Kisah ini adalah perjalanan hidup Mia yang disebut sebagai anak haram. Liku dan kerasnya kehidupan, mampu membawanya menjadi wanita yang kuat. Dua kali menikah, dua kali pula menjadi janda. Status janda yang disandang dalam usia remaja semakin membuatnya dicaci dan dihina.
Kegagalannya dalam pernikahan, membuatnya tak punya mimpi untuk bahagia dalam sebuah ikatan pernikahan. Baginya, menikah itu hanya ajang untuk mengabdikan dirinya pada seorang suami dengan imbalan uang.
Akankah Mia menemukan pria yang benar-benar bisa membuatnya merasakan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Rusmiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhasil.. Berhasil.. Horeee
Pagi ini Tuan Ferdinan sudah berangkat lebih pagi. Danu yang baru saja menuju ruang makan dibuat terkejut saat tahu kalau ayahnya sudah berangkat sejak tadi. Danu melihat ke arah jam tangannya. Masih jam 7 kurang. Ada urusan apa Tuan Ferdinan sudh berangkat sepagi ini? Danu berpikir keras, mengingat jadwal ayahnya hari ini. Tidak ada meeting ataupun jadwal lain.
Ah, kepalanya menjadi berpikir buruk. Mia. Jangan-jangan Tuan Ferdinan berangkat lebih pagi untuk mencari kesalahan Mia agar bisa memarahinya dengan puas. Tidak bisa dibiarkan. Danu segera bergegas untuk pergi ke kantor.
"Sayang, kau belum sarapan. Ayolah sarapan dulu!" ucap Nyonya Nathalie.
"Nanti saja Mi. Aku lupa kalau hari ini ada jadwal meeting penting." Danu menyalami Nyonya Nathalie dan mencium pipi kanan ibunya, kemudian melambaikan tangan dan pergi.
Nyonya Natahalie menggelengkan kepalanya. Apa yang dilakukan Danu mirip dengan apa yang dilakukan Tuan Ferdinan pagi tadi. Hal itu yang menyebabkan Nyonya Nathalie tidak curiga pada keduanya.
Saat tiba di kantor, Danu segera pergi ke ruangan Mia. Nampak Mia sudah berkutat dengan laptopnya. "Aman," ucap Danu.
Danu melanjutkan penyelidikannya ke ruangan Tuan Ferdinan. Nampak ayahnya yang berkumis itu sedang uring-uringan.
"Sial! Jam berapa anak itu berangakat? Kenapa aku masih kalah pagi? Aku tidak akan membiarkanmu lolos, Mia. Kau harus membayar rasa kesalku," gerutu Tuan Ferdinan.
Danu segera pergi dan masuk ke dalam ruangannya sambil menahan tawa. Jadi Tuan Ferdinan rela tidak sarapan hanya karena ingin mencari kesempatan untuk bisa memarahi Mia, karena masih kesal masalah AC? Danu menggelengkan kepalanya karena tak habis pikir dengan sikap ayahnya.
Bagi Danu, ada hal baru setelah Mia masuk dalam kehidupannya. Tuan Ferdinan menjadi lebih berwarna. Karena biasanya sikap ayahnya itu sangat serius, tegang dan sangat dingin. Tapi setelah bertemu dengan Mia, bahkan perihal AC saja bisa membuat Tuan Ferdinan rela berangkat lebih pagi dan meninggalkan sarapan.
Danu membuka laptopnya tapi kepalanya masih terisi dengan kejadian pagi ini yang membuatnya selalu tersenyum sendiri. Lucu rasanya melihat Tuan Ferdinan yang mencari celah kesalahan Mia.
"Kerjakan semua berkas ini dan laporkan padaku besok! Berkas ini akan aku gunakan untuk meeting penting besok. Jangan sampai merusak meetingku. Kalau sampai gagal, kau adalah penyebabnya. Dan kau tahu apa akibatnya?" ucap Tuan Ferdinan yang tiba-tiba datang dan masuk ke dalam ruangan Mia tanpa permisi. Beberapa berkas dilemparkan begitu saja di meja Mia.
Menanggapi pertanyaan Tuan Ferdinan tadi, Mia hanya menggeleng.
"Apa? Kau tidak tahu?" ucap Tuan Ferdinan geram.
"Bagaimana aku tahu, Tuan tidak menjelaskn apapun padaku." Mia Menjawabny dengan sangat enteng.
"Kau," ucap Tuan Ferdinan dengan menunjuk wajah Mia. "Kau ku pecat," lanjut Tuan Ferdinan.
"Jangan begitu, Tuan. Saya masih butuh pekerjaan ini. Saya janji akan menyelesaikan semua berkas ini dengan tepat waktu," ucap Mia dengan sangat meyakinkan.
"Kau yakin?" tanya Tuan Ferdinan.
"Yakin, Tuan." Mia menjawab sangat yakin.
"Bagus," ucap Tuan Ferdinan lalu keluar dari ruangan Mia. Lagi-lagi tanpa pamit.
"Seperti jelangkung saja. Datang tak diundang, pulng tak diantar." Mia menggerutu kesal dengan sikap bosnya itu. Belum lagi melihat setumpuk berkas yang harus selesai besok pagi.
"Ini namanya penindasan," gumam Mia.
Tak lama Bu Ningsih menelepon, ibunya merindukan dirinya. Bu Ningsih tidak tahu kalau ketika bekerja di kantor, Mia tidak bisa seenaknya mengangkat telepon. Namun karena Mia merindukan ibunya, Mia membuka pintu ruangannya. Melihat Tuan Ferdinan tak ada di sana, aman menurutnya. Mia segera masuk kembali dan mengangkat panggilan teleponnya. Sepuluh menit ibunya menelepon. Tidak lama, namun mampu membuat semangatnya kembali naik.
Teleponnya sudah ditutup, dan kini fokusnya sudah kembali pada tumpukan berkas yang ada di mejanya. Suara dan motivasi dari ibunya membuat Mia kembali semangat. Harapan dan doa dari ibunya membuat Mia yakin kalau Mia bisa membereskan semua tugas dari Tuan Ferdinan.
Saat jam istirahat, Danu melihat Mia tak ada di ruangannya. Danu mencarinya di kantin. Benar saja, Mia sedang makan di sana. Mia yang humble membuatnya tidak sulit mencari sahabat. Sekarang saja baru dua hari kerja tapi Mia sudah makan siang bareng dengan beberapa karyawan dari divisi yang berbeda. Danu tersenyum senang melihat Mia yang bisa diterima dengan baik oleh karyawan lain.
Tidak ingin mengganggu Mia, Danu memilih makan bersama ayahnya. Danu tidak mau Mia dianggap spesial oleh karyawan lain. Mia memintanya untuk memperlakukan dirinya sama dengan karyawan yang lain, agar tidak ada kecemburun sosial. Mia takut kalau kemampuannya kalah hanya karena statusnya yang kenal dengan keluarga Danu.
Saat selesai makan, Danu sudah tidak melihat Mia di kantin. Padahal ini masih jam istirahat. Danu mencari Mia ke dalam ruangannya. Nampak Mia sudah kembali berkutat dengan laptopnya. Danu sampai menggelengkan kepalanya. Semangat kerjanya begitu tinggi hingga Mia tekun sekali.
"Mia, ini masih jam istirahat. Rajin sekali," ucap Danu.
"Saya banyak pekerjaan Tuan muda. Ini lihat!" Mia menunjukkan tumpukan berkas di mejanya.
"Kan masih bisa besok lagi," jawab Danu.
"Tidak bisa. Tuan Besar meminta saya mengerjakan ini selesai besok pagi. Karena mau di pakai meeting. Kalau meetingnya gagal gara-gara berkas ini, saya bisa dipecat. Makanya saya berusaha semaksimal mungkin," jawab Mia.
"Begitu?" tanya Danu tak percaya.
"Iya," jawab Mia dengan mata yang sudah kembali fokus pada layar laptopnya.
"Ya sudah. Lanjutkan pekerjaanmu. Aku yakin kau pasti bisa!" ucap Danu menyemangati Mia.
"Terima kasih Tuan muda," ucap Mia dengan senyum yang sangat manis.
Danu segera keluar dari ruangan Mia. "Papi keterlaluan. Untuk bisa memarahi Mia, Papi sampai tega memberi tugas sebanyak itu dan harus beres besok pagi?" gumam Danu.
"Kenapa kau?" tanya Tuan Ferdinan yang melihat anaknya menggerutu.
"Tidak," jawab Danu ketus.
"Katakan!" ucap Tuan Ferdinan dengan sangat tegas.
"Apa maksud papi memberi tugas sebanyak itu pada Mia? Dia masih anak baru, mana mungkin Mia bisa menyelesaikan semua itu? Jangankan Mia, karyawan senior saja belum tentu bisa. Lagipula besok tidak ada meeting apapun," ucap Danu kesal.
"Kenapa? Apa masalahnya? Aku hanya ingin melatih karyawanku agar cekatan," ucap Tuan Ferdinan.
"Itu bukan melatih, itu penindasan. Papi sudah seperti penjajah saja pada Mia," ucap Danu.
"Kau," ucap Tuan Ferdinan geram.
Danu tak mendengar dan meladeni ayahnya. Danu lebih memilih untuk pergi meninggalkan ayahnya. Setelah berdebat dengan Danu, Tuan Ferdinan masuk ke dalam ruangannya. Penjajah? Ucapan Danu terngiang di telinganya. Benarkah? Tuan Ferdinan kembali mengingat, memang benar. Selama ini ia tak pernah memberi tugas sebanyak itu pada karyawannya.
"Haruskah aku membawa kembali berkas itu?" gumam Tuan Ferdinan.
Ah tidak! Mana mungkin Tuan Ferdinan merendahkan harga dirinya di depan Mia. Bisa besar kepala Mia. Begitu pikir Tuan Ferdinan. Kepala dan hatinya berdebat cukup lama, hingga akhirnya Tuan Ferdinan memutuskan untuk melihat keadaan Mia. Tuan Ferdinan melihat cctv yang menunjukkan keadaan di dalam ruangan Mia. Terlihat Mia sedang sangat fokus dengan laptop dan berkas-berkasnya.
Tuan Ferdinan berpikir untuk melihat bagimana usaha Mia. Kalaupun tidak selesai, tak jadi masalah. Karena ia juga sudah menyadari kalau tugas yang ia berikan memang keterlaluan.
Sementara di malam hari, Mia masih mengerjakan tugas dari Tuan Ferdinan dengan sangat semangat ditemani oleh ibunya melalui videocall. Sampai akhirnya Mia menyelesaikan semua tugas itu sampai pukul tiga dini hari.
"Berhasil.. Berhasil.. Horeee.." teriak Mia saat pekerjaannya sudah selesai.
Mia segera mengakhiri videocall bersama ibunya yang ternyata sudah tidur. Mia senyum saat melihat ibunya pulas dalam videocallnya. Karena ingin menemani anaknya bekerja, Bu Ningsih tidak mematikan panggilan videonya hingga ketiduran.
Mia segera naik ke atas ranjangnya dan merebahkan tubuhnya. Tanpa menunggu lama, tubuhnya yang sudah lelah langsung membuatnya tidur pulas hanya dalam hitungan menit.
Hari sudah berganti. Danu yang masih kesal dengan Ayahny membuat hubungannya dengan Tuan Ferdinan sedikit tegang pagi itu. Sedangkan Mia, dengan wajah yang pucat sudah berada di kantor pagi itu.
"Tuan, ini berkasnya sudah selesai." Mia menyerahkan semua tugasnya yang sudah selesai.
"Semua?" tanya Tuan Ferdinan dengan terkejut.
"Iya, Tuan." Mia tersenyum.
Tuan Ferdinan membawa berkas itu ke dalam ruangannya untuk memeriksa hasil pekerjaan Mia. Dan hasilnya membuat Tuan Ferdinan terbelalak. Sempurna. Tak ada satupun kesalahan yang Mia lakukan. Dalam waktu satu hari satu malam, Mia mampu menyelesaikan pekerjaan yang menurutnya tidak mungkin bisa diselesaikan. Apalagi oleh karyawan baru seperti Mia.
##################
Tap like dan vote seikhlasnya kakak...
Terima kasih..
Gokil author nya 😂