Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.
Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:
kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 11
Cahaya matahari tidak langsung menyapa dengan hangat.
Ia datang perlahan, menembus sela tirai jendela kamar Yurie dalam garis-garis tipis berwarna pucat, seolah ragu untuk masuk sepenuhnya. Udara terasa dingin, bukan karena hujan atau angin, melainkan karena sesuatu yang tak kasatmata—ketegangan yang tertinggal dari malam sebelumnya.
Yurie terbangun dengan mata terbuka.
Tidak ada mimpi. Tidak ada jeritan. Namun dadanya terasa berat, seperti menyimpan rahasia yang belum sempat ia cerna sepenuhnya. Ia bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang, menatap jemarinya sendiri. Ada luka lama yang tak terlihat, dan kini luka itu mulai menganga, meminta untuk diperhatikan.
Ia tahu, setelah hari ini, hidupnya tidak akan berjalan dengan cara yang sama.
Langkahnya pelan saat keluar kamar. Lorong rumah Reynard masih sunyi. Beberapa lampu dinding menyala temaram, menciptakan bayangan panjang di lantai. Dari kejauhan, terdengar suara samar—bukan suara manusia, melainkan bunyi kertas yang dibalik dan denting halus cangkir menyentuh piring.
Ruang makan.
Kaiden sudah di sana.
Ia duduk dengan kemeja gelap, rambutnya sedikit berantakan seperti seseorang yang lebih banyak berpikir daripada tidur. Di hadapannya terbuka beberapa berkas, tersusun rapi namun jelas sering dibuka-tutup. Tangannya memegang cangkir kopi, tapi uapnya hampir habis—tanda ia sudah lama duduk di sana.
“Kau bangun lebih cepat,” ucap Kaiden tanpa menoleh.
Yurie berhenti melangkah. “Aku tidak benar-benar tidur.”
Kaiden mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu, dan untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Keheningan di antara mereka tidak canggung, hanya sarat makna—dua orang yang sama-sama menyadari bahwa hari ini akan membawa sesuatu yang tidak ringan.
Yurie mendekat dan duduk berseberangan. “Kau juga?”
Kaiden mengangguk singkat. “Beberapa hal tidak bisa menunggu.”
Yurie melirik berkas-berkas itu. “Apa yang kau temukan?”
Kaiden tidak langsung menjawab. Ia mendorong satu map ke arah Yurie. “Aku ingin kau melihat ini sendiri.”
Yurie membuka map itu perlahan. Isinya salinan dokumen keuangan, transfer antarperusahaan, tanggal-tanggal yang tampak acak, namun terlalu sering berulang. Matanya berhenti pada satu nama yang membuat dadanya mengeras.
Devano Group.
“Ini…” Yurie menelan ludah. “Kenapa nama ini muncul di sini?”
“Karena mereka tidak hanya bermain di satu sisi,” jawab Kaiden. “Dana untuk beberapa proyek gelap—termasuk manipulasi arsip dan jalur bandara—mengalir lewat perusahaan cangkang mereka.”
Yurie memejamkan mata sejenak. “Jadi… bukan hanya keluargaku.”
Kaiden menggeleng. “Keluargamu bagian dari jaringan. Tapi Devano yang mengatur ritmenya.”
Yurie tertawa kecil tanpa suara. “Ironis. Selama ini aku pikir aku hanya dikorbankan oleh rumah yang kupanggil keluarga.”
“Kau dikorbankan oleh orang-orang yang menganggap kekuasaan lebih penting dari nyawa,” ujar Kaiden pelan.
Keheningan kembali turun. Kali ini lebih berat.
Beberapa jam kemudian, udara di luar rumah berubah. Langit yang semula terang mulai tertutup awan abu-abu tipis. Tidak gelap, tapi cukup untuk membuat suasana terasa muram.
Yurie berdiri di dekat jendela ruang tengah, memandangi taman yang tampak tenang—terlalu tenang.
Ponselnya bergetar di genggaman. Nama yang muncul membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Kayla*
Yurie ragu beberapa detik sebelum mengangkatnya. “Halo.”
“Yurie,” suara di seberang terdengar lembut, hampir bersahabat. “Kau sibuk?”
Yurie mengerutkan kening. “Ada apa?”
“Aku hanya ingin bertemu,” jawab Kayla ringan.
“Kita jarang bicara, kan? Aku ingin memperbaiki hubungan kita.”
Yurie menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Wajahnya tenang, tapi matanya tidak. “Kenapa sekarang?”
“Hanya merasa… kita keluarga,” kata Kayla. “Dan aku rindu.”
Kata rindu itu terdengar asing di telinga Yurie.
“Aku akan berpikir,” jawab Yurie akhirnya.
“Baik,” ujar Kayla cepat. “Aku tunggu kabarmu.”
Sambungan terputus.
Kaiden yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan mendekat. “Dia?”
Yurie mengangguk. “Kayla.”
“Dan?”
“Dia ingin bertemu.”
Kaiden menatapnya dalam. “Kau ingin?”
Yurie berpikir sejenak. “Tidak. Tapi mungkin aku harus.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang tidak punya apa-apa untuk disembunyikan tidak akan tiba-tiba ingin berdamai.”
Kaiden terdiam, lalu berkata, “Jika kau pergi, aku ikut.”
Yurie menoleh. “Aku tidak ingin menarikmu ke—”
“Aku sudah ada di dalamnya,” potong Kaiden.
“Sejak aku menikahimu.”
Nada suaranya tidak keras, tapi tegas. Yurie mengangguk pelan.
......................
Pertemuan itu terjadi di sebuah kafe kecil di pinggir kota—tempat dengan jendela besar dan musik lembut yang mengalun pelan. Cahaya dari luar masuk miring, membuat debu-debu kecil terlihat melayang di udara.
Kayla sudah duduk di sana saat Yurie tiba.
Ia tampak berbeda. Rambutnya lebih sederhana, riasannya tipis. Senyumnya muncul saat melihat Yurie, seolah mereka benar-benar hanya dua saudari yang lama tak bertemu.
“Terima kasih sudah datang,” ujar Kayla.
Yurie duduk di hadapannya. “Langsung saja. Apa yang kau inginkan?”
Kayla tertawa kecil. “Kau selalu sejujur itu.”
“Aku lelah berpura-pura,” jawab Yurie datar.
Kayla mengaduk minumannya pelan. “Mama mulai gelisah.”
Yurie menyipitkan mata. “Karena aku?”
“Karena kau terlalu dekat dengan orang yang tidak seharusnya,” jawab Kayla. “Keluarga Reynard bukan sekadar keluarga terpandang.”
Yurie tersenyum tipis. “Dan keluargaku?”
Kayla mengangkat bahu. “Selalu tahu cara bertahan.”
Yurie mencondongkan tubuh sedikit. “Katakan padaku satu hal, Kayla. Apakah Mama terlibat dalam kematian ibuku?”
Senyum Kayla membeku.
Hanya sepersekian detik, tapi cukup bagi Yurie untuk melihatnya.
“Kau terlalu jauh,” ucap Kayla akhirnya.
“Dan kau terlalu tenang untuk seseorang yang tidak bersalah,” balas Yurie.
Kayla menarik napas panjang. “Aku ke sini untuk memperingatkanmu. Bukan untuk berdebat.”
“Peringatan tentang apa?”
“Jangan gali masa lalu,” kata Kayla pelan. “Tidak semua orang selamat setelah melakukannya.”
Yurie bersandar ke kursinya. “Aku sudah tidak selamat sejak lama.”
Kayla berdiri. “Kalau begitu, jaga dirimu.” Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Yurie keluar dari kafe, udara terasa lebih dingin. Langit semakin gelap, awan bergerak lambat seolah membawa hujan yang tertunda. Kaiden berdiri di dekat mobil, menatapnya
dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Bagaimana?” tanyanya.
Yurie menghembuskan napas. “Mereka tahu aku bergerak.”
Kaiden membuka pintu mobil. “Itu berarti kita berada di jalur yang benar.”
Dalam perjalanan pulang, Yurie menatap jalanan yang mulai basah oleh gerimis halus. “Kaiden…”
“Ya?”
“Jika semua ini berakhir buruk, apa kau akan menyesal menikah denganku?”
Kaiden mengerem pelan di lampu merah, lalu menoleh. “Aku menyesal banyak hal dalam
hidupku.”
Ia menatap Yurie dengan sorot mata yang dalam. “Tapi bukan ini.”
Yurie menelan ludah. Dadanya terasa hangat, meski dunia di luar terasa dingin.
Malam menjelang tanpa suara petir, hanya hujan yang turun perlahan, membasahi halaman rumah Reynard. Yurie berdiri di balik jendela kamarnya, memandangi air yang jatuh satu per satu, seperti hitungan waktu yang tak bisa dihentikan.
Di balik ketenangan itu, ia tahu satu hal dengan pasti— Permainan sudah dimulai.
Dan tidak semua orang akan keluar tanpa luka.