NovelToon NovelToon
Takdir Paranormal Gadungan

Takdir Paranormal Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Mata Batin / Iblis / Anak Yatim Piatu / Roh Supernatural
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Princss Halu

Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
​Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
​Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
​Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
​Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi pencarian Artefak yang hilang

Keesokan harinya, Freen dan Nam bergerak cepat. Freen menghabiskan pagi di rumah sakit, memastikan Jane (yang diketahui bernama asli Jane Harper, seorang backpacker asal Kanada) pulih dengan baik.

Setelah Jane sadar dan mulai bisa berkomunikasi, Freen dengan hati-hati menjelaskan bahwa ia telah tersesat dan mengalami shock berat, sementara Nam menjelaskan kepada petugas rumah sakit bahwa ia akan mengurus semua biaya perawatan.

Sementara itu, Nam berhasil melakukan keajaiban logistik.

Ia berhasil mendapatkan audiensi dengan Phra Khru, seorang Biksu berpengaruh di Kuil Agung Chiang Mai, yang dikenal memiliki pemahaman mendalam tentang spiritualitas Lanna.

Nam meyakinkan Phra Khru bahwa ada kebutuhan mendesak untuk merestorasi kehormatan Wat Pha Rakam, yang dulunya adalah situs suci namun kini terlantar dan berpotensi menjadi sumber energi negatif karena janji-janji yang salah.

Nam menggunakan nama Freen dan mengaitkannya dengan kisah-kisah karma dan takdir yang meyakinkan.

Phra Khru setuju untuk memimpin ritual penyucian dan meresmikan program restorasi. Dukungan dari Kuil Agung memberi Freen dan Nam legitimasi spiritual yang mereka butuhkan.

Selanjutnya, Nam menghubungi kepala polisi hutan yang mereka temui sebelumnya. Dengan dukungan Tuan Vongrak (yang Nam minta untuk membuat satu panggilan telepon persuasif lagi), Nam berhasil mendapatkan izin untuk membersihkan jalur ke Wat Pha Rakam.

Proyek Restorasi Dimulai:

Freen dan Nam kembali ke desa di kaki gunung. Mereka menyewa beberapa warga lokal, termasuk Paman Baisri, untuk membersihkan jalur dan memulai perbaikan dasar di kuil. Freen mengawasi langsung, memastikan tidak ada artefak kuno yang dirusak dan Kunci Emas yang berfungsi sebagai segel tetap tak tersentuh di altar.

Setelah jalur dibersihkan dan Kuil Pha Rakam dicuci dari lumut dan tanaman liar, suasana di kuil itu berubah total. Udara yang tadinya dingin dan berat kini terasa segar dan damai. Freen tidak lagi merasakan aura spiritual yang mencekam, hanya ketenangan kuno.

Puncak dari misi ini terjadi pada hari berikutnya, saat Phra Khru dan beberapa Biksu tiba di Wat Pha Rakam. Mereka melakukan ritual penyucian yang agung dan mendalam. Freen dan Nam berdiri di belakang, mengawasi dengan hormat.

Selama ritual, Freen melihat sosok Roh Penjaga Kuil, Yay, muncul sebentar di samping Patung Buddha. Yay membungkuk ke arah Phra Khru, dan kemudian, ia tersenyum tipis ke arah Freen. Itu adalah senyum persetujuan dan terima kasih.

Setelah itu, sosok Yay perlahan menghilang, tidak lagi menjadi roh terikat, tetapi roh penjaga yang damai.

Misi selesai sepenuhnya. Janji ditepati.

Freen dan Nam meninggalkan Chiang Mai beberapa hari kemudian, setelah semua urusan administrasi dan restorasi diserahkan kepada yayasan kuil lokal yang akan didanai secara berkala (masih menggunakan uang Tuan Vongrak).

****

Mereka kembali ke Nonthaburi, merasa lelah tetapi puas. Freen tahu bahwa ia tidak hanya menyelamatkan satu orang, tetapi juga mengembalikan kedamaian spiritual di area pegunungan itu.

"Akhirnya, Freen," kata Nam saat mereka memasuki rumah mereka. "Kasus selesai, kuil dipulihkan, backpacker selamat. Kita punya waktu libur seminggu penuh. Aku sudah merencanakan maraton film horor dan pizza!"

Freen tersenyum, melepas ranselnya."Ide yang bagus, Nam. Tapi sebelum itu..."

Freen duduk di sofa dan mengambil handphone-nya. Ia menatap ke layar. Tidak ada notifikasi.

"Aku akan matikan handphone ini selama 24 jam pertama," kata Freen, memasang mode pesawat.

"Jika Mae Nakha ingin menghubungiku, dia harus menunggu. Bahkan alat Takdir pun butuh tidur dan pizza."

Nam tertawa dan langsung bergegas memesan pizza. Freen menutup matanya, Mustika Merah Delima terasa hangat dan tenang di dadanya. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Freen Sarocha benar-benar mengambil libur.

Kamar Nam yang sederhana kini bertransformasi menjadi markas pemulihan. Televisi menyala, menampilkan film horor klise dengan plot yang mudah ditebak. Di meja kecil di depan sofa, terhampar kotak pizza besar yang baru saja mereka terima. Aroma keju dan topping memenuhi udara.

Freen dan Nam duduk bersantai, mengenakan kaus rumahan mereka yang nyaman. Freen mengambil potongan pizza besar, menikmati setiap gigitannya dengan mata terpaku pada layar. Ini adalah kemewahan yang langka.

"Nam, pizza ini rasanya seperti kemenangan," gumam Freen, mulutnya penuh.

"Sejauh ini, ini adalah hasil terbaik dari pekerjaan spiritual."

Nam, yang memegang tabletnya, tertawa kecil, tetapi tawanya sedikit terdengar dipaksakan. Ia tidak bisa sepenuhnya bersantai.

"Tunggu dulu, Freen," kata Nam, menggeser potongan pizzanya. "Aku baru saja mengecek laporan keuangan kita."

Nam menoleh ke Freen dengan ekspresi cemas. "Kau tahu, kita mendapatkan bayaran dari Tuan Vongrak yang sangat besar. Tapi... uang itu terkuras lumayan banyak."

Nam mulai merinci:

"Restorasi Kuil Pha Rakam, biaya Biksu, dan pembangunan jalur akses: Memotong sebagian besar. Kita harus mendanai kuil itu secara berkala setidaknya selama enam bulan untuk menepati janji kita pada Yay."

"Biaya rumah sakit Jane dan akomodasinya untuk menghubungi Kedutaan: Cukup besar."

"Akomodasi pulang pergi, sewa mobil SUV yang mahal, dan membayar Paman Baisri: Lumayan menguras."

"Intinya," kata Nam, menggelengkan kepala.

"Kita baru saja menyelamatkan dua jiwa, mengembalikan segel iblis, merestorasi kuil kuno, dan kita hanya menikmati pizza yang harganya terbilang murah! Kita ini adalah tim paranormal dengan keuntungan paling kecil, Freen!"

Freen menatap potongan pizzanya. Meskipun Nam benar, Freen tidak merasa menyesal.

"Kau benar, Nam," kata Freen, mengambil sepotong pizza lagi. "Keuangan kita turun drastis. Tapi ingat, kita adalah 'alat takdir' yang dikirim oleh dewi arwah. Kita tidak hanya mengumpulkan uang, kita juga mengumpulkan karma baik."

Freen melanjutkan dengan nada serius. "Uang Tuan Vongrak adalah karma buruk yang harus ditebus. Kita menggunakannya untuk hal-hal baik membuat Ibu Khai sehat, dan merestorasi tempat suci. Itu namanya menukar karma buruk dengan karma baik, Nam. Itu adalah investasi paling aman di dunia kita."

Freen mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilat penuh keyakinan.

"Anggap saja sisa uang ini adalah modal awal kita. Misi berikutnya akan membawa klien baru dengan bayaran tinggi, dan kita akan memegang kendali penuh atas negosiasi."

Nam terdiam, mencerna kata-kata Freen. Ia akhirnya tersenyum.

"Baiklah, Freen. Aku akan berhenti mengkhawatirkan anggaran kita selama 24 jam ke depan," kata Nam, mengambil potongan pizza yang ia abaikan.

"Tapi jika misi berikutnya melibatkan kuil tua lagi, kita harus memasukkan biaya donasi amal wajib sebesar 20% ke dalam kontrak!"

Freen tertawa, memukul bahu Nam pelan. "Itu baru ide bisnis yang bagus, Researcher. Sekarang, lupakan karma dan keuangan sebentar. Film horor itu sudah sampai di adegan klimaks."

Dua wanita yang baru saja kembali dari misi spiritual yang mendebarkan itu pun kembali terbenam dalam kebahagiaan sederhana: pizza, film horor murahan, dan persahabatan, melupakan sementara waktu panggilan Takdir yang pasti akan datang lagi.

Dua puluh empat jam berlalu dengan damai. Freen dan Nam benar-benar menikmati jeda singkat itu. Mereka bergantian tidur siang, menamatkan serial di televisi, dan menghabiskan sisa persediaan camilan Nam.

Saat matahari mulai terbenam di hari berikutnya, Freen memutuskan sudah waktunya untuk 'menghidupkan' kembali jalur komunikasi spiritualnya.

Freen duduk di sofa, memasukkan kartu SIM-nya kembali ke handphone, dan menyalakannya. Nam duduk di kursi sebelahnya, tabletnya siap. Keduanya diam, menanti panggilan takdir.

Tidak butuh waktu lama. Begitu handphone Freen terhubung ke jaringan, notifikasi pesan masuk berdering nyaring. Pesan dari nomor tak dikenal yang sudah sangat mereka kenali.

Freen membuka pesan itu. Kali ini pesannya lebih ringkas, tetapi lebih mendesak.

"Provinsi Selatan. Pantai. Kapal."

"Objek: Cermin. Status: Terancam."

Freen mengangkat alisnya. Ini pertama kalinya mereka tidak dikirim ke pegunungan atau hutan yang berhubungan dengan kuil kuno.

"Provinsi Selatan? Pantai? Kapal?" ulang Nam, segera mengetikkan kata kunci itu di tabletnya. "Ini pasti kasus di laut. Kasus hilangnya kapal, atau mungkin harta karun?"

"Lebih spesifik, Nam," kata Freen, fokus pada kata kunci spiritual. "Cermin. Cermin di dunia spiritual sering kali berfungsi sebagai portal, penyimpan jiwa, atau alat untuk melihat ke masa depan. Dan statusnya: 'Terancam'. Ini terdengar seperti objek spiritual yang jatuh ke tangan yang salah, dan itu bisa sangat berbahaya."

"Provinsi Selatan, pantai..." Nam mencari di peta Thailand. "Ada banyak provinsi pantai di Selatan. Mana yang paling mungkin?"

"Cari laporan tentang kejadian aneh atau kasus kehilangan di sekitar dermaga atau laut dalam beberapa hari terakhir," saran Freen.

"Dan cari legenda tentang cermin kuno atau artefak laut di sana."

Nam mengubah kueri pencariannya: "Kehilangan Aneh Kapal Pantai Selatan Thailand"

Dalam waktu singkat, Nam menemukan berita utama yang menarik perhatian mereka:

"Kapal Penyelam Harta Karun Lokal Hilang di Perairan Terpencil Provinsi [Nama Provinsi Selatan]. Pemilik Kapal Dikenal Terobsesi Mencari Artefak Kuno di Bangkai Kapal Karam."

"Itu dia," seru Freen, menunjuk ke tablet. "Kapal penyelam. Artefak kuno. Kapal itu hilang bersama objek yang mereka cari, yaitu Cermin itu."

"Jadi, skenarionya: Sekelompok pemburu harta karun menemukan Cermin kuno yang merupakan objek spiritual berbahaya, lalu Cermin itu menyerang mereka, dan kapal mereka hilang?" duga Nam.

Freen mengangguk, meneguk ludah. "Bisa jadi. Yang pasti, kita harus mendapatkan Cermin itu sebelum jatuh ke tangan yang lebih buruk, atau sebelum Cermin itu melepaskan kekuatan yang 'Terancam' di lautan. Mae Nakha mengirim kita karena ini bisa menyebabkan bencana yang lebih besar daripada Roh Kuno di hutan."

"Apa rencananya, Freen? Kita tidak punya keahlian menyelam," tanya Nam.

"Kita tidak perlu menyelam, Nam. Kita adalah paranormal, bukan penyelam," balas Freen.

"Kita akan ke dermaga, mencari informasi tentang bangkai kapal itu, dan kita akan menggunakan keahlian kita untuk mencari tahu di mana tepatnya Cermin itu berada. Energi spiritual yang sangat kuat tidak akan bisa bersembunyi lama dari Mustika Merah Delima."

Freen bangkit. Ia mengambil ranselnya dan mengisinya dengan peralatan basic mereka.

"Pesan tiket tercepat ke Provinsi Selatan. Kita berangkat sekarang. Kasus ini melibatkan laut, dan aku benci air dingin, jadi kita harus menyelesaikannya dengan cepat."

Misi baru Freen Sarocha, memulihkan artefak spiritual yang hilang di lautan, dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!