NovelToon NovelToon
PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Berbaikan / Tamat
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.

Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.

Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.

"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: ANGIN PERUBAHAN

Hari itu Bandara Sultan Hasanuddin terasa lebih ramai dari biasanya. Atau mungkin hanya aku yang sudah terlalu lama tidak merasakan keramaian dalam arti yang sesungguhnya. Di Singapura, keramaian itu berbeda teratur, steril, dan asing. Di sini, keramaian itu hidup, berisik, dan... terasa seperti rumah.

Aku menarik napas dalam-dalam. Udara Makassar yang lembap dan hangat menyapa paru-paruku seperti pelukan lama. Lima tahun. Sudah delapan tahun sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki di sini. Lima tahun sejak aku pergi dengan satu koper dan segudang kekecewaan.

"Rindu ya, Bang?" tanya sopir taksi yang kunaiki, memperhatikan aku yang terus menatap keluar jendela.

"Rindu," jawabku singkat. Tapi yang tidak kukatakan padanya adalah: bukan pada kotanya. Aku rindu pada seseorang yang mungkin sudah tidak lagi mengenaliku. Atau mungkin, seseorang yang tidak pernah benar-benar kukenal.

 

Mobil melaju melintasi jalan-jalan yang sebagian masih kukenal, sebagian lain sudah berubah wajah. Makassar berkembang, tapi aromanya tetap sama campuran udara laut, aroma ikan bakar, dan sesuatu yang hanya bisa ku deskripsikan sebagai 'rasa selatan'.

Aku menyentuh kantung plastik di sampingku. Isinya: satu kilogram anggur merah. Buah yang paling tidak disukai Maya. Dulu, setiap aku membawa anggur, dia akan mengernyitkan dahi dan mulai dengan ceramah panjangnya tentang bagaimana anggur itu "rasanya seperti telur ikan yang ketuaan". Logika yang hanya dimengerti olehnya. Tapi justru itulah yang kurindukan cara pikirnya yang absurd, ocehannya yang tidak penting, dan pertengkaran kecil yang selalu berakhir dengan kami tertawa.

Tapi itu dulu. Sekarang...

Sekarang dia sudah menikah. Punya dua anak. Tinggal di rumah dua lantai yang seharusnya penuh tawa, bukan kesendirian. Aku mendapat kabar dari Ibuku sepuluh bulan lalu, tanpa sengaja: "Maya cerai, Ra. Diam-diam. Suaminya pergi ke Jakarta, katanya dapat kerjaan. Tapi sudah enam bulan tidak mengirimkan apa-apa."

Aku tidak menanggapi kabar itu. Saat itu, aku sibuk dengan proyek besar di kantor, sibuk dengan kehidupan baruku yang terlihat sempurna di media sosial tetapi kosong dalam diam. Tapi sejak saat itu, ada sesuatu yang menggerogoti. Sesuatu yang memaksaku membeli tiket pesawat diam-diam, tanpa memberi tahu siapa pun termasuk Maya.

 

"Bang, ini jalanannya buntu," kata sopir taksi tiba-tiba, memecah lamunanku.

Aku menoleh. Jalan di depan memang tertutup ada hajatan besar, tenda-tenda memenuhi badan jalan.

"Bisa lewat mana?"

"Putar balik, lewat belakang kompleks," kataku tanpa berpikir. Otakku masih menyimpan peta kota ini dengan detail memalukan. Jalan kecil di belakang pasar, jalur alternatif yang dulu sering kami lewati saat pulang sekolah...

"Kamu asli sini ya, Bang?" tanya sopir lagi.

"Asli," jawabku sambil menatap keluar. "Tapi sudah lama tidak pulang."

"Pulangnya sebentar atau lama?"

Pertanyaan sederhana itu tiba-tiba terasa berat. Aku tidak punya jawaban. Tiketku adalah tiket pulang-pergi, jadwal kembali sudah ditentukan. Tapi di dalam hati, ada suara kecil yang berbisik: Itu tergantung pada apa yang kau temukan di sana.

"Belum tahu," akhirnya aku berkata jujur.

 

Rumah itu muncul perlahan dari balik sebuah gang. Minimalis, cat putih yang sudah agak kusam, pagar besi hitam yang sederhana. Taman depan yang dulu rapi sekarang terlihat sedikit liar, rumput sudah tinggi, beberapa pot bunga tampak layu.

"Yang ini, Bang?"

"Iya," suaraku sedikit serak. "Terima kasih."

Aku turun dengan koper kecil dan plastik anggur itu. Mobil taksi pergi, meninggalkan aku sendirian di depan rumah yang tiba-tiba terasa sangat asing. Sepi. Terlalu sepi untuk sebuah rumah yang seharusnya dihuni seorang ibu dan dua anak kecil.

Loh? Biasanya jam segini dia di rumah.

Belum sempat aku menekan bel pagar, pintu pagar terbuka. Seorang anak kecil perempuan, mungkin sekitar lima tahun berlari keluar dengan senyum lebar.

"Om Raka! Kok datang nggak bilang-bilang?" katanya riang, langsung memeluk kakiku.

Aku tertegun. Dia mengenaliku? Dari foto? Atau...

"Kamu... Kinan?" tanyaku, ingat nama anak kedua Maya dari percakapan dengan Ibuku dulu.

"Iya! Adek Kinan!" dia tersenyum lebar, lalu menatap baju dan celanaku. "Wah, Om pake baju bagus. Kayak mau kondangan."

Aneh? Sejak kapan bocah sekecil ini jadi komentator fashion?

Aku tersenyum, tapi hati sudah mulai berdebar tidak karuan. Di mana Maya? Di mana kakaknya, Bima?

"Mama kamu nggak bilang mau ke mana, Kinan?" tanyaku sambil menoleh ke dalam rumah yang gelap. "Terus Papa kamu mana?"

Tiba-tiba, senyum Kinan memudar. Hanya sedikit, hampir tak terlihat. Tapi aku melihatnya. Anak seumurannya seharusnya tidak punya ekspresi seperti itu ekspresi yang terlalu mengerti untuk usianya.

"Mama kerja," jawabnya pendek. "Papa... nggak ada."

Dua kata itu diucapkan dengan polos, tapi menusuk. Nggak ada. Bukan "pergi" atau "di Jakarta" atau "kerja". Tapi nggak ada.

Dadaku mendadak terasa sedikit tidak nyaman. Seperti ada tangan tak terlihat meremas jantungku pelan-pelan.

Kenapa rasanya nggak enak, ya?

Aku mengingat satu-satunya kali bertemu suami Maya saat pernikahan mereka. Pria itu bernama Rangga. Terlihat tenang, dewasa, dan... terlalu tua untuk Maya. Aku dan Maya seumuran, sementara dia sepuluh tahun lebih tua dari kami. Saat itu, di balik senyum dan ucapan selamat, ada perasaan aneh di dadaku. Perasaan yang aku pendam, aku abaikan, aku kubur jauh-jauh.

Dia masih terlalu muda untuk semua ini.

Pikiran itu kembali muncul sekarang, lebih kuat dari sebelumnya. Lima tahun lalu, aku tidak punya hak untuk merasa seperti itu. Tapi sekarang? Ketika kulihat Kinan dengan mata yang terlalu bijak untuk anak lima tahun?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!