Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 – Tembus ke Kedalaman
Hutan semakin rapat dan gelap. Bahkan udara pun terasa semakin berat, seakan menahan napasnya sendiri. Setiap langkah mereka terasa semakin lambat, hampir terhenti oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Defit dan Maya berjalan beriringan, mengikuti Wuras yang kini melangkah lebih cepat, seolah ia tahu persis ke mana harus pergi. Tetapi ketegangan semakin meningkat, dan dalam diri mereka, ada perasaan yang tak bisa disangkal mereka semakin dekat dengan sesuatu yang tak bisa mereka hindari.
Maya merasakan gemetar yang semakin kuat, bukan hanya karena dingin yang menggigit tubuhnya, tapi juga karena rasa cemas yang merayap semakin dalam ke jiwanya. Setiap bayang-bayang yang bergerak di antara pepohonan, setiap suara angin yang bersiul, seakan berbicara padanya, memperingatkannya bahwa apa yang mereka cari, apa yang mereka hadapi, lebih dari sekadar kebenaran itu adalah takdir.
“Apa yang kita temui di sini, Wuras?” tanya Maya, suara lemah. Ia sudah mencoba menenangkan dirinya, tetapi semakin lama ia semakin merasa seperti ada sesuatu yang mengintai mereka, siap untuk menerkam.
Wuras tidak menoleh, namun jawabannya menggema dalam keheningan hutan. “Apa yang kalian temui di sini bukan hanya kebenaran, Maya. Kebenaran itu akan menghancurkan kalian jika kalian tidak siap. Kalian harus siap menerima semua yang ada.”
Defit merasakan getaran itu, getaran yang datang dari dalam dirinya, dari darah yang mengalir dalam tubuhnya. Setiap kali ia melangkah, ada suara berbisik di dalam dirinya, berdebat dengan pikirannya. Kekuatan itu, darahnya, semuanya mengarah pada satu titik: kebenaran yang harus mereka hadapi, apapun harga yang harus mereka bayar.
Maya menoleh pada Defit, matanya penuh kebingungan. “Apa yang sebenarnya terjadi, Defit? Apa yang mereka sembunyikan? Apa yang mereka takutkan?”
Defit menggenggam tangan Maya lebih erat, mencoba memberikan kekuatan meskipun dirinya sendiri hampir kehilangan kendali atas perasaannya. “Kita hanya bisa tahu dengan melangkah lebih jauh. Apa yang mereka sembunyikan… mungkin kita sudah tahu selama ini, kita hanya tidak pernah ingin menghadapinya.”
Wuras berhenti tiba-tiba. Mereka pun terhenti di belakangnya. Di hadapan mereka terbentang sebuah gua besar, mulutnya gelap dan dalam. Dari dalam gua, seolah ada sebuah aura yang mengalir keluar, aura yang menakutkan dan mengundang rasa takut yang lebih dalam. Sebuah energi yang terasa asing, namun mengundang rasa tidak nyaman yang mendalam.
“Ini tempatnya,” kata Wuras, suaranya sekarang terdengar berat dan penuh peringatan. “Tempat di mana segalanya bermula. Tempat kalian akan menemukan jawaban.”
Defit dan Maya berdiri di depan gua itu, saling berpandangan. Mereka tahu apa yang akan mereka hadapi. Di dalam gua itu ada sesuatu yang sangat penting, tetapi juga sangat berbahaya. Kebenaran yang akan mengubah segalanya, tak hanya hidup mereka, tetapi dunia yang mereka kenal. Namun, tanpa pilihan lain, mereka harus melangkah.
“Apa yang ada di dalam, Wuras?” tanya Defit, suaranya lebih rendah dari biasanya, mencoba menyembunyikan ketegangan yang begitu terasa.
Wuras menatap gua itu dengan tatapan kosong. “Kekuatan yang terkubur, yang tak boleh bangkit. Dan juga pilihan kalian. Di dalam sana, kalian akan menghadapi pilihan yang akan menentukan semuanya.”
Maya menggenggam tangan Defit lebih erat, matanya masih penuh kecemasan. “Aku tidak tahu apakah aku siap untuk ini. Aku tidak tahu apa yang akan kita temui di dalam sana.”
Defit memandang Maya dengan tatapan lembut namun tegas. “Maya, kita tidak bisa mundur. Kita sudah sejauh ini. Kita harus siap, meskipun itu menakutkan. Kita tidak bisa hidup dalam ketakutan selamanya.”
Wuras akhirnya melangkah maju, memasuki gua dengan langkah yang mantap. Defit dan Maya saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya mereka mengikuti langkah Wuras, memasuki kegelapan yang menanti mereka.
Begitu mereka masuk ke dalam gua, hawa dingin semakin terasa. Suasana dalam gua itu sepi, seolah waktu terhenti. Hanya suara langkah mereka yang menggema di dinding-dinding batu, memberikan kesan bahwa mereka tidak sendirian, bahwa ada sesuatu di dalam sana yang memperhatikan mereka. Semakin dalam mereka masuk, semakin padat udara di sekitar mereka, semakin terasa berat. Setiap langkah semakin menambah ketegangan yang ada.
Tiba-tiba, cahaya lembut mulai menyinari jalan mereka. Di depan mereka, sebuah altar besar muncul, dikelilingi oleh batu-batu besar yang tampaknya sudah ada sejak zaman kuno. Di atas altar itu, sebuah kristal besar bersinar dengan cahaya yang memikat. Namun, cahaya itu terasa berbeda seperti ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya.
Wuras berhenti dan menoleh pada mereka. “Ini saatnya. Kalian akan tahu sekarang.”
Maya menatap kristal itu dengan penuh rasa takut. “Apa itu?” tanyanya, suaranya bergetar.
“Kekuatan yang kalian miliki berasal dari sini,” jawab Wuras, matanya penuh penyesalan. “Dan keputusan kalian sekarang akan menentukan segalanya. Kristal ini adalah inti dari segalanya kekuatan yang tersembunyi dalam darah kalian.”
Defit melangkah maju, merasakan dorongan kuat dari dalam dirinya untuk mendekat. Begitu ia berdiri di depan altar, sebuah suara dalam dirinya bergema, lebih kuat dari sebelumnya. Suara itu penuh dengan perintah, penuh dengan kekuatan yang tak bisa dihentikan.
Wuras mendekat, wajahnya terlihat lebih tua dari sebelumnya, seperti beban yang ia bawa telah mempengaruhi seluruh dirinya. “Kalian harus membuat pilihan sekarang, Defit, Maya. Kristal ini bisa membebaskan kalian, atau menghancurkan kalian.”
Maya menoleh pada Defit, matanya penuh kebingungan. “Defit… apa yang harus kita lakukan?”
Defit menatap kristal itu dengan tatapan penuh tekad, meskipun di dalam dirinya, sebuah perasaan berat mulai menguasai. “Kita tidak punya pilihan, Maya. Kita harus mengambil langkah ini, bersama-sama.”
Dengan langkah yang mantap, Defit meraih kristal itu. Begitu ia menyentuhnya, sebuah ledakan energi besar mengguncang seluruh gua, membuat tanah bergetar dan langit di luar bergemuruh. Sesuatu yang sangat besar, sangat kuat, terbangun dari kedalaman.
Dan di saat itulah, segalanya mulai terungkap.
terus menarik ceritanya 👍