(WARISAN MUTIARA HITAM SEASON 4)
Chen Kai kini telah menapakkan kaki di Sembilan Surga, namun kisahnya di Alam Bawah belum sepenuhnya usai. Ia mempercayakan Wilayah Selatan ke tangan Chen Ling, Zhuge Ming, dan Gui. Sepuluh ribu prajurit elit yang berhutang nyawa padanya kini berdiri tegak sebagai benteng yang tak tergoyahkan.
Sebuah petualangan baru telah menanti. Sembilan Surga bukanlah surga penuh kedamaian seperti bayangan orang awam; itu adalah medan perang kuno para Kaisar Agung, tempat di mana Mutiara Hitam menjadi incaran seluruh Dewa.
Di Sembilan Surga, hukum duniawi tak lagi berlaku. Di sana, yang berkuasa hanyalah Kehendak Mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema di Reruntuhan
Kesunyian di Sembilan Surga tidaklah sunyi; ia bergetar dengan frekuensi hukum alam yang begitu padat hingga terdengar seperti nyanyian ribuan harpa yang berdenging di dalam sumsum tulang.
Saat kelopak mata Chen Kai perlahan terbuka, hal pertama yang ia rasakan bukanlah cahaya, melainkan berat yang luar biasa. Tubuhnya seolah-olah dipaku ke lantai marmer oleh gravitasi yang melampaui logika dunia bawah. Paru-parunya menjerit; setiap embusan napas terasa seperti menghirup serbuk berlian yang membara.
"Uhuk... hoek..."
Chen Kai terbatuk hebat, memuntahkan cairan keemasan yang segera membeku menjadi kristal-kristal kecil sebelum menyentuh lantai.
"Jangan panik, Nak! Segera alirkan sisa Esensi Vitalitasmu ke dinding meridian paru-paru! Kau sedang mencoba mendorong gunung dengan napasmu, kau akan meledak jika tidak segera selaras!"
Suara itu meledak di dalam kepalanya—jernih, tajam, dan penuh kewaspadaan. Kaisar Yao tidak tertidur.
"Guru... Kau... masih di sini..." bisik Chen Kai di dalam batinnya, merasakan kehangatan familiar di tengah dinginnya atmosfer dewa.
"Tentu saja aku di sini! Tapi dengarkan baik-baik," suara Yao merendah, menjadi bisikan yang terisolasi jauh di dalam lapisan terdalam Mutiara Hitam. "Sembilan Surga dikelilingi oleh Jaring Takdir yang dipasang oleh sembilan Kaisar Agung pengkhianat itu. Aku harus menyegel auraku sepenuhnya. Aku akan tetap bangun untuk membimbingmu, tapi aku tidak bisa memanifestasikan diri atau meminjamkan kekuatanku secara fisik. Satu riak saja dariku, dan kita akan musnah dalam sedetik."
Chen Kai mengangguk lemah. Ia memaksakan dirinya untuk duduk, dan setiap gerakan sendinya mengeluarkan bunyi berderit seolah-olah ia adalah mesin tua yang berkarat.
Chen Kai berada di tengah-tengah reruntuhan yang sangat agung. Pilar-pilar batu giok putih setinggi gunung menjulang di sekelilingnya, diukir dengan relief kuno yang menggambarkan sejarah penciptaan bintang-bintang. Tempat ini adalah Reruntuhan Kuil Hening, sebuah situs purba yang terletak di wilayah pinggiran Surga Pertama—Surga Hampa.
"Tempat ini... sangat indah," gumam Chen Kai, menatap sungai energi perak yang mengalir di sela-sela lantai marmer transparan.
"Indah namun mematikan bagi mereka yang belum selaras," sahut Yao. "Udara yang kau hirup adalah Esensi Dewa. Di sini, Qi dari dunia bawahmu hanyalah uap air yang tidak bertenaga. Kau membawa satu samudera Qi, tapi di sini samudera itu hanya setetes Esensi. Kau harus memampatkan seluruh basis kultivasimu melalui Mutiara Hitam. Kau sekarang hanyalah seorang di tahap Dewa Awal."
Chen Kai menatap tangannya. Ia bisa merasakan kekuatan lima elemen yang ia bawa dari bawah, namun mereka terasa kaku, seolah-olah sedang tertidur di dalam sel-sel tubuhnya yang baru.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang tenang terdengar di atas lantai kristal.
Chen Kai segera menyiagakan indranya. Dari balik bayangan pilar raksasa, muncul sesosok pria tua mengenakan jubah abu-abu panjang dengan motif awan yang mengalir. Pria itu tidak terbang, namun setiap langkahnya tampak tidak menyentuh tanah secara fisik. Wajahnya tenang, memancarkan aura ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah hidup ribuan tahun.
"Seorang Pendaki tanpa izin?" pria itu bertanya dengan nada yang tidak mengandung permusuhan, melainkan rasa ingin tahu yang dingin. "Kau membedah dinding dunia hanya untuk mendarat di kuil yang sudah mati ini? Sungguh cara yang kasar untuk menyapa surga."
Chen Kai mencoba berdiri, meskipun kakinya gemetar. Ia tidak menunjukkan rasa takut, tatapannya tetap tajam. "Aku hanya mencari jalan yang benar menuju puncak."
Pria itu tersenyum tipis, matanya menyapu rambut perak dan pupil lingkaran emas Chen Kai. "Ambisi yang besar untuk seekor semut yang baru merangkak. Kau beruntung mendarat di sini, di wilayah yang sudah dilupakan oleh para Kaisar Agung. Jika kau mendarat di Gerbang Utama, kau sudah menjadi energi murni bagi formasi mereka sekarang."
Pria itu melemparkan sebutir kristal bening ke arah Chen Kai. "Telan itu. Itu adalah Kristal Penyeimbang. Ia akan membantumu bernapas tanpa membakar meridianmu selama tiga hari. Setelah itu... kau harus belajar untuk 'selaras' sendiri melalui meditasi, atau atmosfer ini akan membuangmu kembali ke kehampaan."
Chen Kai menangkap kristal itu. "Siapa namamu?"
"Nama tidak penting di tempat yang abadi ini," jawab pria itu sambil berjalan menjauh menuju kabut emas di ujung reruntuhan. "Panggil saja aku Tetua Bayangan. Jika kau bisa keluar dari lembah ini dengan kakimu sendiri, temui aku di Kota Awan Putih. Di sana, kau akan menyadari bahwa di surga ini, kekuatanmu sebelumnya hanyalah sebuah mimpi buruk yang harus kau lupakan."
Chen Kai melihat pria itu menghilang ke dalam cahaya.
Ia menelan kristal tersebut. Seketika, rasa sesak di dadanya berkurang. Tekanan atmosfer yang tadinya meremukkan tulangnya kini mulai terasa seperti pelukan yang berat namun stabil.
"Jangan percayai dia sepenuhnya, Nak," suara Yao kembali terdengar. "Tapi dia benar tentang satu hal. Kau butuh waktu untuk bermeditasi. Duduklah. Kita akan mulai memurnikan setetes pertama Esensi Dewamu sekarang."
Chen Kai duduk bersila di tengah reruntuhan yang agung itu. Di bawah langit indigo yang dipenuhi nebula, Sang Raja Hitam yang masuk secara ilegal mulai menenun kembali kekuatannya, satu napas demi satu napas.
Perjalanan menuju takhta Pencipta baru saja dimulai dengan keheningan yang megah.
dan semoga kedepannya lebih bagus lagi
Kai.... sikat semua dewa2 palsu nya
BTW.... pasti dewa2 Asli nya jadi tahanan mereka ya ?.......... 💪💪💪💪