Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Lembah Bisikan semakin gelap, kabutnya terasa seperti tangan-tangan dingin yang merayap di kulitku. Suara-suara itu bukan lagi sekadar angin; mereka terdengar seperti suara Ayah, Ibu, bahkan suara Kaelen yang memanggilku dengan nada penuh keputusasaan.
"Tutup telingamu, Kazumi! Jangan dengarkan mereka!" teriak Pippin sambil berusaha menutupi telinga kecilnya dengan sayap.
Namun, di tengah hiruk-pikuk bisikan jahat itu, sebuah frekuensi berbeda masuk ke dalam kepalaku. Suaranya jernih, dingin, dan sangat menenangkan.
"Kazumi... bernapaslah. Ikuti detak jantungku, bukan suara kabut itu.".
Itu Kaelen. Suaranya terdengar sangat dekat, seolah dia berbisik tepat di telingaku melalui ikatan batin kami.
"Fokus pada cahaya biru di telapak tanganmu. Lembah ini hanya memakan keraguan. Jika kau yakin padaku, jalan itu akan terbuka."
Aku memejamkan mata, mengabaikan segala cacian kabut di sekitarku. Aku mulai melangkah mengikuti tuntunan suara Kaelen dalam pikiranku. Tiba-tiba, telingaku menangkap suara rintihan yang nyata, bukan bisikan.
"Tolong... siapa pun... hentikan suara-suara ini..."
Aku membuka mata dan melihat seorang pemuda yang terjepit di antara akar-akar pohon kabut. Pakaiannya compang-camping, dan di tangannya ia memegang sebuah kuas lukis yang cahayanya hampir padam. Wajahnya pucat pasi, matanya tertutup rapat seolah sedang menahan sakit kepala yang luar biasa.
"Pippin, lihat! Ada orang lain di sini!"
Aku berlari mendekat. Saat tanganku menyentuh akar pohon kabut yang melilitnya, akar itu menjerit dan mundur, takut pada energi Penjaga Bunga yang kupunya. Pemuda itu terjatuh ke tanah, terengah-engah.
"Kau... kau nyata?" tanyanya dengan suara serak. "Namaku Ren. Aku seorang pelukis dari dimensi antara. Aku terjebak di sini saat mencoba melukis keindahan yang hilang dari dunia ini."
Ren menatapku dengan takjub. "Cahayamu... kau adalah Penjaga Bunga yang dibicarakan dalam ramalan kuno?"
"Aku Kazumi. Dan kita harus pergi dari sini sekarang sebelum kabut ini menelan kita sepenuhnya," ucapku sambil membantunya berdiri.
Kaelen kembali mengirimkan sinyal dalam pikiranku. Aku melihat sebuah garis biru bercahaya di permukaan tanah yang hanya bisa dilihat olehku. "Ikuti garis itu, Kazumi. Itu adalah jalan menuju ujung lembah. Cepat, Ayahku sudah menyadari keberadaanmu!"
"Ikuti aku!" seruku pada Ren dan Pippin.
Kami berlari mengikuti garis biru itu. Ren, meskipun tampak lemah, ternyata memiliki kemampuan unik. Dengan kuas lukisnya, ia bisa menggambar "pintu" sementara di udara yang menghalau bisikan-bisikan jahat tersebut.
"Aku bisa membantumu mencapai Menara Sunyi," ucap Ren sambil berlari di sampingku. "Aku tahu rahasia arsitektur menara itu. Ada jalan masuk melalui saluran udara di puncak, tapi kita butuh sayap atau kekuatan pelontar yang besar."
Aku menatap Pippin, lalu menatap telapak tanganku sendiri. Kekuatanku mulai berkembang. Aku bukan lagi sekadar gadis yang suka bunga; aku mulai mengerti bagaimana cara bertarung demi cinta.
Namun, saat kami hampir mencapai ujung lembah, tanah di depan kami terbelah. Raja Dunia Seberang tidak membiarkan kami lewat begitu saja. Ia mengirimkan Shadow Golem, raksasa hitam tanpa wajah yang terbuat dari semua mimpi buruk yang pernah ada di Lembah Bisikan.
"Kazumi, hati-hati!" suara Kaelen terdengar panik di kepalaku. "Dia menggunakan ketakutanku akan kehilanganmu untuk menciptakan monster itu!"
Golem itu meraung, dan suaranya membuat dadaku sesak. Ukurannya sepuluh kali lipat dari tinggi badanku yang hanya 154 cm. Namun, kali ini aku tidak sendirian. Aku punya Pippin, aku punya Ren, dan aku punya suara Kaelen di hatiku.