasa yang menganga lebar di bekas lokasi Kota Void masih mengeluarkan asap hitam pekat. Tanah di sekitar mereka membeku secara tidak alami akibat reaksi senjata ion, menciptakan kontras yang aneh dengan udara malam yang lembap.

Li Wei menatap ke atas, ke arah langit yang kini bersih dari kilatan satelit. Ia merasa seperti baru saja keluar dari perut monster yang telah menelannya selama bertahun-tahun.

"Lihat itu," Chen Xi menunjuk ke arah reruntuhan aula di puncak kawah. "Tidak ada yang selamat dari sana. Setidaknya itu yang akan mereka laporkan ke pusat komando."

"Kebebasan ini terasa sangat asing," gumam Li Wei sambil menatap lengannya yang lumpuh.

"Kau akan terbiasa dengan rasa sakitnya, Li Wei," sahut Chen Xi pahit. "Sekarang, mari kita cari tempat untuk bersembunyi sebelum hantu benar-benar menjadi hantu."

Langkah kaki mereka bergema di atas tanah yang membeku, menciptakan bunyi retakan kristal yang ganjil di tengah kesunyian kawah. Li Wei membiarkan Chen Xi memapahnya, sementara tangan kirinya meraba sisa bilah pedang Bailong yang masih menggantung di pinggang. Logam itu terasa dingin, sedingin kenyataan bahwa ia kini tidak lebih dari sekadar residu dari sebuah ledakan besar.

"Kenapa kau masih memegang gagang pedang itu?" tanya Chen Xi tanpa menoleh, napasnya membentuk uap putih di udara malam.

"Ini adalah pengingat," jawab Li Wei singkat. "Bahwa tidak semua yang patah harus dibuang."

"Kau selalu punya cara romantis untuk menjelaskan kegagalan teknis," sahut Chen Xi dengan nada sinis yang menjadi ciri khasnya, meski pegangannya pada bahu Li Wei justru menguat. "Tapi di dunia bawah nanti, logam itu hanya akan memberatimu jika tidak segera diperbaiki."

Xiao Hu berjalan di depan mereka, sesekali berhenti untuk memeriksa sensor pada alat pemindai kecil yang ia pegang. "Kak Chen, ada jejak panas di sekitar jam dua. Sepertinya drone pengintai sedang memindai sisa-sisa reruntuhan di sisi timur."

"Matikan semua perangkat aktif kita," perintah Chen Xi seketika. "Li Wei, turunkan frekuensi sarafmu ke mode hibernasi. Kita akan merangkak di bawah bayangan pohon-pohon bio-mekanis itu."

Mereka bergerak masuk ke dalam kerapatan hutan yang mengelilingi bibir kawah. Pohon-pohon di sini bukanlah tumbuhan alami; batangnya terdiri dari serat karbon dengan kabel-kabel halus yang merambat seperti urat saraf, memancarkan cahaya biru redup yang berdenyut pelan. Aroma oli tua dan tanah basah menyengat indra penciuman, memberikan sensasi mual yang akrab bagi siapa pun yang pernah hidup di zona industri.

"Sembunyi!" bisik Li Wei tiba-tiba.

Sebuah drone pengintai dengan lampu merah yang berputar melintas tepat di atas tajuk pohon. Suara desing mesinnya terdengar seperti lebah raksasa yang sedang mencari mangsa. Ketiganya menahan napas, merapat ke batang pohon yang kasar. Li Wei merasakan jantungnya berdegup kencang, memompa sisa-sisa energi Void yang terasa perih di sepanjang tulang belakangnya.

"Dia sudah lewat," ucap Xiao Hu setelah cahaya merah itu menghilang di balik kabut.

"Kita tidak punya banyak waktu," Chen Xi melepaskan pegangannya dari Li Wei dan mulai memeriksa peta proyeksi yang sangat redup. "Jalur menuju perbatasan sektor luar ada di balik lembah ini. Jika kita sampai di sana sebelum fajar, kita bisa masuk ke sistem gorong-gorong yang menuju ke zona kumuh kota."

"Zona kumuh?" Li Wei mengernyitkan dahi. "Tempat itu penuh dengan informan korporat."

"Justru karena itu kita ke sana," balas Chen Xi sambil melipat petanya. "Di tempat yang penuh sampah, tidak ada yang akan memperhatikan tiga helai debu baru. Di sana juga satu-satunya tempat di mana kita bisa mencari suku cadang untuk memperbaiki sarafmu tanpa tercatat di database pusat."

Li Wei menatap kegelapan hutan di depannya. Pikirannya melayang pada rekaman yang sempat ia lihat sebelum ledakan—tentang pengkhianatan Zhao Kun dan proyek rahasia yang melibatkan keluarganya. Rasa haus akan kebenaran mulai membakar batinnya, menggantikan rasa putus asa yang sempat menyelimutinya tadi.

"Chen Xi," panggil Li Wei pelan saat mereka mulai berjalan kembali.

"Apa?"

"Terima kasih. Karena tidak membiarkanku menguap di atas sana."

Chen Xi terdiam sejenak. Ia berhenti melangkah dan menatap Li Wei dengan tatapan yang sulit diartikan di bawah cahaya biru hutan. "Jangan salah paham. Aku menyelamatkanmu karena aku butuh tameng level tinggi untuk menembus pengamanan sektor luar. Jika kau mati sekarang, rencanaku akan berantakan."

Li Wei tersenyum tipis, sebuah senyum getir yang hanya muncul di ujung bibirnya. "Tentu saja. Sang Strategis tidak pernah melakukan sesuatu tanpa perhitungan."

"Sudahlah, jangan banyak bicara. Hemat oksigenmu," sahut Chen Xi, meski ia memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona yang mungkin muncul akibat kejujuran Li Wei.

Xiao Hu yang berjalan di depan tiba-tiba berhenti di tepian sebuah tebing kecil yang menghadap ke arah lembah. Di bawah sana, sungai kimia yang berwarna hijau berpendar mengalir dengan tenang, membelah hutan menuju cakrawala kota yang masih gemerlap dengan lampu-lampu neon di kejauhan.

"Bagus sekali," gumam Xiao Hu dengan mata berbinar, sebuah momen kekaguman anak kecil yang tersisa di tengah tragedi.

Li Wei berdiri di sampingnya, menatap kota megapolitan yang dulu ia lindungi dengan nyawanya. Di sana, di balik menara-menara pencakar langit itu, namanya mungkin sedang dihapus dari sejarah, atau mungkin sedang dicaci sebagai pengkhianat yang tewas mengenaskan.

"Lihat kota itu, Xiao Hu," kata Li Wei sambil menunjuk ke arah pusat cahaya. "Mereka merasa aman karena merasa telah membuang sampah-sampahnya ke kawah ini."

"Tapi kita bukan sampah, Kak Li," sahut Xiao Hu dengan nada tegas.

"Benar. Kita adalah api yang mereka pikir telah padam," Li Wei mengepalkan tangan kirinya. "Dan saat kita kembali nanti, kita tidak akan datang sebagai prajurit yang meminta martabat. Kita akan datang untuk mengambil kembali segalanya."

Chen Xi berdiri di belakang mereka, menyilangkan tangan di dada. "Rencana yang bagus untuk seorang hantu. Tapi untuk sekarang, prioritas kita adalah bertahan hidup dari infeksi limbah di sungai itu. Ayo turun, jalur pelariannya sudah menunggu."

Mereka menuruni tebing dengan perlahan, meninggalkan Kawah Nadir yang mulai tertutup kabut pagi. Di atas langit, bintang-bintang mulai memudar, digantikan oleh fajar kelabu yang tidak menjanjikan kehangatan. Namun bagi Li Wei, kegelapan ini adalah kawan barunya. Di bawah kulitnya, chip saraf Han memberikan denyut konstan, seolah-olah sahabatnya itu sedang memberikan kode sandi untuk perjalanan panjang yang akan datang.

Identitas mereka telah mati. Nama mereka telah hilang. Namun di dalam bayang-bayang dunia yang busuk, Sang Hantu Teratai mulai menyusun langkah pertamanya untuk merobek labirin pengkhianat yang telah mengurung mereka selama ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!