NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:154
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: TAMU DI MEJA MAKAN

Gaun merah itu melekat sempurna di tubuh Arunika. Warnanya begitu kontras dengan kulitnya yang pucat, memberikan kesan berani sekaligus rapuh. Di depan cermin, Arunika mematut diri. Gelang berlian di tangannya dan choker hitam di lehernya berkilau terkena lampu kristal, namun bagi Arunika, itu semua tak lebih dari sekadar tanda bahwa dia adalah properti milik keluarga Valerius.

Dia masih terbayang potongan video di chip memori tadi. Suara Elena yang memohon-mohon terus terngiang di telinganya. Siapa sebenarnya pelayan di butik tadi? Dan kenapa dia membantunya?

Cklek.

Pintu kamar terbuka. Adrian masuk dengan setelan tuksedo hitam yang sangat elegan. Dia berdiri di belakang Arunika, menatap pantulan mereka berdua di cermin. Tangannya yang besar mendarat di bahu Arunika, meremasnya pelan.

"Merah benar-benar warnamu, Sayang," bisik Adrian. "Ayo turun. Tamu kita sudah menunggu."

"Tamu?" Arunika mengerutkan kening. "Aku pikir hanya kita berdua."

"Hanya makan malam bisnis kecil. Aku ingin sekretaris pribadiku mengenal nyonya rumahnya yang baru," jawab Adrian santai sambil menuntun Arunika keluar kamar.

Di ruang makan yang luas, seorang wanita cantik dengan pakaian formal yang sangat ketat sudah berdiri menunggu. Rambutnya disanggul rapi, dan matanya tampak sangat tajam. Saat melihat Adrian dan Arunika turun, wanita itu memberikan senyum yang tidak mencapai mata.

"Selamat malam, Tuan Adrian. Nyonya Arunika," sapa wanita itu dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

"Arunika, perkenalkan. Ini Sandra, sekretaris pribadiku yang sudah bekerja bersamaku selama lima tahun," kata Adrian sambil menarikkan kursi untuk Arunika.

"Senang bertemu denganmu, Nyonya," ujar Sandra. Matanya menyapu penampilan Arunika dari kepala hingga kaki, lalu berhenti sejenak di kalung leher yang dipakai Arunika. Ada kilatan aneh di matanya—antara ejekan dan rasa puas.

Makan malam dimulai dalam kesunyian yang mencekam. Hanya terdengar denting alat makan perak yang beradu dengan piring porselen. Adrian dan Sandra mulai membicarakan masalah perusahaan, istilah-istilah bisnis yang tidak dimengerti Arunika sengaja mereka lontarkan. Arunika merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.

"Bagaimana adaptasimu di sini, Nyonya?" tanya Sandra tiba-tiba, memutus pembicaraan bisnisnya dengan Adrian. "Saya dengar, Tuan Adrian sangat... disiplin soal aturan rumah."

Arunika melirik Adrian yang sedang memotong steaknya dengan tenang. "Aku masih belajar," jawab Arunika singkat.

Sandra terkekeh kecil, suaranya terdengar sangat licik. "Memang butuh waktu. Apalagi bagi seseorang yang datang dari latar belakang... yah, sangat berbeda dengan keluarga Valerius. Tapi tenang saja, Tuan Adrian sangat ahli dalam 'mendidik' miliknya. Benar kan, Tuan?"

Adrian hanya tersenyum tipis, tidak membela Arunika sama sekali. Dia justru menikmati bagaimana Sandra mulai memojokkan istrinya.

"Sandra tahu banyak tentang rumah ini, Arunika. Dia bahkan membantu mengurus keperluan... penghuni sebelumnya," tambah Adrian dengan nada datar yang membuat bulu kuduk Arunika berdiri.

Arunika mencengkeram serbet di pangkuannya. "Penghuni sebelumnya? Maksudmu Elena?"

Suasana di meja makan mendadak membeku. Sandra tampak terkejut mendengar nama itu keluar dari mulut Arunika, sementara Adrian meletakkan garpunya dengan suara denting yang cukup keras.

"Siapa yang memberitahumu nama itu?" tanya Adrian. Matanya kini mengunci Arunika, dingin dan menusuk. Sisi "Malaikat" yang dia tunjukkan tadi pagi menguap begitu saja.

"Aku... aku hanya mendengarnya dari para pelayan yang berbisik," bohong Arunika lagi.

Sandra tertawa sinis, mencoba mencairkan suasana yang kaku. "Ah, Nyonya rupanya sangat suka menguping. Hati-hati, Tuan Adrian tidak suka wanita yang terlalu banyak tahu. Elena... dia juga punya kebiasaan yang sama. Dia selalu ingin tahu apa yang ada di balik pintu-pintu terkunci."

Sandra menatap Arunika dengan tatapan penuh kebencian yang terselubung. "Hasilnya? Dia tidak tahan dengan tekanan di sini dan memutuskan untuk... pergi jauh."

"Pergi jauh ke mana?" desak Arunika.

"Cukup," potong Adrian. Suaranya rendah tapi penuh otoritas. "Kita di sini untuk makan, bukan untuk membahas sejarah. Sandra, tunjukkan berkas yang kubinta tadi."

Sandra mengeluarkan sebuah map dari tasnya dan memberikannya kepada Adrian. Saat Adrian sibuk membaca berkas tersebut, Sandra mencondongkan tubuhnya ke arah Arunika.

"Jangan merasa istimewa hanya karena gelang berlian itu, Arunika," bisik Sandra, sangat pelan agar Adrian tidak dengar. "Aku sudah melihat tiga wanita memakai kalung yang sama sebelum kamu. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang bertahan lebih dari setahun. Kamu cuma mainan musim ini."

Arunika merasa wajahnya panas karena marah dan takut. Dia ingin membalas, tapi dia teringat Aturan No. 17 tentang menjaga nada suara. Dia hanya bisa menatap Sandra dengan benci.

Setelah makan malam selesai, Adrian meminta Sandra untuk pulang. Namun sebelum pergi, Sandra sengaja menumpahkan segelas anggur merah ke arah gaun Arunika.

"Oh! Maafkan saya, Nyonya! Saya benar-benar tidak sengaja," seru Sandra dengan nada yang dibuat-buat panik.

Cairan merah itu meresap ke dalam gaun merah Arunika, membuatnya tampak seperti noda darah. Arunika berdiri dengan kaget, sementara Adrian hanya menonton dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Tidak apa-apa, Sandra. Kau boleh pulang sekarang," ujar Adrian tenang.

Begitu Sandra pergi, Adrian mendekati Arunika. Dia tidak marah karena gaun mahal itu rusak. Dia justru menyentuh noda anggur yang basah di dada Arunika dengan jarinya.

"Kau lihat, Arunika? Di luar sana, orang-orang tidak akan berbaik hati padamu. Hanya aku yang melindungimu. Hanya aku yang memberimu segalanya," bisik Adrian.

Dia menarik Arunika ke dalam pelukannya, menghirup aroma anggur dan ketakutan dari tubuh istrinya. "Wanita seperti Sandra hanya ingin posisimu. Mereka akan menghancurkanmu jika aku melepaskan pengawasanku sedikit saja. Jadi, berhentilah mencoba mencari tahu soal Elena, dan fokuslah untuk menyenangkanku."

Arunika merasa sangat sesak. Dia menyadari taktik Adrian hari ini. Pertama, dia memberinya hadiah agar Arunika merasa berhutang budi. Kedua, dia membiarkan Sandra menghinanya agar Arunika merasa bahwa dunia luar itu jahat dan hanya Adrianlah tempatnya bernaung.

Ini adalah isolasi mental yang sempurna.

"Masuk ke kamar dan bersihkan dirimu," perintah Adrian. "Aku akan menyusul dalam sepuluh menit. Dan Arunika... jangan coba-coba mengunci pintunya."

Arunika berjalan menaiki tangga dengan perasaan hancur. Saat dia melewati lorong lantai dua, dia melihat Bi Inah, kepala pelayan, sedang berdiri di kegelapan. Wanita tua itu hanya memberikan isyarat kecil dengan matanya ke arah saku gaun Arunika—tempat dia menyembunyikan chip memori tadi siang.

Bi Inah kemudian meletakkan jarinya di depan bibir, memberi tanda agar Arunika diam.

Arunika masuk ke dalam kamar dan segera masuk ke kamar mandi. Dia menghidupkan shower dengan volume maksimal untuk menyamarkan suaranya. Di bawah kucuran air, dia menangis tanpa suara. Dia terjepit di antara suami yang gila, sekretaris yang licik, dan bayang-bayang istri pertama yang hilang.

Saat dia sedang mengeringkan tubuhnya, dia melihat sebuah catatan kecil yang terselip di balik handuk bersih yang disediakan pelayan.

“Sandra membantu Adrian menyingkirkan Elena. Jangan percaya pada apa pun yang dia katakan. Cari berkas di laci rahasia meja kerja Adrian saat dia sedang rapat besar besok lusa. — Teman.”

Arunika meremas kertas itu dan membuangnya ke lubang toilet. Dia harus mulai bermain peran. Dia tidak bisa terus-menerus menjadi korban yang ketakutan. Jika Adrian menginginkan "mainan" yang sempurna, maka dia akan memberikannya—sambil menyiapkan pisau di balik punggungnya.

Malam itu, saat Adrian masuk ke kamar dan menatapnya dengan nafsu yang dingin, Arunika tidak lagi memejamkan mata karena takut. Dia menatap balik mata Adrian, mencoba mencari celah di balik topeng malaikat itu.

"Kamu sangat penurut malam ini, Sayang," ujar Adrian sambil membelai pipinya.

"Aku hanya sadar... kalau aku memang tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu, Adrian," jawab Arunika dengan nada yang diatur agar terdengar pasrah.

Adrian tersenyum puas. Dia merasa telah berhasil menjinakkan burung dalam sangkarnya. Padahal, di dalam hati Arunika, kebencian itu kini telah berubah menjadi rencana yang mematikan.

Adrian tertidur lelap setelah memastikan Arunika tidak bisa bergerak dari dekapannya. Namun, ponsel Adrian yang tergeletak di nakas bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor rahasia yang tidak sengaja terbaca oleh Arunika: "Dia mulai curiga soal Elena. Haruskah kita melakukan 'pembersihan' lebih cepat?"

Siapakah pengirim pesan itu? Sandra? Ataukah ada orang lain lagi?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!