Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Penghulu yang Bersedia
Hari itu Arga, Safira yang menyamar dalam wujud manusia sempurna, dan Bagas pergi berkeliling mencari penghulu yang bersedia menikahkan mereka. Safira mengenakan jilbab dan gamis biru muda, menutupi hampir seluruh tubuhnya. Wajahnya yang cantik terlihat sangat nyata sekarang, tidak transparan seperti biasanya. Tapi tetap saja ada yang aneh. Kulitnya terlalu pucat. Matanya terlalu dalam. Dan hawa dingin yang selalu menyelimutinya tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.
Kantor Urusan Agama pertama yang mereka datangi adalah KUA Kecamatan terdekat. Lokasinya sekitar tiga puluh menit dari rumah. Gedung sederhana dengan cat hijau yang sudah mengelupas.
Mereka masuk dengan gugup. Arga memegang tangan Safira yang dingin, mencoba memberikan kekuatan.
Pegawai di meja depan menyambut mereka dengan ramah. "Silakan, ada yang bisa dibantu?"
"Kami... kami mau daftar nikah," kata Arga sambil menyodorkan dokumen-dokumen yang Safira buat.
Pegawai itu mengambil dokumen, memeriksanya satu per satu. KTP, Kartu Keluarga, akta kelahiran. Semuanya terlihat lengkap.
"Baik, dokumennya lengkap. Silakan tunggu sebentar, saya panggilkan Pak Penghulu."
Beberapa menit kemudian, seorang pria paruh baya dengan jenggot tipis dan peci putih keluar dari ruangan dalam. Wajahnya ramah, tersenyum lebar.
"Assalamualaikum, yang mau nikah ya? Alhamdulillah, selamat!" sapanya ceria.
"Waalaikumsalam," Arga dan Safira menjawab bersamaan.
Penghulu itu duduk di depan mereka, masih tersenyum. Tapi saat matanya bertemu dengan mata Safira, senyumnya perlahan memudar. Alisnya berkerut. Ia menatap Safira lebih lama, seperti melihat sesuatu yang tidak biasa.
"Sist... Saudari merasa kedinginan ya?" tanya penghulu itu pelan.
"Eh, iya Pak. Saya memang mudah kedinginan," jawab Safira dengan suara yang berusaha terdengar normal.
Penghulu itu mengangguk pelan, tapi tatapannya tidak lepas dari Safira. Lalu ia menatap Arga. "Mas yakin mau menikahi saudari ini?"
Arga terperanjat dengan pertanyaan itu. "Te... tentu saja, Pak. Kami sudah saling mencintai."
Penghulu itu terdiam. Ia menarik napas dalam, lalu berkata dengan nada yang sangat pelan, hampir berbisik. "Maaf, saya... saya tidak bisa menikahkan kalian."
"Apa? Kenapa, Pak?" Arga langsung panik.
"Maaf, saya tidak bisa jelaskan. Tapi... saya rasa kalian lebih baik cari penghulu lain." Penghulu itu berdiri cepat, pamit dengan wajah pucat, lalu masuk kembali ke ruangannya.
Arga, Safira, dan Bagas keluar dari KUA itu dengan wajah kecewa.
"Dia tau," bisik Safira pelan saat mereka sudah di luar. "Dia merasakan aku bukan manusia."
"Sial," gumam Arga frustasi. "Kalau begini terus gimana?"
"Coba tempat lain aja," Bagas menyarankan. "Mungkin ada yang nggak sesensitif dia."
Mereka mencoba KUA kedua. Hasilnya sama. Penghulu yang mereka temui langsung menolak begitu melihat Safira. Bahkan ada yang sampai membaca ayat kursi dengan suara gemetar.
KUA ketiga. Ditolak lagi.
KUA keempat. Penghulunya malah marah-marah, bilang mereka membawa makhluk halus ke tempat suci.
Arga semakin frustasi. Safira semakin sedih. Bagas mulai putus asa.
"Mungkin... mungkin ini memang tidak bisa, Arga," kata Safira dengan suara yang sangat pelan saat mereka duduk di taman setelah ditolak kelima kalinya. Air matanya mulai berkumpul di pelupuk mata. "Mungkin memang kita tidak bisa menikah dengan cara yang benar."
"Jangan bilang begitu," Arga menggenggam tangan Safira dengan erat. "Pasti ada jalan. Pasti ada yang mau menikahkan kita."
"Tapi siapa, Ga?" Bagas bertanya dengan lelah. "Kita udah coba lima tempat. Semua nolak. Lo pikir masih ada yang mau?"
Arga tidak menjawab. Ia hanya menatap kosong ke depan, otaknya bekerja keras mencari solusi.
Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Mbah Karyo!"
"Apa?" Bagas bingung.
"Mbah Karyo! Dia kan bilang dia kenal sama Safira waktu dia masih hidup jadi manusia. Dia pasti tahu penghulu yang... yang lebih terbuka pikirannya!"
Mereka langsung kembali ke desa, menuju rumah Mbah Karyo. Kakek tua itu sedang duduk di teras seperti biasa, mengayuh kursi goyangnya pelan sambil minum teh.
"Mbah!" Arga menghampiri dengan tergesa.
Mbah Karyo mengangkat wajahnya, tersenyum lebar saat melihat Arga. Tapi senyumnya semakin lebar saat melihat Safira yang berdiri di belakang Arga.
"Safira?" bisik Mbah Karyo dengan suara gemetar. "Kamu... kamu bisa jadi manusia?"
Safira melangkah maju, tersenyum lembut. "Hanya sementara, Mbah. Untuk empat puluh hari."
Mbah Karyo berdiri, menghampiri Safira dengan mata berkaca-kaca. Tangannya yang keriput menyentuh pipi Safira dengan lembut. "Subhanallah... kamu masih secantik dulu. Masih seperti saat kamu hidup bersama Arjuna."
Safira menangis mendengar nama itu. "Mbah masih ingat dia?"
"Tentu saja. Arjuna sahabatku. Dan kamu... kamu istrinya yang baik hati." Mbah Karyo mengusap air mata di pipinya sendiri. "Aku senang melihatmu bahagia lagi, nak."
Arga menjelaskan semuanya pada Mbah Karyo. Tentang rencana mereka menikah. Tentang penolakan demi penolakan yang mereka terima.
Mbah Karyo mendengarkan dengan seksama. Lalu ia mengangguk pelan. "Aku tahu orang yang bisa bantu kalian."
"Siapa, Mbah?" Arga bertanya dengan harap.
"Penghulu Tua. Namanya Pak Haji Ahmad. Dia sudah sangat uzur, hampir sembilan puluh tahun. Tapi dia masih aktif menikahkan orang. Dan yang paling penting, dia paham ilmu gaib. Dia bisa melihat makhluk halus. Kalau ada yang bisa terima kalian, pasti dia."
"Di mana rumahnya, Mbah?"
"Di desa sebelah. Sekitar satu jam dari sini. Aku bisa antarkan kalian besok pagi kalau mau."
"Terima kasih, Mbah!" Arga hampir melompat kegirangan.
Keesokan harinya, Mbah Karyo menepati janjinya. Ia naik motor Bagas, membawa Arga dan Safira ke rumah Pak Haji Ahmad.
Rumah itu sederhana. Dinding kayu tua dengan atap genteng yang beberapa sudah retak. Tapi halamannya bersih dan rapi, penuh dengan tanaman bunga.
Mereka disambut oleh seorang nenek tua yang ramah. Istri Pak Haji Ahmad. "Silakan masuk, Pak Haji ada di dalam."
Mereka masuk ke ruang tamu yang sederhana. Di sudut ruangan, duduk seorang kakek sangat tua dengan jenggot putih panjang sampai dada. Kulitnya keriput penuh lipatan. Matanya sayu tapi tatapannya tajam.
"Assalamualaikum, Pak Haji," sapa Mbah Karyo hormat.
"Waalaikumsalam," jawab Pak Haji Ahmad dengan suara yang mengejutkan masih kuat untuk usianya. Ia menatap tamunya satu per satu. Berhenti pada Safira.
Dan ia tersenyum.
"Silakan duduk," katanya lembut.
Mereka duduk. Arga di samping Safira, memegang tangannya yang gemetar.
Pak Haji Ahmad menatap Safira dalam-dalam. Lama sekali. Sampai Safira mulai tidak nyaman dan menunduk.
"Kamu tidak perlu takut, nak," kata Pak Haji Ahmad dengan suara yang sangat lembut. "Aku sudah tahu siapa kamu."
Safira mengangkat wajahnya, menatap penghulu tua itu dengan mata berkaca-kaca. "Bapak... Bapak tahu?"
"Ya," Pak Haji Ahmad mengangguk. "Aku bisa melihat. Auramu berbeda dari manusia. Tapi aku juga melihat sesuatu yang lain."
"Apa itu, Pak?" Arga bertanya dengan gugup.
Pak Haji Ahmad tersenyum lembut. "Aku melihat cinta. Cinta yang tulus di antara kalian berdua. Cinta yang murni. Cinta yang... yang sudah lama tidak aku lihat di dunia yang penuh kepalsuan ini."
Arga dan Safira saling menatap dengan mata berkaca-kaca.
"Pak Haji," Arga mulai bicara dengan suara bergetar. "Kami... kami ingin menikah. Secara resmi. Dengan ijab kabul yang sah. Tapi... tapi sudah banyak penghulu yang menolak karena... karena Safira bukan..."
"Bukan manusia sepenuhnya, aku tahu," Pak Haji Ahmad melanjutkan. "Dia jin muslimah yang sedang dalam wujud manusia sementara."
Hening.
"Bapak... Bapak mau menikahkan kami?" Safira bertanya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Pak Haji Ahmad terdiam cukup lama. Wajahnya serius. Lalu ia bertanya, "Kalian berdua yakin dengan keputusan ini? Kalian tahu konsekuensinya? Pernikahan antara dua alam berbeda itu sangat berat. Sangat penuh ujian."
"Kami tahu, Pak," jawab Arga tegas. "Tapi kami sudah siap menghadapi apapun. Kami saling mencintai. Dan kami ingin ikatan kami diberkahi Allah."
Pak Haji Ahmad menatap mereka berdua dalam-dalam. Lalu perlahan, ia tersenyum. Senyum yang bijak dan penuh pengertian.
"Kalau begitu... aku akan menjadi saksi kalian."
Safira langsung menangis. Tangannya menutupi mulutnya, isak tangis pecah. Arga memeluknya sambil ikut menangis.
"Terima kasih, Pak Haji... terima kasih..." bisik Arga dengan suara yang pecah.
"Tapi ingat," Pak Haji Ahmad melanjutkan dengan nada serius. "Aku menikahkan kalian bukan karena aku setuju dengan hubungan dua alam. Aku menikahkan kalian karena aku percaya cinta kalian tulus. Dan cinta yang tulus, dari manapun asalnya, harus dihormati. Tapi kalian harus siap dengan ujian yang akan datang. Ujian yang sangat berat."
"Kami siap, Pak," jawab Arga sambil menggenggam tangan Safira dengan erat.
Pak Haji Ahmad mengangguk. "Kalau begitu, kita akan atur akad nikahnya. Kapan kalian mau menikah?"
"Secepat mungkin, Pak. Identitas Safira hanya bertahan empat puluh hari. Dan sudah lima hari berlalu."
"Baiklah," Pak Haji Ahmad berdiri dengan susah payah. "Tiga hari lagi kita akan laksanakan akad nikah. Di rumah ini saja. Sederhana. Tapi insyaallah berkah."
Mereka keluar dari rumah Pak Haji Ahmad dengan hati yang sangat lega. Akhirnya. Akhirnya ada yang mau menikahkan mereka.
Di perjalanan pulang, Safira tidak berhenti menangis bahagia. Arga memeluknya erat di jok belakang motor Bagas.
"Tiga hari lagi kamu akan jadi istriku," bisik Arga di telinga Safira.
"Tiga hari lagi," Safira mengulangi sambil tersenyum di antara tangisnya. "Aku akan jadi istrimu."
Dan malam itu, Arga mulai mempersiapkan segalanya. Meski sederhana, ia ingin membuat pernikahan ini sempurna untuk Safira.
Ia membersihkan rumah sampai bersih. Membeli bunga-bunga untuk dekorasi sederhana. Menyiapkan baju pengantin sederhana untuk Safira. Gaun putih polos tapi elegan.
Bagas membantu dengan antusias meski masih geleng-geleng kepala. "Gue nggak percaya gue ngebantu pernikahan manusia sama jin. Ini kayak film horor tapi versi romantis."
Arga tertawa. "Makasih ya, Gas. Beneran makasih."
"Iya, iya. Yang penting lo bahagia, Ga. Meski... meski cara lo cari bahagia ini gila banget."
Tiga hari terasa sangat cepat. Tapi juga terasa sangat lama. Arga tidak sabar. Safira juga tidak sabar.
Dan saat hari H tiba, Arga berdiri di depan cermin dengan kemeja putih dan jas hitam sederhana. Tangannya gemetar. Jantungnya berdegup kencang.
Hari ini ia akan menikahi wanita yang ia cintai.
Wanita yang bukan dari dunianya.
Tapi wanita yang sudah mengisi hatinya yang lama kosong.
"Safira," bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin. "Hari ini kamu akan jadi milikku. Selamanya."